
Saras dengan yakin melangkahkan kakinya kerumah orang tuanya, setelah semalam dia gagal kesana karna pulang terlalu malam kini dia sudah berdiri di rumah orang tuanya.
Beda dengan kemaren kini pintu itu sudah terbuka lebar-lebar, mata Saras menyusuri pekarangan sederhana depan rumahnya, tidak ada sepeda bapak disana itu artinya bapak sudah berangkat kerja.
"Saras! ngapain kamu berdiri di situ." Suara panggilan ibunya membuyarkan pengintaian Saras.
"iya bu" Saras langsung menghampiri ibunya dan mengecup punggung tangan ibunya.
" Assallammualaikum,bu"
" wa'alaikumsallam." ibu Saras menyambut dengan hangat. "Ayok masuk, kamu ngapain di situ?"
" iya bu, Kemaren aku kesini tapi pintu terkunci rapat, namun aku melihat Laras dari cendela kamarnya, aku suruh buka pintu tapi katanya dia di kurung. Bener bu??" Tanya Saras langsung tanpa basa basi.
Mereka ibu dan anak sudah mulai duduk dikursi ruang tamu mereka.
Ibu menganggukkan kepala dan Saras melihat raut kesedihan di wajah ibunya.
" Kenapa bisa sampai seperti ini sih bu, kan kasian Laras. Kenapa ibu sama bapak tega seperti ini dengan Laras." Saras mengenggap tangan ibunya yang nampak sedih, namun Saras tetap ingin minta jawaban.
" Bapakmu ndak suka adikku jatuh hati dengan pemuda kota itu."
" Tapi kenapa? Johan itu anaknya baik bu"
Ibu Saras tetap tidak mau menjawab.
__ADS_1
" Apa bapak pernah kenal dengan Johan, atau secara tidak sengaja bertemu dengan Johan dan melihat sifat buruk Johan? " ibu menggelengkan kepala dengan spekulasi Saras
" Lantas apa bu?" Saras semakin penasaran namun kini air mata ibunya mulai menetes.
" Karna dia keponakan Aji."
Mendengar jawaban ibunya Saras masih tidak mengerti dan ibu Saras paham jika jawaban itu tidak mebuat Saras anaknya mengerti.
" Dulu kami, ibu, bapak, dan Aji adalah teman sekolah bahkan Aji dan bapakmu adalah sahabat. Mereka berdua sama-sama jatuh hati dengan ibu namun ibu lebih memilih bapakmu karna ibu memang sudah mencintai bapakmu."
" Aji merasa tidak terima dengan ibu sampai Aji sempat menculik ibu dan hampir memperkosa ibu, untungnya bapakmu datang tepat waktu dan menyelamatkan kehormatan ibu"
" Sejak saat itu, bapakmu sangat membenci Aji, apalagi saat kami melaporkan dia ke polisi dengan gampang dia bisa bebas dari penjara."
Jelas ibu Desi panjang lebar dengan bercucuran air mata mengingat masa lalunya yang kelam.
" Iya, karna nak Johan adalah keponakan Aji makanya bapakmu tidak setuju. Bapak hanya takut jika adikmu dipermainkan dan juga takut jika ini hanya cara Aji balas dendam ke bapak."
Saras mengelus punggung ibunya dia juga ikut meneteskan air mata, Kini Saras paham apa yang ditakutkan orang tuanya.
" buk, ibu jangan khawatir Johan mencintai Laras dari hati, sekarang dia sedang menjemput orang tuanya untuk meminang Laras. Dia tulus buk."
" Dari mana kamu yakin Saras."
" Itu dari keyakinan Saras dan mas Sigit." Saras bingung bagaimana cara dia menjelaskan kepada ibunya.
__ADS_1
" Begini saja bu, mari kita berusaha mengulur waktu agar perjodohan Laras tidak terjadi sambil menunggu Johan kembali." usul Saras.
" kamu yakin dengan pemuda itu?"
" iya bu,"
" Baiklah ibu akan mencoba, namun jika sudah tidak bisa menahan keinginan bapakmu ibu angkat tangan."
Laras tersenyum mendapat dukungan dari ibunya untuk kebahagiaan adiknya.
' kamu akan bahagia dek, sama seperti mbak'
" oh ya bu, aku ada kabar lain yang ingin disampaikan"
" Apa nduk?"
" Ibu akan segera menjadi nenek."
Senyum Ibu Saras mengembang seakan tak percaya apa yang dia dengar.
" Benarkah?"
" iya bu"
" Syukurlah kamu harus menjaga kandunganmu dengan hati-hati jangab sampai kamu kecapekan dan banyak pikiran."
__ADS_1
" iya bu."
...BERSAMBUNG...