Mama Asuh Tuan Muda

Mama Asuh Tuan Muda
Hasil Jalan Sore


__ADS_3

Setelah Shiro Yuki keluar menemui Reo, Amy bergegas untuk mandi, supaya bisa cepat-cepat keluar dan tidak memberikan kesempatan pada suaminya untuk menyusulnya ke kamar mandi lagi.


"Huhfff... untung ada orang yang mengetuk pintu, tapi siapa ya?"


"Tidak mungkin Cresen kan? Ih, Aku jadi takut jika bertemu dengannya. Tak disangka, pemuda segagah dan sebaik dia ada kelainan seperti itu. hiihhh..."


Amy bergumam seorang diri sambil mandi, bergidik ngeri karena baru mengetahui tentang keadaan Cresen yang sebenarnya. Sekarang dia meneruskan mandinya, setelah itu berganti pakaian.


Clek


Begitu keluar dari kamar mandi, Amy melihat Reo yang masih berada di kamar bersama dengan Shiro Yuki.


"Mama... Mama mau kemana sudah mandi?" tanya Reo penasaran dengan Amy, karena sekarang sudah rapi dan ini belum sore, sehingga belum waktunya untuk mandi.


"Egh..."


"Kita pergi jalan-jalan," sahut Shiro Yuki asal.


Dia tidak mau jika Amy salah menjawab pertanyaan dari anaknya, karena memang dia yang meminta pada istrinya itu untuk mandi tadi. Bahkan dia juga menawarkan dirinya untuk memandikan Amy, sayangnya ada Reo yang datang tiba-tiba.


"Jalan-jalan? yeeee..."


Mendengar sahutan papanya tentang jalan-jalan, membuat Reo bersorak kegirangan dengan cara turun dari pangkuan papanya, kemudian berlari menuju ke arah Amy sambil bertanya. "Reo mandi juga gak?"


Pertanyaan Reo ini membuat Amy bingung untuk menjawabnya, karena dia yakin jika suaminya tadi hanya menjawab asal saja.


"Tidak usah mandi, kita langsung jalan saja, biar gak kelamaan."


Ternyata Shiro Yuki membantu Amy untuk menjawab pertanyaan dari anaknya, dengan membenarkan ajakannya tadi. Jadi pernyataannya yang mengatakan kalau mau mengajak jalan-jalan itu tidak hanya asal jawab atas pertanyaan Reo.


Membuat Amy mengerutkan keningnya heran, mendengar perkataan suaminya yang sekarang ini.

__ADS_1


"Ayo Ma!"


Reo menarik tangan Amy dengan tidak sabar menuju pintu. Dia memang belum pernah jalan-jalan bersama dengan papa dan mamanya, meskipun di villa kemarin sudah. Tapi dia ingin juga jalan-jalan saat ada di Jakarta, supaya bisa sama seperti anak-anak yang lain, yang sering dia lihat di Mall atau taman kota. Bisa merasakan jalan-jalan dengan riang gembira bersama kedua orang tuanya. Keinginan yang sederhana, tapi belum pernah dirasakan oleh Reo selama ini.


Amy yang belum siap meringis saja, melihat ke arah Shiro Yuki, meminta pada suaminya itu untuk membantunya agar dia bisa bersiap-siap juga.


"Sini, Reo sama Papa dulu. Kita tunggu Mama di bawah, biar Mama bersiap-siap."


Dengan senang hati Reo mengikuti ajakan papanya, sehingga mereka keluar kamar terlebih dahulu. Menunggu Amy yang sedang bersiap-siap.


Tak lama kemudian mereka bertiga tampak keluar dari rumah, dengan mobil yang dikemudikan oleh Shiro Yuki sendiri. Dia tidak mau menggunakan supir, agar bisa menikmati waktu sorenya ini bersama dengan anak dan istrinya saja.


Hampir 45 menit dalam perjalanan, akhirnya mobil Shiro Yuki memasuki sebuah Mall besar yang dulu tempat Amy bekerja.


Ingat akan kejadian yang dulu, Amy tiba-tiba merasa malu sehingga wajahnya memerah merona. Hal ini tidak luput dari perhatian Shiro Yuki, yang duduk di belakang kemudi.


"Kenapa, Kamu gak suka ke Mall ini Bee?"


