Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
44.Terbang


__ADS_3

Sebelum pergi,Tera masih menyempatkan membantu ibunya mencuci piring kotor dan membereskan dapur.


Hingga waktu menunjukkan pukul sembilan pagi,ibunya mengajak masuk kekamar dan menyuruhnya segera mandi.


Dia mandi dengan cepat karena bergantian dengan ibunya,setelah berganti pakaian,dia kemudian membawa koper dan ranselnya keluar dibantu ibunya,menuju ruang tamu.


Disana ibu Jullie sudah menunggunya.


Pesawatnya memang terbang pukul setengah satu siang,tapi karena harus mengurus beberapa hal lagi di bandara nanti,juga perjalanan yang memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit jika tidak macet,maka Tera harus berangkat lebih cepat.


Ibu Jullie sudah memanggil supir panggilannya dan sedang menunggu di mobil.


...*...


Ibu Tera sejak tadi tidak banyak bicara karena menahan kesedihannya.


Sebenarnya dirinya tidak ingin Lentera pergi jauh dengan waktu yang cukup lama,tapi karena itu sudah menjadi impian anaknya sejak dulu,dan juga harapan suaminya saat itu,maka dia harus rela melepas Lentera terbang meninggalkannya.


Tadinya dia memang juga tidak ingin ikut mengantar anaknya menuju bandara karena takut malu jika banyak menangis disana,tapi karena Tera memaksa,maka dia pun menurut saja meski kakinya terasa sangat lemah.


Mereka bersiap untuk berangkat,Gilang menatap mereka dari atas,dia tidak sanggup jika harus melihat Tera yang hari ini akan meninggalkan dirinya meski baru saja tadi malam mereka menjadi sepasang kekasih.


Sebenarnya dia sangat ingin memeluk gadisnya itu,tapi pagi itu Tera bahkan tidak sempat menemuinya diatas sana,dirinya pun takut Tera marah jika dia menemuinya terang-terangan didepan keluarga mereka.


Sesak sekali dada dua orang anak muda yang tengah dimabuk cinta itu pagi hari ini.


Siapa pula yang sanggup berpisah saat baru saja saling menumpahkan perasaan masing-masing.


Lentera juga sama,dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertemu Gilang untuk yang terakhir kalinya diawal tahun ini,karena sudah pasti saat mereka bertemu kembali nanti,keadaan dan usia mereka sudah berubah.


Sampai akhirnya,saat sudah bersiap untuk masuk kedalam mobil,Lentera meminta izin kepada dua orang ibu yang sudah menunggunya didalam mobil untuk menemui Gilang.


Ibu Jullie tersenyum saja,tapi ibu Nur yang panik.


..."Tidak apa-apa bu,biarkan mereka bertemu dulu,mungkin ada yang mau disampaikan."...


..."Tapi nak Gilang dari pagi tadi seperti menghindari anak saya bu."...


..."Ibu Nur tau darimana dia menghindar,ibu nggak liat waktu sarapan tadi, matanya aja nggak pernah lepas dari Lentera."...


..."Tapi sekarang kok malah nggak turun ya bu."...


..."Mungkin aja lagi nangis dikamarnya bu Nur."...


..."Ibu Jullie bisa saja."...


Lentera berlari masuk kembali kedalam rumah.


Gilang yang menatap mereka sejak tadi dari balik jendela kamarnya,melihat Tera berlari kembali kedalam,dia segera keluar dari kamarnya.


Tera yang sudah berada dianak tangga yang terakhir,berhenti melangkah karena Gilang sudah menghampirinya dengan mata merah.


...Ternyata anak laki-laki yang selalu sok kuat ini bisa menangis juga... Ucap Tera didalam hati....


Gilang menghambur memeluk erat Tera.


Dirinya menangis meski tidak bersuara.


Lentera sendiri sesenggukan sambil membiarkan Gilang mengelus lembut kepalanya.


Tidak ada yang bersuara,air mata mereka sudah cukup menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Gilang melepas pelukannya,meraih wajah Tera yang terus tertunduk sambil membiarkan air mata terus membasahi pipi cantiknya.


Sekali lagi,Tera merasakan hangatnya nafas Cinta pertamanya itu,Tera menutup mata meski pipinya masih basah,membiarkan Gilang mencium bibirnya dengan lembut,rasanya dia tidak ingin membuka matanya dan ingin terus memeluk Gilang seperti saat ini.


Tapi menyadari waktu yang terus berjalan,dia melepas tangan Gilang dari wajahnya dengan pelan.


Membuat Gilang menarik wajahnya dari wajah Lentera.


Kenapa cepat sekali semuanya berlalu,atau dia yang terlalu lambat memberi tahu Tera tentang perasaannya.


Tera sudah siap berbalik hendak turun tangga,Gilang buru-buru mengalungkan syal berwarna merah yang beberapa hari lalu dibelinya ke leher Lentera,Tera berusaha tersenyum menerimanya.


Dan tiba-tiba Gilang ikut turun sambil menggenggam erat telapak tangannya.


Meski takut ketahuan oleh ibu mereka,tapi Tera juga tidak melepas genggaman tangan Gilang.


Gilang mengantar sampai didepan pintu mobil tanpa melepas pegangannya pada tangan Tera.


Ibu Jullie sampai senyum-senyum sendiri melihat tingkah anak bungsunya itu,melihat kelakuannya saja,membuat siapapun langsung tahu bahwa dirinya sedang jatuh cinta.


