Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
22.Sulit berteman dengan orang yang disukai


__ADS_3

"Sela,aku mau nanya sama kamu"


Tanya Tera pada Sela disela-sela waktu makan siang mereka dikantin sekolah.


"Mau tanya apa mbakku sayang,tumben banget?"


"Hehe,aku serius nih Sel."


"Oh iya mbak,silakan?"


"Sel,menurut kamu cowok sama cewek bisa berteman lama nggak sih?


"Nggak akan lama menurut aku?"


"Lah kok gitu?"


"Ingat baik-baik ya mbak Tera,cowok sama cewek itu diciptakan untuk tidak berteman,tapi untuk menjadi pasangan,tapi kalo anak cowok mau jadi teman kamu,artinya kamu nggak berarti apa-apa buat dia,makanya dia mau temanan sama kamu,paham ?"


"Ih kamu anak siapa Sel,kok pinter banget menghadapi pertanyaan apapun?"


"Anak bapak ibu aku lah Raa,kalo nggak pintar mana bisa dapat beasiswa terus masuk sekolah disini."


"Hehe iya,aku akuin deh kamu memang hebat banget,beruntung sekali aku dapat sahabat kayak kamu."


"Hihi,makasih yaa ,Raa...Eh btw ini pertanyaan lo yang paling aneh sepanjang perjalanan setahun ini,hahah,emang ada anak cowok yang mau jadi teman kamu."


"Adaa."


"Siapa,kenalin sama aku juga dong."


"Tuuh." Tera memanyunkan bibirnya kearah Gilang yang sedang asik menikmati es kopinya dimeja seberang.


"Whaattt?"Suara Sela mengagetkan sebagian siswa yang sedang makan disana.


"Hust,suara kamu ini,sejak kapan bisa jadi sebesar ini."


"Sejak saat ini,mulai sekarang kayaknya suaraku bakal besar terus nih volumenya,gara-gara kamu Raa."


"Yang bener aja sih Sel,nggak lagi deh aku cerita sama kamu,kalau kamu jadi ribut begini."


"Eehh maaf maaf,janji deh nggak ribut,sekarang bisa ceritain nggak."


"Kita ketempat bertapa kamu dulu deh."


Selesai makan,kedua gadis pintar itu menuju belakang gedung sekolah yang sepi,tempat yang cukup bagus untuk menghilangkan penat setelah seharian belajar.


Terdapat bangku yang sudah terlihat tua disana,tapi sudah sedikit terawat sejak Sela mengenalkan tempat itu pada Tera,dikelas sepuluh lalu,Sela sering menghabiskan waktunya sendirian disini saat Tera tidak bisa menemaninya.


"Waah,tenangnya,kayaknya udah lama banget aku nggak kesini lagi."


"Abisnya kamu sibuk sendiri terus sih,sampe lupa kalo punya sahabat sama tempat bertapa bagus kayak gini."


"Hehe maafin aku ya Sel,kalau besok-besok kamu mau kesini,aku ikut deh."


"Siap mba Tera,tapi sekarang tolong ceritakan apa yang tadi mau kamu ceritakan,sebelum masuk kelas,aku bisa nggak konsen belajar kalau kamu nggak bilang sekarang."


"Hehe,bisa aja kamu Sel,oh iya sebelumnya kenalin nama orang yang aku maksud dulu,namanya Gemilang Andara,dia biasa dipanggil Gilang."


"Tunggu,tunggu raa,Aku tau namanya Gemilang karena pernah liat nametag dia dibaju seragamnya,tapi nama panggilannya kamu bisa sampai tau?"kamu pasti sudah kenal lama kan sama dia,makanya dulu sering merhatiin dia diam-diam,cepat bilang atau aku marah nih?"


"Ya ampun Sel,aku minta maaf lagi deh jadinya,karena selama ini belum pernah berani cerita apa-apa sama kamu soal kehidupan aku yang sebenarnya."


"Sebenarnya aku tinggal dirumah Gilang."


"Whaaaatt,whaat,whaat,?Sela hampir saja tersedak minuman botol yang tadi dibawanya kesana.


"Raaa kamu bener-bener yaa,hal begini aja sampai nggak pernah bilang sama aku,tega banget ih kamu."Sela melanjutkan kekesalannya.


"Hehe maaf Sel,udah makanya dengarin dulu ih,jangan protes terus,keburu masukan nih ntar."


"Oke oke lanjutin."


