
Gilang dan Haris duduk dibangku plastik diteras rumah Ibu Nur sambil menggenggam ponsel yang masih terhubung dengan Tera.
Haris menyalakan pengeras suaranya agar Gilang bisa mendengar suara Tera,karena yang Haris tahu dari Ibunya,mereka sempat menjalin hubungan dan kini Tera sudah mengakhiri hubungan dengan saudaranya ini,dan sempat membuat anak laki-laki yang kini tumbuh dewasa itu menangis histeris saat diputuskan.
..."Halo Lentera..."...
..."Mas Haris..."...
..."Iya betul sekali..."...
..."Mas Haris apa kabar?"...
..."Baik sekali Lentera,kamu bagaimana?"...
..."Aku kadang baik kadang buruk Mas,heheh..."...
..."Kenapa?"...
..."Karena harus nahan rindu sama orang yang sudah bukan punya aku,hehehe..."...
..."Wah wah wah,kamu sudah besar rupanya,sudah paham artinya rindu yaa..."...
..."Hahaha,mas Haris bisa aja."...
..."Oh ya kalau boleh tahu,siapa yang kamu rindukan?"...
..."Ibu aku mas,hehehe..."...
..."Ibu kamu kan masih milik kamu,yang bukan milik kamu itu siapa?"...
..."Hemph ada lah mas..."...
..."Hayo siapa?"...
..."Emh mas Gilang lagi sama mas Haris nggak?"...
..."Nggak ada,aku nggak tau dia melipir kemana tadi,mungkin lagi telpon pacarnya..."...
Hampir saja Gilang melemparkan camilan yang dia pegang ke wajah Haris karena kesal melihat kakaknya itu berbohong.
Tapi Haris memintanya untuk diam saja dan mendengarkan Tera berbicara.
Tera diam saja di seberang sana,dadanya kembali terasa sesak karena mendengar Haris menyebut kata pacar.
..."Halo Tera,kamu masih disitu kan?"...
..."Eh iya mas,aku tutup telponnya dulu ya,mau buat makan malam dulu." Tera beralasan....
..."Beneran,bukan mau kabur terus nangis diam-diam kan?"...
..."Bener mas,lagian mau nangis kenapa?"...
..."Kamu emang nggak sedih kalau Gilang punya pacar lagi?"...
..."Lagi...!"...
..."Iya...bukannya kamu salah satu mantannya ya?"...
..."Mas Haris..."...
..."Aku tahu semuanya dari Ibu Ra..jadi nggak usah disembunyiin,karena aku sudah tahu."...
..."Tapi sekarang aku sama mas Gilang sudah nggak ada hubungan apa-apa kok mas?"...
..."Kenapa diputusin?"...
Gilang berpura-pura sibuk dengan ponselnya,dan ikut mendengarkan jawaban Tera,dia juga penasaran kenapa Tera sampai memutuskannya begitu saja karena masalah sepele saat itu.
..."Emhh,karena aku nggak pantas aja mas buat mas Gilang..."...
..."Why?"...
..."Karena mas Gilang berhak untuk mendapatkan orang yang lebih baik..."...
__ADS_1
..."Dia sudah dapat yang lebih baik,tapi aku perhatikan dia nggak bahagia,dia nggak pernah ketawa lepas kayak waktu kamu ada di sini dulu,dia selalu ketawa yang dibuat-buat dan nggak tulus aja kelihatannya."...
Gilang masih pura-pura menatap layar ponselnya,karena tidak ingin mengganggu Haris yang sedang bertanya pada Tera,dan memang apa di katakan oleh Haris semuanya benar.
Dia tidak benar-benar bahagia saat bersama Jihan.
Dia hanya selalu berusaha agar terlihat menjadi orang yang baik saat berhadapan dengan Jihan,karena tidak ingin gadis itu kecewa padanya.
..."Tapi nggak mungkin mas Gilang masih ingat sama aku kan,karena aku sudah bikin dia kecewa,dia bilang mau nungguin aku,tapi itu dulu,sekarang aku yakin dia sudah benci banget sama aku..."...
..."Kayaknya dia masih nunggu Lentera..."...
..."Hahaha,mas Haris tahu darimana?"...
..."Dari tatapan matanya setiap hari,aku bisa lihat kalau disana masih ada Lentera..."...
Gilang yang merasa kesal,berdiri karena ingin sekali memukul kakak keduanya itu,tapi Haris mencegahnya karena dia hanya ingin Tera tahu bahwa Gilang tidak bisa melupakan gadis yang pertama kali membuatnya bahagia sekaligus menangis itu.
..."Mas Haris ada-ada saja..."...
..."Kamu nggak percaya?"...
..."Nggak mas..."...
..."Kenapa,bukannya kamu sendiri juga nggak bisa lupa kan sama dia?"...
..."Kadang-kadang,heheh..."...
..."Cepat kembali Tera,kasian Gilang kalau dibiarkan begini terus,bisa-bisa dia terjun bebas dari pohon bunga depan rumah,hahah."...
..."Kalau aku kembali,apa mas Gilang masih sama kayak dulu?"...
..."Dia masih orang yang sama kok,dia masih suka marah-marah nggak jelas,tapi soal perasaannya aku nggak tau pasti..."...
..."Hemph,kalau nanti mas Gilang sudah nggak mau lihat aku,setidaknya mas Haris jangan ikut benci sama aku ya..."...
..."Siap Tera..."...
...*...
Suara ibu Nur mengagetkan mereka berdua.
