
Hari senin terakhir dibulan Desember.
Seluruh siswa sekolah akhirnya menerima nilai hasil belajar mereka selama enam bulan terakhir ini.
Tera dan Sela merasa gugup saat menuju papan pengumuman nilai.
Sampai disana,mereka menunggu siswa lain pergi dari sana lalu kemudian maju kedepan untuk melihat nama mereka.
Lentera merasa lega setelah melihat namanya ada diperingkat paling atas,begitupun Sela.
Mereka berpelukan sambil tertawa senang disana,mereka berharap bisa terus seperti ini sampai kelulusan nanti.
Tidak mudah menggapai peringkat satu disekolah seperti ini,tapi murid seperti Tera dan Sela berhasil mencapainya.
Tera lalu melihat papan pengumuman kelas sebelas yang berada tepat disebelah kelas sepuluh.
Nama Gilang ada diperingkat kedua,teman perempuan sekelasnya berada paling atas.
Tera menyadari bahwa Gilang juga murid yang pandai,tapi kenapa anak itu berada diperingkat kedua.
Gilang muncul disana lalu melihat papan itu sekilas sebelum melengos pergi begitu saja.
Tera merasa anak itu bertingkah aneh lagi,atau mungkin tidak puas dengan nilainya yang masih berada diperingkat bawah.
Mereka kemudian kembali ke dalam kelas masing-masing,untuk menerima buku laporan hasil belajar mereka.
Nama Lentera dipanggil pertama kali,menyusul temannya yang peringkat kedua dan ketiga,mereka berdiri didepan sebentar untuk mendengar wali kelas mereka berbicara dan memberi mereka semua dukungan agar bisa tetap semangat belajar meski belum mendapat peringkat.
Mereka semua kemudian menyalami pak Dirga,wali kelas mereka yang menjadi guru favorit karena usianya yang masih muda.
Sebelum Tera meninggalkan ruang kelas,Pak Dirga memanggilnya.
..."Lentera Pradania."...
..."Iya pak,ada apa?"...
..."Lentera,jika kamu bisa mempertahankan peringkat kamu hingga kelulusan,maka kamu tidak perlu membayar uang bulanan sekolah, bapak juga akan mengusahakan dan berbicara kepada Pihak sekolah untuk mengurus beasiswa agar kamu bisa melanjutkan Kuliah ke Luar Negeri,bapak lihat kamu punya potensi untuk itu."...
..."Baik pak,saya akan berusaha dengan baik,terima kasih dukungannya pak."...
..."Sama-sama lentera."...
Pun dengan Sela,dia tinggal lebih lama didalam kelas, karena wali kelasnya memberi wejangan lebih panjang daripada Tera,mengingat dirinya merupakan siswa beasiswa sejak awal masuk ke sekolah ini.
Tera menunggu didepan kelas Sela sambil memandang kelantai bawah mencari keberadaan Gilang.
Tapi sekolah sudah terlihat sepi,mungkin Gilang sudah pulang.
...*...
Gilang sendiri,ternyata sedang berada diruang guru bersama wali kelasnya.
Dia malah mendapat ceramah karena dikelas sebelas ini,dia malah mendapat peringkat dua.
Sementara saat masih duduk dibangku kelas sepuluh,dia selalu berada diperingkat paling atas.
Gilang sendiri heran,karena dia merasa sudah belajar mati-matian demi bertahan di peringkatnya,tapi kenyataannya,mau tidak mau dia harus menerima bahwa kali ini teman perempuannya yang merebut posisinya.
Dia pun harus menyiapkan diri untuk mendengar omelan dari orang tuanya dirumah nanti.
Selesai menerima ceramah yang panjang dari wali kelasnya,dia menarik nafas panjang dan keluar dari ruang guru.
Sekolah sudah sepi,dia mengambil motor gedenya diparkiran.
Dia melajukan motornya dan melihat kearah Tera yang masih duduk dihalte dengan kesal.
Tera yang tertinggal bus karena tadi menunggu Sela,merutuki nasibnya disana karena tadi tidak ikut saja dengan bapak Sela.
Tera memperhatikan Gilang yang melaju dengan motornya.
..."Kan,sekarang aneh lagi,kemarin baik banget,hari ini judes lagi,sebenarnya aku salah apa sih,atau mas Gilang punya banyak kepribadian kali yaa kayak difilm-film gitu."Tera menggumam sendiri....
__ADS_1
Hampir tengah hari,dia masih duduk menunggu disana.
Bus sekolah sudah tidak kembali lagi.
Dia berniat sekalian saja menunggu bus yang biasa membawa para pekerja yang pulang siang hari,tapi diurungkan karena masih satu jam lagi.
Akhirnya dia merogoh tasnya mencari ponselnya untuk kemudian menghubungi Sela.
..."Halo Sel."...
..."Iyaa Ra,ada apa,tumben banget nelpon."...
