
Jam dinding dirumah Gilang menunjukkan pukul dua belas malam.
Orang tuanya pulang bekerja menjelang pukul sebelas tadi,dan mengira Gilang sedang tidur dikamarnya.
Tapi ibu Tera yang tadi masih kedapur untuk mengisi botol air minum dikulkas yang dia lupa,berkata pada ibu Jullie bahwa Gilang tadi keluar dan belum pulang.
Mulailah kemarahan Ayahnya dan kepanikan ibunya,karena anak bungsunya itu benar-benar keterlaluan,bukannya belajar dengan baik dirumah malah keluyuran entah kemana.
Pak Hermawan segera meminta istrinya agar menelpon dan menyuruh Gilang pulang.
Ibu Jullie segera menelpon Gilang karena tahu suaminya itu pasti akan memarahi atau memukul Gilang seperti yang dulu sering dilakukan pada kedua anaknya jika anak-anaknya membangkang kepadanya.
Gilang mengangkat telpon segera pulang.
Dengan perasaan kacau dia melajukan motornya sampai kerumahnya.
Masih didepan pintu yang baru saja terbuka,ayahnya segera menampar wajahnya,Gilang yang baru pertama kali merasakan pukulan tangan Ayahnya itu,memegangi pipinya yang memerah,terasa panas disana,tapi dia menahannya.
Dia sadar kesalahannya,tapi itu semua karena orang tuanya yang bahkan melupakan hari ulang tahunnya lalu mengabaikannya begitu saja,karena terlalu sibuk bekerja.
"Darimana kamu,Ayah sudah minta kamu untuk belajar dengan baik dirumah,tapi malah keluar sampai tengah malam begini,mau jadi apa kamu ini,kamu mau menyusul kedua kakak kamu itu,apa kamu bisa hidup tanpa bantuan dari Ayah?" Ayahnya benar-benar marah kali ini,meski dia sering mendapat teguran dari Ayahnya,tapi tidak sampai memukulnya seperti ini.
Dia benar-benar semakin membenci semuanya saat ini.
Dia akhirnya memutuskan melampiaskan kekesalannya dan mulai berani menjawab Ayah dan ibunya.
"Ini semua karena kalian."
"Gilang apa maksud kamu nak?"ibunya dengan sedih memandangi anak laki-laki terakhirnya yang terlihat tidak terkendali itu.
"Ini semua karena ibu,karena Ayah,kalian semua sibuk kerja sampai lupa sama aku,aku sudah nahan semuanya sendirian,tapi hari ini aku benci sama kalian semua." Seru Gilang hampir berteriak.
"Gilang jaga bicara kamu,ibu sibuk kerja juga buat kamu,ibu bantu ayah untuk kita semua,kalau ibu diam saja dirumah bagaimana Ayah bisa ngurus semuanya,sementara kakak-kakak kamu sudah pergi dari rumah,meski Andrian bisa bantu dari jauh,tapi itu nggak bisa sepenuhnya membantu,jadi ibu harus turun tangan agar hidup kamu bisa tetap seperti ini Gilang."
"Aku nggak peduli bu,yang pasti sekarang ibu sudah nggak pernah peduli sama aku,hari ini,hari ulang tahun aku aja ibu nggak ingat sama sekali,Ibu sekarang lebih peduli sama Lentera yang jelas-jelas bukan anak ibu,ibu bisa ngasih hadiah buat dia,tapi hari ini lupa sama aku,kalau kalian sudah nggak mau lihat aku dirumah,aku bakal pergi dari sini."
"Gilang,jaga mulut kamu,kamu ini belum juga lulus SMA,sudah banyak tingkah,sini kunci motor kamu,juga kartu ATM kakak kamu yang sering kamu pakai itu."Ayahnya akhirnya menyimpan motor kesayangannya itu.
"Ambil yah,ambil semua." Gilang merogoh kantongnya lalu memberikan kepada Ayahnya apa yang diminta,dan kembali keluar dari rumahnya,berlari keluar gang rumahnya dimalam hari yang mulai dingin itu.
Ibunya baru saja akan mengejarnya,tapi ditahan oleh Ayahnya.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja,besok pasti juga pulang,mau bertahan berapa lama dia diluar sana tanpa uang sama sekali."
Akhirnya ibu Jullie terduduk lemas dikursi ruang tamu,berharap diluar sana anaknya baik-baik saja diluar sana.
Setelah kedua anaknya meninggalkan rumah,dirinya memang memanjakan Gilang layaknya anak bungsu seperti pada umumnya,dan berharap
gilang tidak berani melakukan hal seperti kedua kakaknya,tapi rupanya dirinya tetap salah,karena terlalu sibuk bekerja untuk anaknya itu,malah justru membuatnya semakin kurang memperhatikan Gilang,lalu menyadari bahwa dirinya sering memperhatikan Lentera yang memang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
Kemudian melihat kalender yang terpajang disana,hari ini adalah hari ulang tahun Gilang yang kedelapan belas.
