
Enam bulan menjadi seorang mahasiswa baru.
Gilang tumbuh menjadi anak bungsu yang sudah semakin dewasa.
Hari-harinya juga semakin sibuk.
Setelah masuk keperguruan tinggi,Ayahnya juga membeli motor baru untuknya,motor lamanya masih disimpan digarasi,karena dia tidak ingin hadiah pertamanya diusia remaja itu harus dijual.
Dia akan diperbolehkan membawa mobil saat usianya dua puluh tahun nanti.
...*...
Meski terlihat bersemangat menjalani dunia perkuliahan,sebenarnya dia sedikit merasa kecewa karena selama menjadi mahasiswa dirinya tidak diizinkan mengontrak rumah dikawasan kampusnya,itu akibat janjinya sendiri kala itu pada ibunya.
Tapi dia tetap harus bersabar beberapa tahun lagi,mungkin setelah dirinya sukses dengan usahanya sendiri dia akan bisa keluar dari rumahnya dan menjalani kehidupan sesuai keinginannya.
Kini teman-teman SMAnya tidak lagi bisa menemaninya setiap hari,karena mereka berbeda universitas,hanya Jihan yang selalu setia mengikutinya kemanapun,meski berbeda jurusan.
Dirinya juga sudah tidak terlalu mempedulikan Lentera yang hingga saat ini masih betah berada dirumahnya,meski masih tetap berharap bisa memberi tahu Tera tentang perasaannya.
Dia terus menyimpan dan mengganggap perasaannya hanya sebatas rasa suka anak remaja laki-laki pada umumnya,yang menyukai seorang perempuan seperti biasanya,tanpa harus mencintai atau memiliki.
Dia mungkin akan segera melupakannya jika sudah bertemu dengan teman-teman perempuan yang baru dikampusnya.
...*...
..."Halo,apa kabar anak kelas dua belas",sapanya pada Lentera yang berdiri didepan halte...
..."Halo juga anak kuliahan"....
..."Ngapain masih disitu?"...
..."Nungguin kuda terbang mas Gilang."...
..."Ohh bagus juga biar cepat sampenya kan."...
..."Iyaa mas Gilang,udah sana buruan pergi,menghalangi pandangan aku aja tau nggak."...
..."Nggak mau ikut."...
__ADS_1
..."Nggak,nanti aku diturunin ditengah jalan,soalnya sudah lama banget mas Gilang nggak pernah ngajak aku barengan,takutnya sekarang punya niat jelek sama aku."...
..."Astaga,sekarang makin gede tapi makin pendek ya pikirannya,gimana mau ngajak bareng,kalau motor aja baru dikasih lagi,kan setaun kemarin juga bareng terus."...
..."Itu bukan bareng ya mas Gilang,tapi aku mah diikutin terus."...
..."Laah bisnya kan cuma itu yang kesekolah kita,iya kali gue harus nunggu bis lain,yang ada gue dibawah entah kemana,ada-ada aja lo."...
..."Ya kan mas Gilang bisa naik taksi,ato angkot,ojek apa kek."...
..."Ya suka-suka gue sih ya mau naik apa,lagian sekarang kan gue udah nggak bakal satu bis lagi sama lo yang bawel ini."...
..."Ya udah sana pergi deh,ngajak ribut aja pagi-pagi."...
Gilang masih disana sampai bus sekolah datang.
Tera segera naik kedalam bus sambil melambaikan tangan pada Gilang.
Yang ditinggal hanya bisa tersenyum paksa disana.
Memang sepertinya mereka harus tetap menjaga jarak saja saat ini,pikir Gilang.
Dia pun melajukan motornya menuju kampusnya.
Dia memilih universitas bergengsi itu,lewat jalur mandiri,meski dirinya bisa saja menggunakan otak cerdasnya itu untuk menggunakan beasiswa.
Tapi kakak tertuanya juga bersedia membiayai kuliahnya,selama dia menjadi anak yang penurut.
Dia pun juga memilih seperti itu,karena dia berpikir untuk memberi kesempatan beasiswa kepada siswa lain yang lebih membutuhkan daripada dirinya.
