Masa Lalu

Masa Lalu
Perubahan Laras


__ADS_3

Huda masih tidak percaya apa yang dikatakan bocah ingusan yang kini tepat berada didepannya. Bocah yang masih duduk dibangku sekolah dasar namun dia sangat tegas.


" Paman, Paman Huda " Panggilan Chadi membuyarkan pikiran Huda, dia kembali fokus kepada anak ingusan itu.


"ya, apa kau yakin dengan ucapanmu? Kamu masih kecil jangan terlalu banyak ikut campur urusan dewasa. Lebih baik kamu banyak belajar agar bisa menjujung derajat orang tuamu."


" Aku tidak peduli entah itu paman atau ayah kandungku, aku hanya ingin melihat bunda bahagia." Chadi malah menjawab wejangan Huda dengan jawaban lain.


Huda sekarang memasang wajah yang lebih serius. " Dengar Chadi, jika aku bisa menikah dengan bundamu aku berjanji aku akan bahagiakan dia dengan caraku."


" Terimakasih paman."


Chadi langsung pergi meninggalkan Huda, sementara Huda masih mematung mengingat dia inyerogasi oleh anak kecil. Huda tersenyum bahagia lantaran dia mendapat lampu hijau dari Chadi.


Setelah dari rumah Huda, Chadi langsung pulang kerumah. Dia mencari keberadaan Laras yang masih berbaring ditempat tidurnya, bagai balita Chadi langsung naik ke tempat tidur bundanya dan meletakkan tangan Bundanya tepat di badannya.


" Bunda. . ."


" Ada apa sayang, kenapa kamu manja sekali. Kamu bukan anak kecil." Laras mengelus pucuk kepala anak lelakinya itu.


" Bun,"


" Hmm"


" Apa sudah Bunda pikirkan ucapan Chadi kemaren?"


Laras diam bukan bearti dia tidak mengerti maksud anaknya. Laras masih ingat dengan jelas dialog pembicaraan itu, dan apa keinginan Chadi.


" Bunda, hiduplah bahagia aku ingin melihat bunda mempunyai pendampinh seperti Bunda Saras."

__ADS_1


Laras memcium kening Chadi, "Bunda sudah bahagia melihay kamu bahagia Chadi."


" Tapi Chadi akan lebih bahagia melihat bunda menikah, mari bahagia bersama bunda. Chadi mohon."


" Chadi, Bunda tidak mau merusak kebahagiaan ayahmu, dia sudah memiliki istri dan anak."


" Apa Bunda masih mencintai ayah kandung Chadi."


Laras Diam, tak mampu menjawab lantaran memang benar Laras masih mencintai Johan. Namun Laras tidak ingin menjadi orang ke tiga.


" Jika Bunda mau membuka hati untuk paman Huda, Chadi akan bahagia."


" Apa paman Huda yang menyuruhmu.?"


" Tidak, aku yang ingin melihat Bunda bahagia, sedikit saja Bunda, tolong pertimbangkan paman Huda. Jangan selalu lari darinya."


'Kenapa bicaramu dan cara berfikirmu melebihi bunda nak, semoga kelak kamu akan menjadi orang yang sukses, jauh dari masalah yang rumit seperti ini, '


***


Waktu malam hari, Johan dan Rossa bersiap-siap. mereka hendak pergi ketempat Laras, Johan sudah tidak sabar ingin mengatakan kepada Laras Jika dia mendapat izin dari Rossa.


Tak kalah bersemangat Putra dan Putri juga ikut berkemas, bahkan mereka membawa beberapa mainan berharap jika nanti kakak mereka akan senang.


Pagi-pagi mereka sudah berangkat kekota tujuan mereka. Johan dan Rossa bersemangat sekali, Rossa pun seperti akan mendapat teman baru sementara Putra dan Putri mereka terlelap dalam perjalanan.


Jarak masih jauh namun Johan memutuskan istirahat sejenak, dia tak mau egois karena dia melihat anak-anaknya yang terlelap. Johan hendak membangunkan anak-anak dan mengajak mereka makan dahulu.


" Sudah sampai pa?" Tanya Putra.

__ADS_1


" belum sayang, kita istirahat dulu ya, kita mengisi tenaga dengan makan " jawab Johan.


" Ahh. . . Papa sudah ngak sabar ketemu kakak baru" keluh Putri.


" Sabar ya sayang." ucap Rossa .


Sementara di tempat Laras, Pagi ini Huda sudah bertamu kerumah Laras.


" Tumben Pagi-pagi begini sudah kamu sudah kesini" Tanya Sigit


" Bukannya kamu yang menyuruhku untuk menjemputmu?" Jawab Huda serasa memberi kode dengan mengertipkan matanya sebelah.


" Modus." Ledek Sigit


" Nag Huda, mari sarapan bersama." Panggil Rudi.


" Terimakasih pak."


" Jangan sungkan. " Kata Rudi melihat gelagat Huda yang seperti malu-malu.


"Laraas. . . Ambilkan piring satu lagi." Rudi memberi instruksi.


Laras yang mendengar dari dalam dapur langsug menambahkan piring, seperti biasa Laras selalu menundukkan kepalanya jika ada Huda.


" Laras ambilkan nak Huda nasi sekalian." Ucap Rudi kepada Laras setelah Laras mengambilkan nasi untuk dirinya.


" Tidak usah pak, saya bisa ambil sendiri." Tolak Huda.


Namun siapa sangka, jika Laras melakukan apa yang disuruh bapaknya itu.

__ADS_1


'Bismillahirrohmanirrohim' Dalam hati Laras mengucap Basmallah sebelum akhirnya dia mengambilkan nasi untuk Huda.


Sementara Saras, Sigit ,Rudi bahkan Huda sendiri dibuat heran dengan apa yang dilakukan Laras. Chadi tersenyum melihat perubahan Bundanya.


__ADS_2