Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
29.Bekerja paruh waktu


__ADS_3

Setelah hari kelulusannya bulan Juni lalu,Lentera yang merasa bosan hanya membantu ibunya sesekali itu,mulai mencari pekerjaan paruh waktu untuk mengusir kebosanannya sambil menunggu waktu keberangkatannya tahun depan.


Dia juga mendaftar untuk kursus bahasa Asing disalah satu tempat les bahasa Asing yang berada disekitar kampus Gilang,dia mengambil les bahasa inggris dan bahasa negara tujuannya nanti.


...*...


Hari Minggu pagi ini,dia berjalan kaki menuju cafe di sekitar rumah Gilang yang sedang mencari pekerja paruh waktu.


Kemarin pagi sepulangnya dari pasar dia melihat-lihat disekitar sana untuk mencari toko ataupun cafe yang mencari pekerja,dan dia melihat kertas pengumuman yang terpasang didepan pintu cafe "Happy Fun" disekitar sana.


Dan hari ini dia melangkahkan kakinya kesana meski belum bisa mengatakan yang sebenarnya kepada ibunya maupun orang tua Gilang.


Jika mereka tahu lebih dulu,sudah pasti mereka akan menolak mentah-mentah keputusannya untuk bekerja itu.


Jadi dia memutuskan untuk menerima pekerjaan itu lebih dulu sebelum memberi tahu ibunya.


...*...


Dia menekan tombol bel yang berada tepat didepan pintu cafe yang terlihat unik itu.


Seorang perempuan berparas cantik keluar dan menyapanya.


Ada rasa iri yang tiba-tiba terlintas dibenak Lentera.


Perempuan cantik ini ternyata salah satu teman sekelas Gilang yang melanjutkan usaha keluarganya disini sambil berkuliah.


..."Maaf mbak,kami masih tutup,mbak bisa datang nanti sore,jam setengah lima kami buka."...


Beruntung perempuan bernama Febri ini tidak mengenalinya.


..."Maaf kak,saya lagi cari kerja,karena saya lihat ada kertas pengumuman didepan yang katanya lagi cari orang untuk kerja disini."...


..."Ohh iya,bener,maaf aku lupa kalau sempat masang kertas itu,ya sudah sini masuk dulu,kita ngobrol didalam."...


..."Terima kasih kak."...


Mereka masuk dan duduk dimeja yang berada didekat kasir.


..."Silakan duduk dulu,saya buatin minum,kamu suka apa?"...


..."Enggak usah repot-repot kak,saya minum air putih aja."...


..."Jangan begitu,sekalian deh kamu cobain menu disini,siapa tau kamu bisa rekomendasiin sama teman-teman kamu untuk kesini."...


..."Iya kak,terima kasih."...


Lentera masih ingat jelas wajah gadis didepannya ini,gadis yang saat itu menatapnya sinis saat dirinya menanyakan Gilang pada temannya Beni saat mereka masih SMA dua tahun lalu,tapi hari ini dia benar-benar berbeda,mungkin saja karena tidak mengenali dia sebagai adik kelasnya.


Febri membuat kopi mochacino hangat karena masih cukup pagi untuk minum es.


Lentera yang masih ingat rasa mocha yang dulu dibeli Gilang untuknya dengan terpaksa harus meminum kopi itu,karena memang dia tidak suka aroma kopi.


..."Diminum dulu,kamu pasti capek pagi-pagi udah jalan kaki kesini."...


..."Enggak kok kak,rumah aku dekat dari sini."...


..."Oh ya,bagus dong,karena lebih hemat."...


..."Hehe iya kak."...


..."Oh iya dari tadi aku sampai lupa nanya nama kamu,nama kamu siapa,aku febri,kita santai aja ya,kayaknya kita hampir seumuran."...


..."Saya Lentera kak."...


..."Kamu enggak kuliah atau masih sekolah?"...


..."Baru aja lulus kemarin kak,hehe,tahun depan baru mulai kuliah?"...


..."Loh kenapa tahun depan,kan kuliah disini bulan ini sudah mulai."...


..."Emh iya kak,saya mau kuliah di luar negeri,karena waktu masuknya beda,jadi masuknya awal tahun depan."...


..."Oh yaa,kamu hebat dong,tapi kenapa sekarang mau kerja,emang nggak belajar?"...


