Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
53. Tahun ketiga,kita putus


__ADS_3

..."Halo readersku sayang...aku Up tengah malam ya,demi kalian..heheheh..."...


..."Terima kasih sudah sudi mampir..."...


...❤️❤️❤️...


Akhir bulan April,tahun ketiga Lentera menghabiskan waktunya di Negeri empat musim ini.


Hari ini menjadi hari terberat bagi Tera sepanjang beberapa tahun kedepan.


Hubungannya dengan Gilang mulai merenggang,mereka sudah jarang saling mengabari apalagi sekedar basa basi bertanya sedang apa atau sedang berada dimana.


Bukan tanpa alasan,Gilang hanya memberi waktu kepada Tera untuk berpikir dengan baik,tapi nyatanya Tera sangat sulit mencerna semuanya.


Dia seakan memberi harapan pada Seo Jun yang setahun belakangan selalu mengikutinya kemana-mana.


Dan membiarkan Gilang menunggu kepastian di Seberang sana.


Tera juga berpikir untuk memberikan kesempatan pada Gilang untuk memilih atau mencari orang lain yang lebih pantas untuk dirinya.


Tera tidak ingin mereka bertahan dan terus saling menaruh rasa curiga dan kecemburuan yang tidak beralasan.


Entah apa yang mereka pikirkan sampai setiap minggu hanya meributkan hal-hal tidak penting lewat telepon.


...*...


Ponsel Tera berdering diatas rak meja belajarnya.


Nama Gilang muncul dilayar ponselnya.


Tera dengan enggan mengangkat ponselnya agar tidak berisik.


..."Halo mas Gilang..."...


..."Halo Ra..."...


..."Kenapa mas?...


..."Aku ganggu kamu?"...


..."Nggak mas,cuma heran aja tumben nelpon siang-siang begini."...


..."Aku mau nanya sama kamu?"...


..."Apa mas?"...


..."Apa hubungan kamu sekarang sama laki-laki yang selalu ngejar kamu itu?"...


..."Nggak ada mas,dia cuma teman,aku kan sudah bilang sama mas Gilang...!"...


..."Kamu masih biarin dia selalu ngikutin kamu kemana-mana?"...


..."Mas,aku mau gimana lagi,aku sudah bilang berkali-kali sama dia supaya nggak ngikutin aku,tapi dia nggak pernah dengarin aku,jadi sekarang aku biarin aja."...


..."Ra,kamu suka sama dia?"...


..."Nggak mas!"...


..."Kalau nggak,tolong jauhin dia..."...


..."Gimana caranya mas,dia tahu tempat tinggal aku,dia tahu tempat kerjaku,dia juga tahu kampus aku,karena dia baru aja lulus dari sana,terus aku harus apa mas?"...


..."Terserah kamu..."...


..."Mas Gilang..."...


..."Kenapa?"...


..."Kita putus aja,harus benar-benar putus."...


..."Maksud kamu?"...


..."Aku capek mas,aku beneran sudah capek kayak gini terus,mas Gilang semakin sering nuduh aku yang nggak-nggak,mas Gilang selalu minta aku buat jauhin semua laki-laki yang dekatin aku,apa mas Gilang mikir aku sengaja bikin mereka dekatin aku,hemh?"...


..."Lentera...!"...


..."Mas Gilang sadar nggak, kalau mas itu egois,egois banget sampai bikin aku muak..."...


..."Tera maksud kamu apa?"...


..."Mas pikir aku nggak tahu,kalau mas Gilang masih sering nganterin Jihan pulang sampai sekarang,mas pikir aku nggak tahu kalau Jihan itu suka sama mas..."...


..."Tapi Ra..."...


..."Apa mas...?"...


..."Jihan itu teman aku dari SMA,wajar kalau aku bantuin dia,aku juga nggak pernah mikir untuk macam-macam sama dia,sementara kamu,mereka semua baru kenal sama kamu,tapi kamu nggak bisa nolak mereka,dan nggak bisa jauhin mereka."...

__ADS_1


..."Terus aku harus pindah dari sini demi jauhin mereka?"...