Ibu Nur bersiap hendak turun dari mobil menarik anak gadisnya.


Tapi ibu Jullie menahan tangannya dari bangku depan.


..."Bu Nur kayak nggak pernah muda aja,heheh."...


..."Tapi bu..."...


..."Hust,sudah bu,biarkan saja."...


Gilang sudah membuka pintu mobil untuk Tera,tapi tangannya bahkan seakan tidak bisa terlepas meski Tera sudah bersiap naik.


..."Mas Gilang..."...


Yang lain malah menertawakan kelakuan mereka.


Yang ditertawakan malah mesem-mesem sendiri.


Mereka tidak menyangka,karena ibu mereka bahkan tidak marah melihat mereka seperti itu.


..."Gilang,kalau mau ikut,nggak usah malu-malu,ayok naik cepat."...


..."Nggak usah bu,takutnya nanti aku malah ngusir pesawatnya biar Tera nggak jadi pergi."...


..."Kamu ini bisa aja godain anak orang,nanti dimarahi ibunya baru kapok loh."...


..."Heheh maaf ya bude,abisnya saya jadi nggak punya teman lagi dirumah kalau Tera pergi."...


..."Kan teman nak Gilang di kampus banyak toh?"...


..."Tapi yang mau digangguin terus kayak Tera nggak ada bude,hehe."...


..."Ya sudah,nanti ibu cariin kamu teman lagi buat dirumah,mau kan?" sahut ibunya....


..."Nggak usah bu,aku nggak mau yang lain lagi."...


..."Ya sudah kalau gitu,kami berangkat dulu ya,kamu jaga rumah sebentar."...


Gilang akhirnya menutup pintu mobil dan melambaikan tangan pada mereka,khususnya kepada Tera.


Lentera menurunkan kaca mobil,dan tersenyum manis meski tidak mampu berucap apa-apa lagi.

__ADS_1


Gilang balas tersenyum.


Mobil melaju pelan,meninggalkan Gilang sendirian disana.


Lentera terus menatap Gilang dari balik kaca mobil sambil memainkan kukunya yang sedikit panjang hingga bayangan Gilang sudah tidak nampak lagi saat mobil sudah meninggalkan rumah mewah itu.


Ibu Nur menepuk pundak anaknya.


Meski Tera tidak pernah bercerita apa-apa soal urusan cintanya,kini ibu Nur tau bahwa Tera menyukai Gilang lebih dari seorang teman.


Mereka hanya diam sepanjang perjalanan,karena sibuk menyimpan kesedihan masing-masing.


Tiga puluh menit perjalanan,hampir pukul setengah sebelas,mereka sedikit terlambat karena sibuk dengan drama Gilang dan Tera tadi.


Mereka segera memasuki bandara,masih ada waktu sebelum pesawat lepas landas.


Tera memeluk erat ibunya,sambil menangis sejadi-jadinya.


Begitu pula ibunya,mereka tidak ingin berpisah,tapi inilah jalan yang dipilih Lentera dan mengharuskannya jauh dari orang yang sangat disayanginya ini.


Bahkan supir ibu Jullie yang ikut turun membawakan koper Lentera pun ikut meneteskan air mata melihat ibu dan anak itu.


Ibu Jullie pun sama,kini dia harus melepas anak perempuannya itu pergi dari rumahnya.


Baru saja beberapa tahun merasakan kehadiran anak perempuan dirumahnya,kini sudah ditinggal lagi.


Tera melepas pelukannya dari ibunya,lalu menghambur memeluk ibu Jullie yang juga terlihat sedih.


Ibu Jullie yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri itu balas memeluknya.


..."Ibu maafin saya kalau selama dirumah ibu,saya banyak merepotkan ibu,juga terima kasih karena ibu sudah sayang sama saya kayak anak ibu sendiri."...


..."Iya sayang,sama-sama."...


Lentera melepas pelukannya,lalu menyalami supir ibu Jullie,supir yang dulu pernah mengantarnya ke sekolah untuk pertama kalinya.


..."Saya pamit ya pak,jangan berhenti kerja sama ibu Jullie sampai saya kembali lagi ya pak,hehe."...


..."Saya pasti sudah tua sekali atuh mbak Tera,kalau Si mbak perginya sampai bertahun-tahun."...


..."Heheh bapak bisa aja,saya pergi dulu ya pak."...


..."Baik mbak Tera."...


Lentera menyalami Ibu Jullie dan Ibunya lagi lalu melangkahkan kakinya menuju ruang Cek In.


Karena pengantar penumpang pesawat hanya bisa mengantar sampai di Lobi Bandara,jadi dia harus segera mengurus dirinya sendiri disana.


Dia berbalik lalu melambaikan tangan lagi.


Sambil memberi isyarat agar mereka segera pulang.


Dengan berat hati,ketiga orang yang mengantarnya itu berbalik untuk pulang kerumah.


Tera menangis lagi saat melihat punggung mereka yang menghilang dari pandangannya.


...*****...


......Halo semuanya,untuk para readers yang masih setia membaca dan mengikuti kisah mereka.......


...Tetap dukung dan lupa kasih komentar maupun kritik yang baik ya......

__ADS_1


...Terima kasih❤️...


...Othor sayang kalian..heheh🙏❤️...


__ADS_2