
Dua minggu setelah setelah bertemu Gilang,dan setelah berdebat dengan ibunya,Tera kembali banyak diam.
Dia kembali berpikir,Gilang hanya berniat mempermainkan dirinya.
Dia juga belum memikirkan untuk bercerita pada ibunya tentang hubungannya dengan Gilang.
Selama dua minggu ini,pikirannya terus saja terganggu dan tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja,membuatnya sering mendapat teguran dari atasannya.
Dia tidak akan tenang jika belum kembali bertemu Gilang.
Ponselnya bahkan hampir tidak pernah berdering.
Apalagi menerima pesan dari Gilang.
...*...
Sementara dirumah sakit,Gilang selalu sibuk dengan pekerjaannya,sering menggantikan dokter lain yang sedang cuti maupun yang sedang melakukan operasi,membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk menghubungi Tera,saat istirahat makan siang pun dia sering meninggalkan makanannya karena pasien yang datang maupun pasien rawat inap yang memerlukan pemeriksaan.
Dihari sabtu dan minggu pun dia harus tetap bekerja keras.
Meski dirinya masih merupakan seorang dokter internship,tapi bekerja dirumah sakit besar adalah pekerjaan yang berat,karena banyak pasien dari rumah sakit kecil maupun dari pusat kesehatan masyarakat yang mendapatkan rujukan menuju rumah sakit yang lebih besar.
Saat malam hari pun,dia harus tetap berjaga,agar tidak ada satupun pasien yang terlewatkan.
Sering kali ingin mengirim pesan pada Tera,tapi ponselnya lebih sering ia gunakan untuk menghubungi dokter seniornya,juga karena tidak ingin membuat Tera menunggu balasan darinya,setelah dia melanjutkan pekerjaannya.
Dia benar-benar kelelahan,setelah dokter Handy yang mengambil cuti itu kembali.
..."Kenapa dengan wajahmu Dokter Gemilang?"...
..."Aku butuh istirahat Dok,kenapa Dokter mengambil cuti lama sekali?" Keluh Gilang pada dokter Handy yang masih menjadi seniornya....
..."Saya punya keluarga,anda pun pasti akan seperti itu nantinya,silakan saja anda menikah dan memiliki anak."...
..."Tapi apa menikah sesulit itu dok?"...
..."Tanyakan pada saat jam istirahat nanti,kita sedang bekerja sekarang."...
..."Baik dok..."...
Gilang kembali berkutat dengan pekerjaannya dan memberikan laporan tentang keadaan pasien rawat inap pada dokter Handy,meski sudah memiliki gelar dokter,tapi sebagai dokter magang,dia harus selalu menerima arahan dari dokter seniornya dan bekerja sama dengan baik.
...*...
..."Dokter Gemilang,nanti malam anda bisa pulang lebih awal,karena beberapa pasien rawat inap sudah boleh pulang,dan saya akan berjaga malam ini."...
..."Baik Dok,terima kasih,Oh ya dok,soal pertanyaan saya tadi pagi,bagaimana?"...
..."Aah iya,soal menikah?"...
..."Iya dok..."...
..."Mungkin sebagian orang akan merasa sangat senang saat menjalani kehidupan pernikahan,tapi untuk kita yang seorang dokter,mungkin sedikit jauh dari kata senang itu!"...
..."Kenapa begitu dok?"...
..."Karena kita selalu sibuk di Rumah Sakit,dan membuat kita kehilangan banyak waktu bersama keluarga,jadi saat dokter seniormu sedang cuti,tolonglah pahami mereka,jangan mengeluh tentang pekerjaanmu,jangan menunggu mereka kembali dengan cepat,karena mereka pun ingin keduanya berjalan dengan seimbang,kamu paham Gemilang?"...
..."Iya dok,saya akan berusaha paham,hehehe,oh ya saat sedang istirahat,panggil saya Gilang saja dok..."...
..."Baiklah,oh ya apa kamu berniat untuk menikah?"...
..."Iya dok..."...