Tapi Shiro Yuki tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena kiat juga tidak bertanya mengapa yang membuat pipi Amy merah merona. Mungkin dalam hati Shiro Yuki hanya berpikir bahwa, Amy malu jika bertemu dengan teman-temannya sewaktu dulu bekerja di sini.


"Mama... ke Time Zone ayok!"


Tangan Amy sudah ditarik-tarik Reo, sambil merengek-rengek minta untuk segera pergi ke lantai paling atas. Dia ingin main Time Zone, sama seperti pada awal dia bertemu dengan mamanya ini.


"Papa ayok!"


Reo juga meminta kepada papanya, supaya mengikuti keinginannya. Dan Shiro Yuki hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan dari anaknya yang sedang senang karena keinginannya terpenuhi.


Kini mereka bertiga terlihat ada di arena permainan Time Zone, mendampingi Reo yang asyik mencoba permainan satu dengan yang lainnya. Gelak tawa dan senyum Reo menghiasi kebersamaan mereka berdua, sehingga Kecanggungan Amy sedikit demi sedikit hilang dan bisa lebih dekat dengan Shiro Yuki.


Hal ini tentu saja membuat Shiro Yuki merasa senang dan bangga, dengan idenya yang tiba-tiba muncul tadi. Di saat Reo mengajaknya jalan-jalan. Padahal dia tadinya tidak ada rencana untuk mengajak jalan-jalan, tapi nyatanya ini membuat mereka lebih dekat . Jadi setelah ini Shiro Yuki memiliki ide yang lain lagi, supaya nanti malam tidak canggung saat dia dan Amy mau...

__ADS_1


Hayo apa ini gaesss, hehehe...


*****


Amy melotot melihat bagaimana bentuk pakaian yang diambil Shiro Yuki untuknya. Dia tidak percaya, jika suaminya yang terlihat datar dan tidak peduli soal pakaian apapun itu, memilih model seperti itu untuknya.


"Ini bukan pakaian Boo," ujar Amy hati-hati.


"Menang bukan." jawan Shiro Yuki enteng.


Kening Amy berkerut heran, mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya. "Jika sudah tahu itu bukan pakaian lalu kenapa dipilih?" tanya Amy tidak percaya begitu mendengar jawaban tadi.


"Ini bukan pakaian untuk pergi tapi untuk tidur. Untuk menyenangkan suami."


"Apa Kamu tidak mau menyenangkan suamimu, dengan keterima kasih juga, sebab mengajakmu jalan-jalan sore ini?" tanya Shiro Yuki datar, tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


Hal ini membuat Amy bingung, karena ternyata ajakan Shiro Yuki sore ini ada pamrihnya. Dan pakaian yang dia pilihkan untuk kami itu adalah pakaian haram, yang tidak layak dikatakan sebagai pakaian.


Pakaian transparan dan hanya menutupi bagian-bagian tubuh tertentu ini, benar-benar membuat Amy merasa tidak menggunakan pakaian jika mengenakannya nanti.


Tapi suaminya justru mengambil 10 jenis pakaian yang sama, dengan 2 warna saja. Yaitu merah dan hitam. Ini benar-benar di luar dugaan, dan Amy sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan dirinya jika menggunakan pakaian tersebut.


Sayangnya Shiro Yuki tidak peduli, bahkan dengan enteng membayarnya tanpa melihat harga dari pakaian tersebut.


'Hahhh, ternyata pakaian seperti itu sangat mahal? padahal bahannya saja sangat tipis dan tidak banyak menghabiskan kain, tapi kenapa harganya bisa sangat mahal?'


Amy tidak percaya dengan jumlah 10 pakaian tersebut, yang ternyata jumlahnya sangat besar, karena melebihi gajinya sebagai penghasil Reo selama tiga bulan.


Reo sendiri sedang memilih-milih sepatu, di bantu oleh pelayan toko, sehingga tidak memperhatikan apa yang dilakukan oleh papanya.


"Reo, sudah dapat yang cocok?" tanya Shiro Yuki pada anaknya, yang sudah menyisihkan dua sepatu untuk dipilih.

__ADS_1


Hari sudah malam, karena saat ini sudah pukul 20.00 WIB dan Shiro Yuki tidak sabar untuk segera pulang, kemudian menikmati hasil jalan-jalan sorenya ini bersama dengan anak dan istrinya.


__ADS_2