
Menikahlah dengan Laras mas, aku ihklas"
Ucapan Rossa sangat membuat Johan terkejut. Sejenak dia hanya menatap Rossa.
" Aku Serius mas." Ucap Rossa sekali lagi untuk menyakinkan Johan.
" Maafkan aku Rossa, aku membuatmu menangis aku telah menyakiti hatimu." Johan memgecup kening Rossa penuh kasih sayang.
'Kenapa mas Johan malah menangis, apa mas Johan tidak bahagia dengan keputusanku? Bukankah ini yang di inginkan oleh mas Johan.
" Kenapa mas?" Tanya Rossa heran " Bukankah mas ingin menikahi Laras.?" Lanjutnya.
" hanya saja aku merasa telah menyakitimu juga Rossa."
Rossa bangkit dari posisinya dan memeluk Johan dengan erat " Aku Ihklas kamu menikahi Laras mas, Aku tidak tersakiti, keputusanku ini juga bukan karena dipaksa oleh siapapun."
Johan membalas pelukan Rossa,mencium keningnya pipi kanan dan kiri. Kebahagiaannya terlihat jelas.
" Terimakasih Rossa, namun sepertinya aku tidak jadi menikahi Laras." Perkataan Johan membuat Laras terkejut.
" Kenapa mas?"
" Laras tidak mau merusak rumah tanggaku"
" Dia wanita yang baik mas, harusnya dia bisa menuntut lebih jika dia mau, namun dia malah menolak."
" Kamu betul Rossa, Laras memang wanita yang baik." Rossa hatinya tenang, tak ada sedikitpun sakit hati mendengar Johan memuji Laras.
" Aku akan membantumu mas."
Keputusan Rossa sudah bulat, dia bertekat membantu Johan untuk menebus dosanya. Ini adalah salah satu tugas seorang istri.
***
Keesokan harinya Johan dan Rossa pergi kerumah orang tua Rossa, mereka ingin memberitau jika Rossa mengijinkan Johan menikah lagi.
" Abi hanya ingin berpesan kepadamu Johan, mempunyai dua pendamping tidak akan semudah itu, Berlaku adil itu tidak mudah, tapi berusahalah sebisamu dan jangan egois." Pesan selamet kepada Johan.
" Dan kamu Rossa, kamu juga tidak boleh egois, setelah Johan menikah dengan Laras kamu juga harus memahami jika waktu Johan tidak bisa full kepadamu lagi." bergantian pak Selamet memberi saran.
" Iya abi, Rossa sudah siap." Dengan kemantapan hati Rossa memjawab kesiapannya.
Setelah dari eumah orang tua Rossa, mereka bergantian menuju kerumah orang tua Johan. Hal yang sama mereka lakukan yaitu menyampaikan kesediaan Rossa untuk dipoligami.
Aji yang mendengar semua obrolan itu dari dalam kamarnya menangis bahagia.
'Akhirnya aku bisa menebus dosa-dosaku kepadamu Desi.'
__ADS_1
Setelah semua pembicaraan itu Rossa dan Johan pergi kesekolah anak-anak mereka sekalian menjemput sekolah.
Johan selalu mengenggam tangan Rossa bahagia. Sesampainya di depan sekolah Rossa pergi masuk kedalam untuk mencari anak-anak mereka.
Dikesempatan ini Johan mencoba menghubungi Sigit lewat telepon.
" Assallammualaikum." Jawab Sigit di ujung sebrang sana.
" Wa'alaikumsallam, kakak ipar." Celoteh bahagia Johan.
" Jangan asal kalau memanggilku, aku bukan kakak iparmu." Sebel Sigit.
Johan nyengir dia senang bisa membuat sigit sebal.
" Kalo kamu mencari Laras, berapa kali aku bilang, aku bukan pengangguran seperti mu."
" ngasal aja kalo ngomong."
" Ada apa?"
" Suruh Laras menungguku, aku akan segera kesana"
" Sudahlah, jangan terlalu berharap."
" kenapa? Apa maksudmu?"
" Tidak ada yang kacau tenang saja." Ucap Johan enteng.
Setelah puas ngobrol dengan Sigit, Johan mematikan teleponnya, dan bertepatan dengan itu Rossa sudah kembali bersama anak-anak mereka.
" Pa aku makan di mall sambil jalan-jalan " Ucap Putra memohon.
" Iya pa, sudah lama lho kita enggak jalan-jalan."
" Siap bos!" Ucap Johan kepada anaknya dengan hormat.
Rossa tersenyum, melihat Johan, kemudian Rossa bergantian melihat Putra dari spion depan.
" Putra, kamu mau nggak kalo punya kakak?" Tanya Rossa.
" Mau banget ma, itu kan yang Putra mau, putra pingin banget punya kakak biar bisa putra ajak main, nggak kayak Putri, mainannya boneka terus."
Johan dan Rossa tersenyum bersama. " Kalo putri.?"
" Putri uga seneng kalo punya kakak baru, sama kakak Putra bosen."
" Enggak boleh bosen sama kakak sendiri." Ucap Rossa.
__ADS_1
" Insya allah minggu besok papa ajak kalian ketemu kakak kalian."
" Bener pa?" Putra sungguh senang.
" Benar dong,"
" Wah. . . Akhirnya Putra bisa merasakan rasanya punya kakak "
Putra dan Putri memang masih terlalu kecil, karena itu Johan dan Rossa merasa jika belum waktunya jika mereka tau apa yang terjadi sekarang.
Berbeda dengan Chadi, dia sudah bisa mengerti situasi yang dialami Bundanya dan Ayahnya.
Setelah menghabiskan waktu untuk makan bersama, Johan mengajak Rossa untuk membelikan Hp Kepada Laras, Rossapun memilihkan model terbaru serta membelikam kartu perdana sekalian.
***
-DESA LARAS-
Chadi pulang sekolah dengan berjalan kaki ditemani oleh Sasi seperti biasa, namun wajah Chadi seolah sedang menyimpan kesedihan.
" Kenapa si Chad?"
" Aku lagi mikirin Bunda."
" Kenapa?"
" Bunda sepertinya tidak mau jika bersama dengan Ayahku."
" Masalah orang dewasa memang rumit Chad, udahlah kita ndak udah dewasa enak gini aja bahagia terus"
" Ngawur aja kamu kalo ngomong"
" Terus mau kamu bagaimana?"
" Aku pingin Bundaku ada pendamping, pingin Bundaku ada yang menjaga, biarpun bukan sama Ayahku tidak apa-apa, kasihan bundaku sendirian terus."
" ooo. . . Sama paman Huda aja." celtuk Sasi asal, namun Chadi juga setuju dengan ucapan Sasi.
" Sudahlah Chadi, ayahku kan juga Ayahmu jangan terlalu banyak di pikir."
" Tapi ayahmu bukan pendamping bundaku."
" Capek mikiri masalah dewasa, masih jauh."
Sasi langsung berlari meninggalkan Chadi yang masih dalam perenungan.
" Jatuh tau rasa tu anak." Baru saja mulut Chadi bicara seperti itu dan terbukti Sasi Jatuh karena berlari.
__ADS_1
Chadi bergegas berlari menghampiri Sasi yang menangis akibat kesakitan. Terpaksa Chadi menggendong Sasi sampek kerumahnya.