Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
15.Satu Tahun


__ADS_3

Tahun baru berlalu dengan cepat.


Waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan,hingga sudah setahun Tera dan ibunya bekerja dan tinggal disini.


Semua sudah terasa normal bagi Tera.


Sekolah sambil membantu ibunya bekerja sudah menjadi rutinitas sehari-harinya selama setahun belakangan.


Keluarga Gilang pun semakin baik kepada mereka berdua karena selama ini mereka selalu bekerja dengan baik,jarang sekali meminta libur maupun keluar tanpa alasan.


Gilang pun masih sama dengan sikapnya.


Hampir setiap hari bertemu dengan Tera yang bekerja dirumahnya membuatnya terbiasa dengan kehadiran gadis itu didepan matanya.


Tapi masih belum juga menerima kenyataan bahwa ibunya menganggap Tera sebagai adiknya.


Ibunya selalu bersikap baik pada Tera layaknya ibu dan anak perempuannya.


Meski masih tetap menyayangi Gilang yang memang anak kandungnya seperti biasa,menuruti segala keinginannya dan memberikan segala keperluannya.


Mereka terlihat seperti keluarga pada umumnya,meski sebenarnya kedua orang tua Gilang mengkhawatirkan banyak hal tentang kehidupan anak-anaknya,juga tentang Gilang yang sama sekali tidak berminat untuk membantu pekerjaan orang tuanya.


Beberapa tahun lalu suami istri itu,sudah bertengkar dengan kedua anaknya yang juga sama sekali tidak menaruh minat pada perusahaan yang sedang mereka rintis hingga saat ini.


Untuk saat ini mereka memilih tidak membicarakan hal itu mengingat Gilang yang terlihat sering uring-uringan,juga mereka malu jika Tera dan ibunya melihat keributan mereka.


...*...


Hari ini tanggal 30 juni,setahun lalu Tera menginjakkan kakinya ke tempat ini saat cuaca sedang panas.


Tapi hari ini sedikit berbeda,Di ibu kota yang nampak semakin ramai ini,sedang diguyur hujan sejak pukul dua siang tadi.


Semua siswa masuk Siang akhir bulan ini untuk menerima buku laporan nilai semester dua mereka.


Tera yang berada disekolah,menikmati setiap rintik hujan yang jatuh dari luar jendela.


Hujan kali ini merupakan hujan pertama dan penutup bulan Juni,juga menjadi hujan terakhir yang akan mengantar Tera dan teman-temannya menjadi murid kelas sebelas.


Karena biasanya dibulan seperti ini, tidak akan turun hujan hingga oktober nanti.


Rintik hujan yang seolah tidak ingin berhenti itu membuat semua semua siswa tertahan disana.


Sudah hampir pukul empat sore,hujan sudah mereda dan menyisakan rintik-rintik kecil diluar sana.


Semua siswa meninggalkan kelas dan berlarian menuju pagar sekolah,menghampiri supir-supir yang menjemput mereka.


Pun dengan Tera dan Sela yang berjalan pelan sambil mendongakkan kepala dan membiarkan gerimis menerpa wajah mereka.


Meski cuaca dingin,mereka tetap berjalan santai ditengah lapangan yang basah dan menikmati sisa-sisa hujan yang sudah hampir reda itu.


Akhirnya hujan benar-benar berenti saat mereka tiba didepan pagar sekolah.


Sela sudah dijemput oleh bapaknya,dan meninggalkan Tera yang segera berjalan kaki untuk menunggu bus sekolah,tapi bus yang biasa dia tumpangi ternyata sudah meninggalkan halte sejak tadi.


Tera berdiri kebingungan disana,menatap jalanan yang menyisakan bau hujan.


Mendongakkan kepalanya lagi,menatap kelangit yang masih belum cerah.


Entah sejak kapan dia mulai suka memandang langit meski sedang terik sekalipun.


Yang dia tau,saat sedang menatap langit,seolah dia bisa melihat sosok Bapaknya yang sedang tersenyum diatas sana.


Sendu sekali sore itu.


Dia berjalan pelan meninggalkan halte,menyusuri trotoar seperti saat pertama kali dirinya melangkahkan kakinya kesekolah itu.


Tidak mungkin berjalan kaki sampai dirumah dengan cuaca dingin seperti ini.


Belum jauh melangkah,beberapa anak laki-laki dari sekolah lain berjalan bergerombol disana,tanpa memperhatikan Tera yang berjalan didepan mereka,salah satunya menabrak Tera dan membuat minuman hangat yang dipegangnya tertumpah kebajunya sendiri.


