
Tidak seperti Tera yang sudah bisa sedikit bernafas lega.
Berbeda dengan Gilang,tahun ini mungkin merupakan tahun paling berat baginya.
Dirinya sudah menjadi murid tahun ketiga,yang artinya tahun depan sudah harus menentukan akan melanjutkan pendidikan kemana.
Terlebih lagi,dirinya juga terpaksa harus belajar lebih keras lagi agar bisa kembali membanggakan kedua orang tuanya.
Semester dua dikelas sebelas dirinya bahkan masih berada diperingkat kedua,bagaimana hal itu tidak membuat ayahnya semakin marah kepadanya.
Tahun ini,jika peringkatnya tidak meningkat maka semua fasilitas hidupnya akan disimpan oleh Ayahnya,sehingga membuatnya merasa tertekan dan semakin ingin saja dia bermain diluar sana.
Tapi dirinya juga tidak suka jika orang tuanya terus-terusan membedakan dirinya dengan Lentera yang selama dua tahun ini selalu berada diperingkat atas.
Mau tidak mau harus bertahan sebentar lagi pikirnya.
...***...
Pagi tadi,dia berangkat kesekolah setelah Lentera berangkat duluan,setelah sampai,dia melewati kelas lamanya karena kelas barunya harus melewati kelas yang kini sudah ditempati Lentera.
Dia merasa heran,melihat Tera duduk dibangku kesayangannya saat masih kelas sebelas.
Menatap tera yang sedang tertawa bersama sahabatnya yang sudah hampir setahun sering bersamanya itu,dari balik kaca jendela.
"Mungkin dia suka duduk disitu,atau dia pernah liat gue duduk disitu,tapi kapan,!terus sekarang maksud dia apa,Biasanya anak-anak pintar kan suka duduk didepan atau ditengah."Gilang menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Lagipula kenapa sibuk sekali memperhatikan orang lain,pikirnya lagi.
Dia berlalu masuk kedalam kelasnya,melupakan sebentar gadis yang entah bagaimana sering mengganggu didalam kepalanya itu.
...***...
Meski baru saja masuk kembali kesekolah,Gilang yang sudah duduk dikelas dua belas itu harus langsung menerima pelajaran yang semakin sulit,membuatnya tidak betah berlama-lama dikelasnya,meski mudah baginya memasukkan segala jenis pelajaran kedalam otaknya,tapi ada saatnya juga dia merasa jenuh belajar seperti saat ini.
Tahun ini dirinya juga kembali bertemu wali kelas yang sedikit lebih tegas,apes sekali nasibnya dikelas terakhir ini,pikirnya.
...***...
Hari ini berjalan sedikit lebih lama dari biasanya,mungkin karena hari pertama semua siswa kembali menghadapi wajah-wajah baru dikelas barunya masing-masing,membuat semua siswa merasa sedikit berbeda,termasuk Gilang.
Setiap tahun guru-guru disekolah mereka selalu memisahkan semua siswa dari temannya dikelas sebelumnya agar tidak selalu bergaul dengan orang-orang yang sama,juga agar mereka bisa saling mengenal dan tahu bahwa mereka tidak hanya harus berteman dengan teman sekelas saja.
Gilang sedikit kesal karena hampir semua teman lamanya berbeda kelas dengannya,juga mungkin akan berbeda waktu pelajaran.
Sehingga akan menyulitkan mereka sering bertemu.
Dia benar-benar tidak suka keadaannya saat ini.
Tapi mau bagaimana lagi,sangat tidak mungkin baginya untuk meminta pindah kelas apalagi pindah sekolah.
Dia harus siap menjalani sisa-sisa masa SMAnya,bersama suasana baru dikelasnya,juga harus siap menghadapi tuntutan orang tuanya agar masuk ke universitas ternama.
...***...
Pulang sekolah,Gilang segera meninggalkan kelasnya,berlari kearah kelas teman-teman lamanya,tapi nyatanya mereka semua sudah keluar dari kelasnya masing-masing.
Dia dengan kesal mengacak-ngacak rambutnya.
Bagaimana bisa dihari pertama seperti ini sudah sangat menyebalkan,teman-temannya pun dengan tega meninggalkan dirinya sendirian.
Dia melangkah melewati kelas Tera,disana masih ada Tera dan Sela yang memang suka pulang saat semua temannya sudah pulang.
Tera melirik keluar dan melihat Gilang berjalan sendirian,jika tidak ada Sela mungkin saja dia sudah berlari mengejar Gilang.
Gilang berjalan pelan dengan sengaja sambil menunggu Tera keluar kelasnya.
Dia sudah sampai diparkiran motornya.
Tera dan Sela berpisah didepan gerbang sekolah karena Sela sudah dijemput bapaknya.
Gilang melihat Tera yang berjalan pelan menuju halte,kemudian melajukan motornya keluar dari gerbang sekolah.