"Dulu waktu baru sampai disini,aku langsung ketemu sama orang tua Gilang,terus nawari ibu aku kerja dirumahnya,karena aku sama ibu aku memang lagi nyari kerja,jadi kami ikut,karena memang butuh kerja dan tempat tinggal,dan ternyata mereka punya anak cowok,ya dia itu siGilang,terus ibunya juga malah masukin aku sekolah kesini,makanya dari awal masuk kesini,aku nggak tenang sama sekali,aku takut kalau Gilang tiba-tiba bilang kesemua orang,aku pembantu dirumah dia,kamu tau sendiri kan Sel,murid disini itu hampir semuanya anak orang kaya,kalau mereka sampai tau aku cuma anak pembantu,aku pasti udah keluar dari sini." Tera bercerita panjang.


"Jadi dulu,kamu sering liatin anak itu karena memang sudah kenal kan".


"Nggak kenal juga Sel,aku tau kalau dia nggak suka aku tinggal dirumahnya,karena ibunya perhatian sama aku kayak anaknya sendiri,jadi mungkin dia marah sama aku,atau sama ibunya dia,tapi sebenarnya dia baik,dia sering bantuin aku,tapi sering marah-marah juga,terus karena aku bosan liat dia kayak gitu terus,kemarin aku malah nawarin dia jadi teman aku,eh dia mau juga,Asal kamu tau ya Sel,nggak tau sejak kapan,aku sebenarnya suka sama dia."


"Serius Raa?"


"Yaa aku nggak tau,beneran suka,atau aku terlalu terbawa perasaan karena dia sering baik sama aku.,tolong rahasiain ini semua yaa Sel,aku percaya sama kamu,makanya aku akhirnya berani cerita sama kamu!"


"Meskipun butuh waktu lama kan,Raa?"


"Hehe iya Sel,aku jadi nggak enak sama kamu,bukannya nggak percaya sama kamu,tapi aku cuma butuh waktu aja,karena dari dulu aku nggak pernah sama sekali berbagi cerita aku sama orang lain,tapi karena kamu selalu baik sama aku,aku akhirnya bisa bilang kayak gini."


"Makasih yaa Raa,karena sudah percaya sama aku,aku janji bakal simpan rahasia kamu rapat-rapat sampai kita lulus nanti."


"Makasih juga Sel,sudah mau dengarin aku,oh iya karena aku sudah cerita,kamu mau kan mampir kerumah Gilang,tapi janji jangan cerita apapun sama siapapun,hemph?"


"Oke Raa,aku janji?".


Mereka menautkan jari kelingking mereka sebelum bel masuk kelas berbunyi.


...*...


Pukul tiga sore, semua siswa keluar kelas masing-masing.


Begitupun Tera dan Sela yang bersiap menuju halte bus,Sela langsung menghubungi bapak ibunya dan minta izin untuk bermain kerumah Tera dengan alasan akan belajar bersama.


Mereka sampai dihalte bus sedikit lambat,beruntung bus sekolah masih berada disana.


Mereka naik dan duduk dibangku paling belakang.


Mereka tidak bisa banyak bicara mengenai kehidupan mereka karena beberapa siswa sekolah mereka juga berada didalam bus itu.


Dan memutuskan bercerita tentang sekolah mereka sampai dihalte tempat mereka turun.


"Kamu tiap hari jalan kaki kesini,Ra?"

__ADS_1


"Iya lah Sel,mau naik apalagi emang,busnya kan cuma bisa berenti sampe sini"


"Nggak mau naik gojek aja atau ojek yang sering mangkal disini,jadi kan kamu nggak perlu capek jalan kaki lagi?"


"Aku suka naik bus sih,sekali-kali naik ojek kalo ketinggalan aja,aku juga suka jalan kaki,sambil olahraga sekalian."


"Hemh iya juga,kapan lagi olahraga gratis".


Mereka berbincang sambil tertawa bersama,dan tidak terasa mereka sampai didepan pagar rumah yang terlihat kokoh itu.


Baru saja Tera akan membuka pagar,Gilang juga tiba dengan motor gedenya.


Gilang membuka kaca helmnya,lalu meminta tera membuka pagar.


"Tolong bukain lebar-lebar dong teman."


Tera dan Sela yang berdiri menghalangi jalan Gilang segera menyingkir.


"Loh kok malah minggir,gue suruh buka pagar."


Tera maju kembali lalu membuka pagar agar motor Gilang bisa lewat.


"Makasih teman."


Tera mengangguk saja.


"Raa,itu dia lagi nganggap kamu asistennya atau temannya?"


"Entahlah Sel,dua-duanya juga boleh deh,heheh."


Mereka masuk lewat pintu samping.


