
1 Agustus merupakan hari ulang tahun Lentera,tahun ini dia genap berusia berusia tujuh belas tahun.
Tahun lalu baik dirinya maupun ibunya melupakan ulang tahunnya yang keenam belas tahun,karena terlalu sibuk bekerja dan menyesuaikan diri dirumah Gilang.
Tahun ini,Tera tiba-tiba mengingatnya karena melihat kalender dimeja belajarnya.
Meski tidak akan ada yang istimewa diulang tahunnya menuju usia dewasa ini,tapi dia sedikit senang karena sebentar lagi dirinya bukan lagi anak dibawah umur yang selalu disebut ibunya,yaa meskipun sebenarnya belum sedewasa itu.
Sela mengirimkannya pesan selamat ulang tahun,Tera berharap mereka bisa bermain dihari Minggu besok sebagai hadiah ulang tahunnya kali ini.
Ibunya yang sibuk bekerja bahkan belum menyempatkan diri memberi pelukan hangat untuk anak gadisnya yang kini sudah beranjak dewasa.
Malam hari,saat hendak tidur,ibunya pun mengingat hari ulang tahun anaknya itu,lalu menghampiri Tera yang sudah bersiap tidur dikasurnya.
"Tera,maafkan ibu ya nak,sampai lupa hari ulang tahun kamu,tahun lalu ibu bahkan tidak ingat sama sekali karena sibuk bekerja,maafkan ibu karena belum bisa ngasih kamu kehidupan yang lebih baik."ibunya berkata sambil memeluk Tera yang sudah mulai menangis.
"Ibu jangan minta maaf dong,aku malah jadi merasa bersalah,kalau ibu sering-sering minta maaf,aku nggak apa-apa kok,aku senang kita bisa ketemu keluarga baik kayak ibu Jullie dan bisa tinggal disini,aku boleh minta izin besok jalan-jalan ya bu sama Sela,anggap aja kado ulang tahun dari ibu,heheh."
"Iya nak,boleh,asal tetap ingat untuk jaga diri,terus selalu ingat pesan bapak kamu baik-baik,sekarang kamu bukan lagi anak kecil,umur kamu sudah tujuh belas tahun,kamu pasti sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk buat kamu."
"Baik ibu,siap."
"Ya sudah sekarang kamu tidur dulu,besok sebelum jalan bantu ibu masak sebentar,karena besok pasti ibu sama bapak juga mas Gilang ada dirumah."
"Siap bu."
Tera mengambil selimutnya menutup dirinya agar bisa segera tertidur malam minggu ini.
Dia memilih tidur lebih cepat karena tidak ingin berkeliaran diluar kamarnya yang pasti akan membuatnya bertemu dengan Gilang.
Dia tidak ingin usahanya selama dua pekan untuk menjauhi Gilang menjadi sia-sia.
Tapi mau berusaha sekeras apapun dirinya menjauh,tetap saja Gilang akan muncul dihadapannya tiba-tiba,membuatnya semakin berpikiran yang tidak-tidak pada remaja laki-laki yang juga sedang kebingungan dengan perasaannya itu.
Dia tau persis Gilang tidak suka sejak awal kedatangannya kerumah ini,tapi saat ini anak itu terus mengganggunya,sehingga membuat Tera merasa bahwa Gilang benar-benar akan mempermainkannya.
...*...
Pukul sepuluh pagi, Hari minggu pertama diawal bulan Agustus.
Tera yang sudah selesai membantu ibunya,kembali kekamarnya dan mandi agar bisa segera menemui Sela yang sejak tadi sudah sibuk menelponnya.
Selesai berpakaian rapi,dia keluar dari dalam kamarnya melewati dapur karena ibunya masih berada disana,dia sedikit berbeda hari ini,dia yang biasanya tidak suka memakai rok kecuali rok sekolahnya,memutuskan memakai rok yang sudah lama ada didalam lemarinya,entah sejak kapan ibunya membelikannya,yang pasti rok itu sudah sedikit lebih pendek.
