Masa Lalu

Masa Lalu
Jihat


__ADS_3

Aji terkejut melihat Johan pulang dengan acak-acakan, wajah babak belur dan lagi air mata menghiasi pipi Johan.


" Kamu kenapa?"


Bukannya menjawab Johan malah semakin menangis.


" kamu kenapa? kenapa babak belur begini? Jawab Johan kamu itu lelaki jangan cengeng" Aji sangat geram dengan keponakannya yang terus bungkam


" Aku mencintai Laras paman sangat mencintainya."


" siapa yang membuat kamu seperti ini?"


"ini adalah hukumanku paman"


" Apa maksudmu?" Aji semakin tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Johan.


" aku akan segera pulang paman, aku akan bicara dengan orang tuaku agar mereka mau melamar Laras."


'Sebenarnya apa yang terjadi sampai Johan seperti ini,kalo saja Laras bukan anak Heri pasti aku akan mambantumu'


Aji melihat Johan yang penuh lebam sebelum dia pergi kekamarnya. Sementara Johan terlihat masih memikirkan sesuatu.


...****************...


tok. . . tok. . .tok. . .


Terdengar Suara dicendela kamar Laras, dengan malas Laras membuka cendelanya dan yang benar saja mata Laras yabg sembab terbelabak setelah melihat Johan di luar cendela.


" Apa yang kamu lakukan disini?"


" Aku merindukanmu."


" muka kamu kenapa?" Laras memperhatikan wajah Johan yang sudah babak belur.


" tidak apa-apa aku hanya kepentok tembok" kilah Johan dengan tersenyum.


"Kamu apa kabar? kamu habis menangis?" Lanjut Johan dengan khawatir.


" Bapak sungguh ingin menjodohkan aku."


Johan sungguh terluka mendengar ucapan Laras. Dia tidak ingin kehilangan Laras,entah apa yang membuat dia cinta mati seperti ini.


"kamu jangan khawatir ya"


"orang tua mas akan segera kesini?" tanya Laras

__ADS_1


Johan menggelengkan kepalanya " Kata paman, aku harus pulang dulu sebelum orang tua ku melamar kamu, itu yang disampaikan Ayah ku" jelas Johan dengan sangat menyesal.


" Aku percaya padamu mas, pulanglah dan bawa orang tua mu kesini."


"Aku tidak bisa meninggalkanmu Laras, aku akan mengajak serta dirimu"


" Lantas, apa kau akan membawaku kabur dari sini? tanpa ijin orang tuaku? aku tidak mau."


" tidak-tidak" Johan buru-buru menyangkal


"Aku akan pulang tapi tidak sekarang, aku masih mau dekat denganmu"


" Terserahmu mas" Raut kecewa terlihat diwajah Laras dia takut jikalau semua terlambat dan bapaknya keburu menjodohkan dia.


" Kamu tau? Tadi pas aku kesini deg-degan. Takut salah kamar tapi untungnya itu tidak terjadi" Johan mencoba mengalihkan kesedihan Laras namun itu tidak berhasil, Laras masih murung.


" Kamu tenang ya, aku akan menikahi kamu." Kata Johan menyakinkan.


" LARAAAAS..." Suara Bapak Laras menggema memanggilnya.


Johan kalang kabut begitu juga Laras, segera Laras menutup cendela meski Johan belum pergi dari sana.


" Sedang apa kamu?" Tanya Rudi dengan penuh curiga lantaran melihat Laras yang begitu kebingungan di dekat cendela.


Heri mendekat lantaran curiga dengan celagat putrinya yang begitu kebingungan.


" bapak!"


Heri clingukan memcari sosok kucing yang di bilang Laras. " Kamu kenapa? masak kucing saja kamu sampai seperti itu."


Laras lega lantaran Johan sudah pergi dari situ.


" Bukan begitu pak, takut kucingnya masuk." kilah Laras.


" Bapak tunggu di luar ayok makan, jangan sekali-kali kamu mogok makan di depan Bapak."


" iya pak"


Rudi langsung pergi meninggalkan kamar Laras sementara Laras membuka cendela memastikan kembali jika Johan sudah benar-benar pergi.


...****************...


" Dek," panggil Sigit.


"Hmm"

__ADS_1


" Ayok kita jihat"


Saras mengerutkan Alisnya mendengar ucapan suaminya. Pikiran Laras jadi curiga dengan suaminya jangan-jangan dia terseret ke aliran agama sesat.


" Jihat?"


Sigit menganggukan kepala dengan senyum yang sangat lebar dan merekah.


" Mas ndak lagi ngomongin Jihat yang pake bom bunuh diri kan?" Saras mulai menyelidik.


"Haa..." Sigit melongo dan syok mendengar respon Saras.


hahahhahahahahhahahahahha


Tawa renyah keluar dari mulut Sigit beberapa saat kemudian, bagaimana tidak?Sigit tidak menyangka jika istrinya akan berfikir kearah sana. Memang siapa yang mau bunuh diri orang es teh aja masih sueger kok.


" Kok ketawa sih mas?"


"sini deh, aku jelasin" Sigit menarik tangan Saras agar duduk diranjang tepat di depannya.


" Tadi di kantor aku ada ceramah dadakan. Dan kebetulan temanya keharmonisan rumah tangga. Disitu di jelaskan jika suami dan istri senantiasa melakukan sunnah rosul maka itu artinya kita sudah membunuh seribu orang kafir." jelas Sigit.


" Haaa masak iya kayak gitu,pahala banyak dong mas"


" Nah maka dari itu ayok kita cari pahala yang banyak itu."


Sigit tersenyum nyengir sementara Saras menyadari keganjenan suaminya itu.


" idiih, si mas madus ini, coba Saras mau dengar lagi apa aja ceramahnya?"


Sigit mulai menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali dengan memamerkan giginya. " Mas ingetnya itu doang si dek."


" Tuh kan modus."


" Ayok ya ayok" rengek Sigit.


Saras kemudian tersenyum melihat tingkah konyol suaminya. Sigit yang merasa diberi lampu hijau langsunh memeluk Saras erat dan menciuk bibir Saras, semakin lama semakin dalam dan menuntut, tangan Sigit hendak membuka kancing daster yang dipakai Saras namun. . .


Dok...dok...dok...


Suara gedoran pintu membuat aktifitas mereka terhenti dan Sigit sangat kesal sekali.


" Duuhhh. . . siapa sih?"


" Bukain dulu mas, siapa yang bertamu malam-malam seperti ini? pasti ini penting" Ucap Saras

__ADS_1


" Sudahlah bukain, nantu kita lanjut."


Dengan berat hati Sigit melangkah keluar kamar sambil menggerutu.


__ADS_2