
Sudah tiga hari Lentera sakit dan istirahat dirumah,beruntung ujian semester sudah selesai,meskipun semua siswa masih harus tetap kesekolah sambil menunggu hasil nilai mereka.
Tera sudah menghubungi Sela mengatakan bahwa dia sedang sakit dan tidak dapat berangkat kesekolah,tidak lupa dia meminta diizinkan kepada wali kelas mereka.
Selama dirinya sakit,dia hanya berada didalam kamarnya sambil terus memikirkan Gilang yang sering berubah,terkadang bisa sangat baik membantunya,tapi seringkali mengabaikan dirinya bahkan tidak segan memakinya jika tidak sengaja membuat anak laki-laki yang semakin hari semakin terlihat berbeda itu.
Hari Kamis ini,dia merasa sudah sehat dan bersiap kembali kesekolah meski tidak ada pelajaran sekalipun.
..."Kamu beneran sudah sehat nak,kalau belum,kamu istirahat aja dulu?"...
Tanya ibunya melihat Tera yang sudah bersiap dengan seragam sekolahnya.
..."Iya bu beneran sudah sehat kok,nanti kalo aku pulang cepat aku juga sudah bisa bantu ibu."...
..."Nggak usah mikirin kerjaan ibu,kamu jaga kesehatan aja supaya bisa sekolah dengan baik,ibu nggak mau kamu jadi kayak ibu,selama ayah kamu nggak ada,ibu cuma bisa kerja begini dan bikin kamu malu."...
..."Aku nggak malu bu sama kerjaan ibu,aku juga ngga malu punya ibu kayak ibu,Yasudah aku berangkat dulu ya bu."Suara tera bergetar menahan air mata. Tera tertunduk menyalami tangan ibunya dan segera berlari keluar lewat pintu disamping kamarnya....
Dia berlari keluar dan berhenti diluar pagar,terduduk disana dan meringkuk dibalik pagar kemudian menangis tersedu disana.
Dia benar-benar merasa tidak adil kali ini,hidupnya sudah terlanjur seperti ini,mereka hanya seorang pembantu dirumah mewah dibalik pagar tempatnya bersandar.
Dia bahkan harus menutupi keadaan dirinya dan merahasiakan pekerjaan ibunya hanya agar dirinya bisa bertahan disekolahnya.
Dia benci keadaannya,tapi dia tidak punya pilihan kali ini,dia hanya harus tetap bertahan hingga dia merasa bisa menentukan jalan hidupnya nanti.
Dia masih menangis sendirian disana,beruntung pagi itu masih sepi,tidak ada yang melihatnya selain anak laki-laki yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari tempatnya menangis.
Gilang yang pagi tadi berdiri dibalik jendela kamarnya,melihat Tera berlari keluar pagar,tapi tidak melihatnya berjalan kaki keluar dari Gang rumahnya,memutuskan turun dan keluar tanpa motornya dan benar saja,dia menemukan Tera disana.
Dia berdiri memandangi gadis yang terlihat menyedihkan itu.
Hampir lima belas menit berdiri disana,tangis Tera hampir tidak mereda,membuatnya kembali merasa iba.
Dia selalu mengingat kata-kata ibunya sewaktu dirinya masih duduk dibangku Sekolah Dasar,bahwa jika anak perempuan menangis lebih dari sepuluh menit maka sebaiknya anak laki-laki memberinya tepukan dibahunya agar tangisnya berhenti,jika masih menangis berikan dia es krim dan tersenyum kepada anak yang menangis.
Dia pernah mencoba walau hanya sekali pada anak kecil yang menangis ditaman bermain disekitar rumahnya,dia berlari membeli es krim dan mencoba tersenyum sambil menepuk bahu anak kecil itu.
...*...
Dia melangkah perlahan kearah Tera dan dengan ragu menepuk bahu Tera.
Dia duduk berjongkok disamping Tera sambil menepuk bahu kecil gadis itu.
Tangis tera tiba-tiba saja berhenti karena terkaget dengan sentuhan Gilang.
Gilang merasa beruntung karena tidak perlu mencari es krim untuk mendiamkan anak kecil yang sudah SMA itu.
Mata Tera memerah karena lama menangis,menyadari Gilang yang berada disampingnya,dia segera berdiri dan akan segera berjalan,tapi tas ranselnya ditarik oleh Gilang dari belakang.
Tera yang merasa malu karena tertangkap basah sedang menangis sendiri,hanya bisa tertunduk menatap ujung sepatunya sambil memegangi lengan bajunya yang basah karena air matanya.
Gilang segera memakaikan topi Hitam miliknya pada Tera dan kemudian berlalu dengan langkah cepat melewati Tera.
Tera memegang topinya lalu menurunkannya agar bisa menutup wajahnya yang sembab kemudian menyusul Gilang yang juga menuju halte.
Beruntung Bus sekolah sudah disana dan Tera segera berlari naik menuju bangkunya yang berada paling belakang,tapi lagi-lagi disana sudah ada Gilang yang mengisi bangku yang sudah seperti milik Tera.
Dengan terpaksa Tera mencari tempat duduk yang berada didepan Gilang.