Sela bingung,karena melihat Gilang masuk lewat pintu utama,sementara mereka lewat pintu disamping.


"Loh Ra,katanya kamu tinggal sama mereka,tapi kok beda pintu masuknya."


"Kamar aku lewat sini Sel,memang agak terpisah sama rumah mereka,tapi aku malah suka kayak gini,biar ada privasinya juga."


"Ohh kayak gitu,"


Mereka masuk kedalam kamar yang sudah seperti rumah bagi Lentera dan Ibunya itu.


*Waahh Ra,ini sih udah kayak rumah,bukan cuma kamar,kamu beruntung banget bisa ketemu orang baik kayak keluarga Gilang."


"Iya Sel,tapi aku juga harus tau diri,karena cuma numpang disini,Oh iya duduk disitu dulu Sel,aku kekamar mandi dulu, ganti baju,nanti aku kenalin sama ibu aku,jam segini biasanya ibu aku lagi cucian didapur."


"Oke Raa," Sela duduk disofa kecil yang menghadap jendela kamar Tera,dan menampakkan pemandangan depan rumah Gilang.


"Ayok Sel,kita kedapur dulu,cuma ada ibu aku disana,ibu sama bapak Gilang kayaknya belum balik kerja."


"Eh iya Raa,"


Mereka keluar lalu menuju kearah dapur.


Ternyata disana ada Gilang yang tadi membawakan pakaian kotor untuk dicuci ibu Nur.


"Halo teman,Eh hari ini bawa teman juga yaa."sapa Gilang.


"Halo,Gemilang,tapi orang-orang lebih suka manggil Gilang."sapanya pada Sela.


"Halo kak,Sela."jawab Sela singkat.


Tera merasa hari ini Gilang cukup berbeda,dipanggil 'teman' oleh Gilang membuatnya merasa sedikit aneh.


"Aku pamit keatas ya teman,Sela."


"Eh iya kak,"jawab Sela


Tera hanya mengangguk.


"Sel,sini,itu ibu aku lagi cucian."


"Ibuuu,maaf yaa aku lambat bantuin ibu,ini aku lagi bawa teman aku."


"Nggak apa tera,ini juga nggak banyak kok,cuma cuci sisa pakaian kemarin,Eh iya nama kamu siapa nak?"


"Nama saya Marsela tante,manggilnya Sela aja..hehe."


"Sel,aku boleh bantu ibu aku sebentar nggak,kamu duduk disana dulu,jangan disini,nanti kesemutan,heheh."


"Aku bantu juga boleh nggak?"


"Eh nggak usah nak,masa baru juga datang sudah banti cucian begini,kamu duduk aja,tante buatkan minum dulu ya nak."


"Iya tante."


Tera melanjutkan pekerjaan ibunya sambil menunggu ibunya kembali.


"Raa,kamu kerja begini setiap hari,emang nggak capek,pulang sekolah harus kerja lagi?"


"Sel bisa nggak jangan nanya aneh-aneh dulu,nanti didengar ibu aku."Tera hampir berbisik karena takut membuat ibunya sedih.


"Ups maaf ya Raa."


"Udah kamu duduk aja disitu."


Sela menurut duduk tidak jauh dari tempat Tera mencuci.


"Bude,tolong buat minumnya tambahin satu lagi yaa."


Sela maupun Tera terkaget karena Gilang kembali muncul disana.


"Ohh iya nak Gilang,tunggu sebentar yaa,"


"Sela,lo bosan ya,?"tiba-tiba Gilang bertanya pada Sela.


"Ehh nggak kok kak,aku sambil liatin Tera,jadi nggak bosan.,heheh."Sela tersenyum kikuk disapa kakak kelasnya yang ternyata jika diperhatikan benar-benar hampir sempurna itu.


"Gimana kalau ikut gue aja keperpus,dilantai atas,daripada bosan disini,mending baca buku diatas."

__ADS_1


"Ehh nggak usah kak,beneran,aku nunggu Tera aja dulu."


"Nggak apa-apa Sel,ikut aja,dia nggak makan orang kok,"sahut Tera yang melihat Gilang mengajak temannya itu.


"Tuh kan,temen lo aja bilang nggak papa."


"Raa,aku tinggal beneran nggak papa yaa."


"Iyaa Sel,udah buruan sana,daripada kamu plototin aku mulu kayak mandor."


Sela dan Gilang akhirnya naik kelantai atas menuju perpustakaan keluarga Gilang,sambil membawa tiga gelas jus jeruk yang sudah selesai dibuat ibu Nur,dan juga Gilang mengambil beberapa bungkus cemilan dari dalam lemari didapur.


