
Meski semuanya terasa berat,Gilang tidak menyerah.
Memang salahnya karena dulu terlalu terang-terangan tidak menyukai gadis yang kini selalu mengganggu pikirannya.
Dia masih berharap Lentera akan menerima dirinya,meski keadaan mereka saat ini sangat tidak memungkinkan.
Dua hari yang lalu setelah mencium kepala Lentera,Gilang benar-benar tidak bisa tidur dengan tenang,bagaimana bisa orang yang dulu sangat dia benci itu bisa memenuhi hatinya saat ini.
Mereka memang masih terlalu muda untuk hal seperti itu,tapi terlalu sulit jika harus membiarkan perasaan itu terus tumbuh tanpa ada kepastian.
Usia Gilang sudah mencapai sembilan belas tahun.
Lentera baru saja melewati usianya yang kedelapan belas tahun.
Mereka hanya anak remaja yang menemukan cinta pertamanya masing-masing ditengah perbedaan yang begitu besar.
Gilang yang tidak menyadari perbedaan itu terus berusaha agar bisa mengatakan perasaannya pada Tera.
Lentera yang takut jika orang tua mereka tau kebenaran tentang anak-anaknya itu,merasa Gilang tidak benar-benar memahami dirinya.
"Andai saja dia bukan majikan aku,mungkin sejak pertama kali aku masuk kerumah ini,sudah aku mengatakan yang sebenarnya,meski ditolak pun aku nggak apa,selama itu membuat aku bisa bernafas lega.
"Sudah tiga tahun,aku bertahan dengan menyukai orang yang katanya benci denga kehadiranku,dan sekarang mungkin berniat mempermainkan aku,tapi aku nggak bisa bohong sama diri aku sendiri,aku suka,aku lebih suka dia bersikap seperti itu,daripada terus bersikap seolah sangat membenci aku,tapi takut aku menjauh"
"Bisakah dia menunggu aku,sampai aku bisa memantaskan diri agar menjadi orang yang sama dengannya."
"Untuk saat ini,bisa menyukainya diam-diam saja aku sudah cukup senang,meski besok atau lusa,aku ketahuan,tidak apa,aku hanya perlu menjauh."
"Jika bisa,jika waktu yang tepat itu sudah tiba,aku hanya ingin meminta satu kesempatan untuk mengatakan semuanya,meski nanti semuanya akan berantakan,tapi setidaknya dia tau,bahwa aku pernah menjadikannya orang yang paling penting didalam hidupku."
"Meskipun suatu saat nanti,ada orang yang sudah mengisi hatinya,semoga dia tidak lupa bahwa aku pernah menjadi bagian dari keluarganya."
"Semoga aku bisa tetap menyimpan rahasia ini sendirian sampai aku bisa mengatasi semuanya."
"Lentera"
Buku biru Lentera kembali terisi.
Meski masih tanpa menyebut nama Gilang disana,tapi siapapun yang akan membaca buku itu,akan tau dengan jelas siapa yang dia maksud.
Buku itu akhirnya dia bawa setiap kali dia keluar rumah,takut kalau ibunya membacanya,atau ditemukan oleh ibu Jullie.
...*...
Hari ini dia masih akan berangkat ketempat les seperti biasa,juga masih bekerja di cafe "Happy Fun" yang terlihat semakin ramai setiap harinya,dia akan berhenti bekerja akhir tahun nanti.
Dia masih bersikap seperti biasa saat bertemu Gilang didalam rumah,karena takut orang tua mereka curiga jika mereka banyak diam dan tidak bertengkar seperti biasa.
Pagi ini,setelah selesai membantu ibunya memasak didapur,dan menyiapkan sarapan untuk keluarga Gilang,dia bersiap masuk kekamarnya,karena pekerjaan ibunya sudah selesai.
Tapi bukan Gilang namanya jika tidak mencari kesempatan untuk melihat Tera dari dekat.
Dia sengaja turun terlambat dari kamarnya,dan membiarkan ayah ibunya berangkat kekantor lebih dulu.
__ADS_1
Setelah kedua orang tuanya berangkat,dia pun turun dan langsung menuju meja makan.
..."Bude,aku mau susu putih."...
..."Oh iya nak Gilang"...
Ibu Nur meminta Tera membuatkan susu untuk Gilang.
Padahal baru saja kakinya akan melangkah pergi dari sana agar tidak melihat Gilang,tapi pemuda itu justru sengaja mengerjainya.
Dia menuruti permintaan ibunya.
..."Makasih Lentera."...
..."Sama-sama mas Gilang."...
..."Kamu enggak sarapan?"...
..."Enggak,nanti aja,mas Gilang duluan aja."...
..."Udah duduk sini makan sama aku,bude juga sini makan bareng."...
..."Udah kalian makan duluan aja,bude selesaikan beresin ini dulu ya."...
..."Aku mau kekamar dulu,belum mandi."...
..."Enggak usah mandi,begini aja kamu sudah bagus."...
..."Bagus,emang mas Gilang ngira aku barang antik."...
Meski mereka makan dimeja yang sama,tapi bukan berarti lantas membuat status mereka berdua menjadi sama.