..."Aku ketinggalan bus sel,bapak kamu udah berangkat lagi belum,Aku mau mesan taksi aja,tolong hubungin bapak kamu ya."...
..."Yaampun Ra,habis kamu tadi diajak bareng nggak mau sih,sekarang rasain tuh nunggu sampe kering kan." Sela mengolok sahabatnya yang keras kepala itu....
..."Mau nolongin nggak,malah ngolok kamu ini,aku udah kelaparan tau disini."...
..."Eeh iya mba tera,sebentar yaa aku telpon bapak aku,kamu tunggu disitu jangan kabur,paham?"...
..."Iya Marsela,terima kasih banyak."...
Tera memutus telpon,menunggu bapak Sela datang menjemputnya.
Beruntung supir taksi paruh baya yang terlihat selalu ceria itu sedang berada didekat sana,jadi Tera tidak perlu menunggu lama.
..."Siang nak Tera,maaf yaa nak,bapak lambat jemputnya." Sapanya pada Tera....
..."Eh nggak kok pak,malah bapak cepat banget datangnya,bapak nggak lagi nunggu penumpang lain kan tadi?"...
..."Nggak nak,tadi bapak lagi dijalan mau kearah sini lagi,Sela nelpon bapak kalau kamu nunggu disini."...
..."Iya pak,saya ketinggalan bus,jadi nyari taksi,bapak masih ingat alamat saya pak?"...
..."Iya nak,bapak ingat"....
Taksi itu kemudian melaju meninggalkan halte bus tempat tera menunggu,membawa Tera yang sedang sibuk memikirkan tingkah Gilang hari ini.
Hampir tiga puluh menit tanpa suara didalam taksi,bapak Sela membangunkan Tera yang ternyata malah tertidur saat memikirkan Gilang tadi.
..."Maaf pak,saya malah ketiduran,"...
..."Nggak apa-apa nak,sudah sering bapak lihat anak-anak sekolah yang ketiduran kalau dijemput,bahkan Sela juga suka tidur disini."...
..."Hehe iya pak,abis bapak bawa taksinya nggak pake ngebut."...
...Tera tersenyum lalu membayar taksi dan berjalan kaki seperti biasa masuk kedalam gang,dia lebih suka seperti itu daripada harus diantar sampai didepan rumah....
...***...
Tiba dirumah,dia memilih lewat pintu samping yang terhubung langsung kekamarnya,agar tidak terlihat oleh Gilang yang sejak tadi terlihat marah kepadanya.
Saat akan masuk kamarnya,dia mendengar suara pak Hermawan dari dalam rumah, yang terdengar keras membentak Gilang.
Dia diam terpaku disana,samar-samar mendengar Ayah Gilang memarahi anaknya dan membahas nilai raport yang tidak sesuai keinginannya.
Ayah Gilang,meski selalu terlihat tenang,tapi saat marah,Gilang yang anak kandungnya pun hanya bisa terdiam tanpa berani bersuara.
Tera bergidik disana,membayangkan bagaimana jika dia memiliki Ayah sekeras itu.
Tera masih mematung disana sampai ibunya keluar dari dapur dan menegurnya agar tidak mendengarkan masalah orang lain.
Ibunya menarik tangannya untuk masuk kedalam kamar.
..."Tera,gimana nilai kamu?"...
..."Baik bu,aku juga dapat peringkat satu,tapi rasanya nggak suka."...
..."Loh kok malah nggak suka,kalau kamu peringkat satu,artinya kamu bisa punya peluang untuk dapat beasiswa dua tahun kedepan,jadi kita nggak perlu terlalu banyak menyusahkan Ibu Jullie."...
..."Nggak suka bu,karena mas Gilang malah dapat peringkat dua,mungkin gara-gara aku gangguin dia selama tinggal disini."...
__ADS_1
..."Tera kamu mikir apa sih,kamu nggak pernah ganggu waktu belajar Gilang,kalian beda kelas,pelajarannya beda,kamu juga nggak bersaing sama dia kan?"...
..."Iya sih bu,tapi aku tetap merasa kalau mas Gilang bersikap kayak gitu karena kita tinggal dirumahnya,mungkin dia merasa terganggu sama kedatangan kita bu,jadi dia nggak semangat belajarnya."...
..."Tera,mas Gilang juga sudah belajar dan berusaha untuk dapat nilai bagus,tapi mungkin dia lagi banyak pikiran,jadi belajarnya ngga konsen,jadi kamu jangan nyalain diri kamu sendiri terus sebelum kamu tau yang sebenarnya."Ibunya mengusap kepala tera kemudian keluar kamar lebih dulu....
..."Kalau kamu lapar nanti kedapur aja sekalian bantu ibu,"seru ibunya lagi....
..."Iya bu,aku ganti baju dulu."...
Tera yang tidak bersemangat untuk keluar kamar bahkan untuk makan pun dia sudah merasa tidak berselera.
