
Sebulan sudah Lentera menjalani pekerjaannya.
Bulan ini dia menerima gaji pertamanya,meski tidak seberapa tapi dia bersyukur karena bisa merasakan hasil kerjanya sendiri,usai menerima gaji miliknya malam ini,dia langsung berjalan menuju toko pakaian di sekitar sana yang buka sampai dini hari,dan membeli syal untuk diberikan kepada Sela.
Bulan Agustus ini,merupakan hari kesedihan pertamanya karena berpisah dengan Sela,sahabatnya yang sudah menemaninya selama tiga tahun belakangan.
Minggu depan Sela akan berangkat Ke Negeri Singa karena segala keperluannya sudah selesai dipersiapkan.
Sebulan terakhir mereka bahkan tidak pernah bertemu karena Lentera yang sibuk bekerja dan Sela yang mengurus persiapan masuk kuliahnya.
...*...
Hingga tiba hari keberangkatan Sela dihari Minggu pagi.
Tera yang tadi berpamitan kepada orang dirumah untuk kebandara mengantar sahabatnya berlarian keluar pagar rumah yang kini sudah berganti warna itu.
Belum jauh berjalan,Gilang berhenti disampingnya dengan motor gedenya yang baru itu,lengkap dengan helm dikepala dan satu lagi ditangannya.
Dia melempar helm miliknya kearah Tera yang bingung menatapnya.
..."Naik,kalau nunggu bis keburu teman kamu berangkat duluan,kamu belum sampai disana."...
Tera menurut saja,sambil mengenakan helmnya,dia naik keatas motor.
Gilang melepas jaketnya.
..."Kok dilepas mas,ini masih pagi,dingin tau."...
..."Terus kalau kamu sudah tau masih dingin kenapa cuma pakai baju kaos begitu."...
..."Buru-buru mas,jadi enggak ingat."...
..."Makanya pakai ini cepat," Gilang ternyata memakai jaket berlapis dua....
..."Eh ya ampun mas Gilang sampai pake jaket dua begini,nggak gerah mas."...
..."Ya enggak,tapi pengap,haha,kan demi kamu,tadi aku liat kamu main lari aja,jadi aku balik lagi pakai jaket dobel."...
..."Tapi kan bisa dipegang toh."...
..."Kamu enggak liat,aku bawa helm,harus megang jaket lagi,kamu pikir tangan aku ada berapa."...
..."Hehe maaf mas Gilang."...
..."Tumben banget kamu ketawa-ketawa begitu,biasanya selalu kabur kalau liat aku."...
..."Entahlah,udah buruan,nggak usah nanya terus,eh tapi aku mau nanya dulu sama mas Gilang?"...
..."Apa,cepetan?"...
..."Sejak kapan mas Gilang pintar manggil orang lain pake "Kamu" "Aku",biasanya selalu bilang "Gue" "Elu" kayak gitu."...
..."Sejak tadi,hahah,enggak tau deh,lupa gue."...
..."Udah,mas Gilang pake "gue" "elu" aja,aku lebih suka dengarnya."...
..."Ya terserah aku dong,mau manggil orang apa,sibuk banget kamu ini."...
..."Eeh maaf mas,jangan marah,masih pagi,hehe."...
..."Ya sudah kamu diam aja dibelakang,kita berangkat."...
...*...
Tiga puluh menit perjalanan menuju kebandara,untung saja Sela masih menunggu diluar bandara.
Tepat pukul sembilan nanti,pesawat Sela akan terbang.
Karena masih pukul setengah delapan pagi,mereka masih punya banyak waktu untuk bersama disana,meski Tera dan Gilang hanya bisa mengantar sampai dilobi bandara,tapi sudah cukup membuat Sela merasa berarti,apalagi hari itu Tera datang bersama Gilang,setidaknya ada dua orang teman yang menatap kepergiannya hari ini,sementara bapak ibunya tidak ikut mengantar karena tidak sanggup berpisah dengan anak sulungnya itu,jika mereka mengantar bisa saja Sela justru tidak jadi berangkat.
