
Lentera duduk menyendiri di boarding room,matanya tidak berhenti menatap dinding kaca besar dihadapannya.
Dia benar-benar akan terbang kali ini.
Botol air mineral yang di genggamnya diremas dengan kuat,air matanya tumpah lagi.
Siapa yang tahan jika harus berpisah cukup lama dengan orang yang dicintai.
Dia menutupi wajahnya dan menyeka air matanya menggunakan syal yang di berikan oleh Gilang padanya.
Dia kembali menguatkan dirinya.
Sambil menunggu jadwal keberangkatannya yang masih satu jam lagi,dia merogoh saku jaketnya,mengambil ponsel lalu terkejut menatap layar ponselnya yang berisi banyak pesan chat dan panggilan dari nomor tidak dikenal.
Dia lalu membuka dan melihat foto profil nomor baru yang baru pertama kali dilihatnya itu.
Hanya gambar motor gede yang sama persis dengan milik Gilang.
Dia terdiam sesaat,karena menyadari bahwa pemilik nomor itu adalah Gilang,dia sudah membuka pesannya tapi tidak segera membalasnya,karena sedang memikirkan kebodohannya saat ini.
Dia bahkan tidak punya nomor kontak Gilang selama beberapa tahun belakangan.
Entah dari siapa Gilang menemukan nomor ponselnya.
Karena pesannya sudah terbuka sekitar sepuluh menit lalu,tapi dia tidak juga berniat membalasnya,akhirnya telepon genggam miliknya yang sudah mulai tergores sana sini itu bergetar di genggamannya.
Dia tidak sanggup mengangkatnya,karena masih berusaha menikmati kesedihannya.
Ponselnya terus berdering hingga lima kali.
Lentera tidak tau,Gilang sampai kesal sendiri dihalaman rumahnya.
Gilang kembali menelpon...
Kali ini Tera mengangkatnya karena sebentar lagi pesawatnya akan terbang,dan ponselnya harus di non aktifkan,dia takut Gilang berpikir yang tidak-tidak tentangnya jika masih tidak mengangkat telpon.
..."Lentera..."...
..."Kamu ini dari tadi ngapain aja sih,ditelpon nggak diangkat-angkat,aku sampai nahan malu tau minta nomor kamu sama bude."...
...'Oh rupanya dia dapat nomor ku dari ibu...' Pikir Tera...
..."Maaf mas Gilang..." Suaranya parau....
..."Kamu habis nangis lagi?"...
..."Hemh."...
..."Pasti sulit kan?"...
..."Hemh"...
..."Ngomong dong Raa,jangan ham hem ham hem aja."...
..."Iya mas Gilang..."...
..."Apanya yang iya?"...
..."Tadi mas Gilang suruh ngomong..."...
..."Jadi sekarang kamu lagi apa?"...
..."Lagi duduk dari tadi, nunggu jadwal terbang mas..."...
..."Kamu nggak sedih sudah ninggalin aku begitu aja."...
..."Nggak..."...
..."Tera..."...
..."Nggak salah lagi..."...
..."Kalau gitu balik lagi aja."...
..."Nanti ya mas,kalau lulus kuliahnya."...
..."Raa..."...
..."Kenapa mas Gilang?"...
..."Jangan putusin aku,meskipun kita jauh."...
..."Aku nggak yakin..."...
..."Maksud kamu?"...
..."Aku nggak yakin seberapa lama kita sanggup kayak gini."...
..."Aku sanggup kok,aku mau nungguin kamu sepuluh tahun juga aku nggak keberatan."...
..."Tapi aku keberatan mas Gilang."...
__ADS_1
..."Kenapa?"...
..."Entahlah..."...
Gilang terdiam diseberang sana.
Rupanya Tera memang masih terlalu sulit dipahami.
Lentera ikut diam.
Sampai pengumuman penerbangan jam setengah satu diumumkan.
Gilang belum memutus panggilan teleponnya.
..."Mas Gilang,aku tutup telponnya ya."...
..."Lentera..."...
..."Aku harus siap-siap mas."...
..."Nanti malam kalau sampai,jangan lupa kabari aku."...
..."Iya mas Gilang."...
..."Oh iya simpan nomor aku,aku nggak akan ganti nomor sampai kamu pulang."...
..."Iya mas..."...
..."Ya sudah,kamu hati-hati ya..."...
...tuuuutt...
Panggilan telpon terputus..
Lentera menyimpan nomor Gilang dengan nama Mas G.
Lalu kemudian menonaktifkan ponselnya.
Benar-benar mati,meskipun bisa saja dia hanya menyalakan mode pesawatnya.
Sudah hampir pukul setengah satu siang,semua penumpang pesawat akhirnya naik menuju tempat duduknya masing-masing.
Lentera duduk di dekat jendela, di sisi kabin sebelah kiri,agar bisa tidur dengan tenang.
Dia menatap keluar,sebelum pesawat benar-benar meninggalkan bandara,sekali lagi dia menangis disana.
Lalu menutup matanya dan memaksa dirinya agar tertidur.
...*...
Benar-benar diatas sana.
Perjalanannya butuh waktu kurang lebih delapan jam.
Waktu yang tidak sebentar.
Dia akan sampai diNegara tujuannya saat sudah malam hari nanti.
Benar-benar melelahkan dan membosankan,pikirnya.
Dia tertidur meski ingatannya sama sekali tidak bisa lepas dari rumah Gilang.