Ibu Nur mendatangi mereka yang masih duduk diluar karena tidak kunjung masuk kembali.
..."Maaf bude,kelamaan ya kita ngobrolnya sama anak bude..."...
..."Nggak kok nak,apa Tera masih menelpon?"...
..."Iya bu,ini bude ngomong lagi,kita mau makan dulu,Gilang sudah kelaparan dari tadi,heheh..."...
Haris dan Gilang masuk kedalam rumah dan menyantap makanan yang sudah disiapkan ibu Nur untuk mereka.
Masakan ibu Nur adalah yang terbaik kata mereka,makanya mereka sama sekali tidak rela melepaskan Bude mereka itu,dan mereka terus saja merengek agar Budenya itu tetap mau datang bekerja dirumah mereka.
Bude mengiyakan keinginan mereka,dan Ibu Jullie memberikan jadwal bekerja yang baru kepada Ibu Nur.
...*...
Sementara kedua kakak beradik itu menikmati makanan didapur,Ibu Nur kembali mendengarkan anaknya berbicara ditelepon,dan duduk diteras rumah barunya kini.
..."Bu,mas Gilang dari tadi ada disitu kan?"...
..."Iya nak,dari tadi dia duduk diteras sama nak Haris..."...
..."Jadi dari tadi dia dengarin aku ngomong?"...
..."Ibu nggak tahu nak,dari tadi ibu sibuk didapur,memangnya kamu ngobrol apa toh?"...
..."Emh,bukan apa-apa bu,hehe..."...
..."Ya sudah,ini sudah hampir malam,kamu mandi sana,jangan lupa makan malam ya,makan makanan yang sehat,jangan sering makan mie instan..."...
..."Siap ibu sayang,Oh ya bu aku bisa minta tolong nggak bu..."...
__ADS_1
..."Apa itu nak?"...
..."Tolong sampaikan sama mas Gilang,kalau nanti dia pulang kerumahnya,minta dia untuk cari buku aku didalam rak buku cerita dia,bukunya kasih buat dia aja ya bu."...
..."Oh iya Ra,nanti ibu sampaikan ya,memangnya buku apa itu?"...
..."Buku biru aku bu, yang dulu aku minta sama ibu waktu pertama kali kita datang kesana..."...
..."Kenapa ditinggal disana?"...
..."Hehe nggak papa bu..."...
..."Kamu ini,selalu saja bikin ibu bingung..."...
..."Maaf bu,hehe..."...
..."Ya sudah,ibu tutup dulu ya teleponnya..."...
..."Baik bu,dadah..."...
Sambungan telepon terputus,dan ibu Nur buru-buru masuk kedalam sebelum lupa pesan anaknya untuk Gilang.
..."Emh nak Gilang,tadi Tera bilang ada buku yang disimpan di rak buku cerita nak Gilang,katanya cari aja disana,bude nggak tahu maksudnya apa,katanya sih buku biru yang dulu bude beli untuk dia waktu pertama kali kesini,tapi kenapa malah ditinggal dirumah nak Gilang."...
..."Oh iya bude,saya tahu buku itu,nanti saya cari ya bude,kalau dapat,saya langsung kembalikan kesini..."...
..."Tapi dia bilang bukunya untuk nak Gilang,bukan untuk dikembalikan."...
..."Oh ya,kenapa begitu bude?"...
..."Bude juga nggak tahu nak,anak bude itu memang suka sekali bikin orang lain repot dan bingung."...
..."Hehe nggak kok bu..."...
Gilang yang mengetahui buku biru itu,ingin segera melompat pulang kerumahnya,tapi Haris sengaja membuatnya berlama-lama disana.
..."Kenapa bro,gelisah amat,penasaran ya sama isi bukunya Lentera?"...
..."Mas,cepat balik,atau aku bawa mobilnya sendiri."...
..."Tapi kuncinya sama gue bro..."...
..."Ya sudah,aku pulang naik taksi aja..."...
..."Woylah bro,santai dong,bukunya nggak kemana-mana kok,pasti masih duduk manis disana,bukunya aja sudah bikin semangat ya,apalagi orangnya,hahaha..."...
..."Mas...!"...
..."Hahaha,oke oke,pamit dulu sana sama calon mertua..."...
Gilang menatap tajam pada kakaknya,lalu masuk kedapur untuk berpamitan pada Ibu Nur yang sedang mencuci piring.
..."Bude,kita pamit pulang dulu ya,soalnya sudah malam,besok-besok kita kesini lagi nengokin bude..."...
..."Oh iya nak,terima kasih banyak ya,sudah mau bantu Bude hari ini,Bude belum bisa kasih apa-apa hari ini,kalau besok-besok mau kesini kabari ya,biar Bude bisa masak yang spesial untuk kalian berdua..."...
..."Iya Bude,jaga diri baik-baik ya Bude disini..."...
..."Iya nak,kalian hati-hati ya..."...
Ibu Nur mengantar mereka sampai didepan pintu.
Kedua laki-laki tampan itu melambaikan tangan padanya.
Ibu Nur membalas dengan senyum.
Dan masuk kembali melanjutkan pekerjaan rumahnya.
Terasa sepi,tapi ibu paruh baya itu kini harus menikmati hidup di rumah barunya yang berada dipinggiran Ibu Kota.
Sambil menunggu anak gadisnya kembali.
...💯❤️❤️❤️❤️💯...
__ADS_1
^^^"Terima kasih untuk pembaca setia,karena sudah menemani sampai sejauh ini..."^^^