Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
9.Pertama kali bermain


__ADS_3

Bus sekolah melaju menuju ketengah Kota,Tera dan Sela turun dihalte pertama,dan segera turun lalu berjalan kaki menuju pusat perbelanjaan disekitar sana.


Meskipun tidak punya niat berbelanja,berjalan-jalan disana saja sudah cukup membuang penat siapa saja yang kelelahan setelah hampir seminggu beraktivitas.


Sela mengajak Tera bermain dilantai satu diMall besar itu.


Mereka memang terbiasa menyimpan uang jajan mereka selama ini,karena tidak ingin membuang uang untuk hal yang tidak penting.


Jadi hari ini,mereka menggunakan uang itu untuk bermain pertama kalinya bagi Tera.


Sela sendiri,saat duduk dibangku SMP,sering diajak bermain dan ditraktir oleh teman-teman disekitar rumahnya,meski tetap tidak memiliki teman selama disekolah,tapi Sela sedikit beruntung karena memiliki tetangga yang baik pada dirinya.


Tera merasa dirinya terlalu menutup diri selama ini,sehingga untuk sekedar bermain pun tidak pernah dia lakukan.


Tapi kali ini,bersama Sela,dia berani melakukan hal yang sebelumnya tidak ingin dia lakukan.


Puas bermain dan tidak lupa mereka melakukan photobox berdua,Tera tersenyum memandangi hasil foto yang dipegangnya,Sela terlihat tersenyum tulus disana,Tera perlahan akan mempercayai Sela,teman yang menemaninya selama dua bulan ini.


Sela mengajak Tera berkeliling kelantai atas untuk sekedar melihat barang-barang yang sepertinya sulit mereka miliki.


Sampai dilantai kedua,Tera menatap segerombolan anak laki-laki dan perempuan yang baru saja masuk kelantai satu.


Dia mengenali salah satunya,Gilang.


..."Duuh kenapa dia juga ada disini sih."...


...Tera berbisik sendiri....


Sela yang menyadari Tera terus melihat kebawah sana,merasa heran karena beberapa kali dia mendapati Tera terus menatap kearah kakak kelasnya itu,tidak salah juga,karena memang Gilang termasuk anak yang tampan dan hampir sempurna bagi siapa saja yang melihatnya langsung,hanya saja Sela tidak suka dengan sikapnya yang terlihat kasar.


..."Woyy,liat apaan lue,jangan bilang suka beneran sama anak itu?" Sela ikut melihat kearah Gilang....


..."Eehh nggak gitu sel,kaget aja mereka juga ada disini,"...


..."Hello,Raa ini tempat umum,siapapun bisa kesini kali,yang aneh itu kamu,kalo liatin anak satu itu suka dalam banget merhatiinnya,ada apa-apa lue yee?"...


..."Sembarangan kamu sel."...


Sela kemudian menarik tangan Tera pergi dari sana.


Mereka menyusuri setiap tangga disana,sampai dilantai keempat,mereka melihat pernak pernik disalah satu stand perbelanjaan,Sela mengajaknya melihat-lihat,dan mata Tera tertuju pada patung kecil berbentuk Tower yang terkenal di Negeri Ginseng,tanpa basa-basi dia langsung mengambil dan membayarnya,meski hampir menghabiskan setengah uang jajannya.


Sela membeli dua gantungan kunci kembar berbentuk Menara Paris, yang diberikan pada Tera salah satunya.


..."Kamu suka KS?" Sela penasaran karena melihat Tera membeli miniatur Tower yang terkenal di negaranya itu....


..."Eemhh,suka,dan harapan aku bisa kuliah disana."...


..."Sayang banget impian kita ternyata beda negara!"...


..."Kamu mau kuliah dimana emangnya,nggak mau barengan aku aja keKS ?"...


..."Mimpiku cuma mau kenegeri paman Sam,kalau aku dapat beasiswa kesana."...


..."Wah jauh banget Sel,Kalau misalnya kamu nggak lulus beasiswa kesana,kamu milih kemana?"...


..."Aku mau ke Negeri Tetangga aja kali yaa,heheh,biar nggak jauh amat dari sini." Sela tertawa....


