Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
20.Ulang tahun ketujuh belas part 2.


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.


Tera dan Sela yang menghabiskan waktu ditoko buku sejak siang tadi akhirnya harus pulang.


Toko buku disana memang menyediakan tempat membaca bagi pelajar yang tidak mau membawa bukunya pulang.


Mereka keluar sambil meluruskan pinggang yang lelah karena duduk terlalu lama.


"Sel kamu balik naik apa?"


"Aku naik angkot aja bisa,kamu sendiri?"


"Entahlah,kayaknya bus jam empat sudah lewat dari tadi ya."


"Ya sudah,aku pesanin gojek ya."


"Emh ngga usah Sel,aku nunggu bus jam lima aja,sebentar lagi juga datang."


"Oh ya udah,kamu hati-hati ya,btw sekali lagi selamat ulang tahun ya mbakku yang makin cantik."


"Makasih banyak ya Sel,nggak kebayang deh gimana hari ulang tahunku kalo nggak ada kamu."


"Sama-sama Tera." Angkot yang akan ditumpangi Sela sudah tiba,membuatnya harus meninggalkan sahabatnya yang tengah berbahagia itu.


Tera duduk disana sendirian.


Tiga puluh menit lagi bus pukul lima akan tiba dihalte depan toko buku tempatnya menunggu.


Tapi belum lama menunggu.


Gilang tiba dengan motornya.


Tera akan mencoba bertahan agar tidak ikut dengan Gilang.


Gilang turun dari motornya,tanpa menunggu Tera mengatakan apa-apa,dia sudah menarik lengan Tera menuju kemotornya diparkir.


"Mas Gilang,apa-apaan sih,aku bisa pulang sendiri,nggak usah diseret-seret kayak anak kecil begini."


"Iya iya,yang sekarang sudah merasa paling tua,padahal baru juga ulang tahun kemarin."


Tera kaget mendengar Gilang menyebut hari ulang tahunnya,tapi tidak ingin berkata apa-apa lagi.


"Tadi gue bilang sama ibu gue,kalo ngeliat lo disini,gue malah disuruh jemput,sekalian disuruh mampir beli kue ulang tahun yang sudah terlambat sehari,asal lo tau,kalau bukan karena disuruh sama ibu gue,gue juga nggak bakal mau jemputin lo jauh-jauh kesini."


Tera masih diam saja.


"Cepat naik,sebelum gue ditelponin ibu gue lagi."


Tera memasang helmnya,lalu naik kemotor dengan tidak nyaman karena menggunakan rok.


Gilang yang menyadari itu,dengan cepat melepas jaketnya dan memberikan pada Tera.


Tera bingung,dia tidak kedinginan,tapi malah dikasih jaket.


"Pake itu buat nutupin kaki lo,bukan buat diliatin."


Tera paham,lalu segera menggunakan jaket itu untuk menutup lututnya yang terbuka karena rok yang sedikit pendek.


Gilang membawa motor dengan pelan.


Hingga mereka tiba disalah satu toko Kue disekitar sana.


Tera turun lalu mengikuti Gilang,karena Gilang hampir saja kembali menarik lengannya saat dia berdiam diri disamping motor.


Mereka masuk dan disambut gembira oleh karyawan disana.


"Mau kue yang seperti apa mas?"


"Tanya langsung aja sama orangnya mbak."


"Oh iya mas,mbak mau kue yang bentuknya bagaimana?"


"Yang biasa aja mbak,yang penting rasanya enak mbak,terus takut yang beliin juga nggak ikhlas kalo mahal-mahal."celetuk Tera


"Mbak,pacarnya ganteng tapi jutek amat yak,nggak romantis sama sekali pula,masa mbaknya malah disuruh milih sendirih sih."


"Maaf mba,tapi ini kakak saya loh,mbak mau sama dia?".


"Kalo mbaknya mau jadi adik ipar saya,hehe."


"Mau mbak,mau banget,dia suka sama siapa aja kok yang penting cantik."


