Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)

Married With My First Love(Kisah Perjalanan Cinta Lentera Dan Gemilang)
78.Episode 78


__ADS_3

Satu minggu setelah Haris menikah.


Gilang iseng bertanya pada kakaknya yang sedang duduk santai diruang tengah.


..."Mas gimana malam pertamanya?"...


..."Nggak ada malam-malaman,gara-gara calon istri lue,Jihan sampai sekarang masih marah sama gue."...


..."Hahaha,lagian kan lue yang mulai..."...


..."Tapi kan gue cuma bilang tentang siapa Tera,bukannya ngejelekin dia..."...


..."Serah lue dah mas,lagian luenya juga kenapa nggak bilang dari awal sama Jihan..."...


..."Tadinya mau bilang,tapi lupa,lagian dulu kan cuma sekedar naksir doang,nggak sempat jadian..."...


..."Tetap aja harus jujur lah mas,karena Febri itu temannya Jihan..."...


..."Yaa itu lah..."...


..."Oh ya mas,lue nggak mau pindah gitu kemana kek?"...


..."Lue ngusir gue nih ceritanya..."...


..."Nggak juga sih,tapi gue cuma nggak mau aja liat lue sengaja mesra-mesraan sama istri lue ntar didepan gue..."...


..."Ahahaha,ngebet banget lue mau nikah..."...


..."Gue juga takut kali,Tera kabur..."...


..."Tera itu kayaknya tipe cewek setia,jadi lue tenang aja,dia nggak bakalan ninggalin lue Lang..."...


..."Sotoy lue mas..."...


..."Hahah emang bener kan..."...


..."Istri lue mana mas?"...


..."Kerja lah,sama keluarganya dilarang berenti kerja sampai dapat pengganti yang baru untuk ngurusin perusahaan keluarganya."...


..."Lagian,kenapa dia nggak punya sodara ya,biar bisa bantuin Jihan disana,kan kasian kalo istri lue harus dipaksa kerja terus..."...


..."Emangnya lue pikir istri gue yang ngatur dia mau punya saudara atau nggak..."...


..."Hemph,bener juga..."...


..."Nggak kerja lue..."...


..."Jam 10 gue berangkat..."...


..."Mau bareng nggak?"...


..."Ya maulah mas,lue pikir gue mau naik apaan..."...


..."Makanya nggak usah keras kepala,pake mau beli mobil sendiri segala,kapaaan?"...


..."Entahlah,sekarang karena ada Tera,gue nggak mau selalu minta apa-apa sama ibu,gue takut Tera makin ngerasa nggak pantas buat gue..."...


..."Terserah deh bro,gue doakan semoga lue cepat lulus dan bisa jadi dokter beneran,biar bisa beli mobil sendiri..."...


..."Oke..." Sahut Gilang sambil berlalu naik kekamarnya....


...*...


Tera yang masih sibuk bekerja di perusahaan luar negeri sejak kembali ketanah air,merasa dirinya semakin tidak punya waktu untuk bertemu Gilang.


Ditambah kesibukan Gilang sebagai dokter magang yang masih harus banyak belajar,membuat mereka kesulitan membagi waktu untuk bertemu.


...05:15pm___"Mas Gilang,aku capek..."...


Tera mengirimkan pesan singkat pada Gilang saat pulang bekerja.


Tidak ada balasan dari Gilang sampai malam hari tiba.


Tera masih mengetik dilaptopnya saat Gilang menelponnya.


"Halo Ra..."

__ADS_1


"Iya mas..."


"Kamu kenapa?"


"Nggak papa mas..."


"Terus capek kenapa?"


"Capek kerja mas..."


"Terus?"


"Aku mau pindah,tapi harus nunggu sampai setahun."


"Kamu mau pindah kekantor Ayah nggak?"


"Nggak deh mas,takut sama mas Haris..."


"Terus mau kerja dimana?"


"Mau keluar negeri,jadi TKw,gajinya gede,hehehe..."


"Tera,awas aja kalau sampai beneran keluar negeri lagi..."


"Tapi gaji disana banyak,biar aku cepat kaya kayak mas Gilang..."


"Teraaa...!"


"Iya mas,jangan teriak-teriak,aku dengar kok..."


"Makanya jangan suka bikin kesal..."


"Emh..."


"Oh ya maaf ya Ra,aku masih sibuk,jadi belum bisa kerumah kamu,kamu jaga kesehatan ya..."


"Iya mas..."


"Aku tutup dulu ya telponnya,nanti kalau sempat aku telpon lagi..."


Tera kembali meletakkan ponselnya,lalu melanjutkan pekerjaannya.


Setelah merasa tidak bisa bekerja dengan baik,dia keluar dari kamarnya untuk mencari makanan.


Ibunya sudah terlelap sejak tadi.


Jam diponselnya sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Gilang tidak menelponnya kembali.


Setelah memakan sepotong buah apel,dia kembali kekamarnya,dengan harapan Gilang menghubunginya.


