Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
18.Catatan hati lentera


__ADS_3

" ( Bapak,aku harus bagaimana sekarang,kayaknya aku mulai suka sama orang yang nggak suka sama aku,Aku mulai suka sama anak majikan aku sama ibu.


Maafin aku yaa pak,karena sudah nggak nurut sama bapak,dulu bapak selalu bilang aku nggak boleh suka sama siapapun itu sebelum selesai sekolah dan dapat kerjaan bagus.


Maafin aku karena sudah jadi anak yang nggak tau diri.


Tapi aku janji sama bapak,aku nggak akan bilang sama siapapun,aku akan simpan rapat-rapat semuanya sendirian sampai nanti aku punya kerjaan yang bagus dan pantas untuk suka sama seseorang.


Pak,sampai saat ini,bapak masih jadi yang terbaik untuk aku,bapak dulu selalu ada buat aku,nggak pernah sama sekali marah ataupun kesal sama aku,tapi anak laki-laki yang aku suka malah sering marah-marah sama aku,juga sering baik tiba-tiba,kayak cuaca yang suka berubah.


Pak,semoga aku nggak salah yaa,kalau suka sama orang seperti anak itu.


Semoga bapak lihat dari sana,kalau anak itu benar-benar anak yang baik.


Aku sama ibu sampai sekarang masih baik-baik aja disini,bapak juga baik-baik yaa disana ) ."


Tera kini mulai menyadari perasaan yang aneh sudah menyelinap kedalam hatinya entah sejak kapan.


Dan dia memilih menuliskan rasa suka itu kedalam buku hariannya agar hatinya sedikit tenang.


Dia tidak akan menceritakan hal seperti itu pada siapapun agar dirinya tetap bisa menjalani hari-harinya seperti biasa.


Memang semuanya tidak begitu mudah bagi gadis yang sebentar lagi menginjak usia tujuh belas tahun itu,bahkan untuk berteman saja dia sudah merasa sangat tidak pantas,apalagi untuk mencintai seseorang,semua hal seperti itu hanya akan menambah beban pikirannya.


Dia memilih menghindari Gilang saat ini,agar perasaannya tidak semakin jelas dan membuatnya semakin rendah diri akan keadaannya saat ini.


Dirinya benar-benar payah,dulu dia bahkan dengan tegas mengatakan kepada Bapaknya bahwa dia tidak akan menyukai laki-laki lain selain Bapaknya,sebelum berusia 25 tahun,tapi kenyataannya,dia bahkan mulai menyimpan rasa sukanya dalam-dalam disaat usianya masih semuda itu.


Sulit sekali menghindari seseorang yang hampir setiap hari dia temui.


Tapi demi segala impiannya,segala keinginannya,dia akan bertahan dan melanjutkan hidup dengan banyak rahasia didalamnya.


...*...


Setelah mereka bermain ditaman anak-anak seminggu yang lalu,hari ini Tera mulai menghindari Gilang,mencari waktu yang tepat agar tidak selalu bertemu dengan anak laki-laki yang sudah membuatnya resah itu.


Dia selalu berangkat kesekolah lebih dulu,dan akhirnya mulai memilih keluar kelas lebih awal bersama teman-teman sekelasnya yang lain agar tidak ketinggalan bus dan bertemu dengan Gilang.


Sela sahabatnya,sampai keheranan,tidak seperti Tera yang biasanya yang selalu meminta keluar kelas paling akhir saat hampir semua orang sudah meninggalkan ruangan.


"Raa,kamu kenapa,kok jadi aneh begini,kamu kesambet jin apaan?"


"Nggak papa Sel,takut ketinggalan bus aja,waktu itu pernah ketinggalan bus malah ketemu anak-anak nakal didekat halte,serem banget."


"Ya ampun Ra,kenapa nggak bilang sama aku,aku kan bisa nemanin kamu nunggu bus disana,lagian makanya kalo diajakin pulang bareng itu nurut aja,asal kamu tau aja Ra,mereka itu kalo ketemu anak-anak sekolah dari sini,kayaknya dendam banget,jadi jangan macam-macam sama mereka."


"Yang macam-macam emang siapa Sel,aku nggak ada salah sama sekali,mereka aja yang waktu itu pake nabrak aku segala,eh ujung-ujungnya malah marah-marah sama aku."


Sela terdiam didepannya,mengingat Tera yang bahkan baru saja menceritakan kejadian seperti itu padanya.


"Sel,kok diam aja."


"Kayaknya kita nggak usah berteman lagi deh Raa,"


"Loh kok gitu?"


