
...❤️❤️❤️...
..."Langsung satu tahun saja ya..hehehe,biar nggak kelamaan,karena partnya masih panjang..."...
...Happy Reading semuanya..."...
Tanpa terasa sudah setahun Lentera berada di Negeri orang.
Dan sekolah bahasanya sudah selesai.
Di tahun kedua ini,dia akhirnya bisa berkuliah dan akan bertemu dengan mahasiswa lainnya.
Hubungannya dengan Gilang masih baik-baik saja.
Meski kadang Tera merasa lelah karena setiap hari harus mengabari lewat telepon maupun panggilan video.
Tera masih menyukai Gilang sama seperti saat pertama kali dia melihat pemuda itu.
Tapi karena jarak yang jauh,membuatnya sedikit kesulitan.
Bahkan ibunya saja hanya meminta dikabari beberapa hari sekali karena takut mengganggu waktu belajarnya dan takut kalau Tera hanya selalu ingin pulang jika setiap hari mendengar suara ibunya.
Tapi Gilang selalu meminta agar dia menghubunginya setiap hari.
Dia tidak pernah menduga Gilang bisa menjadi orang yang posesif jika berbicara soal hubungan.
...*...
Hari ini karena Lentera sibuk dengan urusan kuliah dan mengurus kepindahannya ke asrama one room,membuatnya lupa menghubungi Gilang,bahkan ponselnya seharian tidak terdengar berdering karena dia sengaja menyalakan mode silent agar aktivitasnya tidak terganggu.
Hingga hampir jam satu malam,dia merebahkan dirinya diatas kasur sempit didalam kamar barunya.
Dia merasa nyaman meski hanya satu ruangan kecil yang kini dia tempati,setidaknya dia bisa bebas menangis kapan saja tanpa khawatir teman-temannya melihat.
...*...
Dia menatap layar ponselnya yang sudah hampir kehabisan daya.
Dua puluh kali panggilan terlewatkan sejak tadi pagi.
Bahkan ada puluhan chat dan voice note dari Gilang.
Tera terheran sendiri menatap tulisan Gilang.
Dia tidak habis pikir,orang yang dulu membencinya itu,kini sudah berubah drastis dan sangat takut jika ditinggalkan begitu saja.
Setiap hari dia mendengar atau membaca tulisan Gilang yang selalu mengatakan hal yang sama.
..."Tolong jangan berubah,dan jangan tinggalkan aku sendirian."...
Bukankah dia tidak sendirian...pikir Tera.
Justru Tera lah yang harus berjuang sendirian disini,melewati semuanya tanpa satu orang pun yang memahaminya.
Tera sudah melewati ulang tahunnya yang kesembilan belas sendirian disini,sementara Gilang merayakan ulang tahunnya yang kedua puluh bersama orang tuanya,bahkan bersama ibu Tera.
Tera sudah melangkah sampai sejauh ini,tapi keadaan mereka masih sangat jauh berbeda,membuat Tera merasa muak akan semuanya,dia memang mencintai Gilang dengan tulus,tapi entah kenapa karena keadaan mereka,membuat Tera tidak pernah merasa benar-benar bahagia.
...*...
Ponselnya Gilang berdering panjang diatas nakas disamping tempat tidurnya.
Sudah pagi,Lentera baru kembali menghubunginya.
..."Tadi malam sibuk ngapain?"...
__ADS_1
..."Sibuk ngurus kuliah aku mas Gilang,terus juga ngurus pindahan,tadi malam karena sudah larut,jadi aku nggak berani telpon balik,takut ganggu,aku juga capek banget,jadi aku tinggal tidur."...
..."Tapi aku nungguin sampai hampir subuh...!"...
..."Ya maaf,kan aku nggak tau."...
..."Makanya dibalas dong chat aku,atau telpon balik biar tau..."...
..."Kan udah dibilangin takut ganggu..."...
..."Terserah kamu deh Ra,aku mau sarapan dulu,nanti aku telpon lagi kalo ingat."...
..."Tapi mas Gilang..."...
..."Udah,nggak usah ngomong apa-apa lagi kalau lagi capek,istirahat aja dulu sana..."...
Sambungan telpon terputus,Gilang memutuskannya tanpa memikirkan perasaan Tera.
Tera tahu kesalahannya,karena tidak membalas pesan Gilang sebelum tidur,tapi bukankah dia sudah mengatakan alasannya.
Tera dengan malas bangun dan duduk dimeja belajarnya.
Dia berpikir keras lagi.
Gilang tetap saja Gilang.
Dirinya tetap dirinya.