..."Gimana kalo kamu ikut aku aja,mau kan,aku juga pasti butuh teman disana,kamu tau sendiri,aku susah banget berteman sama siapa aja." Tera berharap Sela mau ikut dengannya jika kelak dia berhasil mendapat beasiswa kenegeri impiannya....

__ADS_1


..."Kamu aja yang nggak mau buka diri sama orang sekitar kamu,padahal kamu cantik,pasti banyak orang yang mau temenan sama kamu,kamu pasti bisa dapat teman dimanapun kamu tinggal..." Sela menyemangati Tera sekaligus dirinya sendiri....


Tera mengangguk,dia tau Sela benar-benar dewasa disaat tertentu meski usianya baru 16 tahun,dia tidak salah menemukan teman seperti Sela.


..."Sel,balik yuk ini udah gelap,nanti aku kena omel sama ibu aku."...


..."Okelah,biasanya sih aku main sampe jam sembilan malam,hehe,tapi karena kamu mau pulang,ya udah kita balik sekarang,tapi lain kali kamu harus mau main sampe jam sembilan juga." Ajak Sela....


..."Emang bapak kamu nggak marah,kalo balik sampe malam,kan kamu juga harus belajar?"...


..."Nggak tera sayang,aku selalu boleh main setiap hari jumat kayak gini,hari sabtu minggu harus bantu ibu dirumah jualan,kalau hari sekolah yaa aku sekolah dan belajar."...


..."Ohh yaa,ibu kamu jualan apa?,kapan-kapan aku boleh main kerumah kamu nggak,kalo boleh sih?"...


..."Jualan apa aja,hehe,kamu mau kapan kerumah,boleh kok."...


..."Hemph,oke deh,kapan-kapan aku mampir kerumah kamu."...


Mereka sudah tiba didepan Mall.


Tera melupakan Gilang yang masih asik bermain didalam sana.


Mereka berjalan kaki menuju halte,menikmati hari yang ternyata mulai malam.


Sayang sekali mereka harus berpisah disana,karena rumah mereka berbeda arah.


Bus yang akan ditumpangi Sela datang lebih dulu.


Sela pamit lebih dulu meninggalkan Tera yang terduduk lelah disana.


Bus yang akan ditumpangi Tera datang terlambat,dia menunggu hingga waktu menunjukkan hampir pukul delapan malam.


Tera menikmati malam didalam Bus yang lengang itu,dia suka duduk disamping jendela,menatap gedung-gedung tinggi sepanjang jalan menuju halte disekitar perumahan Gilang.


Bus melaju dan sampai dihalte tempat Tera turun.


Dia melangkahkan kakinya dengan gontai memasuki gang seperti biasa,sudah hampir pukul setengah sembilan malam,lampu jalan disekitar gang sudah menyala.


Dia berhenti dan mendongakkan kepalanya,menatap lampu jalan yang lampunya sudah tidak terlalu terang.


..."Bahkan lampu jalan disini aja keliatan beda sama lampu jalan dekat rumahku dulu." Tera berbicara sendiri....


..."Dulu jalan siang-siang aja aku takut,apalagi malam-malam begini,tapi disini aku malah jalan santai sampai jam segini."...


...Dia bergumam lagi sambil melanjutkan langkahnya,tanpa sadar dia berjalan hingga ke tengah jalan ,sampai suara klakson motor gede milik Gilang mengagetkannya....


Dia buru-buru melangkah kepinggir jalan agar Gilang bisa leluasa melajukan motornya.


..."Uuh bikin kaget aja,untung nggak jantungan..." Tera menggerutu sendirian....


Gilang berhenti didepan pagar dan mematikan motornya lalu mendorongnya masuk kedalam,dia berdiri disana sampai Tera menyusulnya,Tera yang memperhatikan sejak tadi merasa heran,lalu menyusul masuk kedalam pagar,Tera tersadar mobil pak Hermawan sudah berada didalam garasi yang masih terbuka.


..."Duhh,bakal kena marah nih sama ibu Jullie,apalagi sama ibu,bisa-bisanya aku malah sampe dirumah malam-malam begini." Tera membatin lagi....


Gilang sepertinya tau Tera takut kena omel orang tuanya maupun ibunya.