Karena masih harus chek in dibandara,maka Sela harus masuk dan mengurus keberangkatannya sendirian.
Mereka berpelukan disana,menahan air matanya masing-masing agar tidak tumpah dan membuat mereka terlihat menyedihkan.
Tera melepas pelukannya dari sahabat satu-satunya itu,lalu mengalungkan syal berwarna merah di leher Sela,sambil menyemangatinya agar tetap bertahan disana sampai selesai berkuliah.
__ADS_1
Gilang menepuk pundak Sela,sambil ikut memberinya semangat.
..."Terima kasih kak Gilang,terima kasih Tera,karena kalian sudah mau repot-repot ngantar aku kesini,kalian baik-baik ya disini,oh iya Tera kamu yang semangat kerjanya."...
..."Siap Sela,kamu juga baik-baik disana,kita pamit pulang ya,jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai."...
"Sampai ketemu lagi Sela." Gilang melambaikan tangannya kearah Sela yang mulai melangkah meninggalkan mereka.
...Lentera yang sudah tidak sanggup menahan air matanya,mulai menangis sesenggukan disana,sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya....
Karena menangis sambil berjalan,Gilang merangkul pundaknya agar dia tidak menabrak apapun didepannya,sambil terus menepuk pundak Tera sampai diluar bandara.
..."Sudah selesai nangisnya adik kecil."...
Tera menganggu lalu melepas tangannya dari wajah,matanya memerah.
..."Lama-lama aku bisa jadi hapal cara nangis kamu."...
..."Kenapa?"...
..."Aku sampai lupa sudah berapa kali liat kamu nangis kayak anak kecil begitu."...
..."Emang iya,tapi belum sampai lima kali kan."suara Tera masih serak....
..."Hum belum sih kayaknya,tapi aku pastikan bisa sampai lima kali nanti,haha."...
..."Bisa aja,ayo pulang."...
..."Oke anak kecil cengeng."...
Lentera memukul bahu Gilang,lalu naik keatas motor.
Perjalanan pulang pagi itu terasa berat bagi Tera,dia masih harus bertahan hingga akhir tahun disini tanpa Seorang teman,meski memiliki teman bekerja dan ditempat les,tapi mereka berbeda dengan Sela.
..."Mas Gilang,aku boleh mampir nggak,kalau nggak mau nunggu,mas Gilang boleh pulang duluan,nanti aku naik ojek atau taksi aja pulangnya."...
..."Mau kemana?"...
..."Mau ketaman Kota."...
Suara mereka diatas motor memecah keheningan dijalan pagi itu.
Tidak lama kemudian,mereka tiba ditaman kota yang terlihat mulai ramai itu.
Tera turun dan berlari lebih dulu menuju pohon linden yang semakin tinggi didepan danau buatan didalam sana.
Dia duduk lalu menyandarkan tubuhnya dibatang pohon.
Tenang sekali,dirinya terakhir kali duduk disana bersama Sela.
Tera menutup matanya menikmati angin dipagi hari yang sedikit mendung ini.
Gilang menyusulnya,berdiri tidak jauh dari tempat Tera duduk,Gilang mengeluarkan ponselnya lalu memotret gadis cantik yang masih menutup matanya dibawah pohon yang rimbun itu.
Gilang menatap gadis yang kini ada didalam ponselnya itu,meski terlihat cantik,tapi wajahnya selalu nampak sendu,entah berapa banyak keluh kesah yang tersimpan didalam hati seorang gadis semuda itu.
Gilang menggenggam erat ponselnya,memasukkannya kembali kedalam saku jaketnya.
