
" APAAA??!!"
Saras membelabakkan matanya terkaget dengan cerita adeknya itu,Saras tak habis pikir kenapa Laras sampai lupa diri dan berani berbuat seperti itu.
" Kalian sudah kelewat batas Laras." Marah Saras
" Kami khilaf mbak." Laras menundukkan kepalanya bersama air mata yang jatuh.
"Kalian itu baru kenal, dan juga yang pentinh kalian belum menikah kenapa bisa melakukan hubungan haram seperti itu?"
"Maaf mbak."
"Mbak aja dulu walaupun pacaran sama masmu Sigit selama 4 tahun, jangankan berbuat seperti itu untuk ciuman saja mbak ndak berani"
"Sungguh mbak nggak menyangka dengan kelakuanmu dek." Lanjut Saras yang kini ikut menangis"
"Maaf mbak."
"Jangan minta maaf sama mbak dek, Bapak yang akan menanggung dosa anak perempuannya sebelum dia menikah. Minta ampunan sama Allah dek."
" Dan lagi, Kini mbak mengerti kenapa bapak tidak suka dengan Johan."
Saras meninggalkan Laras sendiri, Saras mengunci pintu kamarnya dia menangis dengan kebodohan adeknya itu.
...****************...
Sementara Johan yang baru terbangun dari tidurnya merasa tersentak lantaran matahari sudah tinggi menyinari bumi. Sholat subuhpun tidak mungki.
" Sudah bangun rupanya" ucap Aji saat memasuki kamar Johan.
" aku kok ndak dibangunin sholat subuh paman."
" Enggak dibagunin gimana? Berulang kali paman mencoba membangunkanmu namub kau sama sekali tidak bergerak. Seperti orang mati. untung paman lihat kamu masih bernafas."
" Paman ini ada-ada aja."
__ADS_1
" Sudah sana, mandi trus sarapan paman tunggu didepan."
"iya paman."
Tak butuh waktu yang lama, lima belas menit telah berlalu dan kini Johan dan pamannya berada di meja makan bersama..
" Paman pulang jam berapa semalam kok aku tidak tau?" Tanya Johan sembari menyantap makanannya.
" Paman memang pulang larut karena paman ada urusan juga."
" oh ya paman, gimana kata papa sama papa?"
" mereka tidak bilang apa-apa, hanya titip pesan jika kau disuruh pulang dulu sebelum kembali bertugas"
Johan melongo,ini tidak seperti bayangannya yang dimana orang tuanya akan dengan senang hati datang dan melamar Laras.
" Tapi kenapa paman?"
" Paman juga tidak tau, yang jelas paman sudah menyampai apa yang kamu inginkan."
Johan terdiam, kecewa iya cuman harus bagaimana? hanya kurang dari satu setengah bulan dia harus pergi dari sini. Dan Johan tidak bisa membayangkan jika dia harus pergi tanpa Laras.
Johan jadi membayangkan sesuatu, bagaimana jika dia pergi meninggalkan Laras dan Laras menjadi seperti dia.Bagaimana jika Laras menjadi gila. Johan membayangkan sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya, berharap agar itu tidak terjadi.
' Tidak aku tidak akan meninggalkan Laras dan aku tidak mau Laras menjadi seperti itu'
...****************...
'MALAM HARI'
"Assallammualaikum" Seru Johab mengucap salam dirumah Saras.
' PLAAK'
Bukan jawaban salam yang di terima Johan melainkan tamparan yang di berikan oleh Sigit. Ya, Sigit sudah tau semuanya karena Saras sudah memberi taunya.
__ADS_1
"Kenapa kau tiba-tiba menamparku?" Kata Johan bingung.
" Bukan tanpa alasan aku menamparmu, Kau sudah menodai Laras, kau benar-benar laki laki bajing*n"
"Aku rasa menamparmu saja tidak akan bisa menebus dosa yang telah kau lakukan."
" Tunggu senentar Git," Johan mencoba menenangkan Sigit " Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahi Laras" Lanjutnya.
" Omong kosong"
'BUK ... BUK..BUK...'
Beberapa tinjuan melayang ke wajah Johan, Sigit benar-benar marah, Saras yang memdengar suara ribut langsung keluar dan menghentikan suaminya itu.
"Sudah mas, sudah."
" Mbak." Ucap Johan dengan merintih kesakitan, Saras hanya memandang yang penuh luka di wajahnya.
" Pergi kamu!" Usir Saras.
" Laras mana mbak?"
" Laras sudah aku antar pulang kerumah Bapak, aku menyesal telah membantunya untuk bertemu dengan mu, kau lelaki bajing*n"
" percayalah mbak aku akan tanggung jawab"
" Pergi kamu."
Johan pergi karna dia tidak mau menimbulkan keributan yang mengundang banyak orang sebagai penonton
...**BERSAMBUNG...
...Jangan lupa like ya. . ....
...comentar...
__ADS_1
...dan pasti dukungan kalian sangat bearti buatku...
...♥️♥️♥️**...