
20 november,meskipun hari itu adalah hari ulang tahun Gilang yang kedelapan belas tahun,tapi justru menjadi hari yang menjengkelkan bagi remaja yang mulai dewasa itu.
Bagaimana tidak,sejak beberapa hari lalu orang tuanya sibuk menyelesaikan masalah dikantor mereka,dan sampai hari ini mereka melupakan hari istimewa anak bungsunya itu.
Tahun lalu Gilang masih sedikit bisa bergembira mengenang hari ulang tahunnya yang ketujuh belas,karena masih bisa bermain dengan teman-temannya meski tanpa hadiah dari siapapun,karena mereka semua sibuk bekerja,kala itu Gilang memakluminya,karena dia cukup senang menerima ucapan dari kedua kakaknya yang berada jauh diluar sana,dan menjanjikan sesuatu saat mereka bertemu nanti.
Tapi kali ini dia merasa sangat kesal karena merasa benar-benar terabaikan,dia juga kembali kesal pada ibunya,juga Tera,karena saat Tera ulang tahun ulang tahun dua bulan lalu,mereka bahkan repot-repot membeli sesuatu untuk diberikan kepada Tera.
Ayah dan ibu Tera bukannya lupa,tapi demi menyelesaikan persoalan yang sedang mereka hadapi dikantor mereka membuat mereka sedikit tidak mempedulikan keadaan dirumah termasuk ulang tahun Gilang.
Tera yang masih tidak tau tentang hari bahagia Gilang itu justru sibuk belajar bersama Sela dirumah Sela.
Dia bahkan tidak ingin basa basi bertanya kapan ulang tahun temannya itu,untuk tetap menjaga agar Gilang tidak kesal kepadanya karena terlalu banyak bicara dan bertanya.
Tapi hari ini Gilang justru semakin kesal,bagaimana bisa gadis itu tidak pernah bertanya apapun tentang dirinya selama mereka memutuskan menjadi teman.
Mereka tetap saja hanya menjalani hari seperti biasa,bertengkar lalu berbaikan,sibuk sendiri dengan teman masing-masing,lalu hanya bertemu saat dirumah.
Membuat semuanya terasa membosankan bagi Gilang.
Saat itu dia memutuskan menerima tawaran Tera yang ingin menjadi temannya karena berharap bisa melihat Tera setiap hari lalu berbincang layaknya teman pada umumnya.
Bukan tanpa alasan pula Tera bersikap seperti itu,dia merasa keputusannya untuk berteman dengan Gilang adalah suatu hal yang salah.
Bagaimana bisa dia berteman dengan orang yang jelas-jelas dia sukai itu.
Semakin mereka akrab maka semakin tinggi pula harapan Tera bahwa Gilang juga akan menyukai dirinya,lalu membuatnya berharap hubungan yang lebih,dan membuatnya harus menjauh dari rumah itu,sementara perjalanan mereka masih sedikit panjang.
...*...
Gilang yang sepulang sekolah langsung kembali kerumahnya berharap orang tuanya segera pulang dan memberinya sesuatu,menunggu sampai hampir pukul delapan malam.
Tapi sejak tadi dirinya hanya melihat ibu Tera yang sibuk mondar mandir didapur.
Tera pun bahkan tidak menampakkan batang hidungnya.
Sejak sore tadi Tera sudah pulang dan bersembunyi dikamarnya,kembali lagi menghindari Gilang,entah sampai kapan dia akan bersikap naif seperti itu.
__ADS_1
Meski tidak ada bedanya dengan Gilang yang tetap saja egois dengan hanya memikirkan perasaannya sendiri.
...*...
Gilang yang merasa bosan karena terus berharap akan ada yang mengajaknya berbicara dihari seperti ini,akhirnya mengganti baju lalu dengan terburu-buru berlari keluar rumah dan membawa pergi motornya.
Tidak lupa membawa sejumlah uang tabungan miliknya yang sejak lama dia simpan didalam kamarnya.
Dia membawa motornya dengan kesal,menuju salah satu cafe ditengah kota yang buka hingga 24 jam.
Dia sudah menghubungi teman-temannya dan berjanji akan mentraktir,jika mereka bersedia menemaninya hingga tengah malam.
Tadi sebelum pergi,dia hanya menerima pesan dari kakak keduanya yang mengucapkan selamat ulang tahun,dan meminta Gilang memaklumi keadaan kantor orang tua mereka saat ini,dia tidak membalasnya sama sekali.
