
Sebulan setelah kepulangannya kembali ke Ibu Kota.
Lentera masih meminta ibunya untuk merahasiakan kedatangannya dari keluarga Gilang.
Dia masih belum siap jika harus bertemu lebih cepat dengan Gilang.
Kini Gilang sudah menjadi internship di rumah sakit yang lebih besar.
Tera pun mendengar kabar itu dari ibunya.
Dia tidak menyangka,Gilang yang dulu terlihat keras kepala,kini bisa menjadi seorang dokter.
...*...
Pagi itu,rupanya Tera kurang beruntung dalam masa persembunyiannya.
Setelah bersiap untuk bekerja,dirinya duduk di kedai kecil milik ibunya yang berada didepan rumah mereka.
Sambil menunggu ibunya keluar.
Dia memainkan ponselnya dan mengamati kue buatan ibunya.
Beberapa tetangga mereka disana sering membeli dan memesan dalam jumlah yang banyak jika ada yang melangsungkan suatu acara.
Orang-orang yang lewat pun akan singgah membeli jika mereka sedang mengunjungi taman yang jauh dari keramaian kota disekitar rumah Tera.
Karena ibunya tidak kunjung keluar,Tera yang sejak tadi duduk disana melayani beberapa orang yang mampir.
Ada yang bertanya siapa dirinya,ada pula yang hanya menatap heran pada Tera yang sudah memakai pakaian rapi tapi malah duduk menjual kue disana.
Tera kembali duduk ditempatnya,menatap ponselnya yang sama sekali tidak menarik perhatiannya,dia hanya bolak balik membuka sosial medianya yang selalu sepi.
Dia sibuk bermain ponsel,sampai akhirnya seseorang datang menghampiri kedai ibunya.
..."Bude,aku mau beli kue buat ibu dirumah..."...
..."Iya om,dipilih aja..." Tera masih menatap ponselnya dengan serius karena menemukan toko online yang sedang mengadakan diskon besar-besaran,tanpa melihat kearah orang yang memanggil ibunya dengan sebutan Bude itu....
..."Mbak siapa ya,bude Nur mana?"...
..."Ada om,lagi didalam,om sudah sele-..."...
Tera hampir saja menjatuhkan ponselnya jika tidak mengingat harganya yang cukup mahal untuk ukuran dirinya.
..."Lentera..."...
..."M-Mas Gilang..."...
Belum selesai acara kaget mereka,ibu Tera keluar terburu-buru membawa kue yang lain menuju kedainya.
..."Maaf bude,sini aku bantuin..."...
..."Terima kasih nak Gilang,kamu selalu saja repot-repot bantu bude setiap kali datang kesini..."...
..."Ibu...!"...
..."Eh Tera,kamu belum berangkat kerja nak..."...
..."A-aku mau berangkat bu,daah ibu..."...
__ADS_1
Tera terburu-buru meninggalkan Gilang dan Ibunya disana.
Dia mungkin belum terlambat,karena masih pukul tujuh lewat dua puluh menit.
Tapi langkah kakinya menuju halte bus begitu cepat.
..."Jadi selama ini mas Gilang sering nemuin ibu dirumah,tapi kenapa ibu nggak pernah bilang sama aku..."...
Keluhnya didalam hati.
...*...
Gilang yang tidak kalah herannya dengan Tera,akhirnya bertanya pada bude Nur yang berdiri kaget didepannya.
..."Bude,Tera kapan pulang kesini?"...
..."Sudah sebulan yang lalu,nak Gilang..."...
..."Sudah sebulan bude?"...
..."Iya nak Gilang..."...
..."Tapi kenapa bude tidak pernah cerita sama aku..."...
..."Dia yang minta supaya bude tidak cerita sama siapa-siapa tentang kepulangan dia nak,maafkan bude ya,tapi bukannya nak Gilang juga sama..."...
..."Maksud bude..."...
..."Kan nak Gilang juga tidak mau kalau bude cerita sama Tera tentang kalian yang sering membantu bude disini..."...
..."Tapi itu karena aku tidak mau dia merasa berhutang budi sama keluarga aku bude..."...
..."Maaf bude..."...
..."Oh iya,bude sudah lama sekali ingin bertanya,kenapa sekarang nak Gilang bisa bersikap seperti ini sama ibu dan Tera,bukannya dulu nak Gilang tidak suka sama anak bude?"...
..."Apa Tera nggak pernah cerita apa-apa sama bude?"...
..."Tidak pernah nak,Tera hanya sesekali menanyakan kabar keluarga kalian,dan sesekali bertanya apa kegiatan Gilang saat ini?"...
..."Bude,apa bude akan marah sama Tera,kalau aku cerita sesuatu sama bude?"...
