
Seperti biasa baik dirumah maupun disekolah,Tera harus terus bekerja keras untuk segala hal yang dia impikan.
Sudah sebulan berlalu sejak pertemuannya dengan Sela,mereka berteman seperti murid murid yang lain,hanya saja mereka tidak punya banyak kesempatan untuk bermain-main seperti yang lainnya,waktu disekolah mereka habiskan untuk belajar,begitupun jika ada waktu kosong disekolah dan dirumah,Sela yang takut beasiswanya akan dicabut jika nilainya tidak sesuai dengan keinginan sekolah,harus belajar tanpa henti setiap hari baik disekolah dan dirumah,begitupun dengan Tera,meski tahun ini biaya sekolahnya masih dengan biaya mandiri,tapi dia tetap berusaha agar tahun berikutnya bisa mendapat beasiswa.
Kata murid yang lain,mereka membuang banyak waktu hanya untuk belajar bahkan ditahun awal mereka memasuki masa SMA.
Tapi Tera maupun Sela tidak peduli pada suara suara mereka.
Mereka bahkan tidak punya kesempatan untuk meladeni ocehan teman-teman sekelasnya.
" Teraa,kamu nggak laper?"
" Belum sih Sel,kalo kamu lapar,kekantin aja duluan,nanti aku susulin."
" Nggak mau sendirian,ayo bediri buruan."
Sela menarik tangan Tera yang dari tadi membolak balik halaman bukunya dimeja perpustakaan.
Tera menurut saja,karena ini adalah istirahat yang kedua,mereka merasa lapar karena hari sudah siang.
" Ra,selama disekolah,ada anak cowok yang kamu suka nggak?Sela memecah keheningan perjalanan mereka menuju kantin.
" Nggak ada Sel,kalopun ada,terpaksa harus didiamin,karena mereka nggak bakalan suka sama kita."
"Ihh kenapa gitu?kita kan juga cantik,cuma mereka nggak sadar aja."
"Masih bocah,jangan mikir aneh-aneh,ntar beasiswa kamu dicabut gimana hayo?"
"Tapi kan kita juga butuh penyemangat hidup selama disekolah Raa?"
" Sela,emang nggak cukup aku aja yang jadi penyemangat kamu."
" Yeee,lue mah beda kali." Sela tertawa disamping Tera,mereka tiba dikantin,sudah hampir sepi,karena sebagian murid sudah selesai dengan acara makan siang atau sekedar berkumpul disini.
Saat ingin memesan makanan,Tera melihat Gilang yang duduk di bangku pojok kantin,Gilang melihat sesaat kearahnya membuatnya buru-buru mengalihkan pandangannya.
" Raa,kamu suka kan sama kakak kelas yang itu,? dulu sewaktu kamu duduk di lapangan olahraga sendirian,aku perhatiin kamu juga ngeliatin dia terus?"
" Yaa ampun Sel,sempat banget kamu perhatiin orang."
" Udah deh ngaku aja,suka kan?"
" Ihh sela,kamu ini nanti didengar orangnya,dikira suka beneran tau,tau diam kan."
Bukan tanpa alasan Tera sering melihat kearah Gilang saat mereka bertemu.
Tera hanya takut,bagaimana jika Gilang memberi tahu teman-temannya bahwa dirinya hanya seorang anak asisten rumah tangga,dan bagaimana jika seluruh sekolah tahu siapa dirinya.
Tera memikirkan itu setiap hari,setiap dia tanpa sengaja melihat Gilang disekolah.
Sulit sekali bertahan disini,pikirnya.
Tapi,meskipun Gilang tidak menyukai Tera yang berada satu sekolah dengannya,dia juga tidak punya keinginan mengusik kehidupan sekolah Tera.
Dia hanya membenci jika Tera mengganggunya dirumah,dan merebut perhatian orang tuanya.
Lagipula tidak ada keuntungan yang didapat jika hanya membuat Tera tersiksa selama disekolah,pikir Gilang. Hal seperti itu justru hanya membuat orang tuanya membenci dirinya.
__ADS_1
...*...
Gilang berlalu disamping tempat duduk Tera dan Sela,membuat dua gadis itu menundukkan wajahnya lebih dalam agar tidak melihat kearah segerombolan anak laki-laki dan juga teman perempuannya itu.
' Aaahh leganya,bisa makan dengan bebas ',Batin tera
Mereka berdua segera menghabiskan makanannya dengan lahap karena waktu istirahat sebentar lagi usai.
...*...