Kakak pertamanya,mungkin saja sibuk membantu Ayah ibu mereka dari jauh,hingga membuatnya lupa mengiriminya pesan.
Gilang melupakan mereka,melajukan motor hingga sampai dicafe yang selalu terlihat ramai itu.
Bisa saja dirinya menuju bar atau club disekitar sana,tapi mengingat dirinya yang masih berstatus pelajar,dan baru hari ini usianya memasuki usia yang hampir dewasa,jadi dia mengurungkan niatnya dan memutuskan menghabiskan hari itu dicafe saja.
...*...
Beberapa teman perempuannya juga ikut menemani Gilang yang saat itu sedang berontak pada kedua orang tuanya.
Mereka memesan makanan berat dan banyak cemilan,juga beberapa minuman bersoda.
Meski sempat ditawari minuman aneh,mereka masih bisa menolak mengingat status mereka.
..."Gilang,lagi ulang tahun gini,lo malah galau begitu,kenapa lo?"tanya teman perempuannya,Jihan,yang diam-diam ternyata menyukai Gilang sejak mereka dibangku kelas sepuluh....
..."Tauk nih,nggak biasanya ngajak kita ngumpul kayak gini,biasanya sibuk sama Kalian aja,"Febri menjawab sambil menunjuk Beberapa teman laki-lakinya....
"Mungkin galau karena belum dikasih mobil baru sama bokapnye."Seru Gio pacar Febri.
...Yang ditanya sibuk menatap layar ponselnya yang bahkan tidak berdering itu....
..."Woyy ngapai lo ngajak kita kesini kalo lo malah sibuk sendiri." Gibran menepuk bahu Gilang....
__ADS_1
..."Lo ngajak kesini mau senang-senang kan,bukan mau nungguin HP lo yang dari tadi nggak kedip-kedip itu."Beni mengingatkan Gilang lagi akan tujuan mereka ketempat itu....
..."Oke oke,sorry,gue malah sibuk sendiri jadinya." Gilang tidak menyangkal bahwa dirinya masih menunggu telpon dari ibunya atau kedua kakaknya....
Jihan kemudian duduk disamping Gilang,menenangkan Gilang yang sejak tadi terlihat galau.
..."Udah lo nggak usah galau begitu,kalo ada apa-apa cerita sama gue,gue tetap teman lo kok meskipun sekarang kita beda kelas."...
..."Cie ciee,temen apa demen lo ji,"seru Gio...
..."Kalo demen sih iya,tapi Gilang nggak pernah nganggap gue ada kayaknya,padahal dijadiin Ttm juga gue mau kok."...
Gilang tertawa mengira Jihan sedang bercanda.
..."Ya udah kalian pesan apa aja yang kalian mau,hari ini gue yang bakal bayarin semua sampe uang tabungan gue abis juga nggak masalah."kata Gilang mulai bersemangat....
Hingga makanan mereka habis,dan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam,ponsel gilang tidak juga berdering.
Karena tidak ingin pulang lebih awal sebagai bentuk awal kekesalannya,dia mengajak temannya menuju tempat karaoke disekitar sana,hingga pukul dua belas malam,hingga akhirnya ponsel miliknya berdering,ternyata ibunya menelpon.
..."Kenapa bu?"...
..."Apanya yang kenapa,kemana kamu?,kenapa jam segini belum pulang?,Ayah kamu dari tadi sudah marah-marah karena kamu nggak ada dikamar,cepat pulang,atau Ayah kamu makin marah."ibunya mengomel....
..."Iya bu."Gilang menjawab singkat....
Lalu mengajak teman-temannya pulang.
..."Yaaa,apaan lo lang,katanya mau sampe pagi,hahah,"Beni mengoloknya....
..."Si anak bungsu udah ditelpon ibu nih,jadi harus cepat balik,padahal baru juga mulai."Jihan ikut meledek...
..."Apaan sih kalian,lagian udah tengah malam,besok sekolah."Gilang membela diri,meski aksi berontaknya harus cukup sampai disitu....
Dia kemudian melajukan motornya mengantar Jihan pulang,lalu pulang kerumahnya sendiri.
Dia sudah siap jika Ayahnya harus memarahi atau memukulnya.
__ADS_1
Toh kedua kakaknya pun dulu sama seperti dirinya.
...*...