Dia meringis kepanasan,dan menyadari Tera yang berdiri didepannya.


"Woyy,kalo jalan liat-liat dong,teman gue lue tabrak sampe kepanasan begini."Salah satunya lagi membentak Tera.


Tera yang merasa tidak bersalah,berusaha diam saja karena takut jika melawan malah akan membuat keributan disana.


"Waah parah nih cewek,udah salah malah diam aja."


"Udah nggak punya mata,nggak punya telinga juga lue yaa." Yang lain mulai menyentuh Tera,mendorong Tera yang sudah terlihat lemas akibat cuaca dingin sore ini.


"Tapi aku nggak salah apa-apa kan,yang nabrak itu bukan aku,tapi kamu."


Sambil menunjuk anak laki-laki berambut pirang yang tadi menabraknya.


"Woy,yang bener aja lue,lue jalan nggak pake mata,malah nyalahin gue,lue nggak liat minuman gue sampe tumpah begini gara-gara lue,minta maaf atau gue bikin luka lue disini."


"Tapi aku nggak salah,aku beneran nggak nabrak kamu,yang nggak liat-liat kan kalian,siapa suruh jalan sambil ngobrol,jadi nggak sadar didepan ada orang,udah salah malah nyalain orang."


Tera tidak lagi diam karena anak-anak itu semakin membuatnya kesal,dia memilih pergi meninggalkan mereka.


Tapi baru saja dia akan melangkah,tiba-tiba salah satu dari mereka menahan bahu Tera lalu mendorongnya dengan kuat, hingga membuat Tera terjatuh ditrotoar yang masih basah.


Tera yang tidak sekuat mereka,meringis kesakitan karena tangannya tergores batu jalanan diatas trotoar itu,dirinya yang sudah lapar serta kedinginan karena baju seragamnya yang basah saat bermain gerimis tadi,merasa tidak mampu lagi melawan mereka jika mereka berbuat lebih buruk.


"Mau minta maaf nggak lue sekarang,"


"Cepat minta maaf atau kita berbuat yang lebih sama loe".seru anak yang lain.

__ADS_1


Pemilik toko disana segera keluar karena mendengar ada keributan didepan toko miliknya dan segera berjongkok untuk menolong Tera.


"Kalian ini,masih sekolah sudah begini kelakuan kalian,kalau kalian masih menyakiti anak ini,saya akan telpon polisi."


"Kita nunggu dia minta maaf pak,karena teman saya sudah ketumpahan air panas gara-gara dia nabrak teman saya."mereka masih saja membela diri meski sudah diancam.


Bapak pemilik warung yang sudah berumur itu tidak mempedulikan mereka,dan membantu Tera berdiri lalu membawanya duduk didepan tokonya.


Istri bapak itu segera mengambil plester luka dan mengobati tangan Tera yang terluka.


Rok sekolahnya yang sudah basah dan sekarang semakin kotor karna terjatuh tadi membuatnya merasa takut untuk pulang kerumah.


"Neng,ini rok kamu kotor,kamu mau ganti baju dulu,tapi saya cuma punya anak laki-laki,jadi cuma ada baju kaos dan celana."istri pemilik warung itu menawarkan Tera untuk berganti baju.


"Nggak usah bu,saya nggak apa pakai ini saja."


"Neng emangnya nggak ada yang jemput ya,kenapa malah pulang sendiri begini?"


"Saya biasa naik bus bu,tapi tadi saya ketinggalan bus karena masih hujan."


"Sekarang bingung mau naik apa,karena HP saya ketinggalan dirumah,maafin saya ya bu,sudah bikin repot ibu."


"Nggak apa neng,saya senang kalau bisa nolongin orang,disini memang sering lewat anak-anak sekolah yang seperti mereka." Ibu itu menunjuk pada segerombolan anak laki-laki yang masih berdiri disana,menunggu Tera meminta maaf.


"Gimana,loe mau minta maaf atau gue tungguin loe disini sampe besok?"mereka kembali memojokkan Tera.


"Tapi saya nggak salah bu,tadi mereka yang nabrak saya,kenapa saya yang harus minta maaf."kata Tera pada ibu itu.


"Iya neng,ibu tau,kamu disini saja dulu,mereka pasti pergi kalau sudah bosan disini."


Tera merasa sangat apes hari ini,HPnya tertinggal dirumah karena terlambat bangun tadi pagi,sekarang dia harus duduk disini karena tertinggal bus,dia pun tidak menghapal nomor siapapun,karena nomor lamanya yang dia ingat,sudah dibuang beberapa waktu lalu.


Dia benar-benar merasa hidupnya hanya selalu membuat orang lain kerepotan.