Rok kotak-kotak hitam coklat itu sudah berada sedikit diatas lutut Tera,dia mengenakan baju lengan panjang berwarna coklat muda dengan tali dibagian lehernya,rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja,dia terlihat cantik,tapi Tera tidak mempedulikan wajahnya itu,karena baginya memang tidak penting hanya mempercantik wajahnya tapi tidak mempercantik sikap dan hatinya.
Dia melangkah dengan santai mendatangi ibunya yang sedang membereskan sisa-sisa pekerjaannya,mereka memang sering bekerja meski sedang hari minggu seperti ini.
"Ibu aku pamit dulu ya,sore aku balik kok."
"Waah anak ibu sekarang sudah besar,sudah cantik,sudah setinggi ini pula."sahut ibunya sambil menyambut tangan anaknya.
"Jangan lupa pamit sama ibu didepan."
"Iya bu,aku jalan dulu ya bu."
Sampai diruang tamu,dia menghampiri ibu Jullie yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Bu,maaf,aku izin main sama teman sampai sore,boleh bu?"
"Boleh dong sayang,tadi ibu kamu sudah bilang sama saya,kalau kemarin hari ulang tahun kamu,terus sekarang mau main keluar,kamu makin cantik aja kalau pakai kayak begini,semoga nanti ibu bisa punya mantu yang cantik,baik,sopan kayak kamu."
"Hehe ibu bisa aja,saya nggak cantik bu,malah masih cantikan ibu daripada saya."
"Bisa aja kamu,ya sudah sana jalan,hati-hati,jangan malam-malam ya baliknya,maaf ibu belum sempat belikan kamu kado."
"Nggak usah repot-repot bu,hehe,saya pamit dulu ya bu."
...*...
Tanpa mereka sadari,diatas tangga,ada Gilang yang tadi akan turun kebawah,sedang duduk ditangga untuk mendengarkan obrolan mereka,dan akhirnya tau kalau kemarin hari ulang tahun Tera.
Tapi dia memilih bodoh amat,karena sejak dua minggu lalu Tera terus saja menghindarinya.
Dia malah berpikir,kenapa pula anak itu yang sibuk menghindar,sementara yang merasa terganggu justru dirinya.
__ADS_1
Dia kembali merasa kalau dia memang harusnya terus membenci gadis itu,karena semakin jelas ibunya menyayangi Tera seperti anaknya,sementara dirinya seringkali terabaikan.
Dia turun kebawah dan duduk didekat ibunya.
"Gilang,tumben dirumah aja,nggak pengen keluar?"ibunya mengolok dirinya yang saat ini harus menuruti permintaan Ayahnya agar tidak sering keluar.
"Bu,tolong dong kasih tau Ayah,aku bosan bu didalam rumah terus,masa Tera bisa main keluar,aku nggak boleh."rengeknya pada ibunya.
"Sana bilang sendiri sama Ayah kamu."
Kalau kamu berani ibu kasih hadiah deh."
"Yaa ibu mah,"dia melangkah kesal kearah ruang keluarga dan menyalakan televisi.
Benar-benar seperti anak rumahan,pikirnya
"Tera enak-enakan bisa main sampai sore,gue malah disuruh diam dirumah kayak anak kecil begini."dia mengomel sendiri,lalu duduk disofa sambil menikmati acara TV yang siang itu menampilkan orang-orang yang sedang berakhir pekan.
"Aaahh bete banget gue lama-lama."
Dia mematikan TV,dan kembali lagi merengek pada ibunya untuk bisa keluar bermain.
"Bu ayok dong bolehin aku main,atau kita keluar sama-sama deh bu.hehe,aku bosan tau bu beneran,ibu nggak niat gitu keluar cari kado ulang tahun buat anak ibu itu."
Dia benar-benar seperti anak bungsu pada umumnya yang selalu bersikap manja pada ibunya,tapi takut pada Ayahnya.
"Eh iya juga ya,ngomong-ngomong kamu tau darimana Tera ulang tahun.?"
"Tadi aku nguping,hahah."
"Kamu ini bisa aja,ya sudah sekarang kamu ganti baju,terus bilang bude Nur untuk ikut sama kita."
