
Hari ini Rudi ingin mempertemukan Laras dan Hasan anak pak lurah. Rudi sudah membuat janji dua hari yang lalu.
" Laras . . ." Panggilnya.
" iya pak" Jawab Laras dan langsung menghampiri bapaknya yang sedang duduk santai bersama ibunya.
"Kamu nanti Sore siap-siap ya nduk, bapak mau ajak kamu ketemu teman bapak."
"Haruskah Laras ikut pak."
" Laras kamu kenapa nduk?" Tanya Desi melihat putrinya pucat." Kamu sakit?" Desi langsung berdiri mengecek suhu di tubuhnya.
" Laras gak pa pa kok bu"
" gak papa gimana? ini lho kamu demam."
" Laras kekamar dulu ya bu, mau istirahat."
Laras beranjak kembali masuk kedalam kamarnya. " Laras jangan lupa nanti sore" Seru bapaknya dan Laras hanya berhenti sejenak lalu melanjutkan langkahnya.
" Pak, Laras mau diajak kemana?" Tanya Desi yang masih belum tau rencana suaminya.
" Kerumah pak Lurah buk, meneruskan perjodohan yang kemaren bapak ceritakan."
" Lho pak, jadi toh?"
__ADS_1
" Ya jadi lah buk."
"Pak, sebaiknya bapak batalkan perjodohannya."
"Gimana toh buk, ya ndak bisa kayak gitu."
" Masalahnya keponakan si Aji kan sudah tidak disini, biarkan Laras menentukan pendamping hidupnya sama seperti Saras, menentukan jalannya sendiri."
Rudi diam sejenak, memikirkan ucapan istrinya. Dia merasa ucapan Desi ada benarnya namun dia sudah berjanji dengan Hasan, bagaimana dia bisa mengingkarinya? pasti pak lurah akan marah besar.
"Pak. . .Pak. . ." panggil Desi mencoba membuyarkan lamunan suaminya. " Jangan terlalu dipikir, coba nanti kita langsung bicarakan dengan pak Lurah. paling tidak biarkan mereka saling mengenal." Lanjutnya setelah Rudi kembali menyimaknya.
...****************...
Aji menerima surat yang kemaren dimirim oleh Johan, Surat itu memang ditujuhkan kerumah Aji namun jelas nama sang pemilik surat tersebut. Untuk Laras dari Johan.
" Assallammualikum." Aji buru buru melipat kertas itu setelah mendengar salam yang berasal dari ambang pintu rumahnya.
"wa'alaikumsallam." Jawabnya sedikit terkejut melihat siapa tamunya, ya Saras memberanikan diri kerumah Aji berniat meminta alamat Johan.
" maaf paman" Ucap Saras sambil tersenyum.
"Saras, ada angin apa kamu kerumah paman? masuklah." Saras lansung masuk dan duduk disalah satu kursi diruang tamu Aji.
"Begini paman" Saras menarik nafas sebelum kembali melanjutkan ucapannya."Boleh saya minta alamat Johan paman?"
__ADS_1
Aji menyipitkan matanya mendengar ucapan Saras. " untuk?"
"Saya ada yang mau disampaikan ke Johan."
" Bilang saja ke paman, nanti biar paman sampaikan."
" maaf paman, ini harus langsung kepada Johan."
" Masalahnya paman sudah lama tidak kerumah Johan, sudah berpuluh-puluh tahun jadi paman lupa."
" Mungkin saya boleh minta nomer telepon Johan?"
" paman tidak punya Saras."
Saras diam, dia terlihat sangat kecewa dan senyum yang tadi dia paksakan kini sudah hilang. Dan Aji bisa menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan ekspresi itu.
" Baiklah paman, Saya pamit pulang "
Aji melihat kepergian Saras dari belakang kemudian dia mengeluarkan surat itu dari saku celananya.
"aku harus tau apa yang disembunyikan Saras,sementara surat ini akan aku simpan."
Aji akhirnya menyembunyikan surat itu tanpa memberikannya kepada sang pemiliknya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
HAY READERS, JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR YA, TINGGALKAN JEJAL KALIAN DAN JANGAN LUPA VOTE, LIKE DAN COMENTAR KALIAN AUTHOR TUNGGU YA.
TERIMAKASIH