Dia duduk dimeja belajar,menatap buku birunya yang sudah mulai kusut karena sering dibuka dan menjadi tempat berceritanya.
Dia menulis lagi.
..."( **B***apak, hari ini Tera dapat peringkat satu,Tera senang sekaligus sedih,karena bapak nggak bisa ngasih hadiah lagi setiap Tera dapat peringkat paling atas. Bapak,Tera juga ngga tenang tinggal disini,Tera takut karena kehadiran Tera sama ibu dirumah ini,justru mengganggu ketenangan anak laki-laki yang mungkin tadinya hidup tenang disini*....
...Oh iya,kata bapak Tera harus jadi kuat kan pak,tapi Tera masih belum jadi orang dewasa yang bisa selalu kuat kapan aja,Tera juga nggak tega,liat ibu yang kerja tiap hari karena nggak enak sama pemilik rumah,tapi kata ibu kita harus bertahan sampai nanti Tera bisa punya pekerjaan yang bagus, Semoga Tera bisa jadi anak yang membanggakan ya pak, tolong tetap kuatkan Tera ya pak...)"...
Tera menangis sambil berusaha menulis meski bukunya sudah basah karena air matanya.
Bagaimanapun juga dia tetap merasa bersalah atas keadaannya saat ini.
Dia merasa bahwa dia memang patut disalahkan oleh Gilang,karena mungkin saja kehadirannya dirumah ini membuat Gilang terganggu dan tidak bisa belajar dengan baik,dan malah mendapat nilai yang kurang memuaskan orang tuanya.
...*...
Gilang sudah kembali kekamar setelah ayahnya puas memarahinya,dia membanting tas sekolah dan buku raportnya keatas kasur.
Ibunya hanya bisa menyabarkan dirinya karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya,ibunya tau masa remaja memang masa sulit bagi anak laki-laki yang hanya ingin banyak bermain.
Tapi ibunya lupa menyadari bahwa perhatiannya pada anak bungsunya itu, yang membuat Gilang menjadi tidak bersemangat mengejar peringkat atas.
Juga kehadiran Tera yang sering mengambil alih ruang perpustakaan saat malam hari membuatnya kekurangan waktu belajar.
Dulu saat dirinya masih duduk dikelas sepuluh,dia bisa menghabiskan waktu hanya duduk diruang baca seharian bahkan sampai tengah malam,meski kadang diselingi dengan membaca komik kesukaaannya.
Dulu dia juga anak bungsu yang penurut,yang selalu menjadi sasaran dan bahan candaan kedua kakaknya yang selalu memintanya semangat belajar agar bisa membantu mengurus perusahaan ayahnya,meski Gilang tidak pernah mengharapkan itu,dia punya impiannya sendiri.
Belakangan ini,sejak kehadiran Tera,membuat dirinya merasa tersaingi meskipun Tera tidak berbuat apa-apa pada dirinya.
Dia tidak bisa membenci ibunya,tapi juga tidak bisa menyalahkan Tera,dan akhirnya membenci Tera meski tetap sering membantunya.
Dia bingung dengan keadaan rumahnya saat ini,dan membuatnya kehilangan minat belajarnya.
Dia berbaring dan tertidur hingga malam dikamarnya.
Dia turun saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam,dia segera turun kedapur mencari makanan,sudah sepi,dan akhirnya dia memilih makan sendirian disana.
Tera yang juga mulai merasa perutnya sangat lapar karena sejak siang dia hanya memakan cemilan yang ada dikamarnya,memutuskan keluar dari kamarnya dan segera menuju dapur,ibunya tadi sudah kembali dan menawarkan makanan tapi tera menolak,dan sekarang dengan menyesal dia harus kedapur sendirian.
Tera tertegun menatap Gilang yang sedang melahap makanannya.
Gilang yang menyadari kehadiran terbatuk karena tersedak makanan.
Tanpa diminta ,dengan cepat Tera berlari kearah dispenser air dan mengambil air minum lalu menyodorkan gelas penuh itu kearah Gilang yang tadi berdiri hendak mengambil air sendiri.
Gilang dengan terpaksa menerima gelas dari Tera karena dirinya terus saja batuk,lalu segera berlalu dari sana untuk kembali ke atas,meninggalkan Tera dan piringnya yang masih terisi sedikit makanan sisanya.
Tera mengabaikannya sesaat karena sangat lapar, lalu mengambil makanan dan duduk dikursi tempat Gilang tadi.
Selesai makan,dia membawa dua piring kotor kemudian mencucinya.
Diatas sana,Gilang memperhatikan Tera yang dengan telaten mencuci piring lalu menyusunnya,tidak lupa mengelap meja makan dan mematikan lampu dapur sebelum kembali kekamarnya.
Tera menghilang dalam gelap.
Gilang menarik nafas,entah sejak kapan dia mulai selalu memperhatikan anak yang sudah merebut perhatian ibunya itu.
...****...
__ADS_1