Gilang duduk dibangku dengan santai tanpa mempedulikan ocehan receh 'adiknya' bersama karyawan toko kue itu.


Tera sudah selesai memilih kue dan sudah dibungkus oleh karyawan wantita yang terlihat berdandan sedikit berlebihan itu.


"Makasih ya mbak,kapan-kapan aku suruh orang itu main kesini lagi ya buat ketemu mbak."kata Tera sambil menunjuk Gilang


"Sama-sama mbak,jangan lupa titip salam buat kakaknya ya mbak."


Tera hanya tersenyum mengangguk.


"mas Gilang,dapat salam itu dari mbaknya."


"Maaf mbak,saya nggak suka sama mbak,saya sukanya sama adik saya aja."


"Eh sembarangan,jangan didengerin mbak,Kakak saya memang suka aneh,sama tukang parkir didepan aja dia suka."


Karyawan itu tertawa bersama Tera,Gilang sudah keluar lebih dulu.


Tera menyusul,lalu kembali diam saja.


"Oh sekarang angin ributnya juga sudah mulai datang terus pergi tiba-tiba kayaknya."


"Maksud mas Gilang."


"Nggak ada,kenapa?"


"Nggak jelas."


Ya ampun,gadis ini semakin menggemaskan saat marah-marah seperti itu,Gilang membatin.


Dirinya memang punya banyak teman perempuan disekolahnya,bahkan ada yang sering pulang bersamanya,tapi entah bagaimana,mereka berbeda dengan Gadis didepannya ini.


"Ayo balik,malah bengong."Tera menyadarkan dirinya.


Tanpa berkata apa-apa dia naik dan menyalakan motornya.


...*...

__ADS_1


Mereka sampai dirumah,ibu Nur dan Ibu Jullie sudah menunggu didapur.


Lentera meletakkan kuenya diatas meja,meski terlambat,dia senang ibu Gilang mau memberinya sesuatu seperti ini.


"Maaf yaa Tera,ibu terlambat ngasih sesuatu,karena ibu nggak tau,kalau aja ibu kamu tadi nggak bilang."


"Nggak apa bu,aku malah jadi nggak enak sama ibu,sampai repot-repot begini."


"Ibu senang kok,nggak repot sama sekali,karena kebetulan lagi nggak kekantor."


"Iya bu,terima kasih banyak."


"Ya sudah kita makan dulu,"


Pertama kalinya mereka makan bersama dimeja makan,meski Tera dan ibunya tidak tenang.


Tera yang duduk disamping Gilang,merasa tidak berselera makan,tapi karena tidak enak dengan keluarga Gilang,dia berusaha menghabiskan makanannya dengan pelan,sambil sesekali melirik Gilang disampingnya.


Mereka sudah selesai makan,Ayah Tera kembali pamit keruang kerjanya.


"Oh iya,Tera,selamat ulang tahun ya."kata Ayah Tera tersenyum.


"Iya pak,terima kasih banyak."


Pak Hermawan mengangguk lalu meninggalkan mereka didapur.


"Tera kamu mau potong kuenya disini,atau kamu bawa kekamar kamu aja."


"Boleh saya bawa kekamar bu?"


"Ya bolehlah,kamu boleh makan dikamar sama ibu kamu."


"Iya bu,sekali lagi trima kasih ya bu,karena ibu sudah baik sama kami."


"Iya bu,maafkan kami kalau sering merepotkan ibu sama bapak,juga mas Gilang,"sahut Tera yang sejak tadi diam saja.


"Nggak masalah bu Nur,kami juga senang kok."


"Oh iya,tunggu disini sebentar ya."


Ibu Gilang menuju ruang keluarga lalu kembali sambil membawa boneka beruang besar yang tidak sempat dibungkus itu.


"Oh iya,maaf ibu nggak tau kamu suka apa,jadi ibu cuma beli ini buat kamu."