..."Hum itu kak,hasil kerjanya buat bayar biaya les aku nanti."...


..."Oh iya iya,aku ngerti,oh iya,kemarin teman aku bantuin disini,tapi karena dia mau fokus kuliah,jadi enggak bisa sering-sering kesini,makanya aku mutusin buat cari teman yang bisa bantuin aku,tenang aja,gaji kamu dibayar sama Papa aku kok,bukan aku,hehe,kalau kamu mau sore nanti bisa langsung kerja."...

__ADS_1


..."Eh iya kak,beneran?"...


..."Iya bener dong,karena kamu keliatannya baik,jadi aku nerima kamu disini,tapi untuk cuci piring atau bersih-bersih kamu bisa?"....


..."Bisa kak bisa,aku sudah biasa,karena dirumah sering bantuin ibu aku."...


..."Oke deh kalau begitu,tapi kamu beneran enggak keberatan kan kerja kayak gini?"...


..."Enggak kak,aku suka kok,aku lebih suka didapur,karena takut ketemu tamu,hehe."...


..."Kenapa begitu?...


..."Enggak apa kak,takut aja kalau tiba-tiba aku numpahin apa gitu ke meja tamu kakak."...


..."Kamu bisa aja,udah dihabisin minumnya,kita tutup dulu sekarang,karena aku juga ada les siang ini,jangan lupa sore nanti datang ya."...


..."Baik kak." Tera malah membawa gelas kopinya keluar,karena susah payah menghabiskan minuman yang tidak disukainya itu,untung saja tadi febri membuatnya digelas sekali pakai....


Mereka keluar dari sana dan Tera pamit pulang.


Dia berjalan pulang sambil menikmati pagi yang cerah,jalanan sudah mulai terlihat ramai karena sudah pukul sepuluh pagi.


Orang-orang sibuk menghabiskan hari minggu mereka untuk berlibur,dan tetap memadati jalan seperti biasa.


Lentera yang hari itu juga ingin sekali menuju rumah Sela,tapi sampai saat ini Sela belum menyelesaikan urusannya,jadi dirinya harus bersabar menunggu waktu untuk bertemu temannya itu.


Dia sudah sampai dihalaman rumah Gilang,dia buru-buru masuk kedalam kamarnya sebelum keluarga Gilang melihat dirinya yang sudah keluyuran pagi-pagi itu.


...*...


Dia menunggu ibunya masuk kekamar,atau dia kedapur untuk menyampaikan keputusannya yang sudah akan bekerja sore itu,pikirnya.


Karena ibunya masuk kekamar setelah hampir siang atau bahkan sore,dia akhirnya menyusul ibunya kedapur,disana tidak ada sesiapa selain ibunya yang tengah memasak.


...*...


..."Ibu,masaknya belum selesai?"...


..."Sedikit lagi ra,kamu darimana aja sih dari tadi ibu tungguin."...


..."Dari depan bu,cari kerjaan."...


..."Aku cari kerja bu,maaf ya kalau aku enggak bilang dulu sama ibu."...


..."Kamu ini ada-ada saja Tera,apa kamu tidak bisa kerja dirumah saja bantu ibu,malah cari kerja diluar,kenapa,uang jajan yang ibu kasih kamu kurang?"...


..."Bukan bu,bukan kayak begitu,aku cari kerja,karena sebentar lagi aku mau masuk ketempat les,biayanya juga lumayan,aku enggak mungkin selalu minta sama ibu setiap bulan untuk bayar keperluan aku."...


..."Lentera,kamu itu anak ibu,sudah kewajiban ibu untuk biayain apapun keperluan kamu,kamu ini,selalu ada saja kelakuan kamu yang bikin ibu marah-marah kayak begini."...


..."Maafin aku bu,tapi aku sudah besar,aku enggak mau selalu bikin ibu susah,lagipula tahun depan aku sudah harus masuk kuliah,aku makin enggak bisa bantu ibu apa-apa,jadi sekarang aku mau coba untuk enggak selalu mengandalkan uang dari ibu,aku cuma mau ibu bisa nabung dari hasil kerja ibu supaya ibu bisa bikin usaha sendiri diluar sana,yang enggak bikin ibu harus kerja setiap hari kayak begini bu,aku juga enggak punya niat bikin marah,jadi aku mohon ibu hargai keputusan aku."...