Dirinya sampai melupakan hari yang berharga untuk anaknya itu,dikarenakan masalah dikantor suaminya begitu membebani pikirannya.
Dirinya masuk kekamar dengan wajah lelah,merebahkan dirinya diatas kasur sambil terus memikirkan keadaan Gilang.
...*...
Malam semakin larut,Gilang yang tadi keluar,menunggu Beni menjemputnya,karena hanya Beni yang bersedia menampungnya saat ini.
Dia benar-benar kacau saat ini,dirinya bahkan tadi tidak sengaja menyebut nama Lentera,bagaimana jika gadis itu mendengarnya,dia mengacak rambutnya sendiri.
Dia kedinginan dihalte bus yang sudah sepi itu.
Gilang menginap untuk pertama kalinya dirumah teman baiknya itu.
Meski besok dia harus absen dari sekolah.
...*...
Lentera yang tadi hanya berniat mengambil botol air minumnya yang ditinggal ibunya didapur,mendengar keributan yang terjadi diruang tamu rumah itu dan mematung disana.
Sudah sejak tadi Gilang keluar rumah,tapi dirinya masih berdiri dibalik tembok pemisah antara dapur dan ruang keluarga,meski samar-samar,tapi suara Gilang yang menyebut namanya terdengar jelas ditelinganya,dia akhirnya benar-benar semakin yakin,bahwa memang dirinya lah yang sudah menyebabkan Gilang menjadi seperti itu,selama ini dia mengira bahwa Gilang tidak akan berontak seperti tadi,karena Gilang terlihat seperti anak yang benar-benar baik,tapi hari ini,dia terlihat sangat berbeda dari biasanya,dan membuat Tera berpikir kembali untuk segala harapan bahwa perasaannya akan berbalas.
Dia merasa semuanya semakin jelas sekarang,Gilang memang tetap membenci dirinya meski bersedia menjadi temannya.
Dia akhirnya kembali kekamarnya setelah cuaca malam itu semakin dingin.
Dia melanjutkan memikirkan berbagai macam hal diatas kasurnya hingga hampir pagi,beruntung dia segera terlelap saat jam dikamarnya menunjukkan pukul tiga pagi.
*
Pagi-pagi sekali,dia sudah bersiap untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan didapur,sebelum berangkat kesekolah.
__ADS_1
Ibunya seperti biasa membuat sarapan untuk keluarga itu,termasuk Gilang.
"Bu Nur,nggak usah buat untuk Gilang yaa,"
"Oh iya bu,nak Gilang kenapa,lagi nggak mau sarapan?"
"Dia lagi nggak dirumah bu,kayaknya bermalam dirumah temannya."
"Oh iya bu baik,"
Ayah dan Ibu Gilang duduk dimeja makan menghabiskan sarapannya meski tanpa Gilang disana.
Selesai sarapan,Ayah Gilang meninggalkan meja makan,dan disana masih duduk ibu Jullie.
"Lentera,setelah kerjaan kamu selesai,tolong keruang kerja saya sebentar yaa,"Ibu Jullie meminta Tera menemuinya.
"Tera yang mencuci piring itu tiba-tiba merasa tidak enak,takut jika ibu Jullie akan memarahinya,atau bahkan mengusirnya dari sini,tapi hanya bisa mengiyakan perkataan majikannya itu.
Selesai mencuci piring,Tera pamit pada ibunya menuju ruangan ibu Jullie dan pak Hermawan,tapi disana hanya ibu Jullie sendirian,karena tadi suaminya berangkat kekantor sendirian,jadi Tera bisa sedikit tenang,karena merasa takut melihat pak Hermawan yang tadi malam sangat marah bahkan memukul Gilang.
Tera bergidik ngeri.
"Masuk tera,ayo duduk disini sebentar."
"Iii iiya bu,"
"Kami kenapa,kok kayak ketakutan gitu sama saya."
"Eh nggak kok bu,saya cuma kaget aja ibu tiba-tiba manggil saya kesini,heheh." Tera berusaha tertawa agar tidak ketahuan karena sudah mendengar keributan tadi malam.
"Ibu nggak akan macam-macamin kamu kok,ibu cuma mau minta tolong sama kamu,disekolah nanti tolong tanyakan sama teman-teman Gilang apa mereka ada yang melihat Gilang tadi malam,ibu yakin kamu pasti sudah pernah melihat teman-teman sekolah Gilang kan."
"Oh iya bu,saya tau kok,nanti saya tanyakan ya bu,ngomong-ngomong mas Gilang kemana bu?."
"Ya ampun Tera, kamu ini,kalau ibu tahu yaa mana ibu suruh kamu tanyakan sama teman-temannya."
"Ohh iyaa ya bu,maaf bu maaf,maklum masih pagi,heheh."
Mereka tertawa disana menyembunyikan rahasia masing-masing.
...***...
__ADS_1