"Abisan kamu ada apa-apa aja nggak mau cerita,buktinya malah baru cerita sekarang,aku jadi merasa bersalah kalau nggak bisa bantuin kamu tau."


"Maaf ya Sel,waktu itu kan Hp aku ketinggalan dirumah,mana aku udah ditinggal sama kamu,jadi ya udah,aku rasa nggak perlu diceritain lagi,sekarang juga aku udah nggak apa-apa kok."


"Tetap aja sekarang aku kesal sama kamu,entah apa lagi yang nggak aku tau dari kamu selama ini."


Sela merasa kesal karena selama ini hanya dirinya yang selalu terbuka pada Tera,tapi Temannya ini selalu menyembunyikan sesuatu darinya.


"Maafin aku dong Sel,aku nggak bermaksud kayak gitu,cuma nggak mau bikin banyak orang repot karena aku,lain kali aku pasti cerita kok sama kamu,maafin yaa."


Tera tersenyum sambil merangkul tangan sahabatnya itu.


Sela hanya bisa tertawa melihat kelakuan Tera yang membuatnya tidak bisa marah itu.

__ADS_1


Mereka berjalan bersama menuju gerbang sekolah,Sela menunggu gojek karena bapaknya tidak bisa menjemput hari ini.


Tera berlari kearah halte setelah berpamitan dengan Sela.


Dia langsung melompat kedalam bus karena bus hampir saja meninggalkannya.


Dia duduk disana sambil menggigit ujung kukunya.


Benar-benar melelahkan jika harus seperti ini setiap hari,pikirnya.


Tapi dia harus seperti itu agar semuanya kembali normal.


"Aaahh,mau pindah rumah aja deh kalau begini terus,tapi gimana sama ibu?" Tera mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan sejak tadi.


Ternyata menyukai seseorang itu tidak mudah.


Atau mungkin saja jika itu bukan Gilang,semuanya bisa menjadi lebih mudah,atau justru semakin rumit.


Tera semakin larut dalam keresahannya.


...*...


Sampai dirumah dia langsung masuk kedalam kamarnya dan merebahkan dirinya diatas sofa yang sudah menjadi tempatnya berdiam diri itu,memeluk bantal berbentuk hati didadanya.


Rasanya ingin sekali dia pergi dari sana dengan cepat,kenapa pula rasa seperti itu dengan cepat menjalari hatinya yang masih belum siap dengan segala bentuk kekecewaan.


Duduk lama disana membuatnya merasa lapar,padahal sejak tadi dia sama sekali tidak memikirkan makanan.


Dengan berat dia melangkahkan kakinya kedapur,berharap tidak ada Gilang disana.


Dia menghampiri ibunya yang sejak mencuci pakaian.


"Buu,aku mau makan,ibu sudah makan?"


"Sudah nak,ini kan sudah sore,ibu sudah makan tadi siang."


"Emh iya deh bu,aku kedapur dulu ya bu,oh iya aku boleh makan dikamar ya bu?"


"Hehe iya bu."


Dirinya menuju dapur yang terlihat sepi,seringkali dia merasa kesepian didalam rumah sebesar itu,lalu bagaimana dengan Gilang yang hampir setiap hari ditinggal kerja sama orang tuanya,pikirnya sambil mengisi botol air minumnya sampai penuh.


Tiba-tiba Gilang muncul disampingnya yang juga akan mengambil air minum.


"Sekalian isiin punya gue."


Tera mengangguk tanpa melihat sama sekali kearah Gilang.


Gilang heran melihat Tera yang biasanya langsung berbicara tanpa diminta.


"Kenapa lo."


Botol minum milik Gilang sudah penuh,Tera menyerahkannya kembali tanpa berkata apa-apa,dan meninggalkan Gilang sambil membawa piring dan botol minum miliknya.


"Kesambet apaan dia,sering dibaikin malah menghindar,"batin Gilang lalu kembali kekamarnya.


Tera makan dengan pelan dikamarnya.


"Kan susah banget buat nggak ketemu sama mas Gilang,gimana coba,ini kan rumah dia,dia mau berkeliaran kemana aja suka-suka dia."


Dia berbisik sendiri.


Makanannya sudah habis,dia duduk sebentar sebelum kembali kedapur dan mencuci piringnya,kemudian membantu ibunya membilas pakaian.


Baru saja berdiri didepan mesin cuci,Gilang muncul lagi membawa beberapa pakaian yang sepertinya tidak benar-benar kotor.


