
Enam bulan berlalu lagi.
Tahun ini,Lentera pun akhirnya meninggalkan bangku SMA meski dengan hati yang sedikit bingung.
Tidak ada yang menarik dihari kelulusannya itu.
Tidak ada ucapan khusus dari teman laki-lakinya,kecuali kesan dan pesan yang diucapkan ketua OSIS,dihadapan mereka.
Daniel,sedikit kecewa dan menjaga jarak dengan Lentera karena mendengar kabar dari Sela bahwa Tera menyukai orang lain,hari ini pun seperti itu,mereka tidak bertegur sapa apalagi bercanda seperti saat mereka menjabat sebagai ketua dan wakil OSiS.
Lentera yang sampai akhir masa SMAnya pun tetap hanya memiliki Sela sebagai teman dekatnya.
Dan mereka akan berpisah setelah kelulusan ini,karena Sela akan melanjutkan pendidikannya kenegara singa diseberang sana.
...*...
..."Saat ini kita sama-sama menyedihkan,tapi nggak apa kan kita berharap,suatu hari nanti kita jadi orang yang paling bahagia." Sela yang terlihat gamang itu mulai mengeluarkan kata-kata sendunya,yang malah membuat Lentera tersenyum kearahnya....
..."Sela,kamu memang teman aku yang paling puitis,hahah."...
..."Aku rasa,aku adalah orang yang paling puitis,paling baik dan paling bijak,yang pernah kamu temui wahai Lentera pradania."...
..."Gimana nggak paling segalanya,kalau teman aku cuma kamu satu-satunya."...
Mereka tertawa diantara riuhnya teman setingkat mereka yang bergembira dan saling meminta foto untuk kenangan mereka diakhir SMA.
Bisa jadi hanya Lentera dan Marsela disana yang tidak berswafoto dengan teman-teman sekelasnya.
Mereka memang akan tetap seperti itu hingga akhir,tetap menjadi orang terpencil kata Lentera,meski sebenarnya masa depan mereka secerah sinar matahari hari ini.
Semua siswa kelas dua belas berhamburan keluar gedung sekolah yang tampak sangat besar dari luar itu.
Lentera berdiri dibawah terik matahari ditengah lapangan bersama Sela,menatap dalam-dalam gedung bertingkat dua itu.
Rasanya baru saja kemarin Mereka menginjakkan kakinya disana,hingga tanpa mereka sadari waktu tiga tahun berlalu begitu cepat,meninggalkan sedikit banyak kenangan disini.
...*...
..."Raaa,bulan depan aku sudah harus berangkat kesana,kamu baik-baik yaa disini,bulan ini mungkin aku akan sibuk mengurus keperluan aku,jadi mungkin kita akan jarang ketemu sampai aku berangkat nanti."...
..."Iya Sel,kamu semangat yaa,baik-baik juga disana,aku nggak nyangka kamu beneran nggak mau ikut nemanin aku ditempat kuliahku nanti."...
..."Raa,kita harus mengejar mimpi kita masing-masing,supaya bisa jadi orang yang sukses nanti,supaya kita nggak malu berteman sama siapapun lagi,aku percaya sama kamu,kamu pasti bisa jalanin semuanya ditempat baru kamu nanti."...
..."Aahh Aku jadi sedih begini Sel,nggak nyangka kita bakal jauh-jauhan,aku nggak bisa bayangin kalau aku kuliah nanti nggak ada kamu,hiks,Lentera sesenggukan sambil terus menatap langit yang semakin cerah....
"Uuhh sayang aku,sini peluk,"Sela tau persis perasaan sahabatnya ini,selain selalu merasa rendah diri,Sela juga tau bahwa Tera akan terus menyendiri sampai kapanpun,jika tidak ada orang lain yang mengajaknya berteman lebih dulu.
...Tangis Tera mulai mereda,Sela mengajaknya untuk segera pulang....
Sela sengaja menghubungi taksi bapaknya,agar bisa pulang bersama Tera.
__ADS_1
Mereka pulang bersama,mereka terdiam dibangku belakang tanpa berani mengeluarkan kata-kata.
Karena satu kalimat saja terucap lagi,air mata Tera kembali menetes.
...*...
Sampai didepan gang rumah Gilang,Tera menyalami bapak Sela,dan memeluk Sela dengan erat yang sengaja ikut turun untuk memeluk Tera.
..."Nanti kalau urusan aku selesai,aku kabarin kamu yaa Ra,kita sempatin main sebelum aku berangkat."...
Tera hanya mengangguk,lalu berbalik berjalan kaki menuju rumah tempatnya menumpang.
Matanya masih merah karena menangis tadi,membuatnya harus masuk lewat pintu disamping agar dia bisa segera menuju kamarnya tanpa bertemu ibunya lebih dulu.
Dia masuk kekamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya keatas kasur,tanpa mengganti seragam sekolahnya.
Tanpa diminta,matanya tertidur dengan sendirinya hingga sore hari.
