
Tanpa menunggu lama, Johan langsung mengajak Rossa untuk memeriksakan kehamilannya. Tak lupa sejak pagi mereka sudah menyebarluaskan berita bahagia ini kepada kedua keluarga.
" Ibu Rossa," panggil perawat saat kini sudah giliran Rossa untuk masuk kedalam ruangan periksa.
Johan langsunh sigap dan memapah Rossa seperti orang sakit. " Aku bisa sendiri mas" Protes Rossa.
" Kamu harus hati-hati, nggak boleh capek dan banyak gerak." Ucap Johan pelan karena dia masih awam menghadapi ibu hamil.
"Kenapa nggak kamu gendong saja aku mas," Ucap Rossa asal untuk menggoda Johan.
Tanpa disangka Johan menganggapi ucapan Rossa tanpa malu Johan langsung menggendong Rossa, berpasang- pasang matapun melihat mereka dengan banyak pikiran..
Banyak perempuan yang kagum dan iri melihat Rosaa p memiliki suami yang sangat perfec dan sayang kepada iatrinya,
Namun tak sedikit bapak- bapak yang menganggap jika Johan lelaki yang takut istri.
" Mas, turunin" Bisik Rossa malu.
" Katanya mau di gendong?"
" Bercanda aku mas."
" Akh. . . Tanggung, aku gendong aja."
Perawat itupun ikut tersenyum melihat tingkah pasangan itu.
Sejak melangkah masuk keruangan periksa dokter yang melihat Johan dan Rossa berusaha agar tidak terlihat syok melihat adegan romantis tersebut.
Hanya pemeriksaan awal kehamilan yang dilakukan, tes urin kembali juga mencocokkan HPHT ( Hari Pe cocokan Haid Terakhir), dan akhirnya ditemukannya HPL (Hari Perkiraan Lahir) Sementara.
__ADS_1
Rossa juga diberi beberapa vitamin dan penguat kehamilan serta penambah nafsu makan.
" Bapak dikondisikan ya jika ingin melakukan hubungan suami istri, karena usia kandungan masih muda jadi harap hati - hati"
Johan diam, tiba -tiba dia melamun mengingat bagaimana brutalnya dia ketika melakukan *** bersama istrinya. Johan langsung memasang wajah lesuh setelah mendengar jelas penuturan dokter.
Bibir Rossa mengembang melihat perubahan ekspresi wajah suaminya.
***
*MALAM HARI*
Dengan serius Johan sedang mengobrol dengan orang yang berada disebrang telepon. Sementara Rossa menyiapkan makan malam dengan sesekali memperhatikan keseriusan Johan.
"Ada apa mas?" Tanya Rossa ketika Johan menutup sambungan teleponnya.
" Hmm" Johan mendengus sebelum menjawab. " Sepertinya jadwal kerjaku dimajukan Rossa".
"Aku dapat perintah menggantikan rekanku yamg berhalangan."
" Kapan itu mas?
" Besok sore aku sudah harus berangkat."
Rossa menereskan air mata kesedihannya. Berbeda dengan awal dia ditinggal Johan dahulu, kini hatinya merasa berat.
Johan memeluk Rossa mencoba memberi pengertian."Maafkan aku,bukankah kamu juga sudah tau pekerjaanku?"
" Tapi kan ini tidak sesuai jadwal mas," keluhnya
__ADS_1
" Maaf"
" Apa kamu tidak akan pulang selama setahun lebih seperti kemaren."
"Aku mengambil jalur pelayaran pendek sampek anak kita nanti lahir, jadi aku hanya akan pergi selama tiga bulan dan libur 1 bulan."
Rossa sedikit lega meskipun begitu, rasa hatinya tetep berat.
"Aku hamil malah ditinggal." Keluhnya
"Aku nggak ninggalin kamu, aku kan kerja cari nafkah. Kalo aku ndak kerja bagaimana tanggung jawabku terhadap keluargaku."
Rossa tertegun dan membenarkan ucapan Johan dalam hatinya.
Kini mereka memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum keberangkatan Johan kembali bekerja.
***
*HARI KEBERANGKATAN JOHAN*
Semua keluarga mengantar kepergian Johan, sebenarnya bukan Johan yang mereka antarkan melainkan Rossa, mereka tidak tega jika membiarkan Rossa sendiri.
Raut kesedihan Rossa terlihat jelas oleh keluarga mereka, sementara Johan tidak tega melihat istrinya seperti itu.
" Johan jaga dirimu baik-baik, dan mama mohon janhan sekalipun kamu mengecewakan Rossa" Johan menerima nasehat dari mamannya.
" Tidak akan ma, sekarang Johan menyayangi Rossa sepenuh hati."
Mama Johan mengelus pundak anaknya dengan bangga.
__ADS_1
Begitulah Johan menjalani hidupnya setelah terlepas dari masa lalunya dengan Laras. Begitu penuh kebahagiaan dan kehangatan.
Selama bertahun-tahun Rossa sudah mulai terbiasa jika ditinggal Johan bertugas, 100% Rossa sangat percaya.