"Tera,udah tinggal aja,ini kan tinggal dijemur juga,kasian teman kamu nunggu kamu lama."


"Nggak apa bu,aku jemur ini dulu ya bu,abis ini aku tinggal,beneran nggak apa kan bu?".


"Iya Tera,kan sudah selesai,ibu juga mau istirahat dulu,cepat sana,kasian itu mereka nungguin kamu diatas."


"Iya bu."


Tera segera menjemur beberapa lembar pakaian milik Gilang dan pakaian kerja milik orang tuanya.


Tera memang sengaja selalu meminta ibunya untuk mencuci disore hari agar dirinya bisa membantu saat pulang sekolah.


...*...


Didalam perpus,Gilang ternyata sengaja mengajak Sela keatas sana karena ingin bertanya sesuatu.


Menyuruh Sela duduk dimeja belajar,dan dirinya duduk dibangku yang menjadi tempat favoritnya didepan jendela.


"Kak Gilang,Tera sering baca buku disini nggak?"


"Sering banget,buku-buku didepan lo itu juga sebagian buku punya dia yang gue beliin waktu dia ulang tahun,mungkin dia sudah selesai baca."


"Jadi kak Gilang sudah sampai beli hadiah ulang tahun buat Tera?" Sela berbicara tanpa melihat kearah Gilang,karena sambil terus menatap buku-buku diruangan itu.


"Eemmh iya,kenapa,dia belum bilang sama lo?".


"Asal kak Gilang tau,jangankan ceritain hal itu,hari ini aja dia baru bilang kalo ternyata dia tinggal disini dan sekarang malah suka sama kak Gilang." Astagaa,aku ngomong apa sih barusan,Sela terus memukul-mukul bibirnya sendiri karena sadar dirinya keceplosan soal perasaan Tera.


"Maksud lo.?"Gilang mendengar jelas apa yang dikatakan Sela,dan berharap tidak salah dengar.


"Aaah itu,maksud aku,sekarang Tera suka karna kak Gilang sudah mau jadi teman dia,soalnya kata dia kak Gilang dulu suka marah-marah sama dia,heemmh gitulah kak."


"Ohh emang iya dia bilang kayak gitu."


"Iya kak,tadi dia baru aja cerita sama aku,makanya sekarang aku diajak kesini."


"Emmh oke,tapi lo beneran bisa dipercaya kan?"


"Iya dong kak,heheh." Sela berusaha membuang rasa gugupnya.


"Oh iya gue ngajak lo kesini,karena sekalian ada yang mau gue tanyakan?"


"Apa tuh kak?"


"Apa disekolah Tera punya teman cowok,atau pacar?"


"Ya ampun kak Gilang,kenapa nggak nanya langsung aja sih sama dia,kok malah nanya aku."


"Kan lo temannya,sapa tau lo tau sesuatu apa gitu soal dia disekolah."


"Tapi sayangnya aku nggak tau,heheh."


"Yaelah lo bener temannya bukan sih."


"Heheh,selama ini sih kita berdua nggak pernah punya teman cowok apalagi pacar."


"Yang kalian suka ada nggak?"


"Adaaa.."


"Siapa?"


"Kak Gilang."


"Sembarangan lo."


Mereka tertawa,saat Tera juga masuk kedalam.


"Ngomongin apa sih,seru banget,nggak nunggu-nunggu aku datang dulu."


"Ngomongin kamu Raa,hahah."


"Kok bisa."


"Kata kak Gilang,kamu kalo dirumah suka nggak jelas."


"Mas Gilang paling bisa,kalo ngejekin orang."


Gelas Sela dan Gilang sudah hampir setengah.


Karena mereka disana sejak tadi.


Sementara Gelas Tera sudah hampir tidak dingin.


"Minum dulu itu,sudah abis itu es batunya."kata Gilang pada Tera yang berdiri saja disamping kursi tempat Sela duduk.


"Eehh iyaa."


"Raaa,Kamu jahat lagi nih Ra,masa dikasih hadiah ulang tahun sama kak Gilang juga nggak pernah cerita sih."


"Heheh,aku harus minta maaf lagi deh kayaknya,kan satu-satu Sel ceritainnya,maksudnya sih mau cerita besok,tapi mulut mas Gilang ternyata kayak cewek juga.",tera melirik Gilang.


"Emang kalian doang bisa gibahin orang,gue juga bisa,tergantung siapa teman ngobrolnya."


Tawa mereka memecah keheningan didalam ruang baca sore itu.


Mereka berada disana hingga hampir malam.

__ADS_1


...*...


__ADS_2