Dia mampir tepat disamping Tera yang sudah mendekati halte.
Terlihat sepi disana,artinya bus sekolah sudah berlalu.
"Mau ikut nggak lo"
"Nggak,mas Gilang duluan aja,aku mau naik bus aja."
"Busnya udah pergi dari tadi,lo liat sendiri sudah sepi,mau lo ketemu anak-anak nakal kayak waktu itu."
__ADS_1
Tera mengingat dengan jelas kejadian diakhir juni lalu,dia memang takut kalau harus bertemu anak-anak nakal itu lagi.
"Eh iya mau deh,tapi helmnya"
"Tenang aja,masih bakal gue simpan kok,lagian ini bukan helm buat gue,memang selalu dibawa karena teman-teman gue sering numpang."
Tera mengangguk dan naik keatas motor,sambil berpegangan dipundak Gilang,kemudian melepasnya saat sudah berada diatas motor.
Gilang melajukan motornya meski Tera ketakutan duduk dibelakangnya sambil memegang kuat ujung jaketnya.
Menyadari hal itu,dia menarik tangan Tera untuk memeluk pinggangnya.
Tera yang terkaget segera menarik tangannya dan melepaskan pegangannya.
"Yang bener aja nih anak",ntar abis nyuruh pegangan,aku diomelin lagi."batin Tera
Akhirnya Gilang menurunkan laju motornya dan membiarkan Tera melipat kedua tangannya didada.
Dia merasa aneh karena baru saja menarik tangan Tera.
Dia membawa motor dengan sedikit tidak tenang,dan akhirnya memilih berhenti ditaman pinggir jalan seperti yang dilakukannya beberapa waktu lalu.
Kemudian menyuruh Tera turun dari motor dan meninggalkannya disana untuk membeli minuman disekitar taman.
Gilang kembali dengan membawa minuman dingin rasa mocha kesukaannya.
Dia yang tidak tau apa yang disukai Tera membeli rasa yang sama dengannya.
Dia mengulurkan gelasnya pada Tera.
"Mas Gilang ini rasa apa?"
"Mocha"
"Buat mas Gilang aja deh semuanya,aku nggak suka rasa mocha,"sambil menyodorkan kembali gelasnya.
"Dibuang aja kalo nggak mau."
"Sayang atuh,kalau dibuang mah,mas Gilang enak banget buang-buang duit,"
"Yaa makanya diminum."
Tera terpaksa memegang gelas itu dan meminumnya sedikit demi sedikit.
"Mas Gilang aneh banget".
"Bilang apa lo."
"Eeh nggak."
"Mas Gilang kenapa suka kesini?"
"Gue nggak suka."
"Lah terus ngapain masuk." Tera kesal karena seharusnya dia sudah harus sampai dirumah tapi malah mampir disini bersama orang yang membencinya ini.
"Biar lo bisa main,kayaknya gue liat-liat lo masih cocok main disini,sekalian gue temanin karena kebetulan gue bosan karena ditinggal teman-teman gue."
"Mas Gilang sembarangan,aku bukan anak SD tau,kalo mas Gilang bosan,sana main sendiri aja."
"Masuk aja,disini seru."
Mereka masuk kedalam dan Tera segera menuju ayunan kecil yang mampu menopang tubuh mungilnya itu.
Dia duduk disana sambil mengayun dirinya menggunakan kedua kakinya.
"Mas Gilang,pernah nonton drama nggak."
"Nggak juga,kenapa?"
"Kalau didrama,ketempat beginian itu sama orang yang mereka suka,terus diayunin sama pemeran laki-lakinya,"
"Lah aku kesini malah sama majikan aku,mana galak banget lagi,salah sedikit marah-marah,terus nggak suka sama aku juga." Tera mengomel sendiri karena Gilang berjalan kebelakang menjauh darinya.
Tera duduk diayunan sambil tetap berusaha menghabiskan minuman dinginnya.
"Pegangan." Tiba-tiba Gilang mengagetkannya.
Tapi Tera menurut,memegang tali ayunan,dan membiarkan Gilang mendorong ayunan dengan kuat,dia tertawa disana,tidak menyangka Gilang bisa melakukan hal bodoh seperti itu.
__ADS_1
Mereka menghabiskan waktu seperti anak SD yang bermain disana,sambil sesekali mengajak anak kecil yang kebetulan sedang bermain bersama orang tua mereka.
...*...
Hari semakin sore,dan sudah menunjukkan pukul setengah lima sore,handphone Gilang dan Tera berdering bersamaan.
Gilang memberi isyarat agar Tera tidak mengangkat telponnya,dan dia mengangkat telpon dari ibunya.