Saat ini,dia hanya ingin ada orang yang mendengarkan keluh kesahnya saat ini,tapi tidak ada orang yang bersiap mendengarkannya.


Sela sahabatnya,selalu sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri.


Sesekali mereka hanya saling berkirim pesan dan menanyakan kabar.


Dia pun tidak ingin membebani ibunya dengan kelelahan yang dia rasakan.


Dia akhirnya tertidur dengan banyak keluh kesah di hatinya...


...*...


Pagi hari,Tera yang siap berangkat bekerja,mematung didepan cermin dikamarnya.


Menatap dirinya yang hampir tidak pernah memakai riasan wajah,meskipun wajah aslinya saja sudah cukup menarik,tapi teman-teman sekantornya selalu memanggilnya dengan si wajah polos.


Bahkan karyawan laki-laki saja tidak ada yang berani mendekatinya,mungkin karena sikapnya yang dingin dan wajah polosnya yang tanpa make up,berbeda dengan teman-temannya yang selalu memakai model pakaian terbaru dan merias wajah mereka yang sudah sangat cantik dengan riasan yang kadang nampak berlebihan.


Hampir selalu kesulitan mendapatkan teman yang tulus,membuatnya semakin menjauhi orang-orang disekitarnya,termasuk bersikap dingin dikantornya,yang seringkali membuat atasannya marah karena dia sulit bekerja sama dengan timnya,karena dia selalu mengerjakan semuanya sendirian.


Semua kesulitan itu dia pendam sendiri,meski dia sangat ingin membaginya,tapi dia tidak punya tempat bergantung seperti gadis dewasa pada umumnya,hanya Gilang harapan satu-satunya,tapi pemuda itu selalu saja sibuk.


Suara teriakan ibunya dari luar kamar,menyadarkan Tera dari lamunan panjangnya.


..."Iya bu,sebentar..."...

__ADS_1


..."Cepat Tera,kamu bisa terlambat sarapan dan berangkat kerja..."...


..."Iya iya bu..."...


Tera segera keluar kamar dan menuju dapur sambil memasang jam tangan di lengannya,tanpa memperhatikan Gilang yang duduk dikursi miliknya.


..."Liat-liat dong mbak,kursi ini sudah ada orangnya..."...


Tera terkejut melihat Gilang yang sudah duduk manis disana,hampir saja dia duduk diatas pangkuan Gilang jika calon suaminya itu tidak bersuara.


..."Kapan mas Gilang sampai?"...


..."Lima belas menit yang lalu,mungkin..."...


..."Kenapa nggak bilang kalau mau datang?"...


..."Memangnya kalau aku bilang,kamu mau dandan yang cantik?"...


..."Nggak,yaa setidaknya aku bisa nyiapin sarapan dari tadi..."...


..."Nggak usah aneh-aneh,lagian emang kamu sempat?"...


..."Yaaa disempatin..."...


..."Nggak usah maksain diri,lagian aku kesini bukan mau sarapan,tapi mau jemput kamu..."...


..."Oh ya,mas Gilang pake mobil ibu Jullie lagi?"...


..."Nggak,aku naik motor..."...


..."Motor waktu mas Gilang SMA?"...


..."Yaa bukan dong,motor butut,hahah..."...


..."Hemph,aku lebih suka daripada harus naik mobil,tapi bukan punya mas Gilang..."...


..."Ya sudah,cepat makan,nanti kita terlambat."...


..."Mas Gilang nggak makan?"...


..."Nggak,natapin kamu aja sudah kenyang banget..."...


..."Dasaar..."...


..."Apa,mau bilang kang gombal lagi..."...


..."Baguslah kalau tau..."...


..."Hem,aku sudah sarapan dirumah."...


..."Ya sudah kalau gitu tunggu diluar aja,jangan disini,yang ada aku nggak bisa makan gara-gara mas Gilang melotot terus..."...


..."Ya elah mbak,segitunya sama calon suami..."...


..."Tauk ah,udah sana tunggu diluar..."...


..."Ya sudah,aku bantuin bude dulu diluar..."...


Tera akhirnya bisa makan dengan lahap tanpa malu-malu ditatap oleh Gilang.


Gilang menunggu dikedai ibu Nur sambil membantu menyusun kue untuk dijual pagi ini.


Tidak lama kemudian,Tera keluar dan mengajak Gilang untuk berangkat.


Dan menatap sebentar kearah motor Gilang terparkir didepan kedai ibunya.


Motor itu sepertinya baru dibeli, dan bukan motor butut seperti yang dipikirkan Tera.


Tapi Tera diam saja,setidaknya kini dia merasa lebih baik karena tidak perlu merasa aneh saat Gilang menjemputnya dengan mobil mahal.


..."Kalian hati-hati ya..."...


..."Iya bude..."...


..."Iya bu..."...


Mereka berdua berboncengan meninggalkan ibu Nur yang tersenyum manis menatap kepergian mereka...

__ADS_1


...❤️❤️❤️...


^^^"Bersambung..."^^^


__ADS_2