Gilang dengan sikapnya yang mudah marah,dan Tera yang sulit menjelaskan perasaannya dengan jujur.
Membuat mereka kadang kesulitan mengatur emosi mereka.
Apalagi jika berhubungan jarak jauh seperti sekarang.
Ingin sekali rasanya Tera membanting saja ponselnya,agar dirinya punya alasan agar tidak dihubungi,tapi bagaimana dengan ibunya...
Tidak ada lagi yang akan memperhatikannya diam-diam,apalagi secara terang-terangan.
Dia menyukai keadaannya saat ini,sekaligus saat membencinya...
...*...
Sampai dua hari Gilang tidak menghubunginya,Meskipun Lentera merasa aneh,tapi masih tetap berharap Gilang menelponnya.
Selama setahun dia berada disini,tidak ditelpon oleh Gilang sampai dua hari seperti ini adalah hal langka.
Lentera hanya takut jika Gilang memutuskannya secara sepihak lalu bersenang-senang diatas kecurigaannya.
Karena rasa takutnya,akhirnya dia memilih menelpon lebih dulu disela-sela jam istirahatnya.
..."Halo mas Gilang..."...
..."Iya kenapa?"...
..."Mas Gilang marah sama aku?"...
..."Nggak?"...
..."Terus kemarin habis matiin telpon sampai sekarang nggak pernah telpon,ini baru pertama kalinya mas Gilang kayak gini,mas Gilang mau kita putus?"...
..."Eh nggak Ra,kemarin aku memang kesal,tapi kalau nggak nelpon karena memang lagi sibuk aja."...
..."Mas Gilang sibuk apa,biasanya juga sambil kuliah bisa ngirim pesan sama aku?"...
..."Mau ujian Ra..."...
__ADS_1
Gilang berdalih,karena memang dirinya merasa kesal dua hari lalu,akhirnya dia harus menahan diri untuk tidak menelpon Tera,meski itu adalah paling sulit untuk dilakukan.
..."Mas Gilang bohong..."...
..."Nggak Ra..."...
..."Nggak gimana,disana ujian sudah selesai bulan januari lalu,mas Gilang nggak pura-pura lupa kan,ini sudah bulan April."...
..."Aku ada ujian tambahan..."...
..."Mas Gilang,aku mau putus aja..."...
..."Tera..."...
..."Kenapa?"...
..."Aku nggak mau Ra."...
..."Tapi mas Gilang yang mulai."...
..."Aku minta maaf."...
..."Minta maaf untuk apa?"...
..."Emh karena kemarin sudah marah,dan nggak nelpon kamu?"...
..."Jadi mas Gilang marah kan?"...
..."Iya,kemarin,sekarang sudah nggak..."...
..."Mas Gilang suka kan kalau nggak harus capek-capek hubungin aku setiap hari?"...
..."Nggak Tera,kamu nggak tau kan,aku sampai hampir Gila karena nahan diri untuk nggak nelpon atau ngirim pesan sama kamu..."...
..."Terus kenapa nggak telpon?"...
..."Pengen tau aja,kamu bakal hubungin aku duluan atau nggak."...
..."Nggak jelas."...
..."Maaf..."...
..."Aku masuk kelas dulu,tahun depan aku telpon lagi..."...
..."Teraaa..."...
Giliran Tera yang memutuskan telpon lebih dulu,membuat Gilang berdecak kesal diseberang sana.
Mereka kekanakan sekali,bertengkar kecil seperti ini menjadi awal yang buruk untuk hubungan jarak jauh.
Gilang yang tidak benar-benar memahami arti hubungan mereka merasa membenci dirinya sendiri maupun Tera.
Dia tidak bisa mengendalikan emosinya karena Tera yang seakan sengaja menghindarinya.
Satu tahun pertama saja mereka sudah hampir goyah.
Bagaimana caranya mereka bisa bertahan sampai 5 tahun lagi.
Gilang benar-benar kesal,ingin sekali rasanya dia menyusul Lentera kesana,tapi kuliahnya sudah berjalan dua tahun,jika dia ingin pindah,maka dia harus mengulang semuanya dari awal,dan itu akan membuat ayahnya murka.
Dia memang berjanji untuk menunggu Tera,tapi jika seperti ini dia tidak mungkin bisa menepati janjinya.
Dia tidak habis pikir,semuanya bisa menjadi aneh dan berubah secepat ini,meski dia sangat mencintai Lentera.
Dia tidak membenci Lentera,hanya membenci keadaan yang membuat mereka harus terpisah seperti sekarang.
__ADS_1
...****...