
Akhir bulan Juni lalu merupakan hari terakhir Tera dibangku kelas sepuluh.
Dibulan Juli ini, dirinya juga Sela dan teman-teman kelas sepuluh lainnya sudah menjadi murid kelas sebelas.
Tera pun akhirnya bisa bernafas lega tahun ini,karena dia tidak perlu lagi membebani ibu Jullie untuk membayar uang sekolahnya,karena ditahun kedua ini dia berhasil mendapatkan beasiswa dan dibebaskan dari segala pembayaran sekolah.
Dirinya berjanji akan mengganti uang ibu Jullie jika nanti sudah mendapat pekerjaan yang layak.
Tapi ibu Jullie mengatakan agar tidak perlu memikirkan hal seperti itu karena Tera sudah berhasil menjadi murid berprestasi disekolahnya.
Tahun ini,dirinya kembali mendapat peringkat teratas dikelasnya,meski begitu bukan berarti tanpa hambatan dia bisa sampai seperti saat ini.
Teman-teman sekelasnya selalu menatapnya dengan tatapan heran,mengira bahwa Lentera memiliki hubungan istimewa dengan guru disekolahnya,karena mereka menilai Tera tidak cukup layak untuk sampai dititik itu,mengingat penampilannya yang masih terlihat biasa saja sampai saat ini.
Tapi Lentera yang saat ini hanya ingin yang terbaik untuk dirinya dan ibunya,mencoba untuk terus berusaha keras agar bisa bertahan diposisinya,meskipun hanya dengan belajar sendiri dirumah Gilang,sesekali belajar bersama Sela,sahabatnya yang sampai saat ini juga sama sepertinya.
Bagaimana pun tatapan teman-temannya pada dirinya,dia mencoba selalu terlihat tegar agar tidak menjadi sasaran bullyan murid-murid kaya itu.
Meski dirinya harus banyak menangis sendirian ditempat persembunyiannya dan terlihat lemah saat sedang sendirian.
Dirinya harus bertahan beberapa waktu lagi dan melalui semuanya dengan kuat,diusianya yang sudah hampir memasuki tujuh belas tahun,dia sudah harus belajar untuk terlihat baik-baik saja meskipun nyatanya sangat rapuh.
...*...
Sama seperti tahun sebelumnya,mereka memulai kelas baru dipertengahan bulan Juli.
Hari ini terasa lebih hangat,masih pukul tujuh pagi tapi matahari sudah menyilaukan bagi siapapun.
Tera menyambut pagi itu dengan senang,mengingat dirinya tidak perlu memikirkan biaya sekolah,dan hanya perlu belajar lebih keras.
Dua minggu tidak bertemu dengan Sela membuat dirinya sedikit kesepian meski hampir setiap malam saling mengirim pesan.
Dia berangkat lebih awal pagi ini,agar bisa mendapat tempat duduk yang dulu menjadi tempat duduk Gilang dikelas sebelas.
Beruntung sekali pikirnya,dia berada dikelas sebelas yang dulu menjadi kelas Gilang,juga sekelas dengan Sela yang selama setahun lalu terpisah kelas.
Sampai disekolah,Tera langsung masuk kelas mengambil kursi dibangku kedua disamping dinding kelas,meski sedikit tidak menyukai tempatnya,tapi merasa senang karena dulu bangku itu menjadi tempat duduk Gilang selama setahun,sejak beberapa bulan lalu saat Gilang sering membantunya dia memutuskan mencari kelas Gilang dan mengingat meja belajar Gilang,dan berharap saat kelas sebelas bisa duduk disana.
__ADS_1
Dia tersenyum senang disana.
Sela masuk kelas dan duduk disamping Tera,kebetulan bangku itu sengaja dia kosongkan untuk menunggu kehadiran Sela.
..."Tera...rindu banget sama kamu." Sela masuk kelas dan langsung duduk disamping Tera sambil bersandar dibahu Tera,kini tinggi mereka hampir sama,Tera bertambah tinggi sejak usianya hampir mencapai tujuh belas tahun,meski masih berbadan kecil....
..."Ra,kamu kok duduk disini,bukannya duduk didepan sana,sambil menunjuk meja kosong ditengah."...
