Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
58.CoAss( Gilang )


__ADS_3

Lima tahun masa Kuliah Gilang sudah berlalu,akhirnya Gilang bisa menyelesaikan pendidikan kedokterannya,meski sedikit terlambat dari teman-temannya yang lain karena sempat memilih untuk pindah jurusan di tahun kedua.


Gilang yang lulus dengan gelar sarjana kedokteran,kini harus menjalani tugasnya sebagai Co Asst disalah satu rumah sakit di sekitar kampusnya.


Kini hari-harinya menjadi lebih sibuk,dan pelan-pelan mulai terbiasa tanpa kabar dari Tera,meski sebenarnya dia tidak pernah bisa sepenuhnya melepaskan cinta pertamanya itu.


Disela-sela kesibukannya,sesekali dia bertemu dengan Jihan yang kini juga tengah sibuk membantu diperusahaan milik Keluarganya,meski mimpinya menjadi model majalah,tapi dengan sedikit paksaan,dirinya harus mengorbankan mimpinya.


Seringkali dia mengeluhkan keinginannya pada Gilang,tapi sebagai orang lain,Gilang hanya bisa mendukungnya tanpa bisa berbuat apa-apa.


Disaat merasa seperti itu,Gilang pun sesekali teringat pada Tera yang harus tetap bekerja keras demi kehidupannya,sementara sampai saat ini dirinya hanya bisa terus meminta pada orang tuanya.


Meski kehidupannya jauh lebih baik,tapi ada rasa tidak puas didalam dirinya karena masih terus menjadi beban keluarga.


Saat ini pun dia masih harus membebani ayah ibu,juga kedua kakaknya,karena dirinya masih harus menjalani masa koas selama hampir dua tahun.


Setelah menjalani masa koas,kini dirinya menjadi lebih paham pada kesibukan Tera,dia menyesali semuanya,tapi sudah terlambat.


Ada Jihan yang kini selalu menanyakan kabarnya,memberi perhatian padanya,Jihan selalu baik dan kini sering membalasnya mentraktir makan siang saat mereka sedang libur.


Orang lain mungkin akan berpikir mereka adalah pasangan yang sangat menyayangi satu sama lain,karena sering melihat Jihan menyambangi Gilang kerumah sakit tempatnya menjalani tugas.


Jauh didalam hati mereka,ada rasa yang sulit mereka ungkapkan,Gilang masih belum pernah tuntas dengan Tera,Dan Jihan yang sebenarnya tidak tahu apa yang dia rasakan untuk Gilang.


Tapi mereka menjalani semuanya dengan biasa saja,berharap semuanya akan berubah seiring berjalannya waktu.


...*...


..."Lang,loe kapan libur?"...


..."Gue nggak tahu Ji,dirumah sakit selalu sibuk,aku harus belajar sekaligus bekerja."...


..."Ya sudah,kabari gue kalo loe libur ya,hari ini gue bawain loe makan siang aja."...


..."Iya Ji,gue tunggu dikantin rumah sakit ya."...


Jihan yang sedang istirahat makan siang,buru-buru mendatangi Gilang dirumah sakit.


Rasanya sudah lama sekali mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.


Jihan mengendarai mobil sendiri,beruntung kantornya tidak begitu jauh dari rumah sakit tempat Gilang bertugas.


Sekitar dua puluh menit mengendarai mobilnya,dia sudah sampai dihalaman rumah sakit.


Tiga puluh menit lagi waktu istirahat mereka akan berakhir.


Jihan menelpon Gilang.


..."Lang,gue didepan rumah sakit,loe dimana?"...


..."Gue masih dilantai atas,ini baru mau turun,loe masuk aja,nanti ketemu didepan kantin."...


..."Oke lang..."...


...*...


..."Lama banget sih Lang,keburu habis waktu makan siangnya."...


..."Maaf Ji,tadi masih ada pasien diatas..."...

__ADS_1


..."Emh,ayo makan dulu..."...


Gilang berjalan disisi kiri Jihan,menuju kantin rumah sakit.


Begitu mudahnya bagi anak pejabat keluar masuk rumah sakit hanya untuk sekedar menemui pasangannya.


Begitulah pandangan orang-orang sekitar terhadap Jihan yang kini menjadi lebih dikenal orang-orang karena ayahnya yang menjadi orang penting di Ibu Kota.


Ada rasa kesal yang dirasakan Gilang,karena mendapat pandangan sinis dari para koas yang lain.


Tapi Jihan mengingatkan untuk tidak terlalu peduli pada pandangan orang lain.


...*...


Mereka menikmati makan siang dikantin rumah sakit yang terlihat sepi,karena hampir semua orang disana tengah sibuk melayani pasien,bahkan waktu Gilang sendiri juga tidak banyak.


Sesekali mereka menertawakan kesibukan mereka masing-masing.


