Masa Lalu

Masa Lalu
Khilaf


__ADS_3

Laras hanya bisa menangisi perbuatannya, kebodohan macam apa yang dia buat, cinta seperti apa yang membuatnya lupa diri, dan setan dari mana yang merasuki pikiran dan juga jiwanya.


"Laras maafkan aku, aku khilaf" Johan sungguh menyesal dengan perbuatannya. Johan tau betul alasan kenapa Laras menangis. Kehilangan keperawanannya sebelum menikah adalah hal yang sangat menyakitkan, terlebih lagi Laras telah menjaga nya dengan baik.


" Jangan menangis Laras, aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu."


" Bagaimana kau akan bertanggung jawab, jika bapakku saja tidak merestui hubungan kita, Mas."


" Dan lagi sebentar lagi aku akan dinikahkan dengan pria yang tidak aku cintai." Lanjut saras masih dengan isak tangisnya.


" Dengarkan aku." Johan menakuo wajah Laras dengan kedua tangannya agar Laras mau mendengarkannya. " Aku memang bukan lelaki baik-baik, namun masalah perasaan aku mencintaimu aku bersungguh-sungguh"


Air mata Laras semakin deras seperti hujan yang masih belum berhenti, Johan semakin bingung harus bagaimana agar Laras percaya kepadanya.


" Laras, kamu tau? Pamanku sekarang pergi kekota, dia sedang berusaha menghubungi orang tuaku, mereka akan swgera kesini dan melamarmu untuk ku."


Laras menatap Johan 'benarkah Mas Johan seserius itu'


"Sudahlah jangan menangis, aku akan selalu ada untukmu" Laras mengangguk setuju, Kini Laras percaya dengan Johan dia yakin Johan akan membuat Bapaknya merestui mereka.


" Kamu makannya, kamu terlihat sangat pucat." Laras menganggukkan kepala.


" Sebentar aku masakin telur ceplok mau." Laras tersenyum sedikit dan mengangguk.


Johan langsung menuju dapur dan membuat telur mata sapi, hanya itu yang bisa Johan masak. Setelah memasak telur Johan langsung menyajikan dengan nasi putih ala kadarnya.


"ini, makanlah"


" Terimakasih."


" Setelah makan aku antar kamu pulang kerumah mbak Saras."


Laras menganggukkan kepalanya. Nasi putih plus telor ceplok rasanya lebih enak dari pada masakan ibunya selama ini, bener kata orang kalo masak pake cinta itu rasanya nikmat sekali.


...****************...


Setelah sampai di depan rumah Saras, Johan dan Laras melihat Saras sedang berdiri mondar-mandir merasa cemas.


"Assallammualaikum." salam Johan

__ADS_1


" Laras." Saras langsung memeluk adiknya itu dia sedikit meneteskan air matanya. " Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang."


" Maaf mbak, tadi kan hujan jadi kami berteduh dulu."


" Tapi kamu nggak papa kan Laras."


Tanpa memjawab pertanyaan Saras, Johan segera berpamitan. "Mbak aku pamit dulu sudah malam"


Saras mengangguk dan kemudian mengajak Saras masuk kedalam.


" Mbak mu sangat mencemaskanmu dek" Kata Sigit saat melihat Laras masuk dalam rumah.


" maaf mbak, mas membuat kalian berdua cemas."


" Ya sudah kamu masuk gih dan istirahtlah."


Laras mengangguk dan langsung menuju kamar, disana dia baru bernafas lega lantaran sedari tadi dia merasakan sakit di bagian intimnya.


Didepan Johan pun dia merasa malu untuk bilang jika dia kesakitan. Namun tak lama kemudian Laras menangis mengingat kebodohan yang dia lakukan.


'Dosa ini akan aku bawa sampai mati'


...****************...


Laras sangat bingung apa yang akan terjadi dengannya kemudian, bagaimana takdir yang akan dia jalani nanti.


Akhirnya Laras memutuskan untuk berbicara kepada kakaknya. Pagi setelah Sigit berangkat kerja Laras memberanikan diri berbicara kepada kakaknya.


" Kenapa dek, kelihatan gelisah gitu, kamu sakit? tanya Saras melihat Laras yang gugup dsn berkeringat dingin.


" hmm. . . Laras mau yang ada diomongin mbak."


" mau ngomong apa? kok kayak penting ."


" aku mau jujur tapi mbak harus janji."


" jujur apa sih, kok kamu serius amat"


" Janji mbak."

__ADS_1


Laras menganggukkan kepala serius.


"Jadi gini mbak. . . "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


" APAAAA??!!!!"

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2