Gilang menatap topinya yang dipakai oleh Tera yang hampir selalu membuatnya kerepotan dan merasa marah.
Tiga puluh menit mereka berada didalam bus,Gilang terus menatap ujung kepala Tera yang memakai topinya hingga sampai dihalte sekitar sekolahnya.
Tera turun terlebih dulu dan segera melangkahkan kakinya berlari kecil menuju gedung sekolah tanpa mempedulikan Gilang karena merasa malu.
Gilang mengejarnya dan menarik topi dikepala Tera dan membuatnya berhenti berlari,dia berdiam beberapa saat disana sambil merapikan rambutnya berantakan karena Gilang menarik topinya dengan sedikit kasar.
Gilang berjalan santai didepannya dan kembali memakai topi miliknya,dia merasakan aroma shampo yang dipakai Tera,wanginya terasa lembut dihidung Gilang,ternyata dia nggak seburuk yang gue kira,pikirnya dalam diam, mengira selama ini Tera tidak memperhatikan dirinya sendiri karena sibuk bersekolah dan bekerja dirumahnya,dia cantik,tapi kurang perawatan kayak teman-teman gue,pikirnya lagi,dia mulai menyadari bahwa Tera memiliki wajah cantik yang natural meskipun tanpa sentuhan make up sama sekali.
Tapi buru-buru membuang pikirannya itu kemudian berlari kencang menuju kelasnya.
Tera kebingungan melihat anak majikannya itu dan merasa heran karena topi hitam itu dia pakai kembali sebelum Tera mencucinya karena mengingat kejadian Helmnya beberapa bulan lalu.
Tera geleng-geleng kepala dan berjalan pelan,lalu menyadari beberapa pasang mata menatap tajam kepada dirinya.
__ADS_1
Lima anak perempuan entah dari kelas mana menatapnya seolah akan menelannya hidup-hidup.
..."Ada apa loe sama Gilang?"Tanya gadis dengan rambut yang sedikit diwarnai....
..."Loe berani dekatin Gilang,berhadapan dulu sama kita."Teman lainnya mendekati Tera....
..."Eehh tunggu kak,tunggu tunggu,maksud kalian apa?"...
..."Pura-pura nanya lagi,barusan loe pake topi Gilang kan,kita liat sendiri tadi Gilang ngambil topinya dari kepala loe,masih ngelak lagi loe?"...
Tera menyadari kebodohan Gilang,bagaimana bisa dengan santai dia mengambil topinya saat siswa lain sedang ramai masuk kedalam pagar sekolah.
..." Eeh maaf yaa kak,tapi tenang dulu,biar aku jelasin, Aku nggak ada apa-apa sama Gilang atau siapapun itu,tadi aku nemu topi itu didalam bus,jadi aku pakai aja,Ternyata punya dia."Tera berbohong agar bisa selamat....
Gadis-gadis cantik tapi sangar itu percaya saja karena baru saja Gilang juga berjalan kaki dari halte tanpa motornya.
..."Awas aja loe yaa berani ganggu cowok incaran kita,gue bikin loe keluar dari sekolah ini."Salah satu dari mereka mengancam lagi....
Tera mengangguk saja,lalu bergumam sendiri.
..."Mas Gilang kan cuma satu,yang suka sama dia banyak,gimana baginya."...
...*...
..."Tera...aku kangen banget sama kamu." Sela mengejarnya lalu memeluk sahabatnya itu....
..."Sela,lebay banget ih kamu,malu tauk."...
..."Jadi kamu malu punya teman kayak aku."...
"Nggak gitu sel,lagian baru juga empat hari nggak ketemu."
..."Hemp iya,tapi aku nggak punya teman tauk kalo kamu nggak masuk sekolah,kamu beneran udah sehat kan?"...
..."Iya sel udah,kalo belum ya nggak sekolah dong."...
..."Heheh iya iyaa,awas aja lue sampe sakit lagi."...
Mereka berjalan ke dalam kelas masing-masing meski tidak ada pelajaran.
Tera membaca buku cerita yang dia bawa dari rumah,lebih tepatnya dari dalam perpustakaan keluarga Gilang.
Dia membawa buku itu diam-diam karena takut Gilang memarahinya.
Kemarin malam saat semua orang tertidur,dia yang masih sedikit pusing dan bosan,menyelinap kelantai atas untuk ke perpustakaan,dan menemukan beberapa buku berserakan dilantai,meski merasa heran,dia tetap menyusun buku yang lain dan membawa diam-diam buku cerita yang terlihat seru itu kekamarnya.
Juga karena penasaran,dia sampai membawa buku itu kesekolah agar bisa dengan cepat selesai membaca.
Dia membaca beberapa halaman sambil menunggu waktu pulang sekolah.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi,mereka selalu pulang lebih awal selama seminggu ini karena tidak belajar sama sekali.
Siswa yang lain memilih menghabiskan waktu bermain setelah pulang sekolah.
Sementara Tera dan Sela tetap harus pulang kerumah membantu ibu mereka.
Mereka bisa bermain saat hari sabtu dan Minggu,tapi Tera sering menolak saat Sela mengajaknya keluar dihari Libur.