Dia terbangun saat menyadari ibunya menepuk-nepuk tubuhnya.
..."Lentera,mau sampai kapan kamu selalu bawa kebiasaan kamu ini,tidur nggak ganti baju dulu."...
..."Maaf bu,aku ngantuk banget tadi."...
..."Gimana hari kelulusan kamu,senang?"...
..."Lumayan bu,"...
..."Hehe iya bu,karena nggak ada sama sekali yang ngajak aku sama Sela buat sekedar foto rame-rame."...
..."Tapi kan foto sama Sela."...
..."Hehe iya bu ada kok,aku mandi dulu ya bu,oya ibu masak apa,aku lapar,hehe."...
..."Ibu masak apa ya tadi,kayaknya seperti biasa aja,hehe,ya sudah mandi sana,ibu tunggu didapur."...
Ibunya meninggalkan Tera yang bersiap untuk mandi.
...*...
Lentera dengan malas melangkah kedapur meski perutnya sudah mengamuk sejak tadi.
Baru saja akan duduk dikursi,Gilang yang baru saja pulang dari kampusnya,ikut duduk disampingnya.
..."Haaii,apa kabar,oya hari ini kamu lulusan ya,selamat yaa."...
Tera hanya mematung menatap Gilang yang semakin hari semakin tampan saja,mungkin karena tidak lagi mengenakan seragam sekolah yang selalu membuatnya terlihat kaku saat masih menjadi murid SMA.
..."Baik mas Gilang."...
Dia menjawab singkat seperti biasa saat disapa oleh kakaknya itu.
__ADS_1
Mereka duduk dan makan bersama disana,tanpa percakapan sama sekali.
Lentera mulai merasa malu jika harus mengajak Gilang berbicara lebih dulu.
..."Aku duluan yaa."Gilang selesai duluan dan pergi lebih dulu dari sana....
Tera mengangguk.
Dia masih duduk disana meski piringnya sudah kosong.
Menatap kursi kosong disampingnya.
'Yaampun mas Gilang,gimana aku bisa lupain kamu,kalau kamu makin hari makin ganteng kaya gitu.'Batin Tera.
Takut terlalu banyak mengkhayal dia memukul jidatnya,lalu berdiri dan mencuci piringnya sebelum kembali kekamarnya.
...*...
Dikamarnya,dia membuka buku birunya yang sudah lama tidak disentuhnya itu.
Satu tahun belakangan,dirinya memang selalu sibuk belajar karena sudah duduk dibangku terakhir diSMAnya.
Dihari kelulusannya ini,dia membuka kembali buku biru yang sudah tinggal beberapa lembar kertas kosong itu.
"Bapak,apa kabar,maafin aku yaa pak,belakangan ini aku sibuk banget,sampai lupa nanya kabar bapak,oh iya bapak tau kan,kalau hari ini aku sudah lulus SMA,sekarang aku sudah dewasa pak,tapi tetap belum boleh bilang ya pak sama orang yang aku suka kalau aku suka sama dia, bapak tahun depan aku harus kenegeri ginseng,siapa yang akan jagain ibu disini pak? aku mau ngajak ibu ikut sama aku,tapi belum diajak juga sudah nolak duluan,hehe,bapak aku harap bapak tetap jagain ibu yaa dari atas sana.
"maafin aku juga ya pak,karena untuk saat ini,aku belum bisa bahagiain ibu,aku juga belum bisa apa-apa,tapi aku nggak pernah berhenti berharap setelah aku lulus kuliah nanti,aku bisa kasih ibu sesuatu yang sesuai sama perjuangan ibu untuk besarin aku sendirian sampai sekarang.
"Bapaak,aku harus apa sekarang?
"Aku harus kemana-kemana sendiri lagi sekarang,sahabat aku sebentar lagi keluar negeri untuk kuliah."
"Aku juga harus berusaha mengumpulkan keberanian untuk berangkat kenegera tempat aku akan kuliah nanti."
"Bapak,ajarin aku untuk kuat lagi,ajarin aku caranya untuk bisa tetap kuat menghadapi orang lain."
Lentera berhenti menulis karena tidak dapat menahan air matanya.
Tapi dia tidak ingin menangis didekat ibunya lagi.
Dia mulai memikirkan perasaan ibunya baik-baik,jika dia terus menangis didepan ibunya,lalu kepada siapa ibunya akan bersandar saat ingin menangis.
Selama ini,dia sudah sering mendapati ibunya yang menangis diam-diam saat sedang bekerja.
Yang akhirnya membuat dirinya harus menjadi lebih dewasa lagi,dia tidak ingin lagi membuat ibunya bersedih karena kehidupan mereka yang kurang beruntung itu.
Dia menutup bukunya lalu duduk disofa yang kini sudah mulai usang itu.
Menatap keluar kamarnya,menatap pagar tinggi yang mengelilingi rumah mewah yang kini semakin terasa sepi itu.
...***...
__ADS_1
...***...