Dia membeli sebotol minuman pada ibu itu dan meminumnya sampai habis,dia sampai lupa rasa laparnya karena kembali merasa dirinya tidak berguna,bahkan disaat seperti ini dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan anak-anak nakal itu.


Dia duduk dengan gelisah disana,anak-anak itu hampir saja kembali menghampiri dirinya,jika tidak melihat Gilang yang memarkirkan motornya tepat didepan toko tempat Tera duduk.


Tera mengenali Gilang hanya dengan melihat motornya meski wajahnya tertutup helm dan terlihat sudah melepas baju seragamnya.


Bapak pemilik warung yang tadi sudah masuk kedalam, kembali duduk disamping Tera melihat kehadiran Gilang,karena merasa takut jika anak itu juga salah satu teman dari anak-anak yang mengganggu Tera.


Melihat Gilang mendekat kearah Tera,bapak itu menghadangnya.


..."Kamu mau apa,mau ganggu dia juga,cepat panggil saja teman-teman kamu pulang,karena dari tadi sudah berdiri disana dan mengganggu anak ini."...


Tera bahkan belum sempat berkata apa-apa,tapi Gilang segera mendekati anak-anak yang masih berkumpul tidak jauh dari mereka.


Gilang langsung saja memukul salah satu dari mereka dan mengatakan jika mereka tidak pergi dan masih mengganggu orang lain,dirinya akan memanggil teman-temannya.


Anak-anak itu segera menghambur dan berlarian berbalik arah,ketakutan karena mengira Gilang adalah salah satu anggota geng motor yang mereka takuti.


..."Maaf pak,tapi dia kakak saya."sahut Tera....


..."Ohh iya neng,maaf bapak tidak tau,"...


..."Leh kamu ini gimana sih,masa biarin adik kamu pulang sendirian begini,kalau sampai diapa-apain sama mereka tadi gimana?"...


..."Maaf pak,saya tadi lambat menjemput karena harus ngantar teman sekolah saya,biasanya dia naik bus,karena nggak suka naik motor,jadi saya pikir dia sudah pulang,Maaf pak kalau adik saya merepotkan bapak."...


Gilang selalu saja berbicara banyak saat berhadapan dengan orang lain.


Lain jika dengan Tera,dia hanya berbicara seperlunya saja,


Tapi baru saja Tera dibuat merasa sedikit senang karena Gilang menyebut dirinya 'Adik'.


..."Iya leeh,lain kali jangan dibiarian lagi ya adiknya pulang sendirian,kalau ada apa-apa pasti orang tua kalian juga repot."...


..."Iya pak,terima kasih banyak pak."sahut Gilang...


..."Saya minta maaf pak,sudah merepotkan bapak hari ini,saya juga berterima kasih sama bapak karena sudah nolongin saya,saya nggak tau lagi harus gimana kalau tadi bapak nggak nolongin saya." Kata Tera....


..."Iya neng,sama-sama,kalian hati-hati ya pulangnya."...


Gilang dan Lentera mengangguk bersamaan lalu pamit pulang.


Gilang memberikan helmnya pada Tera.


Tapi Tera diam saja.


..."Mau pulang nggak?"...


Tera mengangguk.


..."Ya sudah pakai ini!"...


Tera menggeleng.


..."Terus mau loe apa?"...


..."Loe mau bikin gue repot mampir dikantor polisi karena loe nggak pakai helm."...


Tera masih menggeleng sambil terus menunduk.


"Kesambet apa loe sampe nggak bisa ngomong kayak gitu?"


...Gilang terpaksa harus terus berbicara karena Tera tidak menjawab....

__ADS_1


..."Aku takut pulang kayak gini,nanti kalau ibu tanya kenapa,aku harus bilang apa?" Akhirnya Tera menjawab dengan suara tertahan....


..."Aku nggak mau ibu aku malah kepikiran sama aku terus kalau sampai tau ada kejadian kayak gini,yang ibu tau,aku selalu baik-baik aja disekolah." Air mata Tera terjatuh juga meski sudah berusaha ditahan....


Gilang pun tidak tau harus berbuat apa,dia melihat pakaian Tera yang kotor dan basah,menatap telapak tangan Tera yang sudah terbalut plester apa adanya.


Keadaannya terlihat menyedihkan,jika pulang dengan keadaan seperti itu,jelas saja orang tua mereka akan bertanya.


..."Naik aja dulu." Sahutnya lagi...


Beruntung dia memang selalu membawa helm lebih dari satu karena sering mengantar temannya saat pulang sekolah.


..."Tapi helmnya?"...


