
***POV JOHAN***
Setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya sampai juga di kota ini. Aku menghentikan mobilku tepat di depan rumah paman.
Putra dan Putri langsung turun dengan semangat." Jadi ini rumah kaka Putra pa?" tanya Putra setelah turun dari mobil.
" Bukan sayang, ini rumah kakaknya kakek."
" Ndak paham pa."
"Masuk dulu ya." Aku membukakan pintu untuk mereka. Menunjukkan kamar yang akan mereka tempati selama beberapa hari.
" Putra putri, sementara kakian tidur disini ya."
" Kenapa tempat tidurnya seperti itu pa, jelek." Keluh Putra, sementara Putri masa bodo akan hal itu.
" Putra, jangan ngomong kayak gitu.belajar menerima apa yang ada, syukuri." Sela Rossa yang.
" Dengarkan mamamu sayang, sekarang kalian mandi."
Rossa dan Aku pergi kekamar yang dulu ditempati oleh Aji. Kami membereskan barang-barang yang kami bawa, walaupun itu tak banyak.
"Mas, rumah Laras jauh kah dari sini?" Tanya Laras.
"hmm. . . Sekitar 15 menit kalo jalan kaki." Jawabku mengira-ngira.
" Rencana kapan kita kesana?"
" Aku pinginnya sekarang kita kesana, lebih cepat lebih baik Rossa"
" Mas, maaf ya. kalo besok saja bagaimana? Aku capek mas, kasihan anak-anak juga."
Melihat Rossa aku kasihan juga, aku tak mau egois dengan keinginanku
__ADS_1
" Baiklah, Tapi aku boleh langsung kesana kan?" Tanyaku mencoba berunding.
" Iya mas boleh,"
Aku senang sekali memdengar jawaban Rossa, ya ALLAH terimakasih karena engkau telah memberi hamba istri yang pengertian seperti Rossa.
Setelah istirahat sejenak Johan pergi kerumah Laras dengan berjalan kaki tentunya.
" Assallammualaikum" Aku melantangkan suara agar orang yang didalam keluar.
" Wa'alaikumsallam. . . " Ternyata bapaknya Laras yang keluar, tidak seperti dahulu kini aku dipersilahkan masuk bahkan bapak Laras sekarang ramah kepadaku.
" Nak Johan silahkan masuk."
" Laras ada pak?"
" Masih belum pulang dari masjid bersama anak-anak."
" Saya tunggu diluar saja pak."
" Kapan kamu tiba?" tanyanya kepadaku
" Tadi Sore pak," Jawabku. " Saya kesini bersama istri dan anak-anak saya pak, say serius ingin menikahi Laras dan menebus semuanya." Lanjutku, ku Lihat wajah bapaknya Laras nampak terkejut.
" Jangan kau rusak rumah tanggamu sendiri demi memperbaiki sesuatu yang sudah rusak. Aku dan Laras serta keluarga sudah memaafkanmu, begitu juga baoam meminta maaf atas sikap bapak dahulu."
Dari ucapan bapak Laras nampaknya beliau belum yakin dengan niatku. ditengah obrolanku tiba-tiba terdengar suara yang aesikit ribut, ternyata itubadalah Chadi yang sedang berlark bersama sepupunya Sasi.
Setelah melihatku nampaknya Chadi sangat terkejut melihatku disini. Namun bebrapa detik kemudian dia dan Sasi mencium tanganku dan kakeknya bergantian.
" Mana Bunda mu Chadi? " Tanya bapak Laras.
" Bunda Laras sedang. . ."
__ADS_1
" Bunda masih dibelakang pak." Sela Chadi seolah memotong pembicaraan Sasi.
" Ayah kapan kesini?" tanyanya.
" Barusan nyampek."
" Chadi kedalam dulu ya, Assalkammualaikum" Chadi lamgsung mengintruksi Sasi untuk ikut bersamanya.
Memamg dasar anak itu tingkahnya sok kayak orang besar.
Akhirnya akundan bapak Laras mengobrol lagi sampai akhirnya aku melihat kedatangan Laras. Mataku tertuju kepadanya dan sialnya dia berjalan dengan seorang pria yang tidak aku kenal.
Melihat Laras berjalan beriringan dengan pria lain rasanya darahku mendidih, siapa dia, kenapa dia biaa bersama Laras.
Aku mulai berdiri dari tempar dudukku, memandang lebih dengan sorotan mataku yang penuh emosi.
LAARAAS!!!" Suaraku yang keras membuat Laras terkejut dan menghentikan langkah keduanya.
Aku melihat wajah Laras yang awalnya tenang berubah menjadi ketakutan. Aku sungguh tak bisa melihat dia berdampingan seperti itu dengan pria lain. Tidak akan aku biarkan pria lain menjadi pendamping Laras.
" MASUK!!" Bentak ku, Aku sudah lupa diri bahkan aku lupa keberadaan Bapak Laras.
Langkah Laras seolah meuruti ucapanku, namun tiba-tiba tangan Laras dipegangi oleh pria sialan itu.
Apa yang dia bisikan ditelinga Laras hingga Laras tidak jadi menuruti ucapanku.
Aku sudah tidak sabar, akhirnya aku mengampiri mereka dan melepaskan tangan Laras dari genggaman pria itu kemudian ku layangkan bogem mentah dipipinya sebagai peritungan karena telah kurang ajar telah memegang tangan Laras.
Tak puas rasanya jika hanya hanya sekali memukulnya, tangan ku bergerak sesuai emosiku aku menghujaninya ,
" JOHAN HENTIKAN!!!" Suara lantang itu langsung menyadarkanku.
Sigit berteriak kepadaku, dan aku baru sadar melihat sekeliling. Laras menangis ketakutan dalam pelukan Saras. Sementara Chadi anakku dia memutup mata Sasi agar anak kecil tidak melihat kejadian ini. Bapak Laras hanya diam memaatung.
__ADS_1
Sigit menghampiriku dengan marah, Dia membantu pria brengsek itu dan membawanya kedalam rumah. Sementara aku masih mengatur nafasku untuk sekedar memyadarkan diriku, meleram batinku agar aku bisa mengontrol emosi.
Sebelum masuk kedalam rumah Laras, aku menyesali apa yang aku lakukan, pikiranku beradu bagaimana jika pria itu masih saudara Laras atau kerabat dari salah sati keluarganya. Bodoh! Aku menyumpahi diriku sendiri