Lentera tetap saja hanya seorang anak pembantu dirumah Gilang.
Dan Gilang adalah anak bungsu dari keluarga kaya ini,yang akan mendapatkan semua keinginannya dengan mudah.
Lentera sadar betul akan hal itu,dan membuatnya semakin takut jika terus memaksakan diri untuk tetap menyukai Gilang.
Dia makan dengan enggan,membuat Gilang terus menatapnya diam-diam.
..."Woy,cepat makannya,habis ini kamu ambil baju kotor dikamar aku."...
..."Eh iya mas Gilang," Tera yang kaget dengan teriakan Gilang membuatnya menjawab dengan cepat,padahal mengambil baju kotor diatas sana bukanlah pekerjaannya....
..."Eh tapi kan,biasanya mas Gilang yang bawa turun sendiri baju kotornya."...
..."Tera,kamu ini kalau disuruh nurut aja,kamu mau kita kena marah sama ibu nak Gilang kalau malas-malasan." Ibunya menyahut....
..."Tuh dengar kata bude."...
Tera mengangguk,memang benar,dirinya hanya harus menurut apapun yang keluarga itu katakan,tapi menurutnya,Gilang hanya sengaja mengerjainya.
Gilang yang sudah selesai makan,kembali kekamarnya,untuk mengambil tasnya lalu berangkat kuliah.
__ADS_1
Lentera juga sudah selesai dengan makannya,lalu bersiap mencuci piring,tapi ibunya memintanya agar segera mengambil pakaian Gilang,karena takut Gilang akan mengunci pintu kamarnya jika sudah berangkat.
Tera menurut lagi,dia naik keatas dan mengetuk pintu kamar Gilang.
Gilang yang sudah rapi dan bersiap untuk berangkat itu membuka pintu,menarik tangan Tera masuk kedalam kamarnya yang terlihat berantakan.
..."Mas Gilang."...
..."Hust."...
Tera bersandar dibelakang pintu kamar Gilang,tidak bisa keluar karena daun pintu kamar itu dipegang erat oleh pemuda tampan didepannya.
..."Mas Gilang apa-apaan sih."...
..."Tolong diam begini sebentar aja,kalau kamu nurut aku buka pintunya."...
Tera akhirnya menurut saja,membiarkan aroma parfum Gilang menempel ditubuhnya."
"Apalagi ini,baru saja dua hari lalu dia main cium sembarangan,beberapa bulan lalu juga meluk sembarangan,sekarang mau apa lagi,suka sekali laki-laki ini membuat dadanya semakin berdebar."pikirnya.
Gilang melepas pegangannya dari pintu,lalu lagi-lagi memeluk Tera dengan kuat,membuat gadis itu tidak bisa melawan.
Tera diam saja,ada rasa yang berbeda didalam hatinya,dia bahkan tidak ingin marah,tapi ingin terus seperti itu lebih lama.
Tapi Gilang melepas pelukannya saat Tera mulai merasa nyaman.
..."Beresin kamar aku,kalau selesai langsung keluar ya,jangan tidur disini."...
Tera mengangguk.
Gilang meninggalkannya sendirian.
Wajahnya memerah meski masih sepagi itu.
...*...
..."Bude,tadi aku minta Tera beresin kamar aku sekalian enggak apa-apa kan,jadi mungkin dia agak lama diatas."...
..."Oh iya nak Gilang,enggak apa,nak Gilang hati-hati berangkatnya."...
..."Siap bude."...
Gilang tersenyum menang pagi ini,dia melajukan motornya dengan senang menuju kampusnya.
Apa kabar Lentera diatas sana?
Bukannya segera membereskan kamar,malah sibuk menatap wajah tampan Gilang yang terpajang diatas tempat tidur.
"Mas Gilang kenapa sih ,kenapa semakin aku mau jauhin kamu,mau lupain kamu,kamu malah semakin bikin aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu,asal kamu tau ya,aku suka sama kamu,tapi karena aku perempuan,aku nggak mungkin bisa kasih tau kamu duluan,aku harus nunggu sampai kapan,supaya bisa jadi orang kayak kamu,kalau aja aku juga terlahir jadi orang kaya,aku pasti sudah nggak peduli sama apapun itu,aku pasti sudah bilang sama kamu dari dulu kalau aku nggak bukan cuma sekedar suka sama kamu,mungkin ada rasa sayang,atau cinta,atau apapun itu,tapi karena keadaan aku yang cuma pembantu kamu,aku jadi harus lebih sabar lagi,meskipun aku nggak tau sampai kapan aku bisa punya rasa sabar itu."
Tera berbicara panjang lebar mengungkapkan perasaannya pada foto Gilang yang seakan tersenyum kearahnya itu.
Setelah tersadar dari lamunannya,dia akhirnya membereskan kamar Gilang lalu meninggalkan ruangan yang sudah rapi itu dengan wajah yang masih sedikit memerah.
__ADS_1
...Jatuh Cinta pada Cinta pertama memang hal yang menyenangkan,meski perjalanannya tidak mudah.....
...*****...