
Setelah kepergian Lay dan kekasihnya, Shiro Yuki mengajak Amy masuk ke dalam kamar. Mengabaikan Cresen yang masih bengong seorang diri di ruang tamu.
"Hai..."
"Ahhh, kenapa Aku diabaikan? Seharusnya Kamu berterima kasih padaku kak Shiro!"
Cresen berteriak memanggil Shiro, karena merasa diabaikan oleh kakak sepupunya. Padahal dia sudah membantu istri sepupunya itu, saat menghadapi didesak oleh Lay Sanespere tadi.
"Hahhh!"
Cresen membuang nafas kasar kemudian pergi ke dalam kamarnya sendiri. Dia membayangkan bagaimana Shiro yang sedang berduaan bersama dengan Amy. Dan itu membuatnya tidak bisa menahan diri.
Di dalam kamar Shiro Yuki.
"Kenapa tidak memberitahu Aku, jika Cresen kembali pulang ke rumah?"
Amy mengerutkan keningnya bingung mendengar pertanyaan yang diajukan oleh suaminya kali ini. Dia tahu jika Shiro Yuki tidak menyukai kehadiran Cresen, tapi untuk alasannya Amy tidak mengetahui secara pasti. Jadi dia mencoba untuk bertanya, agar tahu alasan suaminya itu tidak menyukai sepupunya sendiri.
"Boo, kenapa terlihat tidak menyukai Cresen? padahal dia adalah adik sepupu Boo sendiri."
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh istrinya, yang tidak menjawab pertanyaannya tadi, membuat Shiro Yuki membuang nafas.
"Haaah... sebenarnya Aku tidak membencinya. Tapi Aku tidak menyukai kelainan yang dia derita."
Alis Amy mengeryit heran, mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya tentang Cresen. "Kelainan? maksudnya kelainan apa itu?" tanya Amy penasaran.
Selama ini dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dari Cresen. Jadi dia kaget, pada saat Shiro Yuki menyinggung tentang kelainan yang diderita oleh adik sepupunya yang berasal dari Jerman.
Akhirnya dengan sangat terpaksa, Shiro Yuki menceritakan tentang kelainan yang diderita oleh Cresen, berharap supaya istrinya itu bisa menjaga diri dan tidak terlalu dekat dengan Cresen dalam keadaan apapun. Dia tidak mau jika Amy sampai jatuh kedalam pengaruh dan pesona Cresen, yang sering membuat para wanita dan gadis-gadis takluk.
Bukannya takut tersaingi, tapi Shiro Yuki tidak ingin kehilangan istrinya. Apalagi dia sudah pernah mengalami kegagalan untuk yang pertama kalinya dulu, meskipun bukan karena adanya laki-laki lain dalam rumah tangganya bersama dengan Lay waktu itu.
__ADS_1
Shiro Yuki memang tidak tahu secara pasti, jika Lay nekat pergi untuk mengejar karirnya juga karena adanya Wilson. Dan dia tidak pernah menganggap Wilson adalah saingannya dalam mempertahankan Lay, tapi memang Lay sendiri yang telah menghancurkan dan memutuskan hubungan mereka sebagai pasangan suami istri dalam ikatan pernikahan.
Jadi Shiro Yuki tidak pernah menyalahkan Wilson atau siapapun itu, dalam kasusnya dengan Lay Sanespere. Tapi dia tidak mau jika Cresen sampai mempengaruhi Amy, sehingga meninggalkan dirinya.
"Aku tidak pernah menyangka, jika pemuda segagah Cresen punya kelainan seperti itu. Padahal tanpa dia mengejar-ngejar cewek, ada banyak sekali cewek yang pastinya mau dengan dirinya."
Shiro Yuki langsung mencengkeram erat kedua pergelangan tangan istrinya, begitu mendengar perkataan Amy yang tidak sengaja memuji kesempurnaan Cresen di hadapannya.
"Eh, aduh..."
Amy mengaduh kesakitan, karena pergelangan tangannya terasa sakit akibat tindakan Shiro Yuki yang sedang cemburu, atas pernyataannya yang tidak disadarinya sendiri tadi.
"Jangan pernah memuji laki-laki lain di depanku. Bukan, bukan hanya didepanku saja, tapi tidak usah memuji laki-laki manapun. Meskipun tidak ada Aku pada saat itu!"
Amy meringis takut, mendengar perkataan suaminya yang terdengar menakutkan di telinga.