Meski usianya sudah 19 tahun dan terlihat lebih dewasa bukan berarti dirinya tidak ingin bermain seperti anak muda pada umumnya.
Dia masih tetap bermain diakhir pekan bersama teman-teman barunya,sembari mencoba membuka hatinya untuk orang lain dan berusaha melupakan Lentera.
...*...
Hampir setiap hari sepulang kuliah,dia selalu mengantar Jihan pulang,meski sebenarnya dia tidak ingin,tapi karena Jihan sering menemaninya,mentraktir makan siang untuknya,dia menjadi tidak punya pilihan lain selain mengantar gadis yang sudah lama menjadi temannya itu.
Sore inipun dia harus mengantar Jihan pulang,karena gadis itu terus merengek minta diantarkan.
__ADS_1
Jihan yang memang sudah menyukai Gilang sejak lama sengaja berbuat seperti itu agar Gilang bisa melihatnya sebagai seseorang yang berbeda.
Sore ini mereka melewati taman utama ditengah Kota,disana ternyata Lentera dan Sela sedang menikmati jumat sorenya ditaman yang selalu terlihat ramai itu.
Gilang melaju dengan motor gedenya bersama Jihan yang memeluknya dengan erat dari jok belakang.
Lentera dan Sela mengenali Gilang dan Gadis yang bersamanya itu.
Ada rasa benci yang mengisi hati Lentera,tapi hanya bisa mendiamkannya begitu saja,siapa dirinya,apa haknya untuk marah,dia harusnya bersyukur jika Gilang memiliki seorang pacar,jadi dia akan berlari menjauh sekuat tenaganya,tapi hatinya tidak bisa begitu saja mengabaikan anak laki-laki itu,kini rasa sesak didadanya semakin penuh saja.
..."Raa,kayaknya kak Gilang sudah jadian tuh sama temannya,yaa aku akuin sih,kak Gilang yang ganteng itu cocok sama Kakak cantik itu,tapi kalau sama kamu juga lebih cocok,heheh."Sela berusaha menghibur Tera yang mulai terlihat menunjukkan kecemburuan itu....
..."Mungkin juga Sel,bagus deh kalo mereka jadian,jadi aku juga bisa cari cowok yang lain yang lebih ganteng."sahutnya kesal....
..."Nggak usah dicari Raa,kan udah ada Daniel yang kayaknya suka sama kamu."...
..."Eh jangan sembarangan dong Sel,bisa dilabrak satu sekolah aku kalau sama anak itu."...
..."Ya ampun Ra,emang kenapa,kan udah biasa lue ya dilabrak.,hehe."...
..."Nggak deh,cukup dulu fansnya mas Gilang aja yang pernah labrak aku,jangan ada yang lain lagi,lagian sekarang kita udah kelas dua belas,harus fokus belajar,kita juga cuma anak beasiswa yang nggak boleh pacaran."...
..."Siapa bilang nggak boleh,meskipun anak beasiswa tapi kita juga punya buat bahagia tau."...
..."Haha iya Sel,tapi bahagia kan nggak harus punya pacar juga,punya tem........."...
..."Udah stop Raa,aku nggak tau udah beberapa ratus ribu kali kamu ngomong kayak gitu sama aku,yes ,i know,aku bahagia punya teman kayak kamu,tapi kita juga butuh pasangan tau Raa..ih kesel jadinya sama kamu."...
..."Hahahaha,iya Sel iya iya,tapi yang jadi masalah itu nggak ada yang mau sama kita."...
..."Ada dong,tapi nggak tau siapa,hahaha."...
..."Udah yaa,mau senang-senang atau mau sedih-sedih sih kita kesini."...
..."Tadinya senang,tapi liat kak Gilang jalan sama cewek kayak gitu,aku jadi kesal tau Raa."...
..."Udaahh deh Sel,nggak usah bahas yang aneh-aneh,mending kita main kesana aja."...
Mereka kemudian melangkahkan kakinya kebawah pohon linden yang tumbuh subur dipinggir danau buatan disekitar taman itu.
__ADS_1
Menikmati sore hari,meski pikiran mereka entah sudah sampai kemana.
...*****...