..."Mas Gilang,mulai hari ini kita putus,aku bukan lagi siapa-siapanya mas Gilang,jadi mulai sekarang juga,jangan pernah hubungin aku,aku akan berusaha buat benci sama mas Gilang kayak mas benci sama aku waktu pertama kali aku datang kerumah mas Gilang..."...


..."Oh ya satu lagi,jangan pernah sangkutpautkan masalah kita sama ibu aku,biarkan ibu aku kerja sebentar lagi disana,dan setelah itu,ibu aku akan keluar dari rumah mas Gilang,aku sama ibu aku nggak akan ganggu mas Gilang lagi."...


..."Tera,tapi apa harus sampai begini?"...


..."Mas,maafin aku,tapi aku juga mutusin kamu,karena aku nggak mau beban pikiran aku semakin bertambah,hidup aku sudah serba susah mas,dengan kamu selalu seperti ini malah bikin hidup aku semakin berantakan."...


..."Mulai hari ini,kamu bebas mau kemana aja,mau jalan sama siapa aja,mau jadian sama Jihan juga nggak papa,aku nggak peduli lagi..."...


..."Tapi Ra,tolong jangan kayak gini,aku benar-benar minta maaf kalau selalu curiga sama kamu,jangan kayak gini dong Ra,aku sayang sama kamu,aku nggak mau kalau sampai harus putus dari kamu?"...


..."Maaf mas,kali ini aku benar-benar nggak kuat,aku harus ninggalin kamu sekali lagi,karena aku harus menata hidup aku jadi lebih baik,aku akan temuin kamu kalau hidup dan perasaan aku sudah lebih baik."...


..."Aku mutusin kamu bukan untuk mencari yang lebih baik,tapi aku cuma kasih waktu buat kamu,buat aku,untuk menikmati masa muda kita dengan baik,jangan sampai kita hanya terus-terusan menjalani hubungan kayak gini sampai bosan dan nggak punya waktu untuk berteman dengan siapa aja."...


..."Anggap aja kita lagi istirahat,nanti kalau capeknya sudah hilang,kita kembali ketemu lagi,tapi mungkin akan lama."...


..."Jadi silakan mas Gilang nikmati waktu istirahat kita dengan baik." Tera mulai menyebut Gilang dengan sebutan "Kamu."...


..."Tera..."...


..."Maaf mas Gilang,nggak ada alasan lagi untuk aku bertahan saat ini,semoga mas Gilang selalu sehat disana..."...


..."Aku tutup telponnya,selamat malam mas Gilang..."...


..."Tera..."...


...Tuuut Tuut Tut......


Panggilan siang itu benar-benar berakhir.


Dan tidak akan ada panggilan lain setelahnya.


Lentera sudah sangat lelah menghadapi semuanya.


Dia benar-benar ingin beristirahat dari segala sesuatu yang membuatnya lelah.


Dia pulang lebih awal hari ini,tidak peduli pada tugas kuliah.


Dan hanya meminta teman sekelasnya untuk mengizinkan dia dengan alasan akan pergi berobat.


Setelah sampai di tepi jalan,dia segera naik bus yang akan membawanya entah kemana.


Dia menepuk-nepuk dadanya dan menahan air matanya agar tidak tumpah.


Hingga bus menepi dihalte pertama,Tera tidak turun.


Bus kembali melaju,membawanya semakin menjauh dari pusat kampusnya.


Dan ketika sampai dihalte kedua,dia memutuskan turun dan melangkah dengan gontai.


Dia berjalan kaki dan tanpa terasa sampai dipinggiran sungai Han.


Sepi,karena hampir semua orang masih beraktivitas.


Tera berdiri menatap kearah sungai yang tenang.


Jika tidak mengingat ibunya,mungkin saja dia sudah melakukan hal yang tidak pernah dia inginkan.


Lelah menahan air matanya,akhirnya dia menangis sendirian disana,dibawah terik matahari yang menyilaukan mata.



Dia yang memutuskan Gilang,tapi dia yang merasa sangat hancur.


Dia yang meninggalkan semua orang,tapi dia yang merasa kesepian.