..."Sana masuk duluan." Gilang memecah keheningan....


Tera malah kaget mendengar suara Gilang.

__ADS_1


..."Mas Gilang senang kan liat aku mau dimarahin,makanya nyuruh masuk duluan."...


..."Nggak usah banyak ngomong,sana masuk aja."...


Benar saja,diruang keluarga sudah duduk ibu Jullie dan ibunya,menatap tajam pada dirinya.


..."Tera,ibu sudah bilang,jangan sampai pulang malam,apalagi kamu baru pertama kali bermain sama teman kamu,kalau kamu belajar disekolah,ibu bisa maklum,tapi karena kamu pamit untuk main,jadi kamu harus tetap pulang sebelum gelap," Tanpa menunggu Tera mengatakan apa-apa,ibunya sudah memberi tembakan lebih dulu kepadanya....


..."Lentera,kamu darimana aja,kenapa baru sampai jam segini,kalau ada apa-apa diluar sana,kamu gimana ?"...


..."Ibu kamu dari tadi nungguin kamu karena ponsel kamu nggak aktif."...


...Tera segera mencari sesuatu didalam tas,benar saja,ponselnyanya mati karena sejak kemarin belum pernah di charge....


..."Maaf bu,ponselnya mati,karena lupa dicas,tadi saya nungguin..." Jawabannya menggantung disana,karena Gilang muncul dari belakangnya....


..."Tera pulang sama aku bude,buu."...


Gilang menjawab singkat kemudian berlalu meninggalkan mereka bertiga,jika terus berada disana,maka dia akan benar-benar berbohong.


..."Betul tera,kamu pulang sama Gilang?" ibu Jullie dan ibu Nur hampir bersamaan menanyainya....


..."Eh iya bu bener,lain kali saya janji nggak akan pulang malam lagi selain belajar,maafin saya bu,maafin aku ya bu." Lanjutnya berbicara dua orang ibu itu....


..."Ya sudah,masuk kamar,ganti baju terus makan." Ibu Jullie memerintah dan merasa lega karena melihat tera sudah dirumahnya....


Tera berjalan pelan menuju kamarnya disusul ibunya.


...*...


Dikamarnya,Gilang merasa bersalah kepada ibunya karena sudah berbohong,kenapa juga sampe bohong demi anak ingusan itu,pikirnya.


Tapi dia juga tidak ingin mendengar ibunya mengomeli dirinya karena tidak bisa membantu menjaga Tera.


Dia merasa kesal diatas sana,entah bagaimana bisa ibunya saat ini begitu mengkhawatirkan anak asisten rumah tangganya lebih daripada dirinya,bahkan tadi saja tidak bertanya apa-apa pada dirinya.


Dia kemudian memutuskan mandi karena sudah kegerahan entah karena bermain hingga sore atau karena memikirkan anak perempuan yang sepertinya pelan-pelan mencuri perhatian ibunya.


Begitupun Tera dikamarnya,dia masuk kekamar mandi karena merasa tubuhnya kepanasan mengingat Gilang yang baru saja berbohong kepada ibunya demi dirinya.


Ibunya masih saja mengomel meski tera sudah masuk kekamar mandi.


Tera merasa bersalah tapi juga merasa ingin berontak,seperti remaja pada umumnya.


Baru pertama kali bermain,dirinya sudah terlambat pulang dan dan diomeli sepanjang malam.


Ibunya terus mengingatkan siapa mereka,dimana mereka tinggal,mereka tidak boleh berbuat semaunya meskipun keluarga Gilang sudah sangat baik pada mereka berdua.


Tera sadar betul akan hal itu,tapi bukankah dia juga berhak mendapatkan kenangan indah bersama temannya dimasa remajanya.


Tera membuka buku birunya,sudah banyak yang dia tuliskan disana,dia membalik ke halaman kosong berikutnya.


Menulis menjadi salah satu hobinya saat ini.


Dia menulis beberapa kalimat lagi disana tentang hari ini.


Dia juga memikirkan bagaimanapun caranya dia menghindari Gilang agar tidak mengganggu pemuda itu,tetap saja mereka selalu bertemu dan saling membutuhkan satu sama lain.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2