Mereka terburu-buru berlari keluar dari kantin tanpa melihat dengan baik,Tera hampir saja menabrak Gilang tepat didepan pintu yang memisahkan Kantin dengan gedung sekolah.
" Astaga," Tera terkaget sambil berusaha memegang gelas minuman yang akan dia bawah keluar kantin karena masih tersisa banyak.
Gilang dengan sigap menahan gelas dari tangan Tera agar tidak terlepas dan mengenai bajunya,tangan mereka bersentuhan.
" Kalo jalan hati-hati,mata loe jangan ditinggal,"emang loe mau nyuciin baju gue disini kalo kena tumpahan es loe itu?"
Gilang yang tetap saja dengan sikap kasarnya meski mereka sedang berada disekolah membuat Sela kaget dan memanyunkan bibirnya.
" Uhh Ganteng-ganteng tapi kasar banget,"Sela menggerutu sendiri.
Tera bahkan tidak sempat berkata apa-apa,Gilang sudah melengos pergi untuk mengambil tasnya yang tertinggal dikantin.
" Yukkk aah,kesal banget liat cowok kasar kayak gitu,mentang-mentang kakak kelas,nggak usah deh suka sama cowok kayak gitu,"Gerutu Sela lagi sambil menarik lengan Tera pergi dari sana.
" Emang kamu pikir siapa yang suka,hemph." Tera tertawa sambil berusaha membuang rasa kagetnya tadi.
" Abisnya kamu kayaknya suka merhatiin dia,aku pikir kamu suka."
" Yakin banget kamu aku ngeliatin dia,kan teman dia juga banyak,mana ganteng-ganteng pula,teman ceweknya juga cantik-cantik."Tera membela diri,lagipula dia belum menyukai Gilang,dia hanya takut rahasianya dibongkar mentah-mentah oleh anak itu.
...*...
Sudah pukul tiga sore,semua siswa menghambur keluar kelasnya masing-masing,merasa bebas setelah hampir sehari berada disekolah,sebagian siswa ada yang sudah mengganti bajunya terlebih dulu dikelas tadi,termasuk beberapa teman sekelas Tera dan Sela.
Karena hari Jumat seperti ini merupakan hari kebebasan bagi mereka,mereka biasanya akan mampir dipusat perbelanjaan atau ditaman-taman kota meski masih membawa tas sekolah.
Tera masih merasa heran,hari sabtu dan minggu mereka libur sekolah,kenapa tidak hari libur saja mereka menghabiskan waktu untuk bermain.
" Sel,aku mau nanya sama kamu,tapi jangan ketawain yaa,kalo kamu ketawa aku nggak jadi nanya."
" Hey you,belum juga nanya udah bilang jangan ketawa,buruan mau nanya apa?"
" Kenapa anak-anak lain pulang sekolah gini malah main?,toh besok sampai minggu juga libur."Tera masih belum tahu apa-apa tentang anak sekolah dikota besar seperti ini.
" Raaa,kamu dari planet sih kira-kira,udah berapa lama kamu disini,hemhp?"
" Belum juga setahun aku disini,aku dari planet yang kamu nggak kenal sama sekali,huuh."Tera jadi kesal pada temannya ini.
" Eeeitts,gitu aja ngambek anak planet lain,asal kamu tau aja yaa Raa,mereka yang pergi main hari ini itu,besok masih masuk sekolah,kalau mereka ada ikut kelas tambahan,kayak olahraga,nari,nyanyi,piano,ato apalah itu,sedangkan hari minggu,mereka harus liburan bareng keluarganya,jadi hari terakhir kayak gini mereka pake buat jalan-jalan sama geng mereka,seperti itu kira-kira temanku yang cantik,udah paham,?kalau ada yang mau ditanyakan lagi,silakan!tapi harus traktir lemontea dulu."
Sela sambil tersengal menjelaskan pada Tera yang ternyata belum tau apa-apa.
" Besok-besok lagi nanyanya,sekarang kita balik dulu aja." Ajak Tera
" Mau balik kemana mbaak,hari ini aku mau ajakin kamu jalan-jalan juga."okee! Sela mulai merasa sudah waktunya mereka juga pergi bermain.
__ADS_1
Tera sebenarnya malas mengingat harus membantu ibunya bekerja dirumah Gilang,dan lagi mereka tidak membawa baju ganti.
" Tapi kita kan nggak bawa baju ganti,kalo ketahuan guru gimana?"