Benar-benar tidak adil...pikirnya.


Karena menangis terlalu lama,dia tidak menyadari ponselnya yang sejak tadi bergetar didalam tasnya.


Puas menangis,dia mengambil ponsel dari dalam tasnya.


Seo Jun menelponnya berkali-kali.


Dia mengabaikannya.


Dan sekali lagi ponsel yang baru dibelinya itu bergetar kembali.


Kimi menelponnya.


Pasti anak itu sedang sibuk mencari dirinya dikantin.


..."Kalo Kim..."...

__ADS_1


Suara Tera serak.


..."Halo Tera,kamu dimana?"...


..."Dikantin nggak ada,diperpus nggak ada,aku tanya teman sekelas kamu,katanya kamu pulang karena mau berobat,kamu sakit apa,kenapa nggak bilang sama aku?"...


Kimi benar-benar mirip dengan Sela.


Membuat Tera rindu pada Sela dan ingin menceritakan semuanya pada Sela.


Air matanya kembali terjatuh karena disaat seperti ini,dia sama sekali tidak punya tempat bersandar.


..."Ra,kamu dengar aku kan?"...


..."I-iya Kim,aku dengar." Suaranya semakin parau....


..."Kamu beneran sakit Ra?"...


..."Nggak Kim...aku cuma lagi pengen sendiri aja."...


..."Nggak bisa Ra,kasih tau aku sekarang kamu dimana?"...


..."Kim,tolong biarin aku sendirian dulu,aku nggak papa kok."...


..."Tapi Ra,aku takut kamu kenapa-kenapa...!...


Belum sempat Kimi melanjutkan ucapannya,Seo Jun muncul didepannya untuk menanyakan Tera.


Kimi memberi isyarat dengan tangannya agar Seo Jun tidak berbicara.


Kimi lalu menyalakan loudspeaker ponselnya.


..."Halo Ra,kamu masih dengar aku kan?"...


..."Iya Kim,aku dengar,aku nggak kenapa-kenapa kok,aku cuma mau tenangin diri aku sebentar aja."...


..."Iya Ra,tapi tolong bilang sekarang kamu dimana,kalau ada apa-apa aku bisa langsung kesana."...


..."Aku lagi dipinggir sungai Han Kim..."...


..."Ya ampun Ra,kamu ngapain jauh-jauh kesana,kamu bisa telat kembali kuliah!"...


..."Nggak papa Kim,aku sudah izin tadi,jadi hari ini nggak masuk kuliah sampai sore."...


..."Ya sudah,kamu baik-baik ya disana."...


..."Iya Kim,makasih ya..."...


..."Iya Ra..."...


Kimi memutus telpon,Seo Jun yang masih berdiri didepannya mengucapkan terima kasih lalu berlari keluar dari gedung kampus.


Dia menyusul Tera.


Dirinya memang sudah tidak berkuliah disana,tapi sesekali dia menyambangi Tera dikampusnya.


Tapi hari ini Tera malah kabur dari kelasnya,membuatnya harus berjalan jauh lagi untuk menemui Tera disungai Han.


Seo Jun sudah sampai ditempat Tera berdiri sendirian.


Air matanya masih membasahi pipinya.


Seo Jun menjadi iba melihatnya.


Tanpa diminta dia tiba-tiba memeluk Tera dan menenangkannya.


Tera tidak menolak,tapi tidak juga membalas pelukan Seo Jun.


Dia hanya melanjutkan tangisnya sampai wajahnya terasa panas.


Setelah kembali tenang,Seo Jun melepas pelukannya.


Mengajak Tera pulang karena hari semakin panas.


Seo Jun menggandeng tangan Tera yang terlihat lelah karena terlalu lama menangis.


Bersambung...


..."Oh iya,mulai hari ini,akan sering muncul visual mereka ya..."...


..."Mohon dukungannya,dan jangan lupa komentar,kritik dan sarannya."...


..."Untuk yang berbaik hati,jangan lupa bantu Vote dan kasih hadiah ya..."...


..."Oh ya,siapa nih yang setuju kalau Tera sama Kim seo Jun jadian?"...


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2