Dia mengusir bosannya dengan sesekali menatap keluar jendela,meski hanya terlihat hamparan awan disana,tapi dirinya sedikit bisa melupakan kesedihannya.
Tapi karena memang semalaman dia tidak cukup tidur,dia akhirnya memilih kembali tidur.
Sampai akhirnya pesawat mendarat di bandara ICHN.
Lentera hanya benar-benar sendirian sampai di Negeri impiannya ini.
Jam disana sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Dia berdiri lama setelah keluar dari Bandara.
Memandang sekelilingnya dengan tidak percaya.
Gedung-gedung disana hampir seluruhnya terlihat tinggi.
Beberapa menit menikmati cuaca dingin disana,dia memesan taksi yang berada disekitar bandara.
Berkat kemampuannya berbahasa Asing sebelum dia sampai kesini,membuatnya dengan mudah menjelaskan alamat dorm kampusnya.
Perjalanan menuju ke pusat kota membutuhkan waktu sekitar tujuh puluh menit.
Tera sibuk menikmati pemandangan Negeri Ginseng dimalam hari.
Dan tanpa sadar berdecak kagum sendirian.
..."Woaahhh..."...
..."Akhirnya aku sampai disini juga."...
__ADS_1
..."Seandainya bapak masih ada,pasti bapak bangga karena aku bisa sampai ke Luar Negeri untuk kuliah."...
Dia bergumam sendiri sambil menatap keluar jendela taksi yang ditumpangi,salju tipis masih tersisa disana,sehingga saat pertama kali sampai dia merasakan dingin yang sangat menusuk kulitnya.
Tanpa terasa,satu jam lebih perjalanan,dia sudah sampai ke wilayah sekitar kampusnya.
Dia membuka tas kecilnya,mengambil uang untuk membayar ongkos taksi yang terbilang mahal saat malam hari.
Beruntungnya dia,karena sebelum berangkat ibu Jullie sudah terlebih dulu menukarkan uangnya,jadi dia tidak perlu repot-repot menukar saat di bandara tadi.
Saat dikonfirmasi lewat email,Dormnya berada tidak jauh dari kampusnya.
Jadi dia memutuskan berjalan kaki sampai didepan gedung tinggi yang mungkin akan menjadi tempat tinggalnya nanti.
Lama dia menatap gedung yang bernomor sama dengan alamat yang tertulis di dalam email.
Setelah cukup lama berdiri,hingga hampir saja dia membeku disana,dia memutuskan melangkahkan kakinya masuk.
Beberapa mahasiswa dari Negara lain menatapnya heran,membuatnya merasa aneh.
Dia tidak tau kemana harus melangkahkan kakinya,dia belum membaca lebih tepat dilantai berada kamarnya berada.
Salah satu mahasiswa perempuan yang sedang bersiap untuk keluar dari asrama menatapnya serius.
Membuat Lentera salah tingkah sendiri.
..."Permisi..."...
..."Ehh iya kak,kakak orang indonesia ya?"...
..."Iya,kamu mahasiswa yang baru datang ya?"...
..."Emh iya kak,tapi sekarang malah bingung kamar saya dimana?"...
..."Kami naik kelantai Tiga,kayaknya tadi disana lagi ribut-ribut karena ada mahasiswa baru yang mau datang,mungkin yang dimaksud itu kamu?"...
..."Emh baik kak,terima kasih."...
..."Oh iya,nama kamu siapa?"...
..."Nama saya Lentera kak."...
..."Oke,namaku Hanindia,mahasiswa S2 yang lagi numpang sebentar disini."...
..."Hehehe,iya kak."...
..."Ya sudah naik sana,kamu pasti kamu kedinginan."...
Hanin mahasiswi cantik yang akan segera meninggalkan asrama itu segera keluar untuk membeli sesuatu.
Meninggalkan Lentera yang masih menatapnya kagum.
..."Wah dia cantik banget,mana udah S2..."...
Dia menggumam sendirian lagi.
Laku segera memasuki lift untuk segera naik kelantai tiga.
Dia merasa sedikit lega karena hanya berada dilantai bawah,karena dia merasa takut jika harus berada dilantai yang tinggi.
Dia sampai dikamar nomor 363,beberapa mahasiswi Indonesia segera berhambur menyambutnya.
..."Kamu pasti mahasiswa yang baru datang itu kan?"...
..."Emh i-iya..."...
Lentera merasa gugup karena baru kali ini dia disambut baik oleh orang-orang yang baru ditemuinya.
..."Kamu beruntung banget,kita satu kamar,kita semua sama-sama dari Indonesia,jadi aman."...
..."Satu kamar berapa orang ya?"...
..."Kita berempat,tapi nanti kalau mau cari tempat sewaan yang lain,kita bisa keluar dari sini."...
..."Oh iya,semoga kalian betah ya sama aku,hehehe."...
..."Pastinya,oh ya nama kamu siapa?"...
..."Lentera Pradania,kalian ?"...
..."Nama kamu unik juga,hehe..."...
..."Eheheh bisa aja,panggil aja Tera."...
..."Siap,oh ya nama aku Kimi,ini Hani,dan ini Amelia..."...
Gadis-gadis itu memperkenalkan diri dan teman-temannya,mereka juga mahasiswi baru disana,hanya saja mereka tiba lebih dulu.
Mereka mempersilakan Tera masuk karena melihat teman barunya itu sudah kedinginan.
...❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Terima kasih atas dukungannya semua para readers yang tersayang...
...*...