Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
21.Mari berteman


__ADS_3

Tera yang mulai merasa bosan terus menghindari Gilang,tapi selalu saja bertemu.


Dia akhirnya memutuskan menerima saja setiap perlakuan Gilang kepadanya,entah itu membuatnya kesal ataupun merasa senang.


Juga tidak ada pilihan lain bagi Gilang selain menerima Tera dirumahnya,juga menerima setiap rasa marah saat melihat ibunya terus memanjakan Adiknya itu.


Gilang merasa,harusnya dia juga bisa seperti ibunya,menganggap Tera bagian dari keluarganya,atau bisa lebih dari itu.


...*...


Dibulan September ini,mereka memutuskan berteman,meski Lentera merasa sangat ingin mengungkapkan perasaannya,tapi untuk saat ini,dia hanya harus menjadi teman yang baik bagi Gilang.


...*...


Pagi itu mereka bertemu didepan pagar rumah,karena Gilang memutuskan mengikuti Tera dengan berjalan kaki menuju halte bus digang depan.


"Mas Gilang,kok malah jalan kaki?"


"Kenapa emang?,ada urusannya sama lo."


"Ya ampun mas Gilang,bener nggak sih mas Gilang ini manusia normal?."


"Kenapa?


"Mas Gilang selalu aja aneh,mas Gilang sengaja kayak gini kan,biar aku benci sama mas Gilang?"


"Maksud lo apa sih,kurang tidur lo ya,pagi-pagi sudah ngelantur aja?"


"Iya,abisnya mas Gilang sering baik,tapi sering jutek begini juga,aku jadi bingung,kalau aku diamin mas Gilang,aku disamperin,kalau aku ngajak ngomong duluan,mas Gilang jawabnya jutek banget."


"Emang iya?,perasaan,gue biasa aja,emang bawaan lahir kali yaa.!"


"Bisa aja,itu mah namanya emosian,pantasan aja sampe sekarang nggak punya pacar."


"Eh tau darimana lo,gue nggak punya pacar,teman perempuan banyak tau."


"Teman mah banyak,yang jadian mah kagak ada kan."


"Sok tau,udah diam aja,jangan bikin badmood pagi-pagi."


Tera kemudian diam saja seperti permintaan Gilang.


Mereka masuk kedalam bus yang sudah menunggu sejak tadi.


Tanpa berbicara sampai disekolah.


"Tuh kan aneh banget."batin tera.


Mereka sudah sampai disekolah,Gilang meninggalkan Tera dibelakang,karena tidak ingin jika Tera lupa,dan mengajaknya berbicara,dia masih ingat cerita Tera yang sampai dilabrak gadis-gadis sekolah mereka karena perkara topi hitamnya.


Gilang sendiri bersikap seperti itu agar bisa tetap mengendalikan perasaannya.


Dia tidak ingin,jika terus baik kepada Tera hanya membuat Tera benar-benar bertingkah seperti Adiknya,lalu melupakan bahwa hubungan mereka tidak seperti itu.


Gilang pun sebenarnya ingin selalu mendengar Tera berbicara dengannya,tapi dia juga harus menjaga perasaan Tera,agar Tera tidak pergi dari rumahnya,jika dia dengan gamblang menyatakan yang sesungguhnya,setelah dia tau Tera orang yang keras kepala dengan pendiriannya.


Mereka tenggelam dalam perasaan masing-masing dan tidak akan mungkin saling jujur mengingat keadaan mereka saat ini.


...*...


Pulang sekolah,mereka kembali berada dibus yang sama.


Seperti biasa bus sekolah hanya akan mengantar sampai dihalte sekitar gang rumah Gilang.


Mereka berjalan bersama,Tera tersenyum bahagia disamping Gilang meski sedang sangat lapar.


"Kenapa lo,gue liat-liat jadi makin sering nyengir-nyengir sendiri."


"Hemh nggak papa,aku senang kalo lagi jalan kaki bareng mas Gilang."


"Kenapa?"


