
Aji dibantu dengan adiknya memasuki kamar yang sudah disediakan oleh mama Johan. " Mas . . . Mas. . . Kok ya ndak bilang kalo kamu sakit begini." Ucap mama Johan kepada Aji.
" Sudah biarkan dia istirahat."
" ya sudah, saya keluar dulu ya mas, nanti kalo perlu apa jangan sungkan panggil saya."
Papa Johan menganggandeng istrinya ke ruang tamu. " Ada hal yang harus aku ceritakan kepadamu."
" Apa ada sesuatu yang serius? Mas Aji sakit parah?"
"Bukan tentang penyakiy Mas Aji, namun tentang kebodohannya."
" Kebodohan! Maksud papa?"
" Jadi begini. . ."
Papa Johan menceritakan semua kronologi kejadian waktu dia menjemput Aji.
" Jadi kita punya cucu lagi?"
"Iya, dia sangat ganteng seperti papa" Ucap papa Johan dengan PD nya.
" Mama tidak menyangka pa, jika mas Aji sekejam itu, Kalo ingat Johan dulu dia sampek menderita seperti itu."
" Yang lebih kasihan ya mantan calon mantu kita ma, hidupnya sengsara."
" Lantas, kita harus bagaimana sekarang?"
" Johan ingin menikahi wanita itu, namun wanita itu tidak mau."
__ADS_1
" Kenapa?"
" Karena Johan sudah menikah, dan Dia tidak mau me jadi perusak rumah tangga orang."
" Dia wanita yang baik pa, kasihan dia."
" Mama benar,"
" Oh ya pa, bagaimana kalo cucu kita bawa kesini aja, tinggal dengan kita. Biar kita nggak kesepian." Usul mama Johan.
" Assallammualaikum. . . " Suara Johan mengalihkan pandangan mereka.
" Lho Johan kok kamu ada disini?" tanya papanya.
" Kamu kenapa Johan? Kenapa wajahmu sedih begitu." tanya mamanya cemas.
Johan langsung menghampiri mamanya dan memeluknya, rasanya begitu nyaman. Johan hanya diam tanpa berucap. Mama Johan mengelus rambut anakknya dengan perlahan.
" Joha sudah cerita semua ke Rossa, dan Johan meminta ijin untuk menikahi Laras, namun Rossa malah syok dan pingsan, setelah dia sadar,Rossa malah marah-marah dan tida setuju."
" Rossa menangis dan kecewa padaku."
Sejenak terasa hening dan sepi, tak ada yang bersuara diantara mereka.
"Menurut mama apa aku harus membiarkan Laras begitu saja?" Tanya Johan
" Tidak ada yang salah disini, kamu dan Laras itu juga sama - sama salah paham selama ini. Namun sekarang ada Rossa yang selama ini mendampingimu."
" Lantas aku biarkan Laras begitu saja, Chadi anakku akan tetap tumbuh tanpa seorang ayah? Apa itu jauh lebih baik ma? Apa aku bisa tenang jika seperti itu."
__ADS_1
Mama dan papa Johan diam, mereka juga bingung harus bagaimana.
***
Rossa masih menangis, dia mengambil wudhu dan melaksanakan sholat istikhoroh memohon petunjuk kepada ALLAH SWT.
Setelah sholat Rossa sedikit lebih tenang, kemudian dia mengingat kembali apa yang diceritakan Johan kepadanya. Rossa mulai membayangkan apa yang dialami oleh perempuan yang ceritakan Johan.
Rossa menangis kembali.' Aku belum tentu kuat dan tegar jika aku menjadi wanita itu, namun jika mas Johan ingin menikah lagi aku tidak bisa, aku tidak rela dimadu.'
Rossa bergelut dengan pemikiram dia sendiri, semalamam dia tidak bisa tidur. Hingga waktu subuh tiba Rossa kembali melaksanakan sholat wajib tersebut. Setelah itu mulai memyiapakan sarapan untuk anak-anaknya sebelum berangkat sekolah.
* mama kenapa?" tanya Putra anak pertamanya.
" Mama hanya kecapekan saja Put," Jawabnya lemas.
" Mama . . . Mama. . . Papa mana? Katanya kemaren pulang?" Tanya Putri anak keduanya dengan riang.
" Papa kalian tidak jadi pulang, ada kerjaan tambahan." Bohong Rossa.
" Yahh. . . Batal dong rencana jalan-jalan" Keluh Putra
"Tin. . .Tin. . ."
Suara klakson mobil terdengar nyaring.
" Mobil jemputan kalian sudah datang, sekarang kalian cepat pergi kesekolah yang rajin ya."
Setelah mencium punggung tangan Rossa, mereka segera berlari, Putra anak Rossa kini berusian 9 tahun dan masih duduk di bangku kelas 3, sementara Putri anak ke dua nya berusia 7tahun masih kelas 1 sekolah dasar.
__ADS_1
Setelah kepergian anak-anaknya Rossa menghela nafas kasar. Duduk sofa dan kembali berfikir hingga dia ketiduran dan terlelap.