" Ampun deeh Raa,nggak usah heran,nanti kamu bakal ketemu anak sekolah lain yang juga pake seragam sekolahnya,atau paling nggak ketemu guru-guru muda dari sekolah kita."Sela menjelaskan lagi karena dirinya lahir dan besar dikota ini,jadi sedikit banyak dia tau tentang kehidupan anak-anak remaja disekitarnya,hanya saja hidupnya tidak seberuntung remaja lain meski terlahir di ibu Kota.
Akhirnya Tera manggut-manggut mengerti dan mengikuti langkah Sela ditrotoar menuju kehalte.
Tera sibuk dengan handphonenya yang baru kemarin dibelikan ibu Jullie untuknya.
Dia menekan nomor ibunya,memberi kabar bahwa dia akan mampir bermain bersama Sela temannya.
" Ya sudah,jaga diri baik-baik yaa,jangan macam-macam,pulangnya jangan malam-malam."pesan ibunya diseberang sana.
Tera juga tidak lupa mengirimkan pesan pada ibu Jullie,bahwa dirinya akan mampir bermain sebentar.
" jangan pulang malam-malam yaa,jaga diri,jangan sampai nyasar pulangnya."
Ibu Jullie menyempatkan diri membalas pesan Tera.
Melihat Tera akan menyimpan kembali handphone miliknya kedalam tas,Sela segera menahan tangannya.
" Udah beli HP baru,kok jahat banget nggak ngasih nomornya sama aku."
" eeh maaf,aku lupa,soalnya baru kemarin 'maa' eemh ibu aku beliin."hampir saja tera menyebut majikan jika tidak cepat sadar masih belum ingin temannya ini tau tentangnya.
" Ya udah sini sebutin nomornya,aku simpan nomor kamu,nomor aku juga disimpan,jangan didiamin aja."
Handphone Tera bergetar karena Sela menelpon nomornya.
" itu nomor aku,disimpen yaa,"
" Eemhh oke,ini aku simpan dulu."
" Ngomong-ngomong ibu kamu baik banget,sampe beliin kamu HP kayak gini,meskipun keluaran lama,tapi ini harganya masih lumayan sih kalo buat aku."Sela penasaran.
" Ibuku kredit Sel,mana mampu aku beli HP beginian cash,buat hidup juga masih tinggal sama orang lain kan."Tera sedikit berbohong.
Diapun sebenarnya tidak ingin membawa ponsel itu kesekolah,karena takut orang lain akan bertanya tentang pekerjaan orang tuanya.
Tapi Ibu Jullie memaksa agar Tera mau membawanya dengan alasan agar mudah dihubungi saat ada sesuatu.
" Heemmph oke deh,yang penting sekarang kamu udah punya HP,jadi kita bisa chatan kapan aja."Sela tau tera berbohong,tapi dia memilih diam saja,dia percaya Tera akan bercerita yang sebenarnya tentang dirinya serta keluarganya,selain pandai dalam pelajaran,Sela juga pandai membaca wajah seseorang,dan dia tau Tera belum mempercayai dirinya sepenuhnya sebagai temannya,hal yang wajar menurutnya, karena Tera berasal dari kota kecil dan tidak banyak bergaul.
Sela tersenyum pada Tera yang sejak tadi terlihat takut karena sudah berbohong pada temannya.
" Kamu kenapa?" Nggak suka diajak main?"
" Eeh nggak sel nggak,aku suka kok,cuma masih kagok aja,"Tera berusaha tertawa.
" Kamu pernah punya teman dekat nggak dikota lama kamu,atau punya siapa aja teman buat cerita apa aja kayak gitu?"Sela bertanya sambil menunggu wajah tera kembali ceria.
" Kayaknya nggak punya Sel,aku sendiri juga nggak pernah cerita sama siapapun tentang keluarga atau apapun itu sama orang lain,"Tera menjadi paham pada apa yang dipikirkan Sela.
" Oh iyaa Sel,maafin aku yaa,aku nggak bermaksud bohongin kamu soal apapun itu,aku cuma nggak siap aja buat cerita,aku takut kamu tiba-tiba berubah pikiran kalau tau kehidupan aku yang sebenarnya,tapi yang perlu kamu tau,aku anak baik-baik kok,"Tera menertawai kalimat terakhirnya.
" Emang yang bilang kamu nggak baik siapa?",Aku tau kok kamu baik,aku juga tau kamu belum percaya sama aku,tapi aku juga nggak seperti yang kamu kira,aku bisa jaga rahasia selama itu bukan soal kejahatan,Karena meskipun berteman tetap harus saling jaga perasaan masing-masing,"Sela ikut tertawa.
__ADS_1
Mereka tertawa bersama diatas trotoar,memecah sore hari yang melelahkan.
...****...