"Karena mas Gilang ganteng?"


"Akhirnya sadar lo ya kalo gue ganteng."


"Bukan baru sadar sih,tapi baru jujur aja,heheh."


"Gue emang ganteng dari orok,tapi kalo lo liat muka asli kakak-kakak gue,gue yakin lo malah jatuh cinta sama mereka."

__ADS_1


'Asal mas Gilang tau,aku sudah jatuh cinta sama orang sekarang lagi disamping aku."Tera berkata didalam hatinya.


"Malah bengong,awas kesambet jin ganteng."


Tera hanya tertawa.


"Mas Gilang,aku boleh tanya nggak?"


"Hemh."


"Ada nggak orang yang sekarang lagi suka sama mas Gilang,atau orang yang mas Gilang suka?"


Deg,Gilang tidak menduga Tera justru menanyakan hal yang ingin dia tanyakan pada gadis itu.


"Kalo lo?"


"Kalo bohong sih nggak ada,kalo jujur ada,hahah."


"Ngawur."


"Mas Gilang ditanya malah balik tanya,gimana sih,jawab juga dong!"


"Sama kayak lo jawaban gue,puas kan."


"Yee malah ikut-ikutan aja."


Gilang kemudian melangkah duluan,menuju rumahnya.


"Mas Gilang tunggu ih."


"Apa lagi,gue buru-buru mau masuk,lapar gue."


"Aku juga lapar,tapi aku punya permintaan sama mas Gilang,boleh kan?"


"Apa?"


Mereka berhenti dibalik pagar tinggi yang didepan rumah mereka.


"Mas Gilang mau nggak temenan sama aku,eh tapi kalo nggak mau juga nggak apa,karena susah pasti ya berteman sama orang yang suka gangguin mas Gilang?"


"Nggak mau."


"Yaa lagian,lo udah tau kalo lo nyebelin,masih ngajak berteman."


"Ya sudah kalo nggak mau,tapi mulai hari ini jangan pernaaaah ngajak ngomong aku,aku juga nggak suka kalo diajak ngobrol tapi mas Gilang nggak suka sama aku,huuhh."


Tera berlari masuk kedalam rumah,dia lewat pintu disamping kamarnya agar bisa langsung sampai.


Sampai dikamar dia merebahkan dirinya diatas sofa kecil yang selalu menjadi tempat favoritnya saat lelah itu.


"Nyebelin banget jadi orang,diajak berteman juga nggak mau,tapi suka banget gangguin aku,aku jauhin,malah disamperin terus,dasar nggak jelas."


Tera berbaring disana dengan perutnya yang lapar,tapi malah bermalas-malasan keluar dari kamarnya.


"Lentera,kamu ini kebiasaan,kalo pulang sekolah nggak pernah langsung ganti baju,malah rebahan disitu,sana ganti baju,terus makan,ini ibu bawain makanan,tadi kata mas Gilang tadi kamu lapar,tapi kok nggak keluar-keluar,abis makan angin yaa disitu?"


"Abis makan orang bu,"jawabnya dengan kesal.


"Aduuh,anak ibu kenapa,kok jadi kesal begitu,ada apa toh?"


"Nggak ada apa-apa bu,heheh,aku bercanda."


Tera berusaha menyembunyikan kekesalannya.


"Ya sudah sana ganti baju,terus makan,kalau sudah selesai bawa kedapur sendiri ya piringnya."


"Siap bu,makasih ya bu."


Tera sudah selesai menghabiskan makanannya,membawa piring kosongnya kedapur.


Beruntung dia tidak melihat Gilang disana,jadi dia bisa merasa sedikit tenang,karena akan canggung sekali rasanya jika bertemu orang yang sudah menolaknya mentah-mentah.


"Baru diajak berteman aja sudah nolak,gimana kalo aku bilang suka sama dia,bakalan langsung ditendang kali ya dari rumahnya."Tera mengomel pelan didapur.


Baru saja akan kembali kekamarnya,dia malah dikagetkan oleh kehadiran Gilang dari pintu belakang sambil membawa keranjang pakaian kosong.