"Bude,maaf ya ini masih ada,tadi lupa bawa turun sekalian,"Katanya sambil melirik kearah Tera.


"Eh iya nak Gilang,nggak apa,ini ada Tera kok ya ng bantu bude."

__ADS_1


Tera diam saja sambil mengeluarkan pakaian yang sudah selesai dicuci,lalu memasukkan sisa pakaian yang dibawa Gilang tadi.


Gilang masuk kembali tapi duduk tidak jauh dari tempat Tera dan ibunya mencuci.


Dia duduk disana sambil terus memperhatikan Tera,dan tadi sengaja membawa turun pakaian yang sebagian belum dia pakai,sebagai alasan agar bisa melihat Tera.


"Bu,cucian hari ini kenapa banyak banget,"Tanya Tera yang mulai kelelahan.


"Nggak banyak Ra,ini sama kok kayak yang biasa ibu cuci,kamu kan selalu bantu ibu kalau udah mau selesai,jadi nggak tau."


"Emh,ya udah aku jemur ini dulu yaa bu."


"Jemur disamping aja raa,karena ini sudah sore."


"Siap bu."


Tera bersiap mengangkat keranjang yang penuh pakaian setengah kering didepannya.,Tapi dia dibuat kaget lagi oleh Gilang yang muncul tiba-tiba untuk mengangkat keranjang itu.


"Eh nak Gilang,nggak usah,nanti kalau ibu kamu tau,ibu akan marah sama kita berdua."


"Nggak bude,masa anaknya bantuin orang malah marah."


Gilang segera mengangkat keranjang itu ketempat jemuran baju disamping rumahnya.


Dengan terpaksa Tera menyusul dibelakangnya.


Mereka sampai disana,Tera tetap tidak bersuara,lalu mengambil satu persatu pakaian dari dalam keranjang.


Gilang mengambil pakaian lalu menyodorkannya pada Tera.


Meski merasa risih,Tera tetap menyambutnya tanpa berucap satu katapun.


Hampir selesai,Didalam hati Tera merasa senang karena pekerjaannya jadi lebih cepat selesai karena Gilang juga membantunya menjemur meski dia harus kembali merapikannya.


"Kamu tunggu disini aja,biar aku yang ambil sisanya."


Tera menggangguk saja.


Menunggu Gilang kembali atau pergi dari sana,sama saja bodohnya.


Jika menunggu,dia akan terlihat berharap pada Gilang,jika dia pergi,maka semuanya akan semakin jelas.


Akhirnya dia tetap memilih diam disana menunggu Gilang kembali,dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri,dia suka melihat Gilang dari dekat,suka dengan aroma parfum yang dipakai Gilang,bahkan jika bisa,dia ingin selalu berada didekat pemuda itu,tapi dia tidak boleh egois,menyukai Gilang secara terang-terangan akan membuat dirinya harus pergi dari rumah itu.


Gilang kembali membawa pakaian satu keranjang penuh.


"Bude sudah selesai cuciannya,sudah gue suruh istirahat,,gue juga bilang mau belajar sama lo diatas."


Apa sebenarnya yang dipikirkan Gilang,pikir Tera.


Apa Gilang tau bahwa dirinya sedang menyukainya,dan sekarang berniat mempermainkannya karena dirinya hanya seorang pembantu dirumahnya.


Dia merasa sedih memikirkan hal itu.


Jika hal itu benar,maka dia adalah orang yang paling bodoh saat ini.


"Aku juga mau istirahat,jadi selesai ini,aku juga mau balik kekamar." Tera dengan tegas menolak sambil menyelesaikan jemurannya.


Gilang masih berdiri disana memperhatikan Tera yang dengan cekatan menjemur.


Ketika Tera bersiap membawa keranjang pakaian yang sudah kosong itu,Gilang menahan tangannya.


Tera selalu saja hanya bisa diam tanpa bisa menghindar saat Gilang sudah bersikap seperti itu.


"Mas Gilang,aku mau kekamar,kalau ada perlu tolong kasih tau keibu aku,nanti aku bantu kerjakan."


Gilang yang juga tidak mengerti akan perlakuannya pada Tera pun hanya bisa diam menatap gadis yang matanya selalu terlihat sendu itu.


Kemudian perlahan melepaskan genggamannya.

__ADS_1


"Mas Gilang,tolong kembali aja jadi Gilang yang pertama kali aku kenal dulu." Tera membatin sepanjang langkah kakinya menuju kekamarnya.


......***......


__ADS_2