"Ya ampun,ibu kenapa repot sekali,saya nggak tau mau bilang apa lagi sama ibu,karena sudah baik banget sama saya,semoga suatu saat saya bisa membalas kebaikan keluarga ibu." Tera berbicara sambil terus membungkuk didepan ibu Jullie.


"Nggak masalah sayang,sekarang kamu balik kekamar kamu gih,pasti capek seharian abis main."


"Baik bu,sekali lagi trima kasih bu."


Gilang sampai terlupakan begitu saja,meski sejak tadi masih duduk dikursi meja makan.


Tera melihat kearah Gilang diam-diam.


Lalu kemudian meninggalkan Gilang dan ibunya didapur yang katanya mau mencuci piring,Tera sudah menawarkan bantuan tapi ditolak oleh ibunya.


Tera menuju kamarnya,membawa kue ulang tahun berukuran kecil yang tadi dia pilih sendiri.


Dia duduk dikamarnya,dan segera membuka buku catatannya,lalu menggambar kue ulang tahunnya.


"(Selamat ulang tahun ketujuh belas,Lentera Pradania, Semoga dimasa depan,semuanya menjadi lebih baik..semoga rasa ini,segera menghilang jika tidak ada balasan)"


"(Bapak,aku sudah tujuh belas tahun sekarang,semoga disana bapak tau,kalau perasaan aku lagi nggak baik-baik aja)"


Tera lalu membolak balikkan halaman bukunya.


Benar-benar tidak ada catatan apapun mengenai ulang tahunnya yang keenam belas tahun lalu.


Sesibuk itu dirinya saat itu sehingga sampai melupakan perjalanan usianya.


Dia berharap kedepannya bisa terus mengingat hari ulang tahunnya yang berharga itu.


Masih saja dia duduk disana sambil menatap buku birunya yang hampir penuh itu,dan semakin kusut karena sudah menemaninya selama setahun.


Sampai akhirnya suara ketukan pintu kamar mengagetkannya.


"Masuk aja bu,nggak dikunci kok,"dia mengira ibunya yang sudah kembali.


Tapi suara ketukannya terdengar lagi,dengan malas akhirnya dia berdiri dari tempat duduknya.


Dia membuka pintu lalu hampir saja berbalik karena tidak melihat Gilang yang berdiri didepan pintu.


Gilang lagi-lagi memegang lengannya.


Tera hampir saja berteriak kaget jika Gilang tidak menutup mulutnya.


"Mas gilang,apa lagi sih."


"Hust bisa nggak jangan teriak-teriak."Gilang melepas pegangannya juga tangan kanannya yang menutup mulut Tera.


"Iya makanya ada apa,gangguin orang aja tau nggak,mana udah kayak penculik lagi."


"Iya iya maaf,gue ada sesuatu buat lo diperpus,abis ini lo naik keatas."


Gilang yang tadi masuk lewat pintu samping agar tidak ketahuan ibunya,segera pergi dari sana,sebelum ibu Tera juga kembali kekamarnya,meninggalkan Tera yang bingung didepan pintu.


Tidak lama kemudian,ibunya datang sebelum dia berbalik masuk.


"Loh nak,kamu ngapain berdiri disitu,nanti masuk angin."


"Hehe aku nungguin ibu,mau izin keperpus sebentar,mau nyari buku cerita."


"Ya sudah sana,jangan lama-lama,nanti kamu malah gangguin mas Gilang kalau dia mau belajar."


"Eemhh siap bu."


"Eh tunggu sebentar nak,ini ibu ada sesuatu buat kamu,maaf ya ibu terlambat ngasihnya."


"Apa nih bu?"


"Buka dulu aja,semoga kamu suka ya,soalnya ibu liat kamu sudah mau pakai rok yang ibu belikan,jadi ibu beli lagi sebagai hadiah ulang tahun kamu."


"Ibu kenapa repot-repot sih,uang ibu nggak habis kan buat beli-beli beginian."jawab Tera sambil memandangi blouse set cantik itu."