..."Gilang,kamu masih muda,nikmatilah saja dulu pekerjaanmu,kamu boleh menikah saat kamu sudah menjadi dokter seutuhnya dan punya klinik sendiri dirumahmu,agar kamu bisa memiliki waktu yang banyak untuk melihat keluargamu..."...
..."Baik dokter,terima kasih sarannya."...
...*...
Mereka kembali kedalam Rumah Sakit setelah selesai makan siang.
Gilang merasa bangga pada dokter seniornya itu,karena masih mementingkan keluarganya ditengah-tengah kesibukannya sebagai seorang dokter.
Dia jadi teringat pada kakak pertamanya,yang masih betah berada diLuar Negeri dan tidak ingin menikah.
..."Bagaimana kabar mas Andrian disana ya?"...
__ADS_1
..."Nanti sajalah aku telpon dia,aku akan menelpon Tera dulu..."...
Gumamnya ditengah perjalanan menuju ruang kerjanya,masih ada waktu sekitar lima belas menit untuknya menelpon sebelum kembali bekerja.
Tera tidak mengangkat telepon karena sibuk bekerja sendiri meski waktunya beristirahat.
Gilang menelpon sampai tiga kali,tapi Tera tidak menjawab.
..."Apa dia marah,selama dua minggu ini aku bahkan nggak pernah kirim pesan apalagi menelpon..."...
Batinnya.
Lima belas menit berlalu,Gilang akhirnya kembali menjalankan tugasnya,seorang perawat muda memanggilnya keruang pasien.
...*...
Pukul sembilan malam,dokter Handy mengizinkan Gilang pulang.
Gilang melepas seragam dokternya dan keluar dari ruangan dengan bersemangat.
..."Hati-hati dokter muda,pacarmu tidak akan meninggalkanmu hanya karena kamu terlalu sibuk bekerja,bukan?" Seru dokter Handy dari dalam ruang kerja mereka....
..."Ahaha baik dokter..." Gilang menjawab sambil berlari keluar....
Dia tidak ingin terlambat menuju rumah Tera.
Segera dia memanggil taksi yang tiba disana begitu dia berlari kepinggir jalan.
Karena belum memiliki mobil,dia akhirnya terbiasa dengan taksi saat akan pulang bekerja.
Gilang duduk dengan tenang didalam taksi,perjalanan ke rumah Tera butuh waktu tiga puluh menit jika tidak macet.
Dia sibuk memikirkan bagaimana caranya agar bisa tetap berada didekat Tera.
Setelah tiga puluh menit perjalanan,Gilang sampai didepan rumah Tera dan Ibunya.
..."Permisi..."...
..."Iya,sebentar..." Sahut Ibu Nur dari dalam rumah....
..."Ada didalam nak Gilang,kamu kenapa malam-malam begini datangnya nak?"...
..."Aku baru sempat datang bude,karena di Rumah Sakit sibuk sekali..."...
..."Oh iya nak,sini masuk dulu,Tera ada dikamarnya,sebentar bude panggilkan dulu..."...
Ibu Nur masuk kedalam kamar Tera,memandangi Tera sejenak yang menggunakan headset ditelinga,lalu menepuk bahu anaknya yang sedang serius mengetik pekejaannya.
Tera yang kaget karena kehadiran ibunya,melepas headsetnya dan bertanya.
..."Ada apa bu?"...
..."Ada yang nunggu kamu diluar,cepat temuin dulu..."...
..."Siapa bu?"...
..."Sudah keluar dulu sana..."...
..."Baik bu..."...
Tera melangkah dengan malas,karena dirinya sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur bercelana pendek diatas lututnya,membuatnya enggan keluar dari kamar kecilnya.
Tanpa mempedulikan orang yang datang,dia berjalan menuju ruang tamu sambil menggosok matanya yang kelelahan karena sejak tadi berada didepan laptopnya.
Setelah membuka gorden pemisah antara ruang tamu dan kamarnya,dia hampir saja menggulung dirinya didalam gorden yang berwarna senada dengan warna dinding rumahnya itu.
