Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
31.Tarik Ulur


__ADS_3

Senin sore,dipertengahan bulan Desember,Hujan turun sejak siang tadi,membuat Lentera harus mengambil jadwal Les sekitar pukul setengah delapan malam,dan izin untuk tidak masuk bekerja hari ini.


Sebenarnya bulan ini merupakan bulan terakhirnya bekerja dan les.


Karena sudah mendaftar kuliah awal bulan lalu.


Awal tahun depan mungkin dia akan segera terbang ke Negeri impiannya jika dia sudah mendapat pengumuman lulus.


Hujan sudah reda pukul setengah enam sore tadi.


Lentera harus berangkat pukul setengah tujuh agar tidak terlambat.


Ditengah cuaca dingin dan senja, dia menunggu ojek menjemputnya didepan pagar rumah Gilang.


Gilang sampai sesenja ini belum juga menampakkan batang hidungnya,mungkin terjebak hujan entah dimana.


Sejak Gilang memeluknya hari itu,mereka masih tampak seperti biasanya,meski hampir setiap hari Tera merasa tidak tenang jika belum melihat Gilang sehari saja.


Begitupun Gilang yang selalu terlihat cuek tapi selalu tersenyum sendiri saat Tera menyapanya lebih dulu.


Tera sampai ditempat Les lebih awal karena jalanan sepi,mungkin karena hujan sejak siang membuat cuaca dingin,sehingga sebagian orang memilih tidak keluar rumah.


Dia memandangi Gedung Kampus Gilang yang berdiri dengan megah dipusat ibu Kota ini,sudah sepi,mungkin tidak ada mahasiswa yang berkuliah sore tadi.


Dirinya bisa saja berkuliah ditempat itu,tapi impiannya untuk keluar Negeri pun tidak bisa dia buang sia-sia.


Dia naik kelantai dua tempatnya les bahasa asing,menikmati malam yang dingin bersama teman-temannya yang lain yang juga mengambil les bahasa asing bersamanya.


Hampir dua jam mereka menghabiskan waktu disana,sambil mengobrol santai dengan guru les mereka yang juga merupakan warga negara asing.


Sudah pukul setengah sepuluh malam,gerimis diluar sana mulai turun lagi.


Mereka mengeluh,karena hujan turun bersamaan dengan waktu pulang mereka.


Lentera yang juga hanya berangkat kesini menggunakan ojek,berdiri dengan bingung di Lantai satu gedung tempat lesnya.


Hujan ternyata semakin deras,membuat beberapa teman Lentera juga terjebak disana,Lentera sedikit lega,karena bukan hanya dirinya yang menunggu disana.


Dia merogoh tasnya,segera menelpon ibunya,mengatakan bahwa akan pulang sedikit terlambat karena hujan yang cukup deras.


Juga meminta ibunya memberi tahu ibu Jullie agar tidak memarahinya saat pulang nanti.


Setengah jam berlalu,hujan masih saja turun dengan deras,ditambah dengan angin yang mulai bertiup.


Membuat Tera dan teman-temannya melangkah mundur agar tidak terkena air hujan.


Mereka tidak bisa masuk lagi kedalam,karena gedung bertingkat itu sudah terkunci.


..."Ya ampun,bagaimana kita bisa pulang."...


..."Sabar bang,nasib jadi orang yang enggak punya mobil,hujan kehujanan,panas kepanasan."...


..."Gue punya mobil,tapi mobilnya belum diambil,hahah."...


..."Mobil gue juga banyak,ganti-ganti pula tiap hari,tapi sayang mobil taksi punya bos bokap gue."...


..."Hahahah."...


Teman-teman Lentera yang tersisa lima orang bersamanya itu,mengobrol dengan santai sambil mengobati rasa kesal mereka.


Seperti biasa Lentera hanya ikut tertawa.


Waktu setengah jam berlalu lagi,mereka masih terjebak dan kedinginan disana.


Bahkan satu taksi pun tidak ada yang lewat disana.


Apalagi ojek yang hanya menggunakan motor.


Tera memeluk tas ranselnya,agar merasa hangat.


