Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
69.Nyaman dan Bimbang


__ADS_3


Tera sudah berada diatas pesawat,untuk kembali...


Pikirannya kini seperti simpulan yang sulit untuk disatukan.


Dirinya bukan lagi anak SMA yang dulu akan selalu ceria saat melihat orang yang disukainya.


Saat ini,perasaan suka itu justru membawanya pada rasa sakit dan penyesalan yang masih belum menemukan jawaban.


Bukan...


Bukan pertemuannya dengan Gemilang Andara yang dia sesali.


Tapi karena hatinya terlalu cepat menjatuhkan pilihannya pada pemuda itu sebagai cinta pertamanya.


Dia menjadi orang bodoh yang bahkan kesulitan menerima cinta dari orang lain hanya karena hatinya yang terlanjur mencintai satu orang dimasa mudanya.


Setelah sampai nanti,dia bahkan takut jika seseorang yang mengenalnya akan tahu tentang kembalinya dia ke kota JK.


..."Kenapa menjadi dewasa serumit ini..."...


..."Jika bisa,aku pasti akan memilih tetap menjadi anak yang tinggal dikota kecil,jika aku tahu semuanya menjadi seperti ini..."...


Gumam Tera didalam pesawat,sebelum akhirnya tertidur...


...*...


Selama hampir delapan jam perjalanan tanpa transit,Lentera tiba dibandara internasional Ibu Kota.



Benar-benar sendirian tanpa ada orang yang menjemputnya.


Ada rasa aneh didalam dirinya karena melihat mahasiswa lain yang disambut hangat oleh keluarganya masing-masing.


Dia meratapi nasibnya sambil tertunduk dan berjalan keluar dari bandara.


Sampai di luar,dia merasakan udara yang berbeda dari Negeri Ginseng.


Dia menarik nafas panjang,lalu mencari taksi yang akan membawanya pulang.


Dia menatap layar ponselnya.


Menatap foto rumah yang ibunya yang dikirimkan oleh Sela beberapa hari lalu.


Rumah kecil berdesain kayu itu berada tidak jauh dari rumah Sela.


Dengan pagar pendek yang mengelilingi halamannya.


Tera sepertinya akan menyukai suasana rumah barunya.


Rumah itu sebentar lagi benar-benar menjadi miliknya.



Tera menjadi tidak sabar untuk cepat-cepat sampai kesana.


Segera dia menghampiri taksi yang berada tidak jauh darinya.


Lalu meminta supir taksi itu mengantarnya menuju rumah yang sangat dia rindukan selama dua tahun ini.


Taksi melaju dengan kecepatan sedang,Tera membuka jendela,dan merasakan angin senja menerpa wajahnya.


..."Aku kembali,tapi kenapa aku begitu takut menemuimu..."...


Dia membatin,memikirkan apakah dia harus segera menemui Gilang atau menunda sampai dirinya benar-benar siap.


...*...


Hampir pukul delapan malam,dia tiba didepan rumah ibunya.


Sudah sepi,mungkin ibunya sedang berada didalam.


Setelah membayar taksi,dia turun dan melihat sekelilingnya.


Semuanya sudah tampak berbeda,banyak rumah-rumah yang sudah direnovasi dan suasana disana terlihat indah dan sejuk.


Angin malam kembali bertiup membuatnya kedinginan,meski belum larut,tapi cuaca sudah menjadi lebih dingin.


Mungkin karena tempat tinggal mereka yang berada agak jauh dari keramaian kota.


...*...

__ADS_1


Tera melangkahkan kakinya menuju teras rumah,dan sekali lagi menatap layar ponselnya,untuk memastikan bahwa ini benar-benar rumahnya.


Dia memang sengaja tidak memberi tahu siapa-siapa tentang kepulangannya.


......Tok tok tok.........


Dia mengetuk pintu dengan pelan.


Tanpa menunggu lama,ibunya segera membuka pintu untuknya.


Ibunya yang semakin tua itu mematung didepan pintu.


Tera tidak dapat menahan diri dan langsung menghambur memeluk erat ibunya sambil menangis terisak.


..."Apa ini benar-benar anak ibu...?"...


Tera mengangguk.


Ibunya melepas pelukan untuk memastikan gadis itu benar-benar Lentera,anaknya.


..."Anak ibu sudah semakin tinggi saja,tapi kenapa kamu semakin kurus saja nak?"...


Tera menggeleng,lalu kembali memeluk ibunya.


..."Ibu...aku nggak mau jauh-jauh dari ibu lagi..."...


..."Iya nak,sekarang kamu bisa tinggal disini terus sama ibu..."...


Menahan kerinduan itu benar-benar pekerjaan melelahkan,batin Tera didalam pelukan ibunya.


..."Ya sudah,ayo masuk dulu,disini dingin..." Ajak ibunya lalu menutup pintu setelah Tera mengambil koper miliknya....


..."Ibu,aku suka disini..."...


..."Iya nak,ibu juga suka,suasananya tenang..."...


..."Iya bu,oh ya aku lapar bu,heheh..."...


..."Kamu belum makan?"...


..."Sudah bu,tapi rindu masakan ibu..."...


..."Kamu ini,ya sudah,mandi dulu sana,ini kamar kamu,setiap hari ibu bersihkan,sambil nunggu kamu pulang,eh sekalinya pulang nggak ngabarin ibu..."...


Tera masuk kedalam kamarnya,dia merasa senang,karena akhirnya dia bisa punya kamar sendiri.


Meskipun tidak sebesar kamarnya dirumah Gilang,tapi kamar kecilnya kini sudah sangat membuatnya merasa nyaman.