"Halo bu"
Belum sempat berkata apa-apa,ibunya sudah mengomelinya dan melontarkan berbagai macam pertanyaan,padahal dirinya baru saja bermain sampai sore,dan lagi tidak bersama teman-temannya,melainkan bersama 'adiknya'.
"Gilang kamu dimana?,kamu sama siapa,pasti lagi sama teman-teman kamu yang suka ngajak main itu kan,ingat yaa,dikelas tiga ini kamu tidak bisa bermain-main semau kamu,kamu suka ya selalu kena marah Ayah kamu,dan ibu jadi kena juga,sekarang cepat kamu pulang,sebelum Ayah sampai rumah,Oh iya,kamu liat Tera nggak,ini ibunya juga sibuk nyariin dia,dia sekarang jadi suka main juga ya,jangan-jangan kamu yang ajarin."
Gilang bahkan sampai menjauhkan HPnya dari telinga,dan menyalakan loudspeaker agar Tera juga mendengar.
"Mas Gilang,itu ibu mas Gilang marah-marah,nanti ibu aku juga pasti marah nih sama aku,ini gara-gara mas Gilang tau,malah ngajak mampir main kesini."
Tera kini ikut mengomel sampai terdengar oleh ibunya dan ibu Jullie.
"Gilang,kamu sama Tera,kalian dimana?"
"Ditaman anak-anak bu,tadi Tera ketinggalan bus,jadi aku ajak pulang sama-sama,terus malah ngajak mampir kesini."
Tera hampir saja mengumpat jika tidak ingat anak laki-laki didepannya ini adalah anak majikannya yang juga sering menolongnya,meski dengan sedikit berbohong.
"Tera,kamu ini,kenapa suka sekali merepotkan orang,bukannya cepat pulang bantu ibu,malah ngajak nak Gilang mampir segala." Ibu Nur menjawab diseberang sana.
Gilang tersenyum menang.
"Iya bu,ini aku sudah mau pulang kok."
"Ya sudah,cepat kalian pulang,sebelum Ayah Gilang sampai dirumah."ibu Jullie yang menjawab lagi.
Gilang memutuskan sambungan telponnya.
Lalu berjalan lebih dulu kearah motornya diparkir.
"Mas Gilaaaaang."
Bener-bener nih anak,Tera emosi sambil melempar gelas minumnya yang sudah kosong itu ketempat sampah.
"Katanya nggak suka rasanya,tapi gelasnya sampe kosong begitu."Gilang mengejeknya.
"Mas Gilang lain kali kalau nolongin orang itu yang ikhlas,sekarang malah nyalahin aku,biasanya juga nolongin,yang ngajakin mampir siapa,yang disalahin siapa?"
Tera memasang helmnya asal-asalan,tanpa memasang tali pengamannya karena kesal.
Gilang seperti melihat Tera satu tahun lalu,dimana gadis itu juga kesusahan mengancingkan pengaman helm dilehernya.
Gilang memegang helm Tera lalu memasangkannya dengan cepat.
Tera membeku,selalu saja dibuat kaget dengan perlakuan Gilang yang sampai saat ini selalu berubah-ubah.
Gilang tanpa suara naik keatas motornya,menunggu Tera sadar dari lamunannya.
"Wooyyy,mau jalan kaki lue mbak."
Tera tersadar dan dengan cepat naik kemotor Gilang.
Gilang menyadari betapa polosnya gadis yang usianya berbeda setahun dengan dirinya ini.
Bahkan hanya dengan diperlakukan seperti itu saja sudah membuatnya membatu.
Berbeda dengan teman-teman sekelasnya yang hampir semuanya sudah mengenal dunia percintaan remaja.
Gilang membawa motornya dengan pelan karena tau Tera takut menyentuhnya.
...*...
Dibelakangnya,Tera terus saja merasa bingung,jauh didalam hatinya,dia ingin terus melihat Gilang bersikap baik seperti itu,tapi dia juga tidak menyangkal bahwa besok hari belum tentu Gilang akan mau menatapnya apalagi mengajaknya pulang sekolah bersama.
Dia rindu sosok laki-laki yang memperhatikan dirinya seperti Bapaknya dulu yang selalu memperhatikan dan mengajarinya banyak hal.
Sementara dia tidak bisa banyak berharap pada Gilang,yang merupakan anak majikannya,jika dia sampai ketahuan mengharapkan perhatian dari anak ini,mungkin dia akan segera terusir dari tempat tinggalnya saat ini.
Tera semakin berharap bisa segera memantaskan diri dan menjadi orang yang pantas untuk menemui Gilang nanti.
...*...
Gilang yang sudah hampir menyadari perasaannya pada Tera,kini semakin merasa aneh,karena dirinya seringkali sengaja mengajak Tera bertemu, agar bisa memperhatikan gadis itu diam-diam dari dekat.
__ADS_1
Memang sulit sekali memahami perasaan yang aneh diusia seperti ini.
...***...