
Gilang yang penasaran pada buku biru Lentera,segera turun dari mobil Haris tanpa mempedulikan Haris yang mengoceh.
..."Cih,dasar ABG tua,sudah punya pacar baru,masih penasaran saja sama mantan..."...
Keluh Haris sambil memarkirkan mobilnya dengan benar dihalaman rumahnya.
Haris berlari menyusul Gilang yang sudah hampir masuk kedalam ruang baca.
..."Gue ikut dong bro,penasaran nih..."...
Gilang malah menutup pintu dengan kuat,dan menguncinya dari dalam.
..."Woylah,dasar bocah...awas loe ya..."...
Haris mendengus kesal karena tidak diizinkan masuk.
Gilang segera menuju rak buku miliknya,yang sudah lama tidak tersentuh,sepertinya Tera tahu bahwa ruang baca yang penuh dengan buku-buku itu adalah tempat yang aman yang untuk menyimpan rahasianya.
Dibalik buku-buku cerita yang sudah kusut karena sudah terbaca itu,Gilang susah payah mengambil buku biru milik Lentera.
Kenapa juga dia penasaran,pikirnya sendiri.
Dia mengambil buku biru yang sudah pudar dan usang itu,karena lama tidak dibuka.
Dengan pelan Gilang membuka halamannya agar tidak robek,isinya masih sama saat pertama kali dia membaca buku itu.
Sampailah dia pada halaman terakhir.
Dia duduk dan bersandar didinding ruang baca,sambil membaca dan memahami setiap tulisan Tera.
Dan akhirnya dia sadar,bahwa Tera sudah berencana untuk memutuskannya saat dia sudah sampai disana.
Meski akhirnya dia sangat memahami Tera,tapi kini semuanya terlambat.
Entah siapa yang disakiti dan siapa yang menyakiti.
Jika dia tahu bahwa Tera hanya butuh kepastian untuk hubungan mereka,dia pasti sudah memberi tahu terlebih dulu tentang keinginannya untuk tetap bersama Tera sampai menikah nanti.
Dia menyesali sikap Tera yang selalu merasa tidak percaya diri akan keadaannya.
Gilang ingin sekali membenci Tera,tapi rasa suka dan sayangnya pada gadis itu tidak bisa membuatnya berubah begitu saja,meski kini Jihan sudah menemaninya,tetap saja dia sering mengharapkan jika Tera bisa kembali dan mereka bisa saling memahami satu sama lain.
Tapi,apakah Tera bisa kembali menerimanya jika tahu bahwa dirinya sudah menerima Jihan,pikirnya...
Perasaannya bercampur aduk,didalam ruang baca.
Sekali lagi dia menatap buku biru Tera,yang tulisannya saja seakan menunjukkan bahwa Tera selama ini hidup bersama rasa rendah dirinya sepanjang waktu.
Ingin sekali Gilang marah,tapi entah apa yang membuatnya merasa sesak,sekali lagi...
Dia ingin menangis lagi,tapi tahu semuanya tidak berguna,Tera mungkin tidak akan pernah mendengarkannya,dan hanya terus bersikap seolah semuanya sedang baik-baik saja sampai saat ini.
Gilang menggenggam erat buku milik Tera,lalu membawanya kekamar,menyimpannya dengan baik didalam laci meja belajarnya.
...*...
Gilang turun kebawah dan masuk kedalam kamar yang dulu menjadi rumah bagi Tera dan Ibunya.
Menatap kamar yang kini terlihat kosong kembali.
Ada rasa sepi yang terasa didalam hatinya.
Dia melangkah dengan pelan,dan duduk disofa yang menghadap kejendela dan langsung terhubung ke halaman depan rumah.
Sofa itu sudah berbeda karena Ibunya menggantinya dengan yang baru beberapa saat setelah Tera pergi.
Hanya kasur Tera yang masih sama,juga kasur milik ibu Nur yang berada disamping kasur Tera.
Masih terlihat rapi meski bertahun-tahun mereka tidur disana.
Gilang merebahkan dirinya dikasur milik Tera.
Andai Tera ada disini sekarang...keluhnya dalam hati.
__ADS_1
Tanpa sadar,dia akhirnya tertidur sampai larut malam disana.
Haris yang kebingungan mencarinya,menemukan Gilang yang tertidur pulas sambil memeluk guling disana,dia tidak habis pikir pada adiknya itu.
Terlihat dengan jelas bahwa Gilang masih sangat mengharapkan Tera,meski ada gadis lain yang kini menemaninya.
Haris menggoyang-goyangkan tubuh Gilang,agar Gilang sadar dan pindah dari sana.
Tapi bukannya terbangun,dia justru memanggil nama Tera dan memeluk tangan Haris.
"Ini beneran Gilang atau bukan sih,sejak kapan dia jadi aneh begini..." Keluh Haris.
"Bro,bangun,sayangnya gue bukan Tera,kalaupun gue Tera,nggak bakalan mau gue dipeluk-peluk sama cowok yang sudah pacar lagi." Haris mencoba membangunkannya lagi.
"Teraa..."
..."Gue bukan Tera b*g*,buruan bangun,ngapain sih pake tidur disini segala."...
Gilang membuka matanya mendapati dirinya memeluk kuat guling yang ada disana.