..."Ra,kamu mau ikut sama aku nggak,kerumah aku,nanti diantar bapak aku pulangnya,dulu kamu janji mau main kerumah aku,tapi sampe sekarang belum pernah mau main."...
..."Maaf yaa Sel,aku harus bantu ibu aku kerja,kalau nggak hari libur aku nggak boleh banyak main,nanti kalo libur sekolah Aku usahain bisa main kerumah kamu yaa."...
Sebenarnya jauh didalam hati Tera,dia merasa iri dengan Sela yang meskipun hidup sederhana,tapi tetap bisa bermain kapan saja karena tidak menumpang hidup dengan orang lain,sementara dirinya harus tau diri dengan keadaannya,meskipun dia juga sangat ingin bermain dengan temannya sampai malam.
Dia kembali ingin menangis disana,tapi sadar bahwa dihalte bukan hanya dirinya sendiri.
Sela sudah berlalu setelah dijemput oleh bapaknya.
Dia disana menunggu dengan beberapa orang siswa yang mungkin keadaannya tetap lebih baik daripada dirinya.
Juga ada Gilang yang berdiri tidak jauh dari bangku dihalte.
Tera merasa Gilang nampak berbeda hari ini,tadi pagi dia tidak membawa motor gedenya dan saat ini sedang menunggu bus bersama dirinya.
Bus sekolah datang,siswa yang dengan segera melompat kedalamnya dan duduk bersender ditepi jendela,entah kenapa duduk disamping jendela menjadi tempat favorit bagi siswa seperti mereka.
__ADS_1
Tera pun segera naik untuk mengambil tempat duduknya yang berada dibangku paling belakang.
Dia duduk disana dan tanpa sadar akan membuka tasnya untuk melanjutkan membaca buku cerita milik Gilang.
Tapi Gilang menghempaskan tubuhnya disamping Tera.
Membuatnya buru-buru mengembalikan buku yang sudah dipegangnya tadi kedalam tasnya.
Mereka duduk disana dan hanyut dalam pikirannya masing-masing.
Tiba-tiba Tera teringat dengan beberapa gadis didepan gerbang sekolah tadi pagi.
..."Mas Gilang."...
Gilang menoleh kearahnya.
..."Kenapa?"...
..."Aku boleh minta tolong sesuatu sama mas Gilang?"...
..."Apa?...
..."Tolong kalau disekolah jangan sampai orang-orang tau kalau aku tinggal dirumah mas Gilang,kayak tadi pagi,karena mas Gilang ngambil topinya tiba-tiba,aku malah jadi hampir dilabrak sama fansnya mas Gilang?"...
..."Maksud kamu?"...
..."Tadi pagi ada yang liat mas Gilang ngambil topinya dari aku,sampe mereka bilang ke aku,buat jangan gangguin mas Gilang,karena mas Gilang cowok incaran mereka,lagian ada-aja mereka,masa cowok cuma satu direbutin,gimana baginya."...
Gilang menyadari dirinya yang tadi pagi mengambil topinya tanpa mempedulikan tatapan orang lain.
... "*J*adi dia sampai dilabrak sama anak-anak lain gara-gara gue,lagian mana gue tau siapa aja yang suka sama gue,perasaan selama ini nggak ada yang dekatin gue selain temen-temen gue." Gilang membatin....
..."Mas Gilang dengarin aku nggak sih."...
..."Iya dengar,tapi tergantung sikap kamu."...
Tera tidak lagi melanjutkan ucapannya.
Tapi karena penasaran bagaimana tanggapan Gilang jika dirinya terus mengajaknya berbicara,dia kembali membuka mulut setelah beberapa menit terdiam.
..."Mas Gilang."...
..."Kenapa lagi,bisa diam nggak,gue mau tidur?"...
..."Tapi sebentar lagi udah sampai."...
Gilang tidak peduli dan tetap memejamkan matanya.
Tera akhirnya memilih diam saja.
Hingga mereka sampai dihalte disekitar rumah mereka.
Mereka berjalan beriringan sepanjang gang menuju rumah Gilang.
Tera mampir menatap lampu jalan yang mati itu,karena hari masih siang.
Terik matahari membuat matanya kesilauan.
Gilang ikut berhenti dan menyadari,sudah beberapa kali dia melihat Tera terus memandang keatas langit meski cuaca sedang panas,entah apa yang dia pikirkan.pikir Gilang
Gilang lalu kembali memakaikan topinya pada Tera dan berjalan duluan tanpa suara.
Tera membeku lagi.
Panasnya cuaca siang itu menyatu dengan panas didalam kepalanya.
Tera tersenyum memandangi punggung Gilang yang silau karena cahaya matahari.
..."Dia terlalu baik untuk terlihat jahat."...
..."Mungkin aku yang sudah bikin dia jadi pemarah kayak sekarang,karena ibunya sering perhatian sama aku."...
Tera membatin sendirian ditepi jalan.
Dia akhirnya menyadari bahwa Gilang tidaklah sejahat yang dia bayangkan,mungkin saja kehadiran dirinya membuat Gilang cukup terganggu.
__ADS_1
...*****...