"Aahhh,kenapa pula dihari-hari terakhir seperti ini malah begini" Dia mengeluh sendiri.


Satu persatu temannya sudah dijemput oleh entah siapa,Tera tidak peduli.


Hanya tersisa dirinya dan dua orang teman perempuannya.


Tidak lama kemudian,Tera menatap mobil ibu Jullie yang berhenti didepan gedung les mereka.


Tera mengira ibu Jullie yang menjemputnya.


Sampai Gilang keluar membawa payung menuju arahnya.


..."Ayo cepat."...


..."Tapi mas,teman aku."...


..."Oh,kalian mau kearah mana,saya antar."...


..."Rumah kita dekat kok kak dari sini."...


..."Ya sudah kalian bisa ikut kita."...


..."Terima kasih kak."...


Lentera lalu mengantar kedua temannya itu kedalam mobil menggunakan payung yang dibawa Gilang,kemudian kembali menjemput Gilang yang menunggu didepan gedung.


..."Kerjaan kamu nggak ada yang lain gitu selain bikin orang repot"....


..."Maaf mas Gilang." suara Lentera bergetar karena kedinginan....


Gilang tidak tega melihatnya,tapi harus tetap menahan diri agar tidak memberikan jaketnya,karena bisa membuat kedua teman Tera salah paham.


Mereka masuk kedalam mobil,Tera duduk dikursi depan karena kedua teman lesnya berada dikursi belakang.

__ADS_1


..."Kalian kearah mana."...


..."Dari sini lurus aja kak."...


..."Oh baguslah kita searah."...


Gilang membawa mobil dengan sangat hati-hati karena meskipun sudah bisa membawa mobil,tapi itu pertama kalinya dia membawa mobil saat hujan deras seperti ini.


Beberapa menit kemudian,salah satu teman Tera sudah sampai disekitar rumahnya.


..."Tapi ini masih hujan deras,kamu nggak apa jalan kaki kedalam?"...


..."Nggak apa Tera,paling cuma basah dikit aja,Oh iya terima kasih ya kak,"...


..."Sama-sama." Jawab Gilang....


..."Kalau rumah kamu dimana?"tanya Tera pada temannya yang masih bersamanya ini....


..."Enggak jauh kok Ra dari sini,maaf ya malah bikin kalian repot-repot."...


"Nggak apa,anak ini kerjaannya malah jauh lebih merepotkan."


...Gilang menjawil kepala Tera....


..."Heheh kakak bisa aja,sama pacar sendiri kayak gitu."...


..."Eh siapa bilang dia pacar saya,asal kamu tau,teman les kamu ini cuma adik perempuan yang sebelumnya tidak saya harapkan kehadirannya."...


..."Ya ampun kakak tega banget,nanti adiknya nangis loh."...


..."Sudah biasa kok,jadi nggak bakalan nangis aku mah."sahut Lentera....


Mereka tertawa ditengah hujan deras yang semakin membuat cuaca terasa dingin.


Tidak berapa lama kemudian,teman Tera pun sampai ketempat tujuannya.


..."Terima kasih ya kak tumpangannya,baik-baik kak sama adiknya,nanti diambil orang loh."...


..."Bisa aja kamu,iya sama-sama,hati-hati ya."...


Mereka berdua memandangi kepergian teman les Tera yang berlari kecil masuk kedalam rumahnya.


..."Kamu sudah punya teman baru sekarang."...


..."Cuma teman les aja mas Gilang,belum ada teman yang kayak Sela."...


Lentera bersiap pindah kebangku belakang dan hampir membuka pintu mobil jika tangannya tidak ditahan oleh Gilang.


..."Kamu mau kemana."...


..."Mau pindah kebelakang,kenapa?"...


..."Enggak bisa,disini aja,kalau kamu turun bisa basah."...


Perjalanan pulang yang harusnya hanya memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit itu,menjadi terasa sangat lama karena Gilang yang terus menggenggam tangan Tera sambil menyetir dengan satu tangannya,membuat waktu malam itu seakan berhenti begitu saja.