Masih terasa kosong,karena hanya ada kasur kecil serta lemari dua pintu yang sepertinya masih baru.


Tidak ada meja belajar,mungkin karena ibunya berpikir dia sudah tidak membutuhkannya.


Tapi kini Tera masih membutuhkan sebuah meja untuk bekerja.


..."Aku akan membelinya nanti..." Gumamnya sendirian sambil mencari baju untuk berganti....


Dia masuk kekamar mandi yang berada diluar kamar,disisi kiri dapur,tempat ibunya memasak.


..."Tera,kamar mandinya sekarang diluar kamar,jadi kamu harus terbiasa ya..."...


..."Siap bu,aku selalu terbiasa dengan apa saja,hehehe..."...


..."Mandi yang cepat,ibu sudah hampir selesai masaknya..."...


..."Iya bu..."...


Sepuluh menit kemudian,Tera keluar kamar mandi dan masih membiarkan handuk berada dikepalanya.


Meski cuaca malam yang dingin,dia tetap mandi agar tubuhnya terasa lebih segar.


Setengah sembilan malam,dia makan ditemani ibunya yang duduk didepannya sambil menonton televisi.


..."Bu,kenapa TVnya disimpan didapur sih bu?"...


..."Biar kalo lagi buat kue untuk dijual ibu tidak kesepian..."...


..."Ibu bisa aja,kan bisa sambil nelpon aku bu,kalau memang butuh teman ngobrol."...


..."Biaya telpon keluar Negeri itu mahal Tera..."...


..."Hahaha ibu benar juga..."...


..."Lanjutkan makanmu,lalu cepat masuk kamar dan istirahat,Oh iya,kapan kamu mulai masuk kerja?"...

__ADS_1


..."Lusa bu..."...


..."Cepat sekali Tera..."...


..."Entahlah bu,karena cuma pekerja,jadi harus nurut apa kata bos,heheh..."...


..."Ya sudah,cepat makan,tidur yang nyenyak,kamu pasti capek karena perjalanan jauh..."...


..."Iya bu,sebentar lagi..."...


..."Oh ya,disana bagaimana,kamu suka disana atau disini..."...


..."Disana enak bu,tapi akan lebih enak kalo sama ibu...heheh..."...


..."Bukannya kalau sendirian,kamu jadi lebih bebas,karena nggak ada yang ngomel..."...


..."Tapi nggak dengar ibu ngomel nggak seru bu,heheh..."...


..."Sembarangan kamu ini,jadi suka kalau ibumu ini ngomel setiap hari..."...


..."Jangan bu,nanti telinga aku budek gimana..."...


..."Sudah,jangan ngobrol terus,cepat habiskan makananmu itu..."...


..."Baik ibu..."...


...*...


Selesai makan,Tera bersiap masuk kedalam kamarnya,meninggalkan ibunya yang masih duduk menikmati acara televisi.


..."Bu,jangan lama-lama nontonnya,besok kan harus jualan..."...


..."Iya Ra,sebentar lagi..."...


Setelah mengambil selimut,Tera malah masuk kedalam kamar ibunya.


Masih belum pukul sepuluh malam,Tera mengambil ponselnya,melihat kembali kenangannya selama berada di luar Negeri.


Rasa rindunya pada musim semi dan musim gugur mengganggunya.


Dia ingin kembali,untuk menikmati bunga sakura disana,tapi tidak ingin tinggal lebih lama.


Tidak ingin merasa sedih lebih lama,dia melihat nomor kontak diponselnya.


Nomor ponsel Gilang masih dia simpan,entah pemuda itu masih menggunakannya atau sudah mengganti nomornya,tapi Tera bahkan tidak bisa menghapusnya.


Dia menyadari ponselnya yang memang sangat minim nomor kontak milik orang lain,bahkan bisa dihitung hanya dengan menggunakan sepuluh jari.


Dia tertawa sendiri menyadari keanehan dirinya.


..."Aku sudah dua puluh empat tahun,tapi masih saja seperti anak SMP yang sangat kekanakan."...


Gumamnya pada dirinya sendiri.


Karena bosan dan lelah,akhirnya dia tertidur dikasur milik ibunya yang sedikit lebih besar dari kasurnya.


Mereka berdua masih bisa tidur bersama,karena tubuh Tera yang semakin kurus.


...*...


Beberapa menit kemudian,ibunya masuk kedalam kamar dan melihat Tera yang masih setengah tertidur sambil memeluk ponselnya.


..."Tera sayang,kenapa nggak tidur dikamar kamu,nak?"...


..."Emhhh,Tera menggerakkan tubuhnya agar ibunya bisa tidur disampingnya....


..."Tera,ayo pindah kekamar kamu,kamu sudah bukan anak kecil lagi..."...


..."Buu...tapi aku mau tidur sama ibu malam ini aja..."...


..."Ya sudah,tidurlah,tapi jangan ngorok..."...


..."Ehhe nggak bu..."...


Tera akhirnya tertidur lelap sambil memeluk ibunya yang mengelus kepalanya dengan lembut.


..."Tera,kamu benar-benar sudah besar nak,bagaimana kalau kamu sudah menikah nanti,ibu pasti akan kesepian kalau kamu ninggalin ibu lagi..."...


Bisik ibunya sedih sambil terus mengusap kepala anak gadisnya yang kini sudah dewasa itu...


^^^"Bersambung yaa..."^^^


^^^"Terima kasih atas dukungannya..."^^^

__ADS_1


...❤️❤️❤️...


__ADS_2