Jauh didalam hatinya,ingin sekali dia memeluk Tera,mendengarkan apapun yang akan diceritakan kepadanya,mengatakan dengan jujur bahwa dia mencintai Tera,tapi semua itu bukan hal yang mudah,gadis itu pasti akan mengira dirinya sedang mempermainkan orang lain,karena sejak awal gadis itu pun tahu bahwa dirinya sangat tidak suka pada kehadirannya.
Mereka tenggelam dalam lamunannya masing-masing.
Lentera membuka matanya lalu melihat kearah Gilang yang berdiri disana sambil menatap kosong ke arah danau.
..."Mas Gilang" Panggil Tera....
Gilang masih diam.
Lentera akhirnya berdiri melangkah ke arah Gilang.
..."Mas Gilang."...
..."Eh iya,kenapa."...
..."Mas Gilang kenapa."...
__ADS_1
Gilang menggeleng,lalu tiba-tiba memeluk Tera.
..."Mas Gilang,kenapa sih,lepas nggak,malu diliat orang."...
..."Bisa diam sebentar,kalau aku lepas sekarang malah makin malu."...
Lentera akhirnya diam saja,membiarkan Gilang memeluknya meski tidak tau apa alasan kakaknya itu memeluk orang sembarangan.
Gilang akhirnya melepas pelukannya,lalu melangkah meninggalkan Tera dibelakangnya.
Tera berlari mengejar.
..."Mas Gilang apa-apaan sih,nggak jelas,habis peluk orang sembarangan malah kabur aja,bukannya minta maaf."...
..."Iya maaf,cepat pakai,kita pulang."...
...Tera menurut lagi....
Mereka meninggalkan taman kota yang semakin ramai.
Sampai dirumah,Tera membuka helm lalu memberikannya pada Gilang tanpa mengatakan apapun.
Baru saja hendak melangkah kekamarnya,lengannya lagi-lagi ditahan oleh Gilang.
..."Mas Gilang,kenapa sih,nanti diliat sama orang rumah,bisa kena omel kita."...
..."Tera,maafin aku."...
..."Maafin kenapa sih mas?"...
..."Maafin aku karena sejak kamu datang kesini,aku nggak bisa nerima kamu,tapi sekarang,aku malah takut kamu pergi dari sini."...
..."Ih mas Gilang apaan sih,pasti takut nggak punya pembantu cantik lagi kan."...
Gilang malah menjitak kepalanya,karena kesal melihat Tera malah menanggapinya dengan bercanda.
..."Aahh sakit tau."...
Lentera memegangi kepalanya.
Gilang sudah melepas genggamannya dan bersiap meninggalkan Tera.
..."Mas Gilang."...
..."Apaaa."...
..."Nggak jadi,masuk sana."...
Lentera berlari masuk kamarnya menghindari Gilang yang bersiap akan menjitak kepalanya lagi.
Gilang tertawa sendiri melihat tingkahnya.
Mereka masuk kekamar masing-masing.
Saling memikirkan satu sama lain.
Ada yang aneh didalam hati mereka.
Tapi mereka sama-sama takut jika mengungkapkan apa yang tengah rasakan justru membuat jarak diantara mereka.
Tera dengan kesal menggulingkan badannya dikasur sampai terjatuh kelantai.
Kepalanya terbentur di lantai,beruntung ada karpet bulu disana,tapi tetap saja kepalanya terasa sakit.
..."Argh."Tera meringis sambil memegangi kepalanya....
..."Semua gara-gara mas Gilang nih,aku malah jadi aneh kayak begini,dari tadi nggak jelas kelakuannya,apa lagi tadi bilang nggak mau aku pergi dari sini,duhh aku merinding jadinya,apa coba maksudnya,Oh iya,kalau aku nggak ada kan,dia pasti kesepian karna nggak ada orang yang bisa digangguin,ish makin kesal jadinya."...
Lentera menggerutu sendirian dikamarnya.
Gilang diatas sana tidak kalah frustasi.
Hampir saja dia mengatakan perasaannya pada gadis labil yang membuatnya semakin merasa tidak karuan itu.
...***...
__ADS_1