Tera berniat melengos begitu saja,tapi suara Gilang menghentikan langkahnya.


"Halo teman,Sudah selesai makannya,kalo sudah,bantuin bude jemuran yaa teman?"

__ADS_1


"Apaan sih."


"Katanya mau jadi teman gue."


"Nggak jadi,nggak butuh teman nggak jelas kayak mas Gilang."


"Tapi gue ganteng kan meskipun nggak jelas."


"Terserah."


Tera berlalu,melewati Gilang yang menghalangi langkahnya.


"Nanti malam keperpus."ucap Gilang dengan setengah berbisik ketika Tera lewat disampingnya.


"Malas." Tera benar-benar menghilang dari sana.


"Astaga,gemes banget gue sama bocah kayak gitu." Gilang tertawa.


...*...


Pukul delapan malam,setelah Tera membantu ibunya bekerja,dia minta izin untuk naik keruang baca.


Sampai diatas,ternyata Gilang belum berada disana.


Tera duduk dibangku didepan jendela,setelah membuka gorden yang menghalangi pandangannya.


Dia duduk disana menatap lampu-lampu malam yang terlihat indah,lagi-lagi dia meratapi nasibnya sendirian ditempat ini.


Apa karena tempat ini memang dibuat untuk menciptakan kesedihan lain saat kesedihan lama pun belum hilang.


Tera duduk terpekur disana,menatap bayangan samar dibalik kaca jendela besar dihadapannya,memperhatikan dirinya yang selalu terlihat menyedihkan meski sekuat tenaga dia menyembunyikannya.


Hampir saja menangis,tapi Gilang sudah datang dan duduk disampingnya.


"Kenapa lagi lo,kalo nggak suka duduk disini,pindah aja,kayaknya kalo duduk disini,lo malah jadi cengeng."


"Nggak,siapa yang cengeng,aku nggak lagi nangis kok."


"Kalo gue nggak keburu datang pasti udah nangis kan lo,kayaknya sedih banget lo yaa gue nggak mau jadi teman lo."


"Nggak,aku malah senang mas Gilang nggak mau,jadi mulai hari ini aku nggak perlu lagi repot-repot ngomong panjang lebar sama orang kayak gini."


"Yakin,terus kalo gue mau gimana?"


"Terserah"


Gilang mengacak rambut Tera dengan gemas.


"Apaa sih,nyebelin banget tau,"


"Emang,terus kenapa mau jadi teman gue."


"Yaa bukan apa-apa sih,aku capek aja selalu liat mas Gilang hari ini marah,besok tiba-tiba baik,besoknya lagi marah-marah,mungkin karena aku cuma pembantu mas Gilang,jadi seenaknya aja diperlakukan kayak gitu.,Kalau aku nawarin jadi teman,kali aja mas Gilang berubah jadi baik tiap hari sama teman mas Gilang yang manis ini."


"Yakin banget lo."


"Emmh,nggak yakin juga,tapi setidaknya aku akan berusaha jadi teman yang baik,sekaligus tetap jadi pembantu yang baik buat mas Gilang."


"Oke,gue mau coba jadi teman buat orang suka ngambek kayak lo,tapi gue nggak mau dengar lo nyebut-nyebut kata pembantu didepan gue."


"Tapi kan aku memang pembantunya mas Gilang."


"Lo mau jadi teman gue kan,?"


"Eh iya deh iya."


"Jadi sekarang kita ngapain,teman?"


"Gimana kalo kita lomba baca buku,siapa yang dapat halaman paling banyak,dia yang menang,terus yang kalah harus traktir beli jajan seminggu."


"Boleh,sana ambil bukunya"


Tera lalu berdiri mengambil buku yang sama tebal,lalu memberi Gilang salah satunya.


"Oke kita mulai."


...Mereka membaca buku sampai larut malam disana....


...Melupakan sebentar perasaan mereka....

__ADS_1


......***......


__ADS_2