Gilang harus bersikap seolah dia menikmati semua yang diberikan oleh Jihan padanya,harus berusaha mengimbangi Jihan yang selalu terlihat ceria ketika mereka bersama-sama.


Juga harus berusaha terlihat peduli pada Jihan,sesekali menatap wajah Jihan,dan memperlakukannya dengan sangat hati-hati.


...*...


..."Lang,loe sayang kan sama gue?"...


..."Hemh..." Gilang berdehem sambil mengangguk....


..."Jawab yang bener dong Lang..."...


..."Iya Ji..."...


..."Jaga jarak gimana?"...


..."Yaa,loe kayak nggak mau aja disentuh sama gue?"...


..."Sorry ya Ji,gue cuma berusaha buat jagain loe."...


..."Hemh,tapi gue juga butuh sentuhan loe kali Lang..."...


..."Emang waktu itu gue peluk loe bukan sentuhan ya namanya?"...


..."Yaelah loe gimana sih Lang,bukan itu maksud gue..."...


..."Udah deh Ji nggak usah aneh-aneh,buruan makan,cepat balik kantor,gue masih banyak tugas diatas sana..."...


..."Tapi gue masih kangen loe Lang..."...


..."Nanti aja kangen-kangennya,sana kerja dulu loe yang bener..."...


..."Ahh loe nggak asik banget sih Lang,izin libur kek atau apa kek gitu,kita jalan-jalan seharian,gue kangen tau..."...


..."Iya Ji iya,nanti gue usahain ya..."...


..."Buruan ya,jangan bikin gue capek nungguin mulu..."...


..."Siap Ji..."...


..."Ya udah gue balik dulu ya,nggak usah dianterin,loe juga harus balik kan..."...

__ADS_1


Jihan menahan Gilang agar tidak mengantarnya sampai kedepan rumah sakit seperti yang biasa dilakukannya.


Gilang berhenti melangkah,lalu membalas lambaian tangan Jihan.


Dia kembali duduk dibangkunya,menarik nafas panjang,seakan mengeluhkan masalahnya sendirian.


Dia tidak menyangka,keputusannya untuk pindah jurusan dan menjadi mahasiswa kedokteran akan sesulit ini.


Dulu dia hanya menjalani kuliahnya tanpa berpikir akan menjadi apa dan seperti apa.


Tapi ditahun kedua,karena Tera meninggalkannya untuk berkuliah keluar Negeri,membuatnya berpikir keras agar bisa menjadi orang yang berguna bagi Tera nantinya.


Pikirnya,jika nanti Tera kembali ketanah Air,dia sudah menjadi dokter yang hebat dan bisa membanggakan diri dihadapan Tera,tapi kini semua terasa melelahkan karena tidak ada lagi yang membuatnya bersemangat.


Dia hanya menjalaninya,karena tidak ingin membuat orang tuanya kecewa.


...*...


Waktu istirahatnya sudah habis,dia kembali keruang dokter senior yang mengawasinya.


Gilang meminta maaf karena sedikit terlambat.


Tanpa menjawab apa-apa,dokter seniornya melangkah keluar dan disusul oleh Gilang.


Mereka menuju ruang pasien yang baru saja tiba.


Gilang sibuk memasangkan jarum infus ditangan pasien wanita tersebut dengan gemetar,dia selalu seperti itu karena takut melakukan kesalahan.


Membuat Dokter Handy,seniornya,berdehem sambil menepuk bahunya.


Gilang akhirnya bisa memasangkannya dengan benar,lalu meminta pasiennya berbaring dikasur.


Pasien wanita paruh baya yang sedang pusing itu tersenyum pada Gilang.


Gilang lalu keluar lagi mengikuti Dokter seniornya keruangan lain,untuk memeriksa pasien rawat inap yang berada di rumah sakit ini.


Kadang-kadang Gilang mengeluh sendiri,kenapa banyak sekali orang sakit yang memilih tidur disana.


Sementara dirinya yang sudah sakit hati selama setahun belakangan tidak pernah minta dirawat.


..."Dok,hati saya juga sakit,saya perlu dirawat atau minum obat?"...


Tanyanya kepada Dokter Handy,pada suatu hari saat mereka sedang berkeliling dilorong rumah sakit.



..."Kamu punya penyakit,kenapa memilih menjadi dokter?"...


..."Karena saya ingin mencari obat untuk sakit hati,Dok"...


Dokter Handy yang usianya hampir seusia dengan kakak pertamanya itu hampir saja memukul kepalanya dengan stetoskop yang menggantung dilehernya.


...****...


..."Maaf ya besti sering telat UPnya..."...


..."Dikarenakan punya kesibukan juga..."...


..."Semoga kalian tetap mendukung cerita ini yaa..."...

__ADS_1


...❤️❤️❤️...


__ADS_2