..."Hahaha,loe pasti lagi mimpi meluk Tera kan?" Haris tertawa terbahak-bahak melihat wajah aneh Gilang....
Haris malah menerima lemparan guling dari Gilang,yang membuat tawanya berhenti.
Gilang meninggalkan Haris disana yang masih berdiri dengan heran.
..."Gantiin gue tidur disitu,jangan masuk kamae gue...!"...
Suara Gilang dari balik pintu menyadarkan Haris.
Kini gantian Haris yang merebahkan tubuhnya dikasur milik Tera.
Karena sudah pasti adiknya itu tidak akan membuka pintu kamarnya meski dia berteriak sekalipun.
..."Dasar gila,gara-gara rindu sama mantan,gue yang jadi korban keanehannya..." Gumam Haris sendirian....
...*...
Gilang naik dan masuk kekamarnya,kembali merebahkan tubuhnya.
Dia mengacak rambutnya,lalu menutup wajah dengan bantal,dia bisa gila jika begini terus.
Apa dia langsung mengajak Tera menikah saja saat Tera kembali nanti,tapi bagaimana dengan Jihan,gadis itu masih saja terus bergantung padanya,meski Gilang merasa tidak cocok dengannya.
..."Arrrghhhh...Tera cepat balik dong,kalaupun aku harus nikah sama orang lain,kamu harus kembali dulu..." Desisnya pelan dibalik bantal yang masih menutup wajahnya....
Dia tidak benar-benar tertidur dengan tenang sampai pagi.
Jika dia tahu akan menjadi frustasi seperti ini,dia pasti memilih tidak membaca buku Tera.
...*...
Dering ponsel disamping telinganya,membuatnya terbangun.
..."Halo Lang,loe dimana?"...
Gilang menghapal suara gadis itu.
Jihan yang berada didepan rumahnya,menelpon dirinya karena tidak kunjung keluar.
..."Halo Ji,aku masih dikamar,kenapa?"...
..."Pake nanya lagi,gue didepan rumah loe tauk..."...
..."Yang bener?"...
..."Iya Lang,buruan keluar,gue anterin loe ke rumah sakit,keburu telat loe entar..."...
..."Loe masuk aja dulu,gue masih lama,belum mandi..."...
..."Tapi gue takut sama orang tua loe..."...
..."Ya elah,mereka nggak makan orang kok,bentar gue turun dulu..."...
__ADS_1
..."Ya sudah,gue tutup ya telponnya..."...
Gilang turun kebawah,dan memberi tahu ibunya,bahwa teman perempuannya menjemputnya dan akan masuk sambil menunggu,karena dirinya masih harus mandi.
Ibunya yang tengah membuat sarapan,mengiyakan.
Gilang yang masih berada di tangga,berlari kembali ke kamarnya,karena mendengar bel berbunyi.
Ibunya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya yang kini sudah dewasa itu,tapi pakaiannya masih seperti anak SMP.
Ibunya buru-buru kedepan untuk membuka pintu.
..."Pagi tante..."...
..."Pagi,temannya Gilang kan?"...
..."Iya tante..."...
..."Ya sudah sini masuk dulu,Gilang baru balik keatas,mau mandi dulu,maaf ya bikin kamu nunggu lama..."...
..."Nggak papa tante..."...
..."Tante tinggal kedapur dulu ya,mau lanjut bikin sarapan untuk Gilang dan Kakaknya..."...
..."Baik tante..."...
Jihan duduk sendirian di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
Tidak menunggu lama,Gilang turun kebawah dengan penampilan yang sudah berbeda saat belum mandi tadi.
Jihan berdiri,lalu senyum-senyum sendiri melihat Gilang yang selalu terlihat tampan dengan pakaian berwarna hitam itu.
Tapi beberapa menit kemudian,perhatian Jihan teralihkan karena Haris tiba-tiba muncul didepan mereka dengan muka bantalnya,tapi masih tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang lebih tegas dan lebih dewasa daripada Gilang.
..."Waah pagi-pagi begini sudah ada bidadari yang muncul..." Goda Haris pada Jihan....
..."Kak...?"...
..."Kenalin gue Haris..."...
..."Jihan..."...
Jihan hampir tidak berkedip menatap wajah Haris.
Seperti mendapatkan sesuatu yang berbeda,Jihan terus memperhatikan Kakak kedua Gilang.
..."Woy,kenapa loe?" Seru Gilang padanya....
..."Ahh nggak,kakak loe ganteng banget,hehehe..."...
..."Ambil aja kalau mau,kebetulan dia jomblo karena pacarnya malah ketahuan jalan sama temannya,ganteng-ganteng begini,ngenes banget kan nasibnya..."...
..."Kalo loe nggak papa,gue mau sama kakak loe aja deh,heheh..."...
..."Gue beneran nggak papa,ambil aja Ji,gratis kok..."...
Haris yang jadi bahan obrolan mereka,menjitak kepala adiknya karena kesal.
Sebelum mereka berkelahi lagi.
Ibunya sudah memanggil mereka untuk sarapan.
Jihan memilih kembali duduk diruang tamu karena memang sudah sarapan.
Dan kembali memandangi Haris yang tersenyum manis padanya.
..."Terima kasih dukungannya,dan semoga sehat selalu..."...
..."Tetap semangat bacanya ya..."...
__ADS_1
...❤️❤️❤️...