Tera pun membiarkan Gilang,ada rasa nyaman didalam hatinya,melihat orang yang disukainya bersikap seperti itu,meski Tera tidak tau bagaimana perasaan Gilang.


Mereka terus menatap kaca depan mobil yang basah karena rintik hujan yang sudah hampir reda.


Sudah tepat pukul sebelas malam,Gilang memarkirkan mobilnya dipinggir jalan sekita taman anak-anak tempat mereka dulu bermain,lampu jalan disana nampak redup karena hujan yang terus turun hampir satu hari.


..."Mas Gilang,kok malah mampir disini,ini sudah tengah malam,kalau orang tua mas Gilang sama ibu aku tau kita malah keluyuran begini,bisa habis kita."...


..."Enggak,aku sudah bilang pulang lambat karena takut nyetir mobil kalau lagi hujan,tunggu disini,aku beli minum dulu."...


Gilang berlari tanpa payung karena hujan sudah menyisakan gerimis kecil disana.


Dia membawa dua gelas minuman hangat,menyodorkan satu gelas pada Tera.


..."Enggak mau kalau rasa Kopi."...


..."Bukan,ini coklat panas,cepat minum baru kita pulang."...


Lentera akhirnya menyambut gelas yang terasa hangat itu.


Mereka duduk didalam mobil sambil menikmati gerimis kecil disana.


..."Mas Gilang". "Tera."...


...Mereka bersuara bersamaan....


..."Mas Gilang duluan,mau bilang apa."...


..."Kamu duluan aja,takut nanti kamu lupa."...


..."Hummh,aku mau nanya boleh nggak."...


..."Tanya aja."...


..."Mas Gilang punya pacar nggak?"...


..."Nggak ada."...


..."Terus perempuan yang dulu selalu mas Gilang antar itu siapa?"...


..."Cuma teman."...


..."Nggak percaya."...


..."Terserah kamu."...


...Mereka diam lagi....

__ADS_1


Gilang menghabiskan minumannya lalu kembali menyebut nama Tera.


..."Apa mas Gilang."...


..."Kamu sendiri?"...


..."Apanya?"...


..."Punya pacar?"...


..."Nggak ada,lagian nggak ada yang suka sama perempuan miskin mas."...


..."Tau darimana."...


..."Nggak tau."...


"Kalau aku suka sama kamu boleh kan."


Lentera hampir saja menyemburkan minumannya jika tidak ingat mobil yang dia itu milik ibu Jullie,(bisa bikin kerjaan baru nanti,nyuci mobil.)


"Nggak boleh dan aku nggak percaya,mas Gilang punya banyak teman perempuan yang cantik,kaya,modis,nggak kayak aku yang cuma pembantu mas Gilang,lagipula kalau mas Gilang bilang kayak gitu,paling cuma main-main kan,aku tau dari pertama kali aku datang kesini aja........." Kata-katanya menggantung disana.


Lentera berhenti melanjutkan Ucapannya karena Gilang tiba-tiba mencium ujung kepalanya.


..."Mas Gilang apa-apaan sih,jahat banget tau nggak."...


..."Kenapa,kamu enggak percaya sama aku."...


..."Enggak,enggak sama sekali,aku tau mas Gilang lagi stres,atau apapun itu,tapi tolong jangan kayak gini sama aku,mas Gilang kalau nggak mau cari pacar,jangan mainin perasaan orang kayak gini."...


Lentera sudah hampir membuka pintu mobil,lagi-lagi Gilang harus menahannya.


..."Tera,jangan begini,oke oke,aku minta maaf,mungkin aku lagi terbawa sama suasana,tapi tolong jangan marah,aku minta maaf." Gilang memegang erat lengan Tera agar tidak turun dari dalam mobil....


Tera menyerah,dia kembali duduk dengan tenang,tapi tidak berani menatap Gilang.


Gilang justru merasa malu sendiri,sepanjang perjalanan dari tempat les tadi,dia berpikir untuk mengatakan perasaannya,karena saat dirinya menggenggam telapak tangan Tera,gadis itu sama sekali tidak terlihat ingin melepas tangannya,membuat dirinya berpikir diluar kendalinya,dan melakukan hal seperti itu pada Tera yang bahkan dia tidak tau perasaannya.