"Nggak nak,bajunya nggak mahal kok,kamu suka?"


"Suka banget bu,hehe,makasih ibu aku sayang."


"Iya nak,sama-sama,yasudah kamu naik sana,nanti kemalaman."

__ADS_1


Tera meletakkan hadiah dari ibunya diatas kasur lalu berlari keluar untuk segera naik keatas,sebenarnya dia ragu,takut jika Gilang mengerjainya,karena anak itu tau hari ulang tahunnya,tapi dia tetap bersemangat untuk keruang baca,dimana Gilang sudah menunggunya.


Tera masuk setelah mengetuk pintu,dan masuk meski tidak ada jawaban.


Gilang duduk disana menghadap dinding kaca besar yang gordennya sengaja dia buka,agar lebih leluasa melihat keindahan malam di sekitar rumahnya.


Tanpa menunggu,Tera langsung duduk dibangku disamping Gilang,membuat Gilang memperbaiki posisi duduknya.


"Ternyata duduk disini bisa bikin orang nggak dengar apa-apa,sampe pintu diketok aja nggak dengar."


"Tapi kan bisa masuk sendiri,lagian pintunya juga nggak terkunci."


"Heemmh."Tera tidak berucap lagi,dan ikut memandang keluar sana.


"Lo mau baca buku?"


"Buku apa,disini kebanyakan buku buat belajar,emang nggak bosan belajar terus?"


"Lo bosan belajar?"


"Kalau boleh jujur,sebenarnya bosan banget,aku juga pengen main,pengen jalan-jalan kayak anak-anak lain,tapi keadaan aku sekarang nggak memungkinkan buat malas-malasan,nggak kayak mas Gilang,meski nggak dapat peringkat sekalipun bisa tetap kuliah lewat jalur mandiri,sementara aku,harus belajar mati-matian supaya dapat beasiswa buat kuliah." Tera berbicara seakan lupa bahwa Gilang bukanlah sahabatnya,dan terus saja menatap dinding kaca yang memantulkan mereka berdua.


"Tapi ibu gue bilang,mau biayain kuliah lo meskipun lo nggak dapat beasiswa."


"Aku nggak boleh terus-terusan berharap sama keluarga mas Gilang,aku tinggal disini aja sudah bikin repot mereka,bikin repot mas Gilang,aku juga tau kok, mas Gilang terganggu sama kedatangan aku kesini,mas Gilang sering marah-marah sama aku karna nggak suka ibu Jullie sering merhatiin aku,aku jugaa........"


Tera tidak dapat melanjutkan ucapannya,suaranya sudah serak menahan tangis,dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya,berharap dirinya bisa menghilang saja dari sana.


Gilang kebingungan,baru kali ini Tera mengungkapkan perasaannya dengan jujur,tapi kalimat terakhirnya membuatnya bertanya-tanya.


Yaa,dia sendiri memang sadar,dia membenci Tera karena sudah menjadi orang yang merebut perhatian ibunya,tapi melihat Tera seperti ini,membuat hatinya sedikit luluh.


Apakah dia harus menerima Tera sebagai adiknya,tapi hatinya berkata lain,dia ingin Tera lebih dari itu,meski hingga saat ini belum menerima bahwa ibunya juga menyayangi Tera.


Dia membiarkan Tera seperti itu beberapa saat.


Menunggu gadis itu tenang.


Dua puluh menit berlalu,mereka disana tanpa bersuara,malam pun semakin larut.


"Gue mau balik kamar,lo mau disini aja atau mau turun?"


Gilang akhirnya membuka suara.


Tera sudah sedikit tenang.


"Mana sesuatu yang mas Gilang mau kasih sama aku."Tera berusaha melihat kearah Gilang meski matanya sembab.


Gilang semakin iba melihat Adiknya seperti itu.


Tanpa diminta dia segera memeluk gadis itu sebentar.


Tera hanya bisa mematung,merasakan detak jantungnya yang berdetak tidak beraturan.