"Oke bu." Gilang akhirnya merasa merdeka bisa keluar meski bersama ibu sama ibu Tera.
Dia mengetuk pintu kamar Tera.
"Eh nak Gilang,ada apa nak,ada yang mau dimasak atau mau dicucikan?"
"Eh nggak kok bude,tadi ibu nyuruh aku buat kasih tau bude buat ikut sama kita jalan-jalan keluar sekalian beli kado buat Tera."
"Eeh ya ampun,ibu kamu malah repot-repot jadinya ini,kalian jalan aja ya nak,bude mau istirahat dirumah aja."
"Ya sudah,bude ganti baju dulu ya nak."
"Oke bude."
Gilang terlihat sangat bersemangat.
...*...
Matahari sudah terik karena sudah menunjukkan pukul setengah satu siang.
Mereka makan siang terlebih dulu dirumah,sebelum keluar mencari sesuatu untuk Tera dan mencari angin segar kata Gilang.
Selesai makan siang dan berpamitan pada Ayah Gilang,mereka segera berangkat ditengah panasnya hari Minggu ini.
Setelah setahun tinggal disini,ini pertama kalinya bagi ibu Tera keluar berjalan-jalan seperti ini,meski merasa tidak enak karena merepotkan keluarga Gilang.
Ibu Jullie yang menyetir mobil karena Gilang belum diperbolehkan membawa mobil sebelum masuk kuliah.
Gilang duduk disamping ibunya,ibu Nur duduk dibangku belakang.
"Bu kita ke MKG dulu ya bu,kita cari buku-buku dulu disana,buat ngisi rak buku kosong diperpus."
"Oke,oke,ibu ngikut kamu aja,iya kan bu Nur?
"Eh iya bu,saya terserah nak Gilang aja mau kemana,saya bisa bantu bawa barang belanjaan ibu atau nak Gilang."
20 menit kemudian mereka sampai diparkiran MKG,ibu Jullie memarkirkan mobilnya dan segera mereka turun untuk masuk kedalam mall yang menjual kebutuhan sehari-hari dan berbagai macam buku juga ada disana.
"Gilang menuju toko buku lalu memilih beberapa buku cerita,juga mengambil buku kisah masa remaja yang akan diberikan kepada Tera nanti.
Sementara ibunya kebingungan memilih kado anak perempuan.
"Bu Nur,anak perempuan kayak Tera suka apa,saya bingung mau beliin apa?"
__ADS_1
"Saya juga bingung bu,karena Tera nggak suka minta aneh-aneh bu kalau lagi ulang tahun,"
"Ya sudah beliin buku aja banyak-banyak,dia suka baca buku cerita aku diperpus."sahut Gilang.
"Yaa itu mah buat kamu bukan buat Tera,kan kamu juga suka baca buku cerita,makanya nilai kamu turun terus."ledek ibunya
"Tapi Tera juga suka baca buku aku bu."
"Ya sudah sudah,ambil sana bukunya."
Ibu Nur hanya bisa geleng-geleng kepala.
Dia sebagai ibunya merasa bersalah karena selama ini tidak begitu peduli pada kado ulang tahun anaknya,mungkin tidak meminta bukan berarti dia tidak ingin,pikir ibu Nur ditengah hiruk pikuk suara orang disana.
Lalu kemudian mengingat tadi pagi Tera baru saja memakai rok yang dibelikannya saat sedang berbelanja kepasar saat itu,membuat ibu Nur tertarik pada blouse berwarna peach dan rok selutut berwarna hitam,lalu meminta karyawan disana membungkus untuknya,Gilang yang melihat itu,segera menawarkan diri untuk membayar,tapi dengan tegas ibu Nur menolak dan mengatakan akan berbeda jika Gilang yang membayarnya.
"Nak Gilang sudah beli buku banyak untuk Tera,jadi bude beli yang lain,bude malah minta maaf sama kamu,sudah repot-repot ingat beli kado untuk anak bude."
"Hemh nggak apa bude,aku senang kalau bude juga senang."
