
Didalam masjid mereka bertiga duduk saling berhadapan namun sedikit jauh jaraknya satu sama lain. Wajah Johan dan Sigit sama- sama penuh lebam
" Dasar bajingan" Gerutu Sigit keras agar bisa didengar oleh Johan.
"Kenapa anda menyebut anakku Johan sebagai bajingan?apa salah dia?" tanya papa Johan tidak terima.
" Karena dia keluarga saya hancur berantakan, masa depan adik saya sirnah."
Johan tak mengerti ucapan Sigit. " Apa maksudmu, aku tidak mengerti." tanua Johan
" Kau pura-pura bodoh ternyata."
" Jelaskan biarkan kami paham kenapa anda bisa semarah ini?" ucap papa Johan penasaran
" Apa kau juga sudah melupakan Laras?" tanya Sigit dengan sinis.
" Laras." Johan menyebut nama Laras, bohong jika dibilang Johan lupa dengan Laras namun Laras hanyalah seseorang yang pernah ada dihatinya dahulu, tidak sekarang karena sekarang dia memiliki Rossa.
" Iya, Laras. Karena kau adikku menderita dan masa depannya hancur?"
" Aku tidak mengerti ucapanmu Sigit."
" Ceritakan kepada apa yang diperbuat Johan hingga membuat adik anda hancur?
" Kau menghamili Laras kemudian memberikan janji paslu untuk kembali namun kau tidak pernah kembali, meninggalkannya" Jawab Sigit singkat namun dengan nada menahan emosi.
"APA?? LARAS HAMIL ANAKKU??" Johan sungguh terkejut.
" Jangan pura-pura bodoh bajingan"
" Aku benar-benar belum bisa menangkap ucapanmu Sigit." Johan diam kemudian dia memcoba berfikir sesuatu.
" Yah! Aku ingat aku dan Laras memang pernah melakukannya karena kami khilaf waktu itu."
" Dan karena khilaf kamu tidak mau bertanggung jawab!!" Bentak sigit.
__ADS_1
" Sepertinya kamu salah paham Sigit, bukankah Laras sudah menikah." Johan heran
Sigit mulai menceritakan semua kejadian yang dialami Laras sejak Laras ditinggal Johan dan kemudian hamil, hingga disiksa oleh Warsito dan ibunya jatuh sakit dan meninggal. Sigit juga menceritakan bagaimana pahitnya hidup Laras dalam membesarkan anaknya seorang diri namun dia masih mencoba kuat dan tabah.
Johan mendengar cerita Laras yang sangat menyedihakan itu gemetar seluruh tubuh, badannya panas dingin membayangkan apa yang dialami oleh Laras, sungguh mengerikan.
Papa Johanpun ikut menitihkan air mata mendengar kisah Laras. " Bagaimana keadaan Laras saat ini?" Tanya papa Johan.
" Laras menjalani hidupnya dengan menjadi guru ngaji,dan membesarkan anaknya."
"Sigit. . . Sungguh aku tidak tau kalo Laras hamil anakku. Waktu itu aku benar-benar mengajak orang tuaku kesini untuk menikahi Laras, namun saat kami sampai disini Laras sedang melangsungkan pernikahannya."
" Aku kecewa saat itu, aku sudah menepati janjiku tapi Laras malah memilih menikah dengan orang kaya yang ada disini."
"Karena kau tidak kunjung datang dan mengilang tanpa kabar" Bentak Sigit
" Aku sudah mengirim surat waktu itu," Kilah Johan
" Johan benar, saya dan istri saya memang datang kesini untul meminang Laras namun, namun kami kembali dengan tangan kosong" Jelas papa Johan
" Dan kau bahagia Johan, adikku menderita."
"Aku sungguh tidak tau Sigit, waktu itu aku pikir setelah menerima suratku Laras akan menungguku namun saat aku kembali dia malaj sudah menikah dengan orang lain, aku hancur."
" Laras tidak pernah sekalipun menerima suratmu."
"Sungguh aku mengirimi dia surat untuk menungguku."
" Jadi selama ini kami salah paham terhadapmu Johan, aku benar- benar berfikir kamu bajingan."
" Dan aku juga membenci Laras karena dia telah menyakitiku."
" Bawa kami ketempat Laras nak Sigit, aku ingin bertemu dengan wanita itu?" Ucap Papa Johan.
Kini salah paham antara Sigit dan Johan sudah berakhir dan Sigit sudah memahami apa yang terjadi antara Johan dan Laras.
__ADS_1
" Sebentar lagi Laras akan kesini."
" Apa kau sudah memberitau dia jika kita disini?" Ucap Johan dengan mata berkaca-kaca.
" Tidak, untuk apa aku membuka masa lalunya yang begitu mengerikan. Aku hanya ingin membuat perhitungan denganmu."
" Sudah aku katakan, aku tidak seperti yang kau pikirkan. Semua ini hanya kesalahpahaman yang berujung fatal."
"Sebaiknya kalian bersembunyi dulu, aku tidak mau Laras syok dan terkejut melihat kalian apa lagi Johan."
"Baiklah"
Johan dan papanya kembali masuk kedalam mobil, dikuti dengan Sigit tentunya. Mereka menunggu kedatangan Saras karena hari sudah menjelang sore waktunya Laras mengajar anak-anak mengaji.
Tak beselang lama terlihat sosok wanita sederhana dengan menggandeng sorang anak laki-laki dan juga anak perempuan yang tak lain adalah Chadi dan Sasi.
" Laras, dia tidak berubah sama sekali masih terlihat manis" ucap Johan.
" Apa dia melahirkan anak kembar?" tanya papa Johan.
" Tidak, yang perempuan itu anakku, dan yang laki-laki anak Laras."
Johan langsung mengalihkan pandangannya kesosok anak lelaki yang bersama Laras.
Anak lelaki yang tinggi dengan kulit putih dan juga berwajah dewasa diumurnya sekarang. "Anakku" Lirihnya.
Joha membuka pintu mobilnga hendak keluar namun ditahan oleh Sigit. " Jangan kamu hampiri mereka sekarang." Johan mengurungkan niatnya da kembali menutup pintu mobilnya yang baru terbuka sedikit.
" Bunda ada mobil bagus." Ucap Sasi kepada Laras sambil menunjuk kearah mobil.
"Jangan asal tunjuk Sasi, nanti kalo didalam mobil ada orangnya bagaimana?" tegur Chadi dengan tegas.
Langkah Laras dan anak-anak sudah memasuki halaman masjid.
Tiba-tiba. . .
__ADS_1
"Tunggu!!!"