Masa Lalu

Masa Lalu
Pertemuan dengan Hasan


__ADS_3

"Assallammualaikum." Rudi melantangkan salam saat tiba dirumah pak lurah.


" wa'alaikumsallam" Pak lurah membalas salam dan keluar menyambut Rudi. "monggo monggo pak" Rudi beserta keluarganya masuk begitu juga Laras yang tak melihatkan senyumnya sama sekali.


" ini anak kamu itu?"


" iya."


" Assallammualikum Laras?" Tiba - tiba terdengar suara laki-laki yang menyapa Laras namun Laras sama sekali tidak mendengarnya. dan laki-laki itu tetap tersenyum.


" Nduk, Laras itu kamu disapa" Senggol ibu Laras tepat pada lengan Laras.


" Ah, ya bu" Laras yang tersadar langsung melihat sosok yang telah menyapanya.


"Assallammualikum." ulang lelaki itu dengan lembut.


" Mas Hasan." serunya.


" Kamu masih ingat aku?"


" ya mas"


" kalian sudah saling kenal ternyata."


" Laras ini adik kelas Hasan waktu SMP," jelas Hasan.


" Bagus lah kalo begitu bearti tidak akan terlalu sulit." Rudi tersenyum begitu juga dengan pak Lurah.


" Laras mari kita ngobrol di luar, biar yang di dalam menjadi urusan orang tua kita."

__ADS_1


Laras mengikuti langkah Hasan keluar dan terbesit pikiran untuk bicara dengan Hasan, barang kali Hasan juga terpaksa melakukan perjodohan ini.


Laras sungguh berharap Hasan mau menolak perjodohan ini. Kini Laras dan Hasan duduk di teras depan rumah Hasan.


" Mas Hasan."


" Hmm"


" Maaf sebelumnya, apa mas menerima perjodohan ini?"


" Tentu Laras, aku sudah sejak SMP jatuh hati padamu, hanya saja aku takut mengungkapkan isi hatiku, bahkan aku sering melihatmu dari jauh untuk mengobati rinduku padamu."


Laras tak mampu berkata-kata, apa yang harus dia katakan untuk membalas perkataan Hasan. Laras bingung pikirannya mulai kacau lagi.


" Mas,"


"ya"


Hasan tersenyum. " Laras, Laras. kenapa kau minta maaf terus kepadaku?"


Laras diam, kikuk. " Aku sebenarnya. . . sebenarnya aku. . ." Laras sungguh gugup untuk berbicara.


" Aku apa?"


" Aku mencintai orang lain."


Hasan terdiam mendengar pernyataan Laras. Laras pun dag dig dug menunggu respon dari Hasan. Namun beberapa lama Hasan diam sehingga suasana sunyi sekali.


" Mas" panggil Laras untuk memecah keheningan. " Maaf, aku tidak bisa menerima perjodohan ini." Lanjutnya pelan.

__ADS_1


" Aku tau Laras, aku tau kamu telah jatuh hati dengan lelaki asing itu, bahkan saat aku ingin melihatmu dari jauh aku melihatmu bersama lelaki asing itu."


"Maafkan Laras Hasan."


" Lelaki itu telah pergi dari kampung ini Laras, dan kau akan melakukan hal bodoh untuk menunggunya."


" Dia akan kembali, aku yakin itu."


" Jika tidak maukah kau memulai semuanya denganku?"


Laras diam tak menyangka jika Hasan mengajukan perntayaan tersebut setelah dia menolaknya. Namun Laras tak mampu menjawab.


' Iya kalo aku gak hamil, aku hamil mas Hasan. Tapi aku yakin mas Johan akan kembali padaku.'


...****************...


" Apa yang harus aku lalukan mas?" Saras berulang kali menanyakan hal yang sama kepada Sigit.


Sigit ikut bingung dibuatnya, dia sendiri tidak tau apa yang harus dia lakukan. Alamat yang telah diberikan Johan hilang entah kemana dan dari cerita Saras paman Aji pun tidak tau alamat rumah Johan.


" Kau terlalu ceroboh." ucap Sigit.


" kenapa mas sigit bicara seperti itu?"


" Coba kamu ingat kembali dimana terakhir kamu menyimpan alamat Johan"


" Aku sudah berusaha mencari mas."


Saras menangis mengutuk kebodohannya sendiri, kemudian dia memeluk suaminya. " Bagaimana nasib adikku nanti mas, aku sungguh takut memikirkannya, bagaimana jika orang tuaku tau pasti mereka akan pernah memaafkan Laras. ini semua karena aku, karena aku." Saras terus memruntuki kebodohannya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2