"Bude atau Tera?"ibu Jullie lagi-lagi meledek anak remajanya itu.
Mereka tertawa bersama disana.
Ibu Jullie membeli boneka beruang besar karena tidak tau apa yang disukai 'anak perempuannya itu'.
Mereka membawa barang bawaan dengan kerepotan,membuat ibunya meminta Gilang membawa kedalam mobil karena mereka akan membeli buah-buahan lalu pulang.
Setelah membawa barang belanjaannya,Gilang tidak kembali kedalam karena ibunya mengatakan akan menyusul keluar sebentar lagi.
Gilang duduk disekitar parkiran setelah memesan minuman dingin disana.
Lalu,tanpa sengaja melihat Tera berlalu kearah Mall bersama Sela.
Jika saja tidak mengingat pesan Tera agar tidak menegurnya saat sedang bersama temannya,dia pasti sudah mencegah langkah Tera.
Beruntung Tera segera berbelok keseberang jalan menuju toko buku kecil disana.
Tidak lama kemudian ibunya dan ibu Nur menyusulnya dan segera memanggilnya masuk kedalam mobil.
Didalam mobil,dia menyodorkan gelas minuman pada Ibunya dan ibu Tera,lalu terus saja memperhatikan langkah Tera yang masuk kedalam toko,sampai tidak memperhatikan ibunya bertanya.
"Gilaang,kamu liat apa sih,sampai nggak dengarin ibu?"
"Eh iya bu,kenapa?"
"Kamu mau mampir lagi nggak?"
"Emh nggak bu,aku capek,bosan juga nggak bisa main sama teman-teman aku."
"Jadi jalan sama ibu bikin bosan ya?"
"Aduh bukan gitu juga bu,kalau tadi ketemu teman aku kan,pasti bisa main sama mereka sebentar,tapi nggak ketemu sama sekali."
"Ya sudah,kita pulang sekarang yaa,bu Nur kayaknya sudah capek ya bu."
"Lumayan bu,hehe karena nggak pernah jalan-jalan jauh begini,jadinya gampang capek."
"Makanya bude,kalau hari minggu bude jangan kerja kalau disuruh libur."Gilang menyahut
"Iya nak Gilang,tapi bude nggak biasa kalau diam aja,nggak enak juga sama ibu kamu,masa ibu kerja siang malam,hari minggu juga kadang tetap kerja,terus bude malah santai-santai,nanti disuruh pulang sama nak Gilang,gimana?"
"Nggak dong bude,soalnya dulu asisten kita kalau sabtu minggu selalu libur,cuma bude yang mau kerja meskipun disuruh libur."
"Iya nak Gilang,bude seperti ini supaya nggak terus-terusan sedih kalau ingat bapak Tera,juga kalau bude banyak diam,bude selalu kepikiran sama hidup Tera kedepan nanti gimana?bude takut,dia nggak bahagia,bude juga takut kalau dia merasa malu sama kehidupan dia sekarang,karena ibunya cuma jadi pembantu,bude lihat sendiri,sampai sekarang Tera nggak banyak bergaul kayak dikota A dulu,selama ini juga dia nggak pernah bawa temannya main kerumah,mungkin karena malu kalau sampai ketahuan dia cuma anak pembantu."
Tanpa sadar Ibu Nur berbicara banyak dengan matanya yang berkaca-kaca.
Gilang tidak menyangka bahwa mereka tidak seceria yang dia kira,mereka menyimpan banyak kenangan buruk didalam hati masing-masing.
Ibu Jullie menggenggam kedua tangan ibu Nur dari bangku depan.
"Bu Nur,jangan suka mikir kayak gitu,mungkin dia punya alasan sendiri,asal bu Nur tau,ibu beruntung sekali punya anak perempuan cantik dan penurut kayak Tera,juga masih selalu sempat bantu ibu kerja padahal harus belajar,mulai sekarang ibu kerja dengan tenang aja ya,pasti Lentera jadi anak yang sukses nantinya."
"Iya bu,terima kasih banyak."
__ADS_1
Mereka pulang dan larut dalam pikiran masing-masing.
......***......