..."Kenapa?"...


..."Nanti mas Gilang ngasih ke aku lagi,yang dulu aja belum pernah aku pakai?"...


..."Terserah gue nanti mau gue kemanain,udah cepat naik...!"...


Tera memasang helmnya dengan cepat dan bersiap untuk naik keatas motor.


Tapi Gilang malah mematikan motornya.


..."Loh kok malah dimatiin motornya."...


Gilang diam saja sambil mencari sesuatu didalam tasnya.


Dia mengambil blazer sekolahnya dan memberikannya pada Tera.


Tera memandangi blazer yang lebih besar dari miliknya itu,lalu membuka blazer miliknya yang kotor dan mengganti dengan milik Gilang.


Mereka berboncengan untuk segera pulang kerumah.


Mereka sampai ditaman bermain anak-anak disekitar jalanan.


Gilang memarkirkan motornya ditepi jalan dan menyuruh tera turun.


..."Turun."...


..."Kok mas Gilang nyuruh turun,kita kan belum sampai?"...


..."Disana ada kamar mandi,cepat kesana terus bersihin seragam loe yang kotor itu,kalau sudah selesai cepat balik,kalau nggak gue tinggal."...


..."Eh iyaa iya,tunggu sebentar."...


Tera segera berlari kearah kamar mandi disekitar taman bermain yang terlihat sepi,karena hujan turun hingga sore membuat siapapun enggan keluar rumah.


Dia membersihkan roknya yang kotor dengan asal,dan melepas plester dari telapak tangannya,meski terasa perih dia tetap memaksa membukanya,agar tidak dilihat oleh ibunya dan membuat khawatir.


Dia juga mencuci wajahnya yang terlihat lelah dan pucat.


Setelah selesai,dia kembali ketempat Gilang memarkir motornya tadi dibalik pagar pendek yang mengelilingi taman bermain itu.


Dia hanya mendapati motor gede yang terparkir dan tas sekolah Gilang diatasnya.


..."Eh mas Gilang kemana,Jangan-jangan dia kabur lagi."...


...Tera bolak balik di sekitar tempat itu....


Tidak lama kemudian,Gilang datang dan membawa dua gelas coklat hangat ditangannya.


Tanpa sadar Tera tersenyum kearah Gilang.


..."Liat apa lo nyengir-nyengir begitu."...


..."Eeh nggak liat apa-apa kok,mas Gilang darimana?"...


Gilang tidak menjawab dan hanya menyodorkan gelas hangat itu pada Tera,dan melangkah kearah pagar taman,Gilang berdiri disana menatap kedalam sana sambil memegang gelas minumannya.


Tera yang merasa hangat setelah meminum setengah gelas coklat miliknya berbalik melihat Gilang.


..."Mas Gilang ngapain,ayo balik,ini udah makin sore,nanti ibu aku nyariin,nanti nggak ada yang bantuin ibu dirumah."...


..."Gue udah nelpon ibu,kalo lo sama gue,terus udah bilang kalo bakal pulang lambat."...


..."Yaa itu sih mas Gilang,tapi aku belum bilang sama ibu aku,karena ponsel aku ketinggalan dirumah."...


..."Gue udah nyuruh ibu gue bilang sama bude kalo lo sama gue,sekarang bisa diam nggak?"...


..."Eeh iya,aku diam!"...


Mereka berdiri disana menatap taman bermain yang mulai kering karena hujan sudah berhenti sejak satu jam yang lalu.


Tera mengangkat tangan dan melipatnya keatas pagar,dan berdiam diri disana,


Gilang yang sengaja berdiam disana agar pakaian Tera bisa sedikit mengering saat sampai dirumah,berdiri disebelah Tera,menatap diam-diam wajah sendu Tera yang hari ini tampak kelelahan.


Dia tau gadis disebelahnya ini memiliki wajah yang cantik meski susah dipahami,Gilang menyadari perasaan aneh mulai mengisi hatinya saat sedang bersama Tera,tapi karena dirinya membenci adik perempuannya ini,dia memilih tidak mempedulikan perasaannya.


Tera yang merasa kakinya kesemutan karena berdiri lama disana akhirnya protes pada Gilang yang masih menatap dirinya.


..."Mas Gilang,kaki aku kesemutan,udah pegel tau bediri disini,minuman aku juga udah habis,ayo pulang"...


Gilang yang tersadar karena Tera berteriak didepannya, akhirnya beranjak dari sana.


Jam tangan dilengan Gilang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.

__ADS_1


Mereka pulang sambil memendam perasaannya masing-masing.


...*****...


__ADS_2