Masa Lalu

Masa Lalu
Pernikahan Laras


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Johan yang masih belum tau apa yang terjadi Laras masih diselimuti rasa bahagia, Kondisi ayahnya sudah mulai membaik dan rencana untuk meminang Laras akan dipercepat.


Dia sudah mulai berkemas begitu juga orang tuanya. Hati yang sangat berbunga-bunga, pasti Laras akan bahagia melihatku membawa papa dan mama. Begitu keyakinan Johan.


" Lusa kita berangkat ya yah."


" Iya ,Johan. Yang mau lepas rindu bikin papa pingin balik muda lagi ajah." Ledek papa Johan.


" Kan papa sama mama sudah kembali muda, bentar lagi kalian akan tinggal berdua tanpa penganggu.hehehe" Balas Johan.


" Emang kamu sudah siapin rumah??"


" Udah donk, kan Johan sudah punya rumah sendiri hasil dari kerja Johan, emang gak sebesar rumah papa sama mama tapi ya. . . cukup istimewa kalo nanti buat tinggal sama Laras."


" Kenapa gak tinggal disini saja sih Han,?" Tanya mama.


" Enggak ah, sama kayak papa dan mama Johan ndak pingin diganggu. ingin menikmati masa muda dengan tenang apalagi pengantin baru, mama paham kan?" Johan cekikikan membalas papanya.


" Iya iya, terserah."


...****************...


"Mas."

__ADS_1


"Hmm"


" Mas masih marah denganku?"


" Bagaimana bisa kau menyuruhku manikahi Laras."


" Karena aku percaya padamu mas." Saras mencoba bicara dengan Sigit.


" Aku bukan lelaki bejat penggila ***, yang akan menikahi banyak gadis, lagian cintaku itu hanya untukmu dek, untukmu."


" kan bisa hanya untuk menutupi semua aib ini mas, tidak perlu cinta yang penting anak Laras lahir punya bapak."


" Kamu tidak pikir panjang Dek, aku tetap tidak setuju."


" Saras nanti malam kita kontrol ke bidan, kamu sudah terlalu banyak berfikir dan aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada calon anak kita." Saras diam tidak menjawab, dan itu dianggap setuju oleh Sigit.


...****************...


Hari pernikahan Laras sudah telah tiba, semua sudah pada sibuk menyiapkan bagian masing-masing. Bahkan para tetangga yang kemaren bergosib di belakangpun ikut membatu.


Biarpun hanya acara biasa namun yang namanya pernikahan pasti ada acara tahlilan dan juga selametan yang lainnya.


Saras masih berharap dalam hati jika Laras akan membatalkan pernikahan ini namun sepertinua adiknya itu diam membisu, saat didandani menjadi mempelaipun dia hanya diam, sudah mengeluarkan air matanya. Dia seperti patung.

__ADS_1


Dihari yang sangat sepesial untuk semua orang ini biasanya tangis kebahagian mengiringi mereka, namun sekarang?


Desi. Dia diam berharap jika keputusan ini adalah yang terbaik. Anak yang dia jaga selama ini yang di bayangkan akan menikah dengan lelaki yang dia cintai, membayangkan melepas Laras sama seperti melepas Saras penuh kebagiaan namun itu sirna. Bahagiakah Laras nanti? hanya itu yang dipikirkan Desi.


Rudi. Raut marah masih terpancar diwajahnya. Marah karena kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga anak bungsunya dengan baik. sebagai seorang ayah dia telah gagal menjaga kehormatan anaknya.


Saras. Dia masih menangis melihat adiknya yang tanpa ekspresi. Dia juga menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya dia tidak membatu Laras keluar rumah, Seandainya dia tidak mendukung hubungan Laras, Seandainya dia tidak menghilangkan kertas alamat yang ditinggalkan Johan. Dan masih banyak seandainya.


Sememtara sigit hanya melihat Laras iba, dia teringat akan janjinya jika dia bertemu dengan Johan, pasti dia akan membalas dendam.


Penghulu dan para saksi sudah siap apalagi yang namanya warsito, dia sudah siap lahir batin dari semalam. Dia sudah tidak sabaran. Diacara pernikahannya yang ke Empat ini dia mengajak ketiga istrinya untuk sekalian menjadi saksi.


Laras sudah keluar dan duduk di sebelah Warsito masih dengan wajah yang datar,berbeda dengan lelaki disebelahnya seperti sudah tidak sabar.


" Saya nikahkan Anda Warsito bin warsilan dengan anak kandung saya Laras binti Rudi dengan emas kawin uang sebesar lima puluh juta rupiah dibayar Tunai." Rudi sendiri yang menikahkan mereka, mulutnya terasa berat namun apa daya.


" Saya terima nikah dan kawinnya Laras binti Rudi dengan emas kawin tersebut tunai."


SAH. . .SAH. .. SAH. . .


Para saksi langsung mengesahkan pernikahan mereka,sementara di halaman rumah Laras, Lelaki itu mematung seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Johan mendengar ikrar pernikahan itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Kakinya kaku. Pikirannya kacau.

__ADS_1


__ADS_2