
*** POV JOHAN***
Kenapa Laras mematikan teleponnya begitu saja? Ya ALLAH berilah hambamu ini petunkuk. Kenapa ini begitu rumit ya ALLAH, apa ininkarma buat ku karena dulu aku sering mempermainkan wanita.
Sebelum kenal Laras dulu memang aku sering mempermainkan wanita namun setelah mengenalnya semua berubah. Meskipun kekecewaan yang ternyata salah paham itupun akupun tak lagi mempermainkan wanita dalam marahku. Hingga aku bersama Rossa.
Namun kini aku seakan dipermainkan oleh Rossa dam Laras. Rossa istriku dia sungguh wanita yang periang, dia selalu mengiburku selama ini, namun Laras dia masih saja kalem dam santun seperti dulu tidak ada yang berubah.
Kenapa takdir mempermainkan aku seperti ini?? Haruskah aku lupakan Laras dan hidup bahagia seperti biasanya bersama Rossa dan anak-anak ku. Tapi Laras, aku juga punya tanggung jawab besar terhadapnya.
Aaarrhhhh. . . Kujambak rambutku frustasi. Seharian aku dimasjid ini namun aku belum menemukan solusi. Ingin pulang kerumah tapi takut Rossa tidak mau bertemu denganku. Pulang kerumah papa aku malas melihat Paman Aji ada disana. Kini aku bagai gelandangan tak ada tempat tujuan.
Kriiingg. . .
Suara HP ku mengangetkankanku, sontak membuat lamunanku buyar berserakan. Kuraih benda kecil ajaib itu dan kulihat nama Rossa terpampang disana. Rossa menelponku? Apa dia sudah tidak marah? Jangan-jangan Rossa mau minta cerai. Tidak tidak. . . Aku tidak mau jika dia minta seperti itu.
Aku tarik nafas sebelum akhirnya ku jawab telepon dari Rossa.
" Assallammualakum." Hatiku gugup tak karuan.
" Wa'alaikumsallam." Suaranya masih sama penuh dengan kehangatan, akankah Rossa memaafkan aku.
" Ada apa Rossa,?"
"Memang aku tidak boleh menelpon suamiku sendiri?"
'DEG'
Rossa terdengar seperti biasa, suka bercanda apakah ini pertanda dia memaafkan aku? Atau jangan-jangan dia bersikap seperti ini karena ingin cerai. Ya ALLAH jagaaan. . .
" Kamu sudah tidak marah?'" Tanyaku pelan takur Rossa salah paham..
" Pulanglah mas, anak- anak sudah menunggumu untuk makan malam, mereka merindukan papanya."
" Apa kau tak merindukanku Rossa?"
__ADS_1
" Pulanglah mas, Mas aku menunggumu"
Rossa mematikan teleponnya tiba-tiba, Kenapa Rossa sama seperti Laras suka mematikan tepelon secara sepihak seperti ini.
Benarkah Rossa menyuruhku pulang, tapi aku cemas akan ada hal buruk. Tapi bismillahlah semoga Rosaa tidak memberiku kabar buruk.
Aku mulai berdiri dan tanpa sadar langkahku berat sekali, kenapa ada apa? Kepalaku pusing. . . Seberat itukah masalahku sampek berdiri saja aku terasa pusing. Kuat. . .kuat. . .kuat. . . Ayok Johan Rossa dan anak-anakmu memunggumu dirumah.
Oh. . Iya aku lupa, seharian ini kan aku belum makan sama sekali, bagaimana aku bisa lupa mengisi perutku. Kepalaku pusing karena aku kelaparan. Jiwa Raga bertahanlah sebentar lagi kau akan aku beri makan.
Aku menuju mobilku yang ada didepan Masjid sesampainya disana aku rasa aku tidak akan bisa mengemudikan mobil ini sendiri. Lebih baik aku naik taxi saja.
Aku berjalan keluar area masjid dan alhamdulillah, aku langsung menemukan taxi aku memberi alamatku kepada supir taxi itu dan aku terlelep selama perjalanan.
***POV ROSSA***
Setelah seharian aku bergelut dengan pikiranku, dan aku meminta petunjuk dalam Sholatku, entah kenapa hati ini seakan tertuju kepada wanita dimasa lalu mas Johan, yaitu Laras.
Apa ini petunjuk dari ALLAH jika aku harus menerima keinginan mas Johan menikahi wanita itu, apa aku akan baik-baik saja jika aku dimadu.
Setelah aku menyiapkan makan malam, aku teringat dengan mas Johan, aku mencoba menelpon mertuaku sekedar mencari tau keberadaannya.
" Hallo assallammualaukum" Kataku pada yang disebrang telepon sana.
" wa'alaikumsallam."
" Mama." Aku sangat mengenali suara ibu mertuaku ini.
" Rossa, bagaimana kabarmu sayang."
" Alhamdulillah ma, Rossa baik."
" Maafkan anak mama ya sayang, semua ini terjadi begitu saja." Suara tulus mertuaku semakin meluluhkan hatiku.
"iya ma, Rossa akan belajar iklas."
__ADS_1
" Jangan bertengkar dengan Johan, kalian bisa bicarakan baik-baik." Sarannya.
" Iya ma, oh ya Mas Johan apa ada dirumah Mama?"
" Johan! Dia pergi entah kemana sejak pagi belum kembali. Mama kira dia dirumah kalian."
" Tidak ma, Baiklah aku akan menghubungi ke Hp mas Johan langsung."
" Ingat pesan mama Jangan berantem."
" Iya ma." Aku langsung menutup sambungan telepon dengan ibu mertuaku.
Kemana mas Johan? Apa dia pergi ketempat wanita itu? Dari pada aku terus berburuk sangka mending aku langsung menghubungi mas Johan.
Lama sekali, kenapa tidak dijawab telponku.
Assallammualakum." Suara mas Johan kenapa begitu berat, apa dia sakit.
" Wa'alaikumsallam."Jawabku
" Ada apa Rossa,?"
"Memang aku tidak boleh menelpon suamiku sendiri?"
Aku mencoba bersikap biasa saja, berharap badai ini akan segera berlalu. Semoga aku bisa kuat.
" Kamu sudah tidak marah?'" Mas Johan terdengar sangat hati- hati berbicara kepadaku, apa dia takut menyakitiku.
" Pulanglah mas, anak- anak sudah menunggumu untuk makan malam, mereka merindukan papanya."
" Apa kau tak merindukanku Rossa?" Pertanyaan Mas Johan menbuat hatiku tak karuan.
" Pulanglah mas, Mas aku menunggumu" Jawabku berharap mas Johan akan segera pulang dan aku akan mengajaknya diskusi baik-baik.
***BERSAMBUNG***
__ADS_1
Jangan lupa like komen ya untuk mendukung author agar lebih semangat.