Dulu hanya Bapaknya yang bisa memeluknya seperti itu,memberi kehangatan saat dirinya lelah belajar.


Kali ini diusianya yang ketujuh belas tahun,dia merasa berbeda berada dipelukan Kakak laki-lakinya itu.


Gilang melepas pelukannya.


"Anggap aja gue kayak kakak lo,yang cuma berusaha buat tenangin anak kecil yang ternyata lumayan cengeng ini."


Tidak ada jawaban,Tera masih mematung.


Gilang lalu beranjak berdiri mengambil setumpuk buku novel yang masih bersegel dari atas meja belajar.


Tera yang sadar,segera mengekor dibelakang Gilang.


"Ini kado ulang tahun buat lo,edisinya belum lengkap,nanti kalau sudah keluar edisi terbarunya gue beliin lagi buat lo." sahut Gilang sambil menyerahkan buku itu ketangan Tera.


Tera sekuat tenaga menahan buku-buku itu agar tidak terjatuh dari tangannya.


"Ini beneran buat aku,tapi ini mas Gilang yang beliin kan."


"Iya lah."


"Makasih mas Gilang."Tera berusaha tersenyum sebisanya.


"Sama-sama,gue duluan."


Gilang meninggalkan Tera yang keberatan membawa lebih dari sepuluh buku novel terbaru itu.


"Uuhh berat banget,udah tau berat begini,masih nyuruh aku ngambil sendiri,kenapa nggak sekalian aja tadi diantarin kekamar aku."


Dia mengomel sendiri lalu meletakkan kembali buku itu keatas meja belajar..


Dia duduk disana,membuka segel satu buku edisi pertama.


Dia malah asik membaca disana sendirian,hingga tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Ibunya dibawah sana menunggu dengan resah,apa yang dilakukan anaknya diatas sana sampai larut malam begini,akhirnya memutuskan untuk naik kelantai atas tanpa bersuara karena takut membangunkan Ibu Jullie dan suaminya ditengah malam seperti ini.


Sampai diatas,ibu Nur malah berpas-pasan dengan Gilang yang akan turun mengambil air minum.


"Loh bude,ngapain malam-malam begini,ngambil baju kotornya kan bisa besok aja bude."


"Itu nak Gilang,bude nyari Tera,apa dia masih didalam sana?,jawab bu Nur sambil menunjuk pintu ruang baca.


"Loh dia belum turun ya bude,tadi saya habis ngasih dia buku,saya pikir dia langsung turun,coba aja bude liat kedalam."


"Iya nak Gilang,terima kasih."


Ibu Nur segera membuka pintu ruang baca dan langsung membuat Tera terkaget.


"Astaga Tera,kamu ini malah asik baca buku sampai larut malam begini,ingat besok kamu harus sekolah,baca buku cerita boleh asal ingat waktu,ibu sampai bingung nunggu kamu dibawah."


"Aduh iya bu,maaf bu maaf,aku nggak liat jam,hehe."Tera tertawa sambil menahan rasa sakit ditelinganya karena dijewer oleh ibunya.


"Sudah ayo cepat turun,ini sudah jam dua belas malam Tera,kamu ini bener-bener ya,pantas aja mas Gilang sering nggak belajar,ternyata kamu suka diam disini sampai tengah malam ya."


"Iya bu iyaa,aku turun,tapi bawai buku aku separoh ya bu,heheh."


Gilang yang tadi akan turun malah mendengarkan Tera yang kena omel dari balik pintu yang tidak tertutup itu.


Akhirnya dia buru-buru turun sebelum Tera dan ibunya keluar.


...Tera kembali kekamar bersama ibunya sambil membawa buku novel yang diberikan Gilang kepadanya....


"( Hadiah ulang tahun pertama dari anak laki-laki yang aku suka )"

__ADS_1


Sebelum tidur,dia memutuskan menggambar beberapa novel itu dan menuliskan kalimat pendek dibawahnya.


......***......


__ADS_2