..."Ya ampun Tera,kamu ini,ya sudah sana duduk aja,jauh-jauh dari ibu,liat kamu begini ibu malah mau ngomel terus jadinya,kamu benar-benar persis bapak kamu,selalu keras kepala."...


Lentera akhirnya memilih menjauh dari ibunya,dia menyalakan air dan memasukkannya kedalam mesin cuci,lalu mencuci pakaian kotor yang hampir penuh dihadapannya itu,dia bisa saja masuk kekamarnya karena merasa kesal,tapi karena hari ini keluarga Gilang sedang berada dirumah,dia memilih membantu ibunya seperti biasa.


Sebenarnya gaji ibunya pun selalu ditambah karena Tera sering membantu pekerjaannya,dan itu seperti gaji untuk Tera,hanya saja dia lebih suka meminta ibunya untuk menyimpan uang miliknya.


Tapi karena dia juga membutuhkan uang dari hasil kerjanya sendiri,dia akhirnya menerima pekerjaan paruh waktu dicafe milik teman Gilang itu.


Memang tidak mudah hidupnya saat ini,dia harus melakukan apa saja demi mimpinya bisa terwujud,selama dia hanya berbuat baik dan tidak merugikan siapa saja.


...*...


Hari minggu sore diawal bulan Juli tahun ini,Lentera mulai bekerja di Cafe "Happy Fun".


Dirinya bahkan tidak memikirkan siapa saja orang-orang yang akan mereka temui di cafe itu,dia bahkan dengan semangat berangkat kesana,tanpa membayangkan bagaimana jika Gilang dan teman-temannya datang kesana.


Siang tadi,dia juga sudah mengatakan keinginannya pada ibu Jullie,majikannya itu mengizinkan saja,selama dirinya tidak membuat ibunya kerepotan.


Cafe yang berada dipinggir jalan itu terlihat sudah buka,disana ada dua orang waitress yang akan membantu febri bekerja,karena Tera hanya ingin bekerja didapur.


Sepertinya karyawan lamanya,karena sudah terlihat akrab dengan Febri.


Tera menekan bel meski pintu sudah terbuka.


Febri yang melihatnya langsung menyambutnya dan menyuruhnya masuk.

__ADS_1


*


"Ayo masuk,sambil aku kasih liat kerjaan kamu,ya cuma kerjaan yang kayak tadi pagi aku bilang,tapi kalo lagi enggak sibuk,kamu bisa bantu yang lain didepan,nanti didapur juga ada yang masak kok,jadi kamu didapur nggak sendirian,tapi mereka belum datang,Oh iya kenalin ini Jia terus ini Fay,mereka mahasiswa kayak aku." Ucap Febri panjang lebar.


"Halo kak,saya Lentera,mohon bantuannya kak." Lentera menganggukkan kepalanya pada mereka berdua,untung saja mereka terlihat ramah,jika tidak,Tera pasti sudah kabur besok hari.


Febri membawa Tera menuju kedapur,menunjukkan tempat kerjanya.


Tera senang karena pekerjaan seperti itu sudah biasa dia kerjakan hampir setiap hari,jadi dia tidak keberatan sama sekali.


"Oke,sekarang kamu boleh mulai kerjain pekerjaan kamu,karena masih sepi,kamu nanti bisa sambil bantu teman kamu didepan.


Masih terlihat sepi hingga jam setengah enam sore,mereka hanya duduk dimeja tamu sambil menikmati orang yang berlalu lalang ditrotoar.


Lentera yang memang lebih suka menutup diri dan menjauh,memilih duduk disamping jendela,membuat jia dan fey mendekatinya.


"Kamu kenapa,nggak suka sama kita?"


"Eh nggak kak,nggak kayak gitu kok,aku cuma takut ganggu kalian aja."


"Jangan kayak gitu kalau ditempat kerja ya sayang,jangan jauhin orang meskipun kamu seorang introvert ataupun itu,karena itu akan bikin orang lain mengira kamu nggak ramah." Ternyata Jia yang terlihat kekanakan itu punya pemikiran yang bagus.


