
"Hallo" Johan mengangkat telepon-nya yang berdering
" Johan, kapan kamu akan pulang?" tanya papa Johan dari sebrang telepon.
" Satu minggu lagi, Johan bebas tugas pa. Ada apa?"
" Begini pamanmu sepertinya sakit keras, kemaren dia telepon papa minta dijemput. Papa mau minta tolong sama kamu temenin papa jemput paman."
" Ok pa, nanti Johan temenin papa."
"Baiklah"
Setelah menutup teleponnya, jari Johan mencari nama kontak lain yang ada di HP nya. *BIDADARIKU* setelah menemukan kontak yang bertuliskan bidadariku Johan langsung menelpon.
" Assallammualaikum" Jawab perempuan disebrang telepon yang tak lain adalah Rossa.
" Wa'alaikumsallam" Johan Johan. " Ros, sepertinya aku pulangnya di undur sedikit."
" Kenapa?"
" Papa minta temenin kerumah paman, katanya sedang sakit dan mint dijemput tinggal bareng sama papa, kasian pamanku dia sendirian tidak punya keluarga."
" Pergilah mas, temanilah papa kasian paman kamu."
" He.em, lagian kalo dipikir-pikir nanti kalo aku pulang dulu malah aku malas nganter papa karena pingin berdua aja sama kamu." Gombal Johan.
__ADS_1
"Udahlah mas jangan kek gitu, kasian papa. Nanti kalo pas kamu pulang kita bulan madu lagi."
" Siap Komandan" Seru Johan semangat.
Setelah itu mereka menutup sambungan telepon. Rossa tersenyum sendiri mengingat obrolannua dengan Johan.
***
" Paa. . ." Johan berseru ketika melihat papanya yang berada diluar pelabuhan kantornya. Terlihat papa Johan tersenyum lebar.
Tanpa buang waktu Johan langsung menghampiri papanya. " Biar Johan saja yang mengemudi." Katanya setelah itu dia menerima kunci mobil dari papanya.
Johan langsung menyusul papanya masuk kedalam mobil setelah menaruh semua barangnya ke bagasi mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang,menyusuri jalanan kota,perjalanan cukup memakan waktu hingga pemandangana diluar mobilpun berganti dengan pemandangan yang Asri.
Johan melewati pasar dimana dia dulu sering bertemu dengan Laras, kenangan itu sekelibat datang kembali. Johan menepis bayangan itu jauh-jauh,berhasil memang namun kenangan - kenangan lain pun tiba-tiba muncul kembali saat dia melewati beberapa tempat yang menyimpan beberapa kenangan.
" Astafirullah." Johan beristifar.
" Kenapa?" tanya papa Johan.
" Tidak ada pa."
" Kita berhenti di musholah depan, kita sholat dulu."
__ADS_1
" ok"
Mobil Johan yang mewah cukup mengundang perhatian warga sekitar. Johan dan papanya merasa risih sebenarnya menjadi tontonan begitu banyak orang.
Namun ada satu orang lelaki yang menatap Johan dengan pandangan tidak asing. Pandangan itu tiba-tiba berubah menjadi seuatu amarah, kebencian dan juga tatapan ingin membunuh.
Saat Johan dan papanya hendak memasuki area masjid tiba - tiba orang itu mendekat dan.
'BUG. . .BUG. .. BUG. . .'
Beberapa bogem mentah pun mendarat di wajah Johan. Johan yang tak siap pun kalah telak dan juga orang itu menambahi beberapa pukulan di bagian tubuh johan yang lain.
Papa Johan yang kaget pun langsung mencoba menghentikan pria itu namun usahanya sedikit sia-sia. Johan mencoba menyeimbangkan badan dan membalas pukulan-pukulan pria itu. Mereka saling membalas.
Adegan tersebut menjadi tontonan gratis bagi warga,semua warga juga terheran melihat pria yang tak lain adalah Sigit itu tiba-tiba menjadi marah seperti itu.
" Apa salahku hingga kau menyerangku?" Johan mencoba bertanya saat Sigit mulai lengah. Johan memang sudah lupa dengan sikit.
" Kau bajingan, dengan mudahnya kau melupakan aku."
" Apa salah anaku?" Papa Johan memcoba bertanya.
" Tanyakan padanya seberapa bajingannya dia?"
"Sigit" Ucap Johan saat dia berusaha mengenali Sigit.
__ADS_1
Setelah sedikit berunding akhirnya mereka memutuskan mengobrol didalam masjid, agar tidak semakin menjadi tontonan warga.
BERSAMBUNG