
" Tunggu"
Laras menoleh karena dia merasa dipanggil oleh sesorang. Dilihatnya pria paru baya bisa dibilang dia seumuran dengan Bapak Laras.
" Ya" Jawab Laras kalem dengan senyum yang ramah.
" Saya mau tanya alamat nak." Papa Johan berpura-pura bertanya alamat kepada Laras. Dengan senyum ramah Laras menberi arahan alamat yang ditanya oleh papa Johan.
Papa Johan berjongkok mensejajarkan diri dengan Chadi dan berusaha mengusap rambut anak kecil itu tanpa berkata apa-apa. Papa Johan berusaha tidak menitihkan air mata melihat cucu yang selama ini tidak diketahuinya.
" Kenapa anda menangis?" Tanya Chadi setelah melihat mata Papa Johan berkaca-kaca
" Tidak, aku hanya kemasukan debu." Kilahnya.
Chadi tersenyum. "Permisi ya pak" Pamit Laras dengan menggandeng kedua anak itu agar ikut bersamanya, bukan karena takut atau curiga dengan orang tua itu namun ini sudah waktunya untuk Laras mengajar ngaji.
Papa Johan pun kembali kedalam mobil, bagaimanapun Chadi adalah cucunya hatinya tergerak untuk menghampiri Chadi dan juga melihat Laras dari dekat.
" Apa yang papa lakukan setelah melarangku menghampiri mereka?"
" Mereka tidak mengenalku"
"Lebih baik kalian sekarang pergi." Ucap Sigit.
"Maksudmu apa menyuruh kami pergi, aku belum bertemu dengan anakku!" Johan tiba - tiba emosi mendengar ucapan Sigit.
" Bukankah sudah aku katakan, jangan sekarang, saat ini belum waktu yang tepat untuk bertemu mereka. Lebih baik aku membicarakan ini dulu dengan Bapak."
" Kamu tau kan Bapakmu tidak pernah suka dengan ku."
"Makanya aku akan coba jelaskan dengan beliau apa yang sebenarnya terjadi."
" Sebaiknya kita kerumah pamanmu dulu" Ucap Papa Johan mencoba menengahi.
***
__ADS_1
"Assallammualaikum. . ." Seru papa Johan saat dia sudah sampai dirumah kakaknya itu. Tidak ada jawaban.
Johan langsung membuka pintu rumah yang tidak terkunci tersebut.
" Uhuk. . .uhuk. . .." Terdengar suara orang batuk dari dalam kamar.
Johan dan papanya langsung masuk kedalam kamar paman secara bergantian lantaran kamar yangbtidak terlalu luas.
Papa Johan duduk disamping ranjang kakanya. " Kenapa tidak kedokter saja kalo sakit begini?"
" ini penyakit umur, kamu tidak perlu khawatir." Paman Johan mencoba untuk duduk.
" Sebentat lagi aku juga akan sembuh," lanjutnya.
Kakak beradik itu mulai berbincang melepas rindu. Sementara Johan ada didalam kamar yang dulu ia tempati, tak banuak berubah semua masih sama seperti dahulu.
Bahkan bayangan dimalam dia melakukan dosa besar bersama Laras pun kembali terlintas dibenaknya. Tanpa sengaja saat Johan mencoba menjelajah sesiri kamar itu dia menemukan sepucuk surat didalam laci kamar itu.
Johan mengerutkan dahinya dan membuka surat itu. Betapa terkejutnya Johan itu adalah surat yang dulu dia kirim untuk Laras, surat yang menyatakan bahwa dia akan datang bersama keluarganya. Namun kenapa surat itu ada disitu.
Tanpa menunggu lama, Johan langsung begegas kekamar pamanya. Johan tak mau menunda rasa penasarannya.
" Apa ini? Bukankah ini surat yang dulu aku kirim untuk Laras, Kenapa ada disini? " Tanya Johan, mendengar pertanyaan Johan, papa Johan lun langsung mengalihkan pandangannya kearah kakanya itu.
Paman Johan diam tak langsung menjawab, dia menarik nafas panjang, ada niat lagi untuknya menyimpan semua rahasia ini.
" Maafkan paman Johan" Ucapnya kemuadian.
"Apa maksud paman?"
"Aku terlalu mencintai Desi ibunya Laras, namun Desi lebih memilih Rudi dan menikah dengannya. Aku sungguh sakit hati dan sangat membenci mereka."
"Saat kamu bilang kamu jatuh cinta kepada Laras paman tidak suka, paman mencoba mengahalangi kalian. Dan setelah kamu pergi paman baru tau kalau Laras hamil anakmu"
"Paman ingin melihat Rudi menderita, makanya paman tidak memyampaikan suratmu kepada Laras, bahkan paman juga yang bilang jika kamu hanya mempermainkan Laras."
__ADS_1
"Paman sungguh puas saat itu, namun setelah paman mendengat Laras menderita karena dianiyaya oleh Warsito, paman ingin sekali mengubungi mu. Paman merasa bersalah."
"Tapi paman mengurungkan niat untuk memberitahumu, karena paman pikir kamu sudah bahagia dengan istrimu. Paman semakin merasa bersalah ketika Desi ibu Laras meninggal karena seragan jantung setelah mengetahui kebenaran tentang kondisi Laras yang telah disiksa oleh Warsito."
" Sampai saat ini paman masih bersalah terhadap Laras dan Desi"
Dengan panjang lebar Aji menceritakan semua kebenaran, betapa hancurnua Johan mendegar semua pernyataan Aji. Johan terduduk diatas lantai dan menjambak rambutnya merasa frustasi.
Sementara paoa Johan hanya diam, diam seakan banyak hal.yang dia pikirkan.
"Apa yang kau lakukan paman??, Laras hidup menderita seperti itu karena keegoisan paman. Aku harus bagaimana sekarang Pa,?" Johan menangis merasa sesak membayangkan kembali apa yang dialami Laras.
" Aku hidup bahagia selama ini tanpa beban setelah bisa melupakan Laras, namun fakta ini sungguh membuatku hancur setengah mati, Laeas begitu menderita."
"Paman kejam sekali, Paman membuat semua orang menderita, Laras,Aku, Anakku, Bapak Laras, Ibu Laraspun sampai meninggal."
Aji menangis menyesal tapi tidak ada gunanya. Semua sudah terjadi. Johan ingin sekali menebus semuanya. Johan ingin mengembalikan kebahaiaan Laras.
B
E
R
S
A
M
B
U
N
__ADS_1
G
. . . .