Sadar jika tindakannya membuat Amy kesakitan dan juga takut, Shiro Yuki segera melepaskan cekalan pada pergelangan tangan istrinya. Setelah itu dia menggenggam kedua tangan Amy, dan menciumi punggung tangan tersebut.
Cup cup cup
Amy cepat menutup mulutnya sendiri dengan cara mengigit bibirnya sendiri. Hal ini justru membuat Shiro Yuki gemas dengan apa yang dilakukan oleh istrinya. Padahal dia sudah pernah mengatakan bahwa, dia rela dan mau membantu Amy jika hanya untuk menggigit bibirnya saja.
"Emhhh..."
Bibir Shiro Yuki sudah menempel pada bibir Amy, membuat istrinya itu justru kaget. Tapi tidak bisa berteriak saat sadar jika saat ini suaminya sudah kembali menciumnya tanpa aba-aba dan alasan yang jelas.
Sekarang ciuman itu tidak hanya sebatas menempel saja, tapi Shiro Yuki mulai menuntut dengan cara mengigit bibir bawah Amy, sehingga membuat Amy terpaksa membuka mulutnya.
"Aaa..."
Sayangnya apa yang dia lakukan justru memberikan kesempatan pada Shiro Yuki untuk memasuki area mulutnya, menyesap dan melilit lidahnya dengan cara yang tidak pernah dibayangkan Amy sebelumnya.
__ADS_1
Perlahan, tangan Shiro mulai menggerayangi gunung kembar ammy. Seketika itu, Ammy mulai mengerang keenakan.
Ciuman mereka berdua pun semakin panas.
Shiro Yuki lalu menempelkan bibirnya ke leher jenjang Amy, mengikuti lekuk bagian depan ke belakang. Membuat Amy bergerak tidak karuan, merasakan sensasi yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Nikmati dan ikuti apa yang ingin Kamu lakukan Bee. Ini sudah biasa, dan Kamu pasti bisa juga "
Dia kembali memandu Amy melanjutkan ciuman mereka, yang belum membuat Shiro Yuki merasa puas dengan mengabsen setiap gigi dan bagian dalam mulut istrinya.
Kedua tangan Shiro Yuki perlahan-lahan tapi pasti, mulai menggerayangi gunung kembar miliknya Amy. Membuat Amy mulai merasakan sensasi yang luar biasa sehingga mengerang keenakan.
Ciuman mereka berdua pun semakin panas, sebab Shiro Yuki tidak melepaskan bibirnya dari bibir istrinya. Menelisik setiap gari-garis di bibir basah itu, bibir yang ranum dan seperti memberinya tantangan untuk menaklukkan si empunya.
sekarang dia kembali ******* bibir milik istrinya dengan rakus, memainkan lidahnya dengan lembut di dalam mulut manis sang istri, hingga pada akhirnya Amy juga dengan naluriah mengikuti permainan suaminya.
******* napas Amy membuat asmara dan hasrat Shiro Yuki semakin menggelora. Deru napas Amy juga terdengar seksi di telinganya, membuatnya benar-benar tidak bisa menahan diri lagi.
Seketika Shiro Yuki menuntut perlakuan lebih, itu terlihat dari ekspresi memohonnya, dengan pandangan mata, yang tak luput dari perhatian Amy.
Hati mereka yang mulai merindu telah menyatu, seiring dengan bersentuhannya kulit mereka mereka berdua.
Walaupun tanpa bicara, Shiro Yuki bisa mengetahui bahwa Amy juga telah ikut menikmati apa yang mereka lakukan sekarang. Mungkin saja istrinya itu masih malu untuk mengungkapkan keinginannya.
Tak berbeda dengan Amy, Shiro Yuki juga merasakan ingin dilayani sepuasnya. Dia sudah berpengalaman, jadi harus bisa menuntun dan membimbing istrinya agar dewasa dan mampu memanjakan keinginannya itu.
Semua gerak-gerik keduanya sudah bisa meperlihatkan, betapa pasangan suami istri itu sudah saling melengkapi atas nama cinta.
******* demi ******* mereka nikmati sampai seluruh rasa seakan terbang, bersama raga yang serasa melayang.
Shiro Yuki mengikuti naluri kelelakiannya, yang siap memberikan nafkah lahir untuk istrinya.
__ADS_1
*****
Eh, kan masih siang itu? kira-kira ada gangguan gak nih mereka berdua???