"Iya kak maaf,dari dulu aku memang susah punya teman karena takut mereka malah merasa terganggu sama aku."


"Ya sudah kalau gitu mulai sekarang kamu coba jangan kayak gitu lagi,mungkin banyak yang mau berteman sama kamu kalau aja kamu lebih membuka diri kamu sama orang lain,oke."


"Baik kak."


Mereka masih ingin melanjutkan obrolan mereka,tapi beberapa mahasiswa yang mungkin baru saja pulang bekerja paruh waktu atau les masuk ke dalam cafe sambil tertawa bersama teman-temannya.


Mereka duduk dimeja didekat pintu masuk.


Memesan beberapa gelas minuman dan makanan ringan.


Karena Tera belum mendapat gilirannya bekerja,dia membantu Kenan dan Kanin,saudara kembar yang memilih menjadi koki disana.


"Kamu bawa ini kedepan ya,"


"Iya kak."


Tera memberikan gelas minuman yang sudah berada didalam nampan untuk diberikan kepada Jia didepan.


Belum selesai mereka membawakan pesanan para mahasiswa itu,beberapa para pekerja muda yang mungkin baru saja pulang,masuk kedalam cafe yang tidak begitu besar itu.


Mereka semakin sibuk,tapi karena mereka semua sudah terbiasa dengan pekerjaan mereka,semuanya menjadi lebih cepat selesai.


Hari mulai gelap,lampu-lampu didalam cafe sudah menyala,para tamu yang tadi juga sudah pulang,meninggalkan Tera yang sibuk sendiri mencuci piring dengan cekatan,membuat Febri percaya pada apa yang dikatakan Tera padanya tadi pagi.


Beberapa tamu kembali mengisi meja disana,mungkin anak sekolah yang tengah menghabiskan Hari libur mereka.


Hingga jam dinding disana menunjukkan waktu pukul setengah sebelas malam,mereka akhirnya bisa bernafas lega,karena cafe sudah akan tutup.


Bagi Lentera,ini adalah pengalaman pertamanya,dan terasa menyenangkan,tapi bagi teman-teman kerjanya yang sudah lebih dulu berada disana,hari-hari yang mereka jalani adalah hari yang melelahkan,meski tidak kalah melelahkan dari hidup Lentera yang bahkan harus bekerja siang malam dimanapun dia berada saat ini.


Setelah cafe tutup,mereka berjalan kaki di trotoar menuju halte,sementara Tera hanya harus berbelok arah ke dalam gang rumah Gilang.


"Kamu tinggal dimana Lentera.?" Tanya Jia yang selalu ramah itu.


"Di gang sebelah sana kak,jadi nggak perlu nunggu bis."


"Wah,kamu pasti anak orang kaya kan,katanya sih di dalam gang sana tempat tinggalnya orang-orang kaya." Seru kenan yang tidak ingin diabaikan karena laki-laki sendiri.


"Emh enggak kok kak,didalam banyak kok orang-orang biasa,kapan-kapan boleh main kesana."


"Oke deh,tapi kita manusia-manusia sibuk ini jarang punya waktu buat main,hehe,jadi selagi kamu masih bisa main,main sepuas kamu ya sebelum rasain bangku kuliah."seru saudara kembarnya,Kinan.


"Siap kak,kalau gitu saya duluan ya,mari kak."


Mereka berpisah disana.


Lentera menatap lampu jalan di depan gang seperti biasa saat dirinya berjalan kaki.


"Kalian kuat banget ya,aku enggak tau sudah berapa lama kalian berdiri disini,sampai aku datang kesini,kalian enggak pernah kedinginan kan kalau kena hujan,enggak kepanasan kan kalau lagi cuaca panas,kalian tau nggak,seandainya aku jadi kalian,pasti sudah dari lama banget aku ngeluh,hehe,kalian baik-baik ya disini,aku pasti akan selalu liat kalian selagi masih tinggal disini."


Selain buku birunya,entah kenapa dia sering berbicara pada tiang lampu dihadapannya ini.


Dia melakukannya sejak pertama kali datang dan berjalan kaki di gang ini.

__ADS_1


Meskipun kadang-kadang hanya mengucapkan kata-katanya didalam hati,tapi dia akan merasa tenang setelah melakukan hal seperti itu.


...***...


__ADS_2