Gilang duduk di kursi tamu yang menatap dirinya sambil menahan tawa.
..."M-mas Gilang..."...
..."Iya Tera,maaf ganggu kamu malam-malam begini..."...
..."Maaf,aku ganti baju dulu..."...
..."Silahkan mbak..."...
Tera kembali kekamarnya dan mengenakan celana tidur yang lebih panjang.
__ADS_1
Dia kembali keluar dan duduk di depan Gilang.
..."Tera,aku minta maaf karena nggak sempat hubungin kamu,aku sibuk sekali di Rumah Sakit karena dokter seniorku sedang cuti..."...
..."Sekarang?"...
..."Sekarang aku bisa pulang lebih cepat,karena siang tadi Dokter Seniornya sudah kembali."...
Tera menatap jam dinding yang menggantung diatas kepala Gilang.
..."Ini sudah hampir jam sepuluh mas Gilang,dan ini termasuk cepat?"...
..."Iya,ini sangat cepat daripada biasanya,karena dihari lain,aku bisa pulang sampai jam dua belas malam..."...
..."Sesibuk itu?"...
..."Iya Tera,aku benar-benar minta maaf,aku nggak nyangka jadi dokter bisa sesulit ini..."...
..."Mas Gilang harusnya sudah tahu,semua pekerjaan sudah punya resikonya masing-masing,dan pekerjaan mas Gilang sekarang sangat menguras waktu,kan?"...
..."Maaf Tera,tapi aku nggak nyesal milih kerjaan ini,karena aku bisa bantu banyak orang yang sakit demi kesembuhan mereka."...
..."Aku ngerti..."...
..."Tera,kamu mau nggak nikah sama aku?"...
..."Mas Gilang kayaknya capek banget,mas mendingan pulang aja dulu,biar nggak ngelantur begini ngomongnya..."...
..."Tera,aku serius...!"...
..."Mas Gilang,belum nikah aja waktu mas Gilang itu sudah nggak ada buat aku,apalagi setelah nikah nanti..."...
..."Kalau gitu nikahnya nanti kalau aku sudah selesai magang,dan bisa buka klinik sendiri,jadi aku bisa punya banyak waktu untuk kamu..."...
..."Mas Gilang kenapa sih selalu menggampangkan semua masalah..."...
..."Tapi aku cuma nggak mau kamu pergi lagi Tera...Jadi aku mutusin buat nikah secepatnya sama kamu..."...
..."Tapi nikah itu nggak gampang mas..."...
..."Jadi aku harus gimana,biar kamu percaya sama aku Ra...?"...
..."Mas Gilang,ini sudah malam,besok kita lanjutin lagi..."...
..."Tapi Raa..."...
..."Mas Gilang,pulang aja dulu,aku juga perlu mikir lagi..."...
..."Tera,tapi ini sudah dua minggu,kenapa kamu masih harus mikir lagi..."...
..."Karena selama dua minggu ini aku malah sibuk mikir yang bukan-bukan tentang mas Gilang,salah siapa nggak pernah hubungin aku..."...
..."Tapi aku kan sudah bilang kalau aku sibuk,aku minta maaf Ra..."...
..."Ya sudah mas Gilang pulang aja dulu sekarang,malu sama tetangga..."...
..."Tera,kamu tega sekali..."...
..."Nggak,aku cuma nggak mau digosipin sama orang karena mas Gilang kesini tengah malam begini..."...
..."Ya sudah,besok kan hari minggu,kamu libur kan?"...
..."Iya,tapi aku tetap harus kerja dirumah..."...
..."Tera ayolah,kasih aku waktu sebentar aja..."...
..."Iya,besok aku tunggu dirumah..."...
..."Terima kasih Tera..."...
Gilang akhirnya pulang karena sudah pukul sepuluh malam.
Dia merasa sedikit lega karena akhirnya bisa melihat Tera.
..."Bersambung..."...
...❤️❤️❤️...
__ADS_1