..."Tidak nak,cerita saja ada apa,bude juga penasaran sama anak itu,karena bude lihat selama kembali kesini,dia seperti kehilangan semangat dan malah semakin kurus,seperti yang nak Gilang lihat tadi."...
Gilang tadi sempat memperhatikan Tera yang memang terlihat semakin kecil, dan raut wajahnya yang semakin menunjukkan bahwa ada kesedihan disana.
..."Bude,sebenarnya aku sama Tera pernah pacaran,selama tiga tahun."...
..."Ya ampun nak Gilang,yang benar saja..." Ibu Nur langsung terduduk begitu mendengar penjelasan awal dari Gilang....
..."Iya benar bude..."...
..."Apa Tera yang mengganggu kamu duluan nak?"...
..."Nggak bude,nggak sama sekali..."...
..."Tera gadis yang baik,dia nggak pernah bilang apa-apa sama aku,sampai akhirnya aku baca buku harian miliknya,beberapa hari sebelum dia berangkat ke Luar Negeri,disana dia tulis kalau dari awal kedatangan bude sama Tera kerumah aku,dia memang suka sama aku,tapi dia nggak pernah bilang itu sekalipun sama aku,dan aku juga nggak tahu sejak kapan aku malah jadi suka sama anak bude,sampai akhirnya aku berani menyampaikan semuanya sama Tera....
..."Lalu kapan tepatnya kalian pacaran?"...
__ADS_1
..."Semalam sebelum dia berangkat bude..."...
..."Terus bagaimana ceritanya bisa sampai putus?"...
..."Tera nggak mau lanjutin hubungan kita selama dia disana bude,awalnya aku nggak bisa nerima alasan dia,tapi sekarang aku ngerti kenapa dia selalu menghindar dari aku."...
..."Maafkan anak bude ya nak,dia selalu saja seperti itu..."...
..."Nggak papa bude,aku juga merasa bersalah karena memang aku belum bisa bikin dia bahagia waktu itu,tapi kalau Tera mau nerima aku lagi,aku akan berusaha semampu aku untuk jadi orang yang berguna buat dia,semoga bude mengerti perasaan aku..."...
..."Iya nak Gilang,tapi apa kamu tidak akan menyesal kalau nantinya kamu berjodoh sama anak bude?"...
..."Nggak bude,aku malah akan menyesal seumur hidup kalau Tera sampai membenci aku..."...
..."Nak Gilang..."...
..."Maafin aku bude..."...
..."Nggak nak,kamu nggak salah apa-apa,maafkan Tera ya nak,dia memang sering merasa dirinya tidak pantas untuk siapa-siapa,karena kehidupan kami yang seperti ini,dia memang tidak pernah cerita apa-apa sama bude,tapi sebagai ibunya,bude bisa paham sama apa yang dia rasakan,meskipun dia selalu terlihat baik-baik saja,sebenarnya dia sangat rapuh,sejak kepergian bapaknya."...
..."Aku janji,akan bikin Tera bahagia bude,aku berharap dia bisa mengerti,kalau tidak semua orang akan memandang rendah dirinya."...
..."Terima kasih nak Gilang,tapi bude takut,kalau Ibu sama Ayah kamu tahu,mereka akan marah sama bude..."...
..."Ibu aku sudah tahu bude..."...
..."Yang benar saja kamu ini nak..."...
..."Benar sekali bude,dulu saat Tera bilang putus,aku malah nangis kayak anak kecil dikamar,sampai ibu khawatir sama aku,dan minta aku buat cerita semuanya sama ibu."...
..."Ya ampun,rupanya nak Gilang yang keras kepala ini bisa nangis juga..."...
..."Itu karena Tera bude,kalau bukan Tera,aku nggak akan seperti itu,hehehe..."...
..."Ya sudah,lain kali kita lanjut ceritanya ya nak,nanti kamu terlambat bekerja."...
..."Siap bude,oh ya ini kuenya berapa bude..."...
..."Nggak usah dibayar nak,anggap saja ini bekal dari bude karena kamu sudah mau cerita yang sebenarnya sama bude..."...
..."Eh nggak bisa begitu bude,ini itu jualan bude,bukan buat digratisin,hehehe...Ya sudah aku jalan dulu ya bude..."...
Gilang berlalu setelah meletakkan dua lembar uang pecahan seratus ribu diatas meja kedai ibu Nur,yang membuat ibu Nur mengomel sendiri,karena tingkah pemuda tampan itu.
...*...
Gilang mencoba mencari Tera yang mungkin masih berada dihalte bus,tapi percuma.
Gadis itu sudah berangkat sejak tadi,karena saat ini waktu dijam tangannya sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Gilang menyesal karena lupa bertanya pada ibu Nur,dimana Tera bekerja.
"Bersambung..."
"Mohon bantu dukungannya ya..."
"Terima kasih..."
...❤️❤️❤️...
__ADS_1