..."Aku suka disini Sel,kalau duduk ditengah apalagi didepan,bisa-bisa satu kelas selalu merhatiin kita tiap hari."jawabnya sedikit berbohong,meski dirinya memang tidak suka duduk dibangku tengah....
..."Iya juga,tapi dikelas sepuluh kemarin aku malah duduk paling depan,karena disuruh sama wali kelas,tapi disini malah lebih enak."...
..."Iya Sel,lebih enak karena duduk dekat aku kan?" Tera tertawa....
..."Bisa aja lue."...
Pukul delapan,wali kelas baru mereka masuk kelas memperkenalkan diri,wali kelas mereka saat ini seorang wanita yang sudah berumur sekitar 40 tahun,juga terlihat sedikit galak.
"Duh raa,kayaknya bakal nggak seru nih kelas sebelas kita."
Selesai memperkenalkan diri,wali kelas mereka meminta untuk mengambil buku kelas sebelas yang tidak jauh dari ruang kelas itu.
Sela dan Tera pun segera berlarian keruang buku.
"Raa,kayaknya wali kelas kita keliatan galak banget tuh,"Sela berbicara sambil setengah berbisik.
"Sel,bisa diam nggak,kalo kedengaran yang lain,gimana,bisa abis kita dilaporin,tapi emang iya,jadi kayaknya kita harus makin rajin belajarnya."
Mereka tersenyum bersama,mengingat wali kelas mereka yang sangat berbeda saat masih kelas sepuluh.
Selesai mengambil buku-buku pelajaran,mereka kembali kekelas dan siap menerima pelajaran hari ini.
Sampai tiba waktunya mereka berhamburan untuk segera pulang kerumah masing-masing.
...*...
..."Baru masuk aja udah belajar banyak banget,gimana besok-besok,bisa mati rasa otak aku ini."keluh Sela pada Tera yang berjalan disampingnya....
__ADS_1
..."Ingat yaa mba Sela yang makin hari makin cantik ini,kita murid beasiswa yang harus tetap belajar meskipun juga pengen main-main,jadi mau gimanapun keadaan otak kamu itu,kamu harus tetap belajar mati-matian."Tera mengingatkan Sela akan keadaan mereka....
..."Lah,sudah pintar ceramain orang rupanya kau ini," Sela tertawa....
..."Iya,kamu yang ajarin."...
Bercanda dan tertawa bersama seperti ini merupakan hal yang disukai Tera,karena dirinya tidak harus berpura-pura tersenyum saat bersama Sela.
...*...
Mereka pulang bersama diawal kelas sebelas ini.
Sela yang meminta dijemput oleh Bapaknya itu terlihat lebih ceria,meski katanya sudah kelelahan dihari pertama.
Tera diajak pulang bersama karena mereka tidak bertemu selama dua minggu,membuat Sela merasa merindukan kebersamaan dengan sahabatnya itu.
"Raa,kita masih bisa pergi main nggak ya nanti,stres banget kalau harus belajar tiap hari sama guru galak."
"Masih bisa Sel,asal ingat waktu dan ingat diri,Ingat ya Sel setahun lagi kita sudah mau kelas dua belas,tahun depan nilai kita nggak boleh turun sama sekali,kalau mau tetap kuliah keluar negri."
..."Ahh iya Ra,Kalau hidup kita kayak teman-teman kita,mungkin sekarang kita nggak perlu belajar keras kayak gini kan Ra?"...
..."Eehh yang bener aja kamu Sel..."...
..."Pak,saya bisa marain anak bapak sekarang nggak pak, kok makin hari makin nyebelin nih pak." Seru Tera pada bapak Sela yang sedang mengemudikan taksinya....
..."Dia sudah biasa seperti nak Tera,bapak anggap dia bercanda,kalau bapak ambil hati,pasti sudah lama bapak simpan dia dirumah orang lain." Bapak Sela tertawa....
..."Tapi kan emang bercanda pak,heheh,kalaupun aku anak orang kaya,aku juga bakal tetap belajar kayak sekarang kok pak." Sela tersenyum pada Tera yang duduk disampingnya....
..."Kita punya banyak waktu buat ngeluh,tapi nggak punya waktu untuk berbuat semau kita kan?" Tera membenarkan Sela kali ini....
..."Betul sekali mba Lentera."...
Mereka tertawa diatas taksi yang melaju membawa Tera pulang kerumah Gilang.
...***...
__ADS_1