Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
38.Bertemu mas Haris


__ADS_3

Akhir tahun ini,rumah Gilang kedatangan tamu,tepatnya kakak kandung kedua dari Gilang.


Setelah beberapa tahun menghindari keluarganya,Haris memberanikan diri untuk pulang kerumah.


Dirinya benar-benar tidak pulang sama sekali selama hampir lima tahun belakangan.


Sejak tahun pertama Gilang duduk dibangku SMA,Haris sudah meninggalkan rumah orang tuanya.


Sama seperti kakak sulungnya,yang juga pergi keluar Negeri demi menghindari segala bentuk perintah dari Ayahnya.


"Benar-benar anak tak tahu diuntung,jangan pernah pulang kerumah sampai kalian punya pekerjaan yang lebih baik daripada pekerjaan Ayah." Haris masih ingat jelas kata-kata ayahnya saat dirinya lulus SMA dan tidak berniat membantu perusahaan ayahnya.


Setelah dirinya hampir menyelesaikan kuliahnya,dan menjadi asisten dosen di kampusnya,dia memberanikan diri untuk pulang karena sedikit lagi dirinya menemukan kesuksesannya sendiri.


...*...


Minggu pagi yang cerah menjelang tahun baru,taksi berwarna biru putih berhenti didepan rumah keluarga Gilang.


Lentera yang saat itu sedang menyiram tanaman dihalaman rumah,menatap keluar pagar.


Saat pagar dibuka,dirinya terpaku menatap sosok Haris yang wajahnya hampir sama persis dengan wajah Gilang.


Tapi wajah Haris terlihat lebih tegas dan dewasa.


Haris balik menatap Lentera.


..."Halo,selamat pagi."...


..."Eh iya selamat pagi juga."...


..."Kamu pasti anak asisten baru ibu aku kan?"...


..."Emh enggak baru kok,kami sudah lama banget disini."...


..."Oh iya,heheh,ya sudah aku masuk dulu."...


..."Iya mas."...


Haris masuk kedalam rumah,disambut dengan senang oleh ibunya,mereka berpelukan didepan pintu.


Lain dengan ayahnya,yang hanya duduk diam di sofa sambil terus menatap laptopnya.


..."Masih ingat jalan pulang kamu."...


..."Iya Ayah,maafin aku."...


..."Bagaimana,kamu sudah sukses sekarang?"...


..."Masih hampir Ayah,semoga secepatnya."...


..."Belum berniat melanjutkan pekerjaan Ayah?"...


..."Belum Yah,maaf ya,kan ada Andrian yang bisa bantu Ayah."...


..."Kalian ini sama saja semuanya,rasanya ingin sekali Ayah punya anak yang lain lagi."...


..."Tapi kalau anak Ayah yang lainnya itu lagi nggak mau bantu Ayah juga,bagaimana?"...


..."Kamu ini."...


Hubungan ayah dan anak itu sepertinya mulai mencair.


Sejak lima tahun kepergian kedua anaknya,pak Hermawan memang sudah sedikit bisa menerima keputusan anak-anaknya.


Sambil menunggu dan berharap mereka bertiga akan sadar bahwa tidak selamanya Ayahnya bisa mengurus perusahaan yang sudah susah payah mereka bangun.


...*...


Gilang turun dari atas untuk menyambut kakak keduanya,yang sejak tadi malam sudah sibuk menelpon,mengatakan bahwa dirinya akan menumpang tidur dikamar Gilang.


..."Woy bro,apa kabar,udah makin tinggi ya sekarang,mana makin ganteng lagi."...


..."Bisa aja lu bang."...


..."Bawain ini dong kekamar kamu,abangmu ini cuma mau numpang seminggu kok,soalnya tugas kuliah ditinggal libur seminggu aja sudah numpuk."...


..."Hemp." Gilang membawa tas ransel Haris yang berisi beberapa pakaian....


...*...


..."Gilang,habis itu langsung turun ya,kita sarapan bareng Abangmu." Ibunya berseru dari bawah tangga....

__ADS_1


..."Iya bu."...


Gilang dan Haris kembali turun kebawah,mereka mengajak ayahnya untuk ikut makan bersama.


Karena ayahnya tidak punya alasan untuk menolak,akhirnya menurut saja pada kedua putranya.


Dimeja makan sudah tersedia makanan ringan untuk sarapan.


Tera yang sudah selesai menyiram tanaman juga sudah berada didapur membantu ibunya.


Tera membawa minuman yang berbeda-beda menuju meja makan,mereka benar-benar keluarga rumit,kata hati Tera saat diminta ibunya menyiapkan minuman setiap pagi.


Ditambah kehadiran Haris yang juga membuatnya semakin kerepotan.


Haris dan Gilang gantian melihat ke arah Lentera yang hampir selesai dengan pekerjaannya.


..."Kamu nggak ikut makan." Tanya Haris....


..."Emh nggak mas,nanti saja sama ibu."...


..."Oh gitu,ya sudah,kita makan duluan ya."...


..."Iya,silakan."...


Mereka berempat duduk dikursi masing-masing menikmati sarapan pagi ini.


Lentera sibuk membantu ibunya membereskan bekas mereka memasak.


Sambil menunggu keluarga Gilang selesai makan.


Haris juga ayah dan ibunya sudah selesai dan meninggalkan meja makan.


Gilang tinggal disana sendirian,untuk memperhatikan Lentera bekerja.


Ada rasa kasihan didalam hatinya,melihat gadis yang disukainya itu harus menjadi asisten dirumahnya.


Dia akhirnya merasakan apa yang dirasakan Tera,rasa rendah diri yang berlebihan karena hanya anak seorang asisten rumah tangga.