Dia hanya berpikir dengan gadis itu tidak melepas genggamannya,pasti karena Tera juga menyukai dirinya.


Dia lalu kembali menyetir mobil ibunya sebelum Tera berubah pikiran.


...*...


Sampai didepan garasi,Tera turun dengan terburu-buru sampai membawa tasnya dengan asal dan menjatuhkan buku catatan pelajarannya didalam mobil,Gilang memungut lalu menggulungnya dan memasukkan buku itu kedalam saku jaketnya.


Gilang bahkan tidak bisa berbuat apa-apa lagi,mengingat tadi Tera menatapnya dengan tajam.


Tapi Tera juga tidak berani masuk sendirian karena sudah tau orang dirumah itu akan menunggu sampai mereka pulang,dia akhirnya menunggu Gilang selesai memarkirkan mobilnya.


Gilang kaget melihat Tera masih berdiri didepan pintu sambil menahan cuaca yang semakin dingin.


Gilang akhirnya membuka pintu karena Tera hanya terus memeluk tas ranselnya yang terbuka.


Mereka masuk kedalam,ibu Jullie dan Ibu Nur langsung menyambut mereka.


..."Gilang kamu bisa kan bawa mobilnya,kok kalian lama banget,kita sampai khawatir nungguin kalian."...


..."Iya bu,kan tadi aku sudah bilang kalau aku nunggu hujan reda dulu,aku masih takut bawa mobil kalau lagi hujan."...


..."Iya iya,baguslah kalian sudah sampai,Tera kamu nggak bawa jaket tadi,muka kamu sampai pucat begitu."...


..."Nggak bu,tadi lupa."...


..."Ya sudah kamu masuk sana,bu Nur juga masuk istirahat,jangan lanjut kerja lagi,karena sudah tengah malam."...


..."Baik bu,kami permisi."...


Tera dan Ibunya melangkah kekamar.


..."Gilang kamu ini apa-apaan sih,kamu kan pake jaket,kenapa nggak dikasih sama Tera,pantasan aja nggak ada perempuan yang suka sama kamu ini,bisa tega begitu sama perempuan."...


..."Ya salah dia sih bu,kenapa nggak bawa jaket,sudah tau tadi sore juga hujan." Gilang menjawab seperti biasa agar ibunya tidak sampai tahu bahwa dia menyukai anak pembantu mereka....


..."Ya sudah masuk sana,lain kali kalau sama anak perempuan itu baik-baik."...


..."Iya bu,tapi kalau misalnya aku suka sama perempuan kayak Tera gimana bu?" Gilang yang sudah bersiap naik tangga bertanya pada ibunya untuk pertama kalinya soal perasaannya....


..."Maksud kamu kayak gimana itu contohnya?"...


..."Misalnya anak pembantu kayak Tera bu."...


..."Ohh,yaa ibu liat dulu anaknya bagaimana,kalau dia baik kayak Tera,ibu sih oke oke saja,tumben kamu nanya kayak gitu?"...


..."Enggak apa-apa bu,kali aja besok-besok ada yang mau sama aku tapi bukan anak orang kaya,aku takut aja ibu nolak mereka."...


..."Ya itu sih terserah kamu,selama kamu juga suka,ya kenapa enggak,yang penting jangan perempuan aneh-aneh ya."...


..."Siap bu,daaahh."...


Gilang berlari naik kekamarnya.


Menghempaskan tubuhnya diatas kasur,mengingat sikap Lentera yang sepertinya tidak mempercayainya.


..."Aarrgh kenapa bodoh banget sih gue,bisa-bisanya main cium anak orang aja,ya jelas marah sih."...


Dia mengambil selimut lalu menutup seluruh tubuhnya dan tertidur dengan pakaian yang lembab karena air hujan tadi.


Sama seperti yang dilakukan Lentera dikamarnya.


Mereka tertidur dengan membawa mimpinya masing-masing.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2