Tera menghampirinya.


Dia bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Tera yang sudah berada tepat didepannya.


Tera bersiap mengambil piring kotor dari hadapan Gilang,menghentikan gerakannya karena Gilang yang terus menatapnya.


..."Kamu nggak capek?"...


..."Nggak,kenapa memangnya?"...


..."Kamu nggak lapar?"...


..."Belum sih,tapi selesai ini aku sarapan kok."...


..."Ya sudah duduk sini,makan dulu."...


..."Tapi mas Gilang..."...


Gilang menyuapkan roti tawar yang sudah dia gigit kemulut Lentera.


Membuat Lentera seketika terdiam lalu memukul bahu Gilang.


..."Ahh sakit tau"...


Tera berusaha mengunyah sepotong roti yang sudah berada didalam mulutnya.


..."Mas Gilang nyebelin,ini sisa mas Gilang kan,jangan-jangan mas Gilang belum gosok gigi."...


..."Haha belum,kenapa,rasa rotinya berubah ya."...


..."Dasar jorok."...


..."Hahah,ini minum dulu."...


..."Nggak,itu juga sisa mas Gilang."...


..."Cepat minum,nanti keselek baru tau rasa."...


Tera akhirnya kembali meminum susu putih yang sudah hampir sisa setengah karena diminum oleh Gilang.


Sepagi ini,Tera sudah merasa sangat bahagia karena menerima perlakuan Gilang.


Gilang bahkan masih meminum susu yang tersisa digelasnya meski sudah diminum oleh Lentera.

__ADS_1


Mereka sampai lupa bahwa ada orang yang memperhatikan mereka.


Ibu Lentera yang sedang mencuci piring geleng-geleng kepala dibuatnya.


Haris yang berdiri sejak tadi dibelakang mereka menyadari ada sesuatu disana.


..."Eheem..."...


..."Eh bang,ada apa?"...


..."Mau ngambil minum,tapi liat ada drama disini,jadi nonton dulu deh."...


..."Apaan sih bang."...


Lentera yang malu karena menyadari Haris ternyata memperhatikan mereka sejak tadi,akhirnya berdiri lalu mengambil piring kotor dimeja.


..."Mau kemana mbak,duduk aja disitu,ini aku pergi kok."...


..."Ini mau lanjut kerja dulu mas."...


..."Padahal dramanya seru,kenapa nggak dilanjut."...


..."Bang,sudah pergi sana."...


..."Haha,oke oke."...


Haris meninggalkan mereka,Gilang yang kesal karena merasa diganggu akhirnya menyusul Haris.


..."Aku duluan."...


..."Iya mas Gilang."...


Lentera melanjutkan pekerjaannya,memberikan piring kotor kepada ibunya,lalu dia mengelap meja makan,dan mengisi botol air minum dikulkas.


Setelah selesai,dia mengambil sedikit makanan dan masuk kekamarnya lebih dulu.


Didalam kamar,dia menikmati sarapannya.


Sambil mengingat kejadian beberapa menit tadi.


Dirinya membayangkan bagaimana jika hal itu dilihat oleh ayah atau ibu Gilang.


Mungkin saja dia sudah diminta menjauhi Gilang saat ini juga,meski kenyataannya tidak akan seperti itu.


Tera berhenti memakan sarapannya,dia merasa kenyang karena semua rasa berkumpul menjadi satu didalam hatinya.


Jujur saja,dia pun tidak ingin menghindari perlakukan manis Gilang terhadapnya,karena dia menyukainya,dan selebihnya dia ingin juga ingin membuat kenangan indah sebelum dia memutuskan meninggalkan rumah Gilang.


...***...


Sore harinya,Tera pamit untuk menuju ke Cafe "Happy Fun".


Hari itu,hari terakhirnya bekerja.


Meski hari Minggu,Febri tetap membuka Cafenya,karena tidak jarang teman-teman SMAnya mampir kesana saat hari libur seperti ini.


..."Tera sayang,kamu beneran hari ini mau berhenti kerja?"...


..."Iya kak,tahun depan aku harus ngurus keberangkatan aku untuk kuliah,jadi mungkin sedikit sibuk,dan nggak bisa kerja."...


Febri menyayangkan Lentera yang harus meninggalkannya itu.


Bagaimanapun,selama beberapa bulan bekerja bersamanya,Lentera selalu bekerja dengan baik,dan sering membantu temannya membereskan meja didepan saat sedang sepi,meski itu bukan bagian dari pekerjaannya.


..."Ya sudah,kamu kerja sampai jam delapan aja nanti,sisanya aku traktir kamu makan sepuasnya disini."...


..."Aduh jangan gitu dong kak,aku jadi nggak enak."...


..."Nggak papa dong,sekalian sebagai acara perpisahan deh ceritanya,kamu jangan nolak ya."...


..."Emh Baik kak."...


Mereka bekerja seperti biasa,satu persatu ada saja orang yang mampir kesana untuk sekedar duduk minum kopi dan menikmati makanan ringan atau membeli minuman untuk dibawa keluar.


Hari ini Tera tidak banyak mencuci piring karena tamu yang datang tidak memesan makanan berat.


Jadi dia memilih duduk didepan bersama Fay dan Jia yang sampai saat ini masih betah bekerja bersama Febri.


Mereka duduk mengobrol disana,meski Tera lebih banyak menjadi pendengar.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam,pintu cafe terbuka,dua orang laki-laki yang sama tampannya masuk kedalam dan duduk di kursi tepat didepan kasir.

__ADS_